Pagi menyusup pelan lewat celah-celah jendela reyot kontrakan kecil itu. Cahaya matahari belum terlalu terik, tapi cukup untuk membangunkan tubuh lelah yang semalam tertidur tanpa mimpi. Meysa bangun lebih cepat dari biasanya. Ia melipat selimut tipisnya dengan rapi, lalu berdiri menghadap cermin kecil di sudut kamar. Wajahnya masih pucat, tapi kali ini matanya tak lagi sembab. Ada keteguhan baru yang ia bentuk semalam—dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Ia berdiri tegak, menyisir rambutnya perlahan, memilih baju paling layak yang tersisa di lemari tua. Map biru yang kemarin ia bawa kembali ia genggam. Hari ini, ia akan mencoba lagi. Entah ditolak, disuruh menunggu, atau dicueki seperti kemarin, ia tidak akan menyerah. Baru saja ia hendak membuka pintu, suara dari sebelah terden

