Hujan turun pelan, seperti ikut menangisi langkah yang kembali ke tempat lama. Meysa berdiri mematung di depan pintu kontrakan mungil itu. Kunci yang digenggamnya terasa dingin dan asing, meski jari-jarinya sudah terlalu akrab dengan bentuknya. Pintu yang dulu selalu menyambutnya pulang kini terasa seperti dinding bisu yang menghakimi. Begitu terbuka, aroma lembap dan debu menyeruak. Waktu seolah-olah membeku di dalam sana. Tirai masih menggantung seperti dulu, beberapa barang berserakan, dan dinding-dinding itu—merekam semuanya. Tangannya gemetar saat menyalakan lampu. Sekilas, bayangan dirinya bersama Damian hadir di sudut ruang tamu. Tawa semu, teriakan marah, air mata, dan ciuman palsu. Semua adegan itu seperti film lama yang diputar paksa. Ia berjalan perlahan ke dapur, menyentuh

