"Jumi, mana metu sing kamer. Ikuloh, ana mas Jordi sing nonggoni ning teras!" tegur seorang wanita yang usianya mungkin nyaris mencapai setengah abad pada seorang gadis yang tengah sibuk dengan buku-bukunya. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan langsung menggeleng setelahnya. Tangannya pun kembali sibuk menulis untuk menyelesaikan tugasnya. (Jumi, sana keluar kamar. Ituloh, ada mas Jordi yang nungguin di teras!)
"Jumi," tegur sang Ibu lagi. Ia berkacak pinggang di depan kamar anaknya sembari menatap jengah anak gadisnya. Pemandangan yang benar-benar membosankan. Gadis yang dipanggil Jumi itu pun berdiri dari duduknya guna mengambil tasnya yang berada di atas ranjang. Sebelum mengambil tas, ia sempatkan untuk memberi ibunya pengertian.
"Jumi akeh tugas, Bu," jawabnya sopan sembari tersenyum kecil. Sang Ibu yang mendengar jawaban anak gadisnya itu pun berdecak kesal. Benar-benar menyebalkan. Kenapa, sih, anaknya itu susah sekali untuk menuruti keinginannya? Apa salahnya ia berhenti belajar untuk sebentar saja? Lagi pula, kenapa, sih, harus susah-susah belajar saat ada banyak pria yang mampu menjamin kehidupan anak gadisnya ini? (Jumi banyak tugas, Bu.)
"Alah, tugas bae sing dipikiri. Wis mana baturi Jordi. Aja gawe masalah!" putus sang Ibu sambil berlalu pergi meninggalkan gadis yang saat ini tengah memandang sendu buku-bukunya. Hatinya merasa teriris karena sang ibu selalu saja bersikap seolah ia membenci anaknya sekolah. Padahal jika dipikir-pikir, seharusnya ibunya merasa senang karena ia rajin belajar. Ia juga tidak ikut bergaul bersama teman-temannya yang sering bolos sekolah. Ia bahkan selalu mendapat peringkat di kelasnya. (Alah, tugas aja yang dipikirin. Udah sana, temani Jordi! Jangan buat masalah!)
"Ibu..., ibu. Kapan sadare, toh?" gumamnya pelan sembari membereskan buku-bukunya. Saat ini, ia sedang tidak ingin menemui siapa pun dan juga cuaca sedang sangat panas. Akan lebih baik jika ia tetap berada di dalam rumah dan berkutat dengan tugas sekolahnya.
Setelah ia selesai merapihkan buku-bukunya, Jumi pun bergegas keluar kamar. Ia tidak ingin ibunya teriak-teriak seperti orang gila lagi hanya karena ia tidak mau menemui lelaki yang ingin melamarnya. Jumi menghela napasnya panjang saat menatap seorang lelaki yang tengah membelakanginya. Dapat Jumi tebak jika lelaki itu sedang asik mengepulkan asap rokoknya. Jumi menundukkan kepalanya dalam. Demi apa pun, Jumi tidak ingin menemui Jordi. Dia tidak ingin menemui lelaki yang berbeda setiap harinya. Jumi tidak ingin menikah di usia muda. Ia ingin mengangkat derajat orang tuanya dengan kesuksesannya.
Jumi menggelengkan kepalanya pelan. Tak ada gunanya ia menolak sang ibu karena ibunya pasti punya seribu satu cara untuk menaklukkan dirinya. Sebelum keluar, Jumi memilih untuk memasuki dapur. Ia mengambil sebungkus cabai kering yang telah ia gerus kemarin untuk berjaga-jaga jika ada lelaki yang berani macam-macam dengan dirinya. Saat ingin keluar, mata Jumi tanpa sengaja menangkap setumpuk pakaian yang berada di pojok dapur. Tanpa berpikir panjang, langsung saja Jumi mengambilnya. Ia pun turut mengambil sabun dan sikat cuci untuk melancarkan rencananya. Mata Jumi menelisik ke penjuru rumah, ia ingin memastikan jika sang ibu sedang tidak ada di rumah.
"Aman." Setelah situasi aman, Jumi pun bergegas keluar dan menemui Jordi yang langsung berdiri tegak di depannya. Lelaki itu pun melempar rokoknya ke dalam empang kecil yang berada di samping rumah gadis pujaannya.
