Helaan napas terdengar berat. Tubuh jangkung dari seorang pria yang kini tengah terduduk di pinggiran kasur itu tampak kehilangan semangatnya. Ia lelah setelah seharian mengawasi proyek yang sedang dijalankan. Ditambah lagi, misi yang tengah ia jalankan dua minggu terakhir ini masih belum menemui titik terang. Ia merasa tidak memiliki penyemangat sama sekali untuk dirinya hidup. Mood-nya turun drastis dari hari ke hari.
Jujur saja, Kevin sendiri merasa heran. Waktu dua minggu untuk mencari seorang gadis di desa yang sempit seperti ini bukanlah hal yang sulit. Tempat ini tidak seluas kota-kota besar, bahkan Kevin yakin jika luas desa ini tidak akan mencapai setengahnya dari kota tempat tinggalnya. Desa ini kecil, tetapi seperti tersembunyi. Desa ini cantik, tetapi tidak bisa mengikat hati seorang Kevin. Hanya satu yang Kevin akui saat ini. Kevin akui bahwa ia sudah jatuh hati pada kembang desa yang bahkan tak pernah ia lihat wajahnya.
Katakan saja Kevin gila karena sepertinya dia memang gila. Jatuh hati pada sesuatu yang belum pasti memanglah menyiksa hati. Kevin tidak tahu sejak kapan ia bisa menjadi segila ini, bertekad kuat untuk menemukan pujaan hatinya yang katanya menjadi idaman pria satu desa. Ia benar-benar penasaran. Hatinya selalu saja bergejolak penuh minat saat mendengar nama sang pujaan disebut dalam gosip harian ibu-ibu kurang kerjaan. Meski sedikit kesal karena berita sang pujaan tak jauh-jauh dari lamaran, ia tetap saja tak akan beranjak sebelum kisah mengenai Jumi si Kembang desa tamat diceritakan.
Kevin menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia memejamkan matanya sembari terus mengatur pernapasannya yang entah kapan mulai tak beraturan. Emosinya melonjak naik secara tiba-tiba dan hal itu membuat Kevin menggeram kesal. Berbagai permasalahan yang selama ini Kevin hadapi seolah mengendalikan emosi Kevin yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kevin bosan, lelah, dan ia merasa kecewa. Orang suruhan ibunya itu sama sekali tidak berguna. Mencari satu orang saja tidak becus. Tidak tahukan dia bahwa orang yang menjadi target operasinya itu adalah sosok penting dalam hidup tuannya?
"Arrgghh...." teriak Kevin sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah lepek. Wajahnya terlihat memerah dengan sorot mata tajamnya yang meredup. Kevin benar-benar butuh asupan penyemangat sekarang. Sebenarnya, Kevin bisa saja menghubungi ibunya. Namun, ia rasa hal itu tidak akan berpengaruh pada dirinya.
Lagi pula, menghubungi ibunya sama saja dengan menggagalkan rencananya sendiri. Ibunya pasti akan curiga karena orang suruhannya belum juga kembali, padahal Kevin sendiri yang mengatakan bahwa ia hanya membutuhkan orang suruhan ibunya itu untuk satu minggu. Namun, apa yang terjadi saat ini? Waktu dua minggu seakan tidak ada apa-apanya. Ia sama sekali tidak mendapatkan informasi akurat dari orang suruhan ibunya. Selain itu, Kevin juga rugi besar. Ia mengeluarkan uang ekstra untuk membayar orang suruhan ibunya. Uang tutup mulut yang harus ia bayar pada orang suruhan ibunya itu tidak main-main. Kevin tidak ingin ibunya tahu bahwa ia sedang jatuh hati pada gadis desa. Ia tidak ingin ibunya menghancurkan rencananya.
"Parah banget gue bisa jadi gila cuma gara-gara cewek yang bahkan kayaknya ghoib buat gue," gumam Kevin sambil menatap langit-langit kamarnya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu.
Kevin sudah memutuskan jika sampai satu minggu ke depan ia tak kunjung mendapat kabar memuaskan, ia akan menghentikan misinya. Mungkin ia akan langsung menyuruh orang suruhan ibunya itu untuk kembali.
"Kalau sampai satu minggu ke depan enggak ada kabar, berarti itu nasib. Nasib gue semenjak dateng ke sini emang siall terus!" putus Kevin sambil bangkit dari tidurnya dan mulai membuka pakaiannya. Kevin ingin mandi air hangat. Sejak ia berada di sini, tak pernah sekalipun ia mandi air hangat, padahal air hangat bisa mengurangi pegal yang ia rasa.
"Bisa masuk angin gue kalau terus mandi air dingin gini. Mana kayak es lagi airnya!" keluh Kevin saat tangannya berusaha mengambil gayung di pinggir bak. Batin Kevin semakin nelangsa saat ia menatap gayung berlumut di tangannya. Iwwhh, ini sangat menjijikan. Tangannya yang putih mulus dan dihiasi urat itu tampak sangat kontras dengan gayung berlumut berwarna coklat. Sudah warnanya gelap, berlumut pula.
Kamar mandi ini benar-benar sederhana. Di dalamnya tak ada shower dan bathtub seperti yang selama ini Kevin dapatkan. Di sini hanya ada sebuah bak berukuran kecil, toilet jongkok, tempat sabun plastik beserta gantungan baju, dan gayung berlumut yang terkadang sering Kevin jatuhkan karena licin. Untuk toilet, Kevin masih bisa memakluminya. Yaa, meski ia selalu pegal saat harus berjongkok berjam-jam karena sembelitnya. Namun, untuk gayung dan bak benar-benar tidak bisa Kevin toleransi. Oh, ayolah, bukankah menampung air itu tidak baik? Kevin tidak pernah menampung air di rumahnya. Ia selalu menggunakan shower dan bathtub saat mandi. Memakai bak menurut Kevin sangatlah rumit.
Kevin langsung berdecak malas saat melihat baknya yang mulai kotor. Dalam hati Kevin semakin merutuki papa Kenan yang tidak tanggung-tanggung menyiksa anaknya.
"Dekil banget ni bak, gila gue mandinya. Parahlah, udah capek kerja, masa iya gue harus nguras bak juga!" dumel Kevin sambil berkacak pinggang. Kepalanya menggeleng dramatis meratapi nasibnya sendiri.
"Mi..., Jumi, cepet ketemu, ya, Mi. Biar pangeranmu yang kaya tujuh turunan dan ganteng kaya artis ini bisa semangat hidupnya!"
"Gue harus nyuruh orang, nih!"
*****
"Bandi! Kamu bisa bantu saya cariin orang buat beresin rumah?" tanya Kevin pada Bandi yang tampak berpikir di depannya. Bandi mengangguk pelan setelahnya. Para warga di desa ini memiliki pekerjaan yang tidak tetap dan beberapa di antara mereka memilih untuk menjadi asisten rumah tangga di rumah juragan-juragan desa.
"Di sini banyak yang jadi asisten rumah tangga, Pak. Biasanya kerja di rumah juragan-juragan desa ini. Bapak butuh berapa? Nanti saya carikan," tawar Bandi membuat Kevin berpikir sejenak. Rumahnya kecil dan sudah pasti kalah dari rumah juragan di desa ini. Sepertinya, ia hanya membutuhkan satu orang untuk membereskan rumahnya setiap hari. Selain itu, ia juga butuh asisten untuk memasak makanannya.
"Saya cuma butuh satu. Rumah dinas saya kecil." Kevin berujar dengan pelan. Malu juga jika Bandi mengejeknya karena kondisi rumahnya yang patut diprihatinkan. Masa Kevin kalah dengan juragan desa yang hartanya sudah dipastikan tidak akan sebanding dengan hartanya.
"Ya udah, kalau gitu bisa tunjukkan saya rumah Bapak? Nanti saya kasih tahu orangnya buat langsung ke sana. Bapak bisa sambil ngawasin dia juga, kok," pinta Bandi membuat Kevin semakin malu setengah mati. Gengsi, dong, kalau rumahnya diketahui orang banyak. Rumah reot itu tidak patut dipamerkan.
"Suruh orangnya ke sini dulu aja. Saya mau ketemu orangnya dulu. Kalau bisa, nyarinya yang tua aja, ya. Saya enggak mau asisten yang masih muda. Mereka suka kegatelan!" terang Kevin sedikit kesal. Menanggapi hal itu, Bandi pun tertawa kecil. Memang benar jika ada perempuan yang melihat Kevin, mereka pasti langsung bersikap genit dan selalu mengikuti Kevin. Rasa-rasanya, mereka seperti ulet keket yang siap menempel Kevin kapan saja.
Setelah itu, Bandi pun pamit undur diri. Dia akan langsung mencarikan asisten rumah tangga untuk Kevin. Sejak mengenal Kevin, ia menjadi paham dengan watak bosnya itu. Ia juga sudah menjadi orang kepercayaan Kevin dari desa ini. Terkadang, Kevin akan menyuruhnya ini dan itu sehingga ia harus meninggalkan proyek. Namun, Kevin tetap menggajinya dan bahkan lebih besar. Yaaa, meski sepercaya apa pun Kevin terhadap Bandi, misi rahasia untuk menemukan sang kembang desa tetap saja ia sembunyikan. Bukan tak percaya, Kevin hanya gengsi dan malu.
*****
"Maaf, Pak. Tapi saya gagal menemukan orang yang Bapak minta," ucap orang suruhan itu dengan penuh rasa sesal. Kepalanya menunduk dalam saat ia harus mengatakan hal ini pada bosnya. Ia akui ia bodoh dan lemah, mencari satu orang saja ia tidak becus. Namun demi apa pun, dia sudah berjuang semaksimal mungkin. Mencari di desa seperti ini ternyata lebih sulit.
Kevin memejamkan matanya kesal. Rasanya ingin berteriak saat ini juga. Namun, ia masih sadar untuk tidak membuat kekacauan di proyeknya karena sudah dipastikan reputasinya akan hancur setelah ini. Kevin mengepalkan tangannya keras. Ia kemudian meninju pipi dari orang suruhan ibunya. Orang itu pun langsung terjatuh dan semakin menunduk dalam. Ia tidak tahu kenapa orang yang tengah ia jadikan target itu menjadi sangat penting untuk tuan mudanya.
"Sialann! Cepat pergi dan kembali ke kota. Jangan katakan apa pun pada ibu saya. Katakan saja di sini banyak sekali yang harus dikerjakan. Bayaran kamu sudah saya kirimkan." Kevin membuang wajahnya kesal. Ia lalu duduk di kursi ruangannya sembari menggeram pelan. Hancur sudah harapannya. Melihat Kevin yang sedang dikelilingi emosi, orang suruhan itu pun bergegas pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Kevin memberinya peringatan.
"Ingat, jangan katakan pada siapa pun. Kalau kamu mengatakannya, keluargamu yang akan jadi taruhannya!" ancam Kevin membuat orang suruhan itu mengangguk takut. Dalam hati ia merutuki nasibnya yang membuatnya terjebak bersama orang-orang sombong dan arogan seperti Kevin dan ibunya. Meski mereka cukup royal, tetap saja tekanan yang diberikan tidak sebanding dengan bayaran yang ia dapat.
Brak!
"Sialann! Gagal! Gagal!" erang Kevin pada akhirnya sembari membuang buku-buku proyeknya. Kevin tidak peduli apa pun lagi sekarang. Ia mengambil kunci motor dan ponselnya. Setelah itu, kaki panjangnya melangkah lebar keluar dari area proyek. Ia butuh ketenangan dan ia rasa ia akan pulang sekarang.
"Bandi, kamu ambil uang yang ada di atas meja saya. Beli makan untuk teman-temanmu. Sisa uangnya bisa kamu ambil!" titah Kevin pada Bandi yang tengah memikul semen. Bandi menengok sebentar dan mengangguk setelahnya. Hal ini memang sudah biasa untuk dirinya. Namun, baru kali ini Kevin menyuruhnya mengambil uang dari atas meja secara langsung. Biasanya, pria itu sendiri yang akan memberikannya.
"Iya, Pak."
Bandi semakin heran saat melihat Kevin yang tampak sangat marah. Lelaki itu bahkan mengendarai motornya dengan sangat kencang sehingga dalam sekejap saja bayangan Kevin sudah hilang. Bandi pun hanya mengedikkan bahunya. Terserahlah Kevin sedang emosi atau tidak, yang penting itu bukan karena dirinya.
Kevin mengendarai motornya seperti orang kesetanan. Emosi sudah melingkupinya saat ini hingga ia pun menebalkan telinganya dari u*****n dan sumpah serapah penduduk desa yang merasa terkejut dengan dirinya. Yang terpenting saat ini, Kevin ingin segera sampai di rumah dan meredakan emosinya.
"Dasar gendeng! Ora duwe tata krama!" pekik seorang ibu yang tengah memikul rumput. Bukannya membantu dirinya yang kesulitan, anak muda yang ia ketahui berasal dari kota itu justru melewatinya begitu saja. Sudah begitu, mengendarai motornya seperti orang gila. Untung saja ia tak punya riwayat penyakit jantung.
(Dasar gila! Enggak punya tata krama!)
Setelah sampai di halaman rumahnya, Kevin bergegas masuk melewati Mbok Irah yang sedang mengepel lantai. "Aduh, Nak Kevin. Kenapa diinjek, sih? Mbok udah capek-capek ngepel malah diinjek. Katanya mau rumahnya bersih, tapi dikotorin sendiri!" omel Mbok Irah—asisten rumah tangga Kevin—dengan penuh keberanian. Ia sama sekali tidak takut pada Kevin yang tengah emosi saat ini. Begitupun dengan Kevin, ia tidak menanggapi serius omelan Mbok Irah yang sudah tak asing lagi di telinganya. Menurut Kevin, Mbok Irah sangat berisik. Namun, Kevin cukup nyaman dengan kehadiran Mbok Irah di rumahnya.
Kevin memilih duduk terlebih dahulu sebelum membalas omelan Mbok Irah.
"Kevin emosi, Mbok!" adu Kevin berusaha meluapkan emosinya. Mbok Irah yang mendengar hal itu pun langsung menaruh kain pel dan menghampiri Kevin yang tengah meraup wajahnya kasar.
"Kamu kenapa pulang-pulang, kok, emosi gini?" tanya Mbok Irah dengan heran. Meski baru bekerja beberapa hari bersama Kevin, Mbok Irah mampu membuat Kevin sedikit terbuka. Sifat Kevin yang menyebalkan itu pun tidak mempan untuk Mbok Irah yang sudah menganggap Kevin seperti anaknya sendiri. Kevin pun merasa beruntung karena Bandi menyarankan orang yang tepat untuk dirinya. Di sini, ia bukan hanya diurusi, tetapi ia juga disayangi.
"Ada masalah, lah, intinya! Kevin jadi mau berendam, deh!" jawab Kevin singkat. Ia meregangkan tubuhnya. Kevin benar-benar lelah saat ini, batin dan fisik. Ia rasanya ingin pergi ke tempat pijat khusus dan merenggangkan otot-ototnya. Mendengar hal itu, Mbok Irah pun memberi saran.
"Di rumah ini enggak ada bak gede yang bisa buat renang. Tapi kamu bisa berendam di sungai, kok!" ujar Mbok Irah memberi saran. Kevin pun sedikit tertawa saat mendengar Mbok Irah tidak tahu bathtub. Ia hanya tahu bak besar yang bisa digunakan untuk berenang.
"Namanya bathtub, Mbok. Itu enggak bisa dipake renang, tapi bisa buat berendam aja!" ucap Kevin membenarkan. Lucu juga Mbok Irah ini.
"Udahlah, sama aja! Kamu coba, deh, saran dari Mbok. Dijamin manjur!" bujuk Mbok Irah membuat Kevin mengangguk pelan. Sepertinya ia harus mencobanya. Lumayan, bisa jadi ajang relaksasi untuk dirinya.
"Iya, deh, Kevin coba. Tapi di mana sungainya? Bagus enggak? Jernih enggak? Jangan sampe abis dari sana badan Kevin gatel semua!" tanya Kevin beruntun membuat Mbok Irah bingung menjawabnya. Orang tua yang lebih cocok disebut sebagai neneknya itu pun mengeluh.
"Aduh, banyak banget nanyanya. Udah, kamu ke sana aja. Tempatnya ada di sekitar lapangan desa, kalau kamu bingung, tanya anak-anak di sana aja!" keluh Mbok Irah membuat Kevin berdehem seadanya.
"Udah, ya, Mbok mau ngepel lagi."
*****
Kevin menatap ragu pada anak-anak yang sedang sibuk bermain di lapangan. Sekarang, ia telah tiba di lapangan desa dan ingin segera sampai di sungai. Namun, ia tidak tahu di mana letak sungai itu berada. Katanya di dekat lapangan, tetapi Kevin tidak melihat sungai sama sekali. Ingin balik lagi, sudah kepalang tanggung. Kevin ingin tubuhnya benar-benar dimanjakan air sungai yang segar dan jernih itu.
Akhirnya, Kevin pun memberanikan diri. Ia akan bertanya pada anak-anak itu. "Hey, boleh tunjukkan saya jalan menuju sungai?" ucap Kevin saat ia telah memasuki lapangan. Kevin tidak tahu harus memulai dari mana. Jadi, ia langsung berbicara saja ke intinya. Anak-anak yang tengah sibuk bermain pun seketika menghentikan permainan mereka. Mereka lalu menatap Kevin bingung. Salah seorang dari mereka langsung mengangguk cepat. Ia kemudian mengajak teman-temannya untuk turut serta menunjukkan Kevin jalan menuju sungai.
Awalnya Kevin merasa sanksi, tetapi ketika melihat sungai terpampang jelas di depan matanya, ia pun langsung tersenyum girang. Akhirnya....
Setelah itu, Kevin pun berterima kasih pada anak-anak yang telah bersedia membantunya. Namun, seorang anak memintanya untuk melihat sungai terlebih dahulu. Mendengar hal itu, Kevin pun menurut. Ia sangat penasaran pada sungai yang Mbok Irah jamin mampu menghilangkan masalahnya.
"Coba Om lihat sungainya, jernih, kan?" tanya seorang anak dengan setelan baju bolanya. Kevin mengangguk senang. Sungai ini sangat jernih. Saat sedang sibuk menatap air sungai, Kevin pun dibuat terkejut saat anak tersebut mendorongnya ke dalam sungai.
BYUR!
Siall! Sungai ini dalam dan Kevin belum siap sama sekali.
"Rasain, mangkane aja macem-macem karo aku!" ucap seorang anak yang tak lain adalah anak yang pernah dimarahi oleh Kevin. Mungkin Kevin lupa pada anak tersebut. Namun, anak tersebut tak akan lupa pada Kevin. Terbukti sekarang, bukan? Ia berhasil balas dendam.
(Rasain, makanya jangan macem macem sama aku!)