Bab 47. Merajut Hari

1275 Kata

Hujan turun pelan, seperti ikut menangisi langkah yang kembali ke tempat lama. Meysa berdiri mematung di depan pintu kontrakan mungil itu. Kunci yang digenggamnya terasa dingin dan asing, meski jari-jarinya sudah terlalu akrab dengan bentuknya. Pintu yang dulu selalu menyambutnya pulang kini terasa seperti dinding bisu yang menghakimi. Begitu terbuka, aroma lembap dan debu menyeruak. Waktu seolah-olah membeku di dalam sana. Tirai masih menggantung seperti dulu, beberapa barang berserakan, dan dinding-dinding itu—merekam semuanya. Tangannya gemetar saat menyalakan lampu. Sekilas, bayangan dirinya bersama Damian hadir di sudut ruang tamu. Tawa semu, teriakan marah, air mata, dan ciuman palsu. Semua adegan itu seperti film lama yang diputar paksa. Ia berjalan perlahan ke dapur, menyentuh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN