Langit mendung menggantung di luar jeruji besi. Di dalam ruang kunjungan yang sepi, hanya ada satu meja, dua kursi plastik, dan tatapan yang terlalu banyak bicara tapi tak cukup kata. Nita duduk lebih dulu. Tangannya mengepal di pangkuan, bibirnya kaku, dan matanya menatap pintu besi dengan gugup. Sudah bertahun-tahun ia tidak merasa setakut ini. Lalu Damian masuk—mengenakan seragam tahanan, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya lebih tirus. Dia berjalan tanpa terburu, tanpa percaya diri. Pandangannya kosong sampai akhirnya melihat siapa yang menunggunya. Ia berhenti sejenak. Lalu menarik kursi dan duduk di seberang ibunya. Sunyi. Baru setelah beberapa detik, Nita membuka suara, pelan. “Maaf, baru bisa datang sekarang.” Damian tidak menjawab. Ia hanya menatap ke bawah, jari-jari