"Jumi, kenapa bawa ember?" tanya Jordi heran saat melihat Jumi yang menenteng ember di tangannya. Lelaki itu pun semakin heran saat melihat Jumi yang membawa seperangkat alat cuciannya. Jumi hanya tersenyum lebar mendengar hal itu. Ia pun menunjukkan isi embernya pada Jordi yang langsung membuka tutup ember tersebut. Ouh, ya ampun! Rupanya itu tumpukan baju kotor yang bukan main baunya. Siall! Jordi menjadi sediki mual sekarang.
"Jumi harus nyuci baju ibu sama bapak, Mas Jordi. Kasihan, baju ibu sama bapak, kan, sedikit. Sering dipake kerja lagi, jadi nempel semua keringetnya," jawab Jumi pelan sambil menatap Jordi yang seketika mengurut pangkal hidungnya. Siall! Rencananya akan gagal kalau begitu. Ia datang ke sini, kan, untuk menghabiskan waktu dengan Jumi, bukan menjadi nyamuk karena Jumi yang akan sibuk mencuci baju.
"Enggak bisa besok, Jum?" tanya Jordi berusaha bernegosiasi. Ouh, ayolah. Ini adalah kesempatan emas yang sudah ia tunggu-tunggu. Tidak mungkin jika ia melepaskannya hanya karena cucian baju, bukan? Mendengar pertanyaan Jordi, Jumi pun menggeleng pelan. Jordi meraup wajahnya kasar. Benar-benar menyebalkan! Sialann sekali!
"Ya udah, Mas temenin kamu nyuci aja!" putus Jordi. Meski ia gagal jalan-jalan bersama Jumi, tak apalah. Yang terpenting ia bisa menghabiskan waktu berduaan lebih lama bersama Jumi. Di sungai pasti sepi dan ia bisa lebih lengket bersama Jumi. Ah, ada hikmahnya juga Jumi membawa ember cuciannya. Ia jadi punya kesempatan untuk terus berdekatan dengan Jumi. Tak akan ada yang melarangnya.
Jumi yang mendengar hal itu pun dengan spontan membulatkan matanya. Bahaya. Ini tidak bisa dibiarkan! "Eh, jangan, Mas!" cegah Jumi saat Jordi mulai menyalakan motornya. Lelaki yang tengah membetulkan kaca spionnya itu pun langsung menengok pada Jumi yang menautkan jarinya gugup.
"Kenapa?" tanya Jordi sediki kesal. Kenapa, sih, ingin menghabiskan waktu bersama Jumi saja sepertinya sulit sekali. Harus inilah, harus itulah. Tinggal jalan saja, kan, bisa! Jumi menundukkan kepalanya. Ia malas menatap wajah Jordi yang ia yakini tengah kebakaran jenggot saat ini.
"Mas Jordi enggak perlu nemenin Jumi nyuci. Nanti bisa kena fitnah, Mas! Takutnya ada warga desa yang ngira kita macam-macam," jelas Jumi pelan. Jordi menghembuskan napasnya kasar. Justru itu tujuannya! Hadeuh, Jumi memang menarik, tetapi kalau banyak syarat seperti ini, ia pergi saja sudah. Rumit sekali, padahal ia hanya ingin mendekati Jumi agar lamarannya diterima.
"Kalau Mas enggak mau, ya, enggak usah. Jumi enggak mau warga salah paham nanti!" putus Jumi sambil berjalan menuju sungai. Jordi yang melihat hal itu pun memilih mengalah. Lebih baik ia mengalah dari pada Jumi menjauh darinya. Jordi pun dengan cepat mengejar Jumi dan memintanya naik ke motor. Jumi yang melihat hal itu pun tersenyum seadanya. Huh, tadi ia lari saja agar Jordi tak dapat mengejarnya. Eh, tapi ia akan kalah juga, sih.
"Udah, naik ke motor. Mas anterin sampe lapangan aja kalau gitu," putus Jordi sambil membantu Jumi untuk duduk. Ia membantu Jumi untuk memegang embernya. Tangan Jumi pun tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan Jordi saat ia akan mengambil embernya. Jordi tersenyum kemenangan. Sementara Jumi, ia tampak berdecak pelan. Ini hanya ketidaksengajaan.
*****
"Udah, ya, Mas. Jumi nyuci dulu," pamit Jumi meninggalkan Jordi yang menatapnya tidak rela. Rupanya waktu berduaan di atas motor tidak cukup bagi Jordi yang belum sempat mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Jumi pun berjalan cepat menuju sungai yang berada tidak jauh dari lapangan desa. Kaki mulusnya tampak sangat lihai menginjak tanah yang licin dan dihiasi rumput itu. Ini sudah makanan sehari-hari bagi dirinya.
Suara derasnya air sungai terdengar kencang sebagai pertanda bahwa sungai sudah dekat. Jumi merekahkan senyumnya. Rasanya sudah lama ia tidak pergi ke sungai karena tugas sekolahnya yang menumpuk dan lagi pula ibunya mendapat sanyo gratis dari desa. Kehadiran sanyo itu tentunya mempermudah dan meringankan pekerjaannya dan ibunya. Ia tidak perlu lagi mengunjal air dari sungai ke rumah. Ia juga tidak perlu mencuci baju di sungai lagi. Namun, Jumi merindukan itu semua. Ia ingin kembali ke masa di mana ia selalu bolak-balik sungai hanya karena mengambil air. Menurutnya, itu terasa menyenangkan dan tidak membosankan. Beruntung Jordi tidak bertanya alasannya untuk mencuci di sungai. Jadi, ia tidak perlu berbohong lagi.
Langkah Jumi terhenti saat ia melihat segerombol anak laki-laki tengah berlarian ke arah lapangan. Jumi yang mendapati hal itu pun merasa curiga. Ia dengan segera menghadang anak-anak itu guna menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. "Eh, iki ntas dolan mendi? Jangan-jangan dolan ning sungai, ya? Hayo, ngaku!" interogasi Juminten sambil mencekal pelan lengan seorang anak yang ia yakini menjadi otak anak-anak itu bermain di sungai. Ia hafal betul watak dari bocah yang saat ini menatapnya takut. (Eh, ini abis main dari mana? Jangan-jangan abis main di sungai, ya? Hayo, ngaku!)
Anak-anak itu pun terdiam. Jantung mereka masih berdegup kencang karena kejadian yang baru saja mereka alami. Kalau tahu begini akhirnya, lebih baik mereka tolak saja permintaan tolong dari om-om kota itu. Kalau sampai om-om itu mati, mereka yang akan menyesal nanti. Lagi pula, kenapa temannya ini tak bisa bergurau dengan cara yang lebih halus, sih? Kenapa harus dengan cara kasar seperti itu. Kasihan om tampan itu, bisa-bisa ia hanyut terbawa air sungai.
Merasa tak ada jawaban, Jumi pun menatap lekat anak yang kini mendongak ke arahnya. "Jamal, ayo ngaku. Jawab Kak Jumi sekarang!" bujuk Jumi menatap Jamal—anak yang tengah Jumi pegang—lembut. Jamal menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak akan mengakuinya. Jumi bisa saja melaporkan ulahnya itu ke orang tuanya. Ia tidak mau dihukum di dalam kamar mandi lagi.
"Enggak, Jamal enggak ngelakuin apa-apa. Udah, ah, Jamal mau main lagi!" elak Jamal sembari menyentak tangan Jumi dan mengajak teman-temannya untuk bermain lagi. Jumi mengerutkan alisnya dalam. Ia semakin curiga. Namun tidak lama kemudian, Jumi pun memilih untuk mengenyahkan kecurigaannya. Mungkin setelah ini dia akan berbicara pada orang tua anak-anak itu agar tidak membiarkan anak mereka main ke sungai. Ini berbahaya.
Jumi berlari kecil saat ia semakin dekat dengan sungai. Langkahnya langsung berhenti saat ia sudah sampai di depan sungai. Dengan cepat Jumi menaruh embernya dan melepas sendalnya. Ia langsung duduk di salah satu bebatuan yang ada dan mencelupkan kakinya ke dalam air. Kakinya bergerak-gerak riuh saat berada di dalam air. Air sungai yang jernih dan dingin membuatnya merasa segar seketika. Jauh akan lebih segar lagi saat ia meredam dirinya di dalam sungai. Namun, Jumi tidak bisa melakukannya karena ia harus mencuci baju orang tuanya. Lagi pula, arus sungai saat ini lebih deras dari sebelumnya.
"Kapan-kapan ke sini lagi, deh. Enak kayaknya kalau berenang," gumam Jumi sembari mengeluarkan alat cuciannya dan mengambil baju di ember untuk ia sikat. Jumi pun berjongkok dan langsung menyikat baju-baju itu dengan semangat. Meski badannya kecil dan tergolong biasa-biasa saja, jangan sangka dengan tenaganya. Luar biasa karena ia terbiasa bekerja.
Jumi yang sedang asik mencuci pun tiba-tiba mendengar sebuah suara. Itu terdengar seperti suara seorang pria yang tengah meminta pertolongan. Jumi mendadak merinding dibuatnya. Hanya ada ia sendiri di sini dan sama sekali tidak ada orang yang berada di sekitar sungai. Namun, dari mana suara itu berasal?
"To—tolong!"
"Aarrrghh..., to—tolong sa—ya!"
"Arus—nya de—ras, tolong!"
Setelah lama menimbang keputusannya, Jumi pun memilih untuk beranjak dari tempatnya. Kini, ia sudah yakin bahwa suara yang ia dengar memang benar suara manusia dan bukan suara jin atau semacamnya.
Mata Jumi sontak membulat saat ia melihat seorang pria tengah berpegangan pada akar pohon di pinggir sungai. Ia tampak lemah dan kelelahan. Meski tubuh besarnya masih mampu bertahan dari derasnya air sungai, Jumi tak yakin jika hal itu akan bertahan lebih lama. Maka dari itu, dengan cepat Jumi menghampiri pria itu dan menarik tangannya. Pria itu tampak terkejut menatap Jumi, tetapi ia lebih memilih untuk menggenggam erat lengan dari seorang gadis yang tengah membantunya saat ini.
Hal itu rupanya tidaklah mudah mengingat arus sungai yang sangat deras. Selain itu, tubuh pria itu pun terasa berat bagi Jumi yang berusaha menahan tubuhnya sekuat tenaga. Ia mempertahankan dirinya agar tidak turut tergelincir ke dalam sungai. Jumi kemudian mengeluarkan tenaga ekstranya untuk membantu pria itu keluar dari sungai. Setelah beberapa lama, akhirnya Jumi pun berhasil menarik pria itu. Namun akibat tarikannya yang terlalu keras, ia pun sampai terjengkang ke belakang sehingga membuat lelaki itu pun terjatuh di dekatnya.
"Aaarrggghhh!" teriak seorang pria yang tak lain adalah Kevin. Wajahnya menghantam tanah dengan keras. Sudah dapat dipastikan jika setelah ini wajahnya akan memar berat. Merasa kesal, Kevin pun langsung menatap gadis itu garang. Mulutnya ingin mengeluarkan makian pedas saat ini juga. Kalau ingin membantu, jangan setengah-setengah!
"Kalau bantu jangan setengah-setengah, dong! Sakit, nih!" ucap Kevin kesal sembari mencoba bangkit. Ia kemudian menatap seorang gadis yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Sepertinya gadis itu kesakitan karena punggungnya tanpa sengaja menghantam batu kecil di bawahnya.
Jumi yang tengah meringis pun membulatkan matanya. Ia merasa sedikit tidak terima. Jika ia membantu setengah-setengah, kenapa ia harus rela terjengkang hanya karena menarik badan besar pria itu? "Aduh, Mas! Jangan marah-marah, dong. Ini punggung saya sakit, loh, karena nolongin Masnya!" gerutu Jumi sembari mencoba bangun. Ia terdiam sebentar karena punggungnya terasa benar-benar nyeri. Ah, ya ampun. Ia benar-benar tidak tahu jika akhirnya akan begini.
Kevin ingin kembali berbicara, tetapi tubuhnya terasa lemas. Ia jatuh terduduk begitu saja sehingga mengejutkan Jumi yang tengah berusaha mengabaikan sakit punggungnya.
"Mas!"