05. Misi Pencarian

2170 Kata
"Jumi itu kembang desa di sini, Pak!" jawab Bandi mantap. Kevin terkejut di tempatnya. Matanya membulat sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka. Melihat ekspresi Kevin yang berlebihan, Bandi pun menanyakan keadaan Kevin. Takut-takut Kevin kerasukan arwah penunggu desa ini karena telah bersikap tidak sopan. Telinga Bandi masih cukup baik untuk mendengar desas-desus tentang bosnya tadi. Kasihan sekali Bandi jika Kevin benar-benar kerasukan. Tidak kerasukan saja Kevin sangat galak dan menyebalkan, apa lagi jika Kevin kerasukan. Habis sudah riwayat Bandi! "Pak, Pak Kevin," panggil Bandi seraya menengok ke kaca spion. Kemudian, matanya kembali fokus pada jalan. Jangan sampai ia membuat bosnya itu beradu kekuatan dengan jalan setelah ini. "Pak Kevin, Pak Kevin baik?!" tanya Bandi lagi sedikit keras. Bandi kemudian menaikkan kecepatannya secara tiba-tiba sehingga membuat Kevin yang masih melamun itu pun terkejut setengah mati. Hampir saja Kevin terjengkang. Kevin kemudian memukul bahu Bandi keras guna menyadarkan Bandi. "Bisa nyetir enggak, sih?! Kalau saya jatuh, kamu saya pecat!!" bentak Kevin sambil menatap Bandi garang melalui spion. Kurang ajar! Dasar pekerja tidak tahu diuntung! "Maaf, Pak. Habisnya Bapak ngelamun, sih, saya jadi takut. Barang kali Bapak kesambet setan," ucap Bandi tak enak hati. Namun, Bandi pun merasa puas karena berhasil melihat raut ketakutan Kevin. Jawaban Bandi itu pun berhasil membuat Kevin mengumpat dalam hati. "Tapi Pak, Bapak kenapa ngelamun, sih?" tanya Bandi kepo. Siapa tahu ia bisa meringankan beban bosnya itu, kan? Kevin awalnya sedikit bingung. Namun, beberapa detik kemudian muncul ide di dalam otaknya. Ini adalah kesempatan untuk mengorek jawaban dari Bandi. Bukan apa-apa, tetapi Kevin merasa terkejut karena jawaban yang ia dapat dari Bandi mengenai gadis bernama Jumi. Menurut Kevin, hal ini sangatlah aneh. Kevin pikir Bandi akan menjawab dengan panjang lebar pertanyaannya itu. Namun, jawaban Bandi sangatlah singkat, tetapi membuat Kevin penat. Kepalanya terasa sakit sekarang. Ia jadi ingat petuah teman-teman kurang ajarnya itu. Setelah lama terdiam, Kevin pun melancarkan aksinya. Memang benar, sih, ia tidak tertarik dengan Jumi si kembang desa itu. Namun, mencari tahu sedikit tidak apa-apa, kan? Hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya saja. Ya, hanya itu. "Saya mau tanya lagi," celetuk Kevin membuat Bandi mengangguk beberapa kali. "Boleh, Pak!" "Kembang desa? Apa itu?" tanya Kevin pura-pura tidak tahu. Dalam hati, ia hanya ingin memastikan saja jika memang kembang desa benar adanya. Beruntung Kevin memiliki bakat akting yang sangat menjanjikan. Ditambah lagi, Bandi ini sangatlah polos. Jadi, Kevin bisa dengan mudah memanfaatkannya. "Bapak enggak tahu?" tanya Bandi balik setengah terkejut. Dalam hati ia merasa aneh. Apa semua orang kota seperti ini? Sepertinya istilah kembang desa sudah tidak asing lagi terdengar. "Kalau tahu, saya enggak akan nanya!" sentak Kevin merasa tidak nyaman. Dasar Kevin, pembohong ulung! Sudah jelas-jelas ia mengetahuinya. Kevin tahu, ia tahu arti dari istilah kembang desa. Namun, ia hanya tidak yakin. Ya, hanya itu. Mana mungkin ada gadis desa yang dikejar banyak pria. Lagi pula, apa gadis desa secantik itu hingga membuat pria tergila-gila? Ia sanksi sekali. Gadis kota saja banyak yang disia-siakan—ups, maafkan Kevin, ya! "Eh, maaf, Pak. Saya kira Bapak tahu artinya," ucap Bandi tak enak hati. Kevin mendengus kesal mendengarnya. Ia benar-benar tidak sabar menantikan jawabannya. "Cepat jawab, Bandi!" tekan Kevin sembari menggeram pelan. Bandi terlalu banyak basa-basi dan hal itu membuat