Bab 42. Biar Rose yang Bertindak

1232 Kata

Jam dinding berdetak pelan di sudut ruangan, tapi bagi Jo, suara itu terdengar seperti palu yang memukul perlahan-lahan kepalanya. Sudah lewat tengah malam. Kota di luar jendela terlihat sunyi, hanya suara samar kendaraan sesekali mengganggu diam yang menggantung di apartemen itu. Jo duduk di balkon. Rokok ketiganya hampir habis. Angin malam menusuk kulit, tapi tidak cukup dingin untuk membuatnya kembali masuk. Matanya merah. Bukan karena kantuk, tapi karena lelah berpikir. Ia menatap langit, tapi tak mencari bintang. Hanya butuh sesuatu yang bisa menampung pikirannya yang kusut. Rose. Adik kecil yang ia besarkan sendiri sejak ayah-ibu mereka meninggal. Satu-satunya keluarga. Satu-satunya alasan Jo tetap tegak selama ini. Namun, malam tadi, kata-katanya jadi belati: “Kalau abang tetap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN