Ruangan itu sunyi, hanya suara detak jam dinding dan sesekali suara langkah petugas terdengar samar. Meja panjang dengan kursi saling berhadapan memisahkan pengunjung dan tahanan. Di balik pintu, Rose berdiri kaku. Matanya menatap lurus ke arah Damian yang duduk menunggu, tampak sedikit lebih kurus dengan rambut agak memanjang dan wajah yang tak lagi segagah dulu. Saat mata mereka bertemu, seketika waktu terasa membeku. “Rose,” suara Damian serak, seperti tertahan di tenggorokan. “Terima kasih ... sudah datang.” Rose menarik napas panjang sebelum duduk. Kedua tangannya terkepal di pangkuan. Tatapannya tajam, tapi juga lelah—sebuah campuran dari cinta yang belum sepenuhnya padam dan kecewa yang terlalu dalam untuk diukur. “Aku enggak datang untuk memaafkanmu, Damian,” suaranya tenang, t