Kevin tidak sabar. Ah, memangnya sejak kapan Kevin memiliki stok kesabaran? "Kembang desa itu julukan atau sebutan untuk anak gadis paling cantik di desa, Pak. Kembang desa ini pasti jadi idaman laki-laki desa. Kadang-kadang, kembang desa itu udah kayak barang di pasar yang cuma ada satu stoknya. Semuanya mau punya, tapi harus rebutan dulu!" jelas Bandi sambil sesekali melirik Kevin yang tampak terdiam cengo mendengarnya. Dalam hati Bandi terkikik geli melihat raut wajah Kevin yang tampak terkejut sekaligus takjub secara bersamaan. Sepertinya, bosnya itu memang benar jika ia sama sekali tidak mengetahui apa itu kembang desa. "Serius? Masa, sih?" tanya Kevin tidak percaya. Ia masih sanksi jika belum bertemu dengan orang yang dimaksud. Ah, mendengar jawaban Bandi ternyata membuat Kevin semakin penasaran. "Loh, iya, Pak. Mana mungkin saya bohong. Jumi itu emang jadi rebutan laki-laki di desa ini. Dia bahkan udah berkali-kali dilamar, padahal ia masih sekolah," ucap Bandi meyakinkan. Ia sendiri adalah satu dari sekian banyaknya pria di desa ini yang ingin melamar Jumi. Namun, apalah daya dirinya yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam kriteria menantu idaman orang tua Jumi. Sebelum melamar Jumi, Bandi sadar diri bahwa dirinya yang bukan anak dari seorang pejabat. Jadi, tak ada tempat untuk lelaki seperti dirinya. "Gila, laris banget, nih, cewek! Mana masih sekolah, udah dilamar. Wow, gue harus pastiin, nih!" ucap Kevin di dalam hatinya. Kevin bertekad jika memang benar kembang desa itu mampu membuatnya jatuh hati maka ia akan menarik kata-katanya. Ia akan menariknya dan berjuang keras untuk memperebutkan Jumi. Ya, itu tekad Kevin. Ah, sepertinya ia menemukan vitamin terbaiknya untuk tinggal di desa. ***** "Namanya Jumi, ya?" gumam Kevin sembari tersenyum-senyum sendirian. Saat ini, Kevin tengah berbaring di atas ranjangnya. Ribuan rasa tidak nyaman yang sempat ia keluhkan di hari pertama ia tinggal di sini rupanya hilang dalam sekejap. Hanya dengan sebuah nama, Kevin mampu membuat dirinya menjadi lebih bahagia. "Kalau dilihat-lihat, namanya jelek, sih. Eh, tapi boleh juga. Unik-unik gimana gitu. Kira-kira secantik apa, ya?" gumam Kevin sembari menatap langit-langit kamarnya. Kevin sudah melambung ke awang-awang hanya dengan membayangkan sesosok gadis bernama Jumi itu berdiri di depannya. Rasanya seperti mendapatkan bidadari secara mendadak. Persis seperti jajanan tahu yang belakangan ini viral. "Eh, tapi gimana cara gue dapetinnya, ya? Kenal aja enggak, apa lagi jadi gebetan," ucap Kevin sembari bangkit dari tidurnya. Ia mengelus rambutnya bingung. Jika ia ingin mendapatkan Jumi, tentu ia harus bertemu dengan Jumi terlebih dahulu, bukan? Tidak mungkin ia langsung mendatangi rumahnya. Apa lagi dari yang ia dengar, Jumi masih sekolah. "Apa gue minta tolong Ban—" ucapan Kevin terpotong saat ponselnya berbunyi. Dengan kecepatan tinggi, Kevin pun segera mengangkatnya dan langsung mendengus kesal setelahnya. Siapa, sih, yang menghubunginya malam-malam begini. "Halo, Sayang. Kevin, kamu baik-baik aja, kan?" tanya seorang wanita di seberang sana dengan panik. Kevin sedikit mengernyit heran. Namun, setelahnya ia membelalakkan matanya karena menyadari jika yang menghubunginya adalah ibunya. "Mamah?" ujar Kevin menebak-nebak karena nomor yang saat ini menghubunginya tidak dikenal. Renata yang mendengar suara Kevin pun paham. Pasti anaknya itu merasa bingung karena ia menggunakan nomor asing untuk menghubungi anaknya. "Iya, ini Mamah. Mamah pakai nomor baru biar enggak ketahuan papahmu. Kabar kamu di sana gimana, Kevin? Mamah khawatir, Sayang!" "Kesempatan emas!" ucap Kevin di dalam hatinya. Beruntung ibunya menghubunginya. "Mamah! Kevin baik, tapi tolongin Kevin, Mah!" jawab Kevin dengan nada yang ia buat semelas mungkin. Ia akan melancarkan rencananya melalui ibunya yang baik ini. Tidak mungkin jika Kevin akan meminta bantuan ayahnya, bisa-bisa dia menjadi bahan olok-olokkan nantinya. Renata yang mendengar suara lemah sang anak pun merasa sangat kasihan. Salahkan saja suami kurang ajarnya yang dengan tega mengirim anaknya jauh darinya. Terlebih lagi ke tempat di mana anaknya tak akan bisa hidup bebas dan bergelimang harta. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Renata tak tega. Ia siap membantu anaknya tanpa sepengetahuan suaminya. "Mah, tolong kirimin orang ke sini buat bantuin Kevin. Enggak lama, kok. Satu minggu aja, Kevin butuh banget, Mah," ucap Kevin dengan memohon. Ia melemahkan suaranya agar sang ibu semakin kasihan mendengarnya. Ya, meski tanpa berakting mengenaskan pun sudah dapat dipastikan bahwa ibunya itu akan membantunya. "Kamu mau berapa orang, Sayang? Mamah kirimin sekarang juga. Kamu butuh apa lagi, Mamah kirim sekarang," tanya Renata. Ia tidak ingin anaknya hidup kekurangan di sana. Ya, meski sudah dipastikan anaknya tidak akan hidup seenak di kota, tetapi setidaknya Kevin bisa hidup jauh lebih baik. "Motor, Mah. Kevin butuh motor. Setiap hari Kevin jalan kaki ke proyek, Mah. Capek banget, apa lagi jalannya lumpur semua." Kevin menatap penuh harap pada ponselnya. Semoga saja ibunya percaya dan mau menuruti keinginannya. Memang benar jika ia jalan kaki ke proyek dan harus melewati jalan penuh lumpur. Itu semua memang ia alami, bukan? Yaa, Meski hanya di hari pertama saja. Yang terpenting, ia tidak sepenuhnya berbohong, hehehe. "Ya ampun, kasihan sekali kamu, Kevin. Oke, Mamah akan kabulin semua keinginan kamu. Kamu tunggu aja, ya? Nanti pasti datang." Renata berusaha menghibur Kevin. "Iya, Mah. Kevin tungguin, ya, Mamah jangan bohong kayak papah!" ingat Kevin membawa-bawa ayahnya. Ini perlu dan akan sangat menguntungkan Kevin nantinya karena sudah pasti ibunya itu akan merasa semakin bersalah. "Enggak, Mamah enggak akan kayak papah. Mamah janji, dua hari lagi semua yang kamu butuhkan akan sampai!" tegas Renata. Jika ia tidak bisa membawa Kevin kembali maka ia yang akan membuat Kevin tercukupi. Ia bahkan sudah bertengkar berkali-kali dengan suaminya, tetapi keputusan suaminya sudah bulat. Kenan tak akan membawa Kevin kembali sebelum masa bertugasnya habis. Anak itu sekali-kali harus merasakan hidup susah! "Kalau gitu, kamu simpan nomor ini dan hubungi Mamah kalau butuh sesuatu, ya? Mamah mau kirim semua kebutuhan kamu sekarang." Renata sengaja membeli nomor baru karena nomor lamanya sudah dikuasai suaminya. Kenan benar-benar ingin melihat anaknya menderita. "Kevin tunggu, Mah!" ujar Kevin antusias sembari mematikan panggilannya. Ia tertawa girang karena merasa menang dari ayahnya. Ah, akhirnya ia bisa hidup enak tanpa sepengetahuan ayahnya. Ditambah satu lagi, ia akan melancarkan rencananya untuk mencari sang kembang desa. Ah, ia benar-benar tidak sabar untuk ini. Kevin tetaplah Kevin. Mau sejauh apa pun ia tinggal dari orang tuanya, ia tidak akan pernah belajar untuk menjadi dewasa. Sifatnya yang buruk terkadang membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menjadi kesal. Kevin hanya bisa memerintah dan memerintah. Ia tidak pernah mau belajar dari apa yang ia dapatkan dalam hidup ini. Lihat saja sekarang, Kenan mengirimnya ke sini dengan harapan sang anak dapat berubah menjadi lebih baik. Namun, bukannya menjadi lebih baik, Kevin justru semakin menjadi-jadi. Kevin dengan sikap angkuhnya tak akan pernah  hilang. Ya, tidak akan pernah sebelum Kevin benar-benar menemukan cinta sejatinya yang akan membuka matanya. ***** "Kamu cari informasi mengenai gadis bernama Jumi di sini. Jangan katakan pada siapa pun, termasuk ibu saya. Ini rahasia kita berdua!" titah Kevin pada seorang pria di depannya. Pria tersebut mengangguk patuh dan langsung berlalu pergi. Ia tidak boleh menunda-nunda tugasnya. "Dan kamu, cepat siapkan motor saya karena saya akan memakainya!" titah Kevin lagi sambil melirik motor yang sudah terparkir apik di halaman rumah kecilnya. Bodohnya Kevin, ia sama sekali tidak memikirkan akan ditaruh di mana motor besar ini. Tidak mungkin ia membawa motor itu masuk ke dalam rumah, bukan? Kevin adalah orang yang sangat manja. Memasukkan motor ke dalam rumah akan sangat merepotkan. Salah sedikit saja, bisa-bisa ia yang tertimpa body besar motor itu. "Baik, Pak." Kevin menunggu motornya siap pakai sembari duduk di dalam rumah. Tangannya terus saja menggulir layar ponselnya. Tak terasa sudah dua minggu lebih ia berada di sini, tetapi sampai saat ini tak ada satu pun dari temannya yang menghubunginya. Terlebih lagi ayah kurang ajarnya, tak sekalipun Kevin mendapat pesan dari ayahnya. Sepertinya ayahnya itu benar-benar menunggunya kembali dalam keadaan tulang belulang. "Sudah selesai, Pak. Bapak bisa memakainya saat ini!" lapor seorang pria sembari menundukkan kepalanya. Kevin berdiri dari duduknya. Wajahnya yang tampan terlihat sangat kontras dengan bibirnya yang sama sekali tidak membentuk senyuman. Kevin hanya berjalan angkuh dan langsung pergi menggunakan motor besarnya. Meski motor ini bukan motor yang Kevin inginkan, Kevin tetap menerimanya karena ia sanksi jika motor yang ia inginkan itu akan mampu melewati medan terjal di desa ini. Saat sedang fokus mengendarai motornya, tanpa sengaja seorang anak berlari ke tengah jalan sehingga membuat Kevin mengerem secara mendadak. Motor yang Kevin tumpangi berbunyi nyaring. Ban motor barunya beradu dengan jalanan desa yang dipenuhi batu. Kevin menggeram marah. Di hari pertama ia mengendarai motornya, Kevin justru mengalami hal ini. Untung saja anak itu tidak tertabrak olehnya. Jika sampai tertabrak maka ia akan habis di tangan ayahnya dan warga desa yang mungkin saja akan mengamuk. Kevin melepas helmya dengan emosi. Matanya menatap nyalang pada seorang anak lelaki yang sepertinya berusia delapan tahun. "Heh, ngapain kamu di tengah jalan? Mau cari mati?!" sentak Kevin sambil berkacak pinggang. Anak itu tampak melihat Kevin gugup. Baru pertama kali ia menemui lelaki semacam Kevin. Selama ini, tak pernah ada yang menegurnya hanya karena bermain di tengah jalan. Ia bebas bermain di mana saja yang ia inginkan. Anak itu diam dengan wajah yang tertunduk dalam. Ia takut melihat wajah Kevin yang sekarang tampak mengerikan. Ia, kan, hanya main dan orang asing ini justru memarahinya. "Heh, bisa ngomong enggak, sih?!" sentak Kevin lagi saat ia tak kunjung mendapat respon. Sebenarnya, Kevin berharap anak itu meminta maaf padanya karena bagaimanapun anak itulah yang salah. Dia yang salah karena bermain di tengah jalan. Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi kali ini. Anak itu bahkan sama sekali tidak menatapnya. "Siall! Pergi sana!" usir Kevin membuat anak lelaki itu menjauh dari Kevin secepatnya. Tubuhnya yang kecil itu pun bersembunyi di balik pepohonan rindang. Matanya tengah merekam dengan baik sosok pria dewasa yang berada tak jauh darinya. Awas saja, ia tidak akan biarkan lelaki sombong itu selamat begitu saja. Akan ia balas perlakuan pria menyebalkan itu. Awas saja! "Awas bae, bli tak lepas wong sombong kayak dirimu!" (Awas saja, aku enggak akan lepasin orang sombong kayak kamu!) 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN