08. Titik Terang?

2073 Kata
"Mas! Hei, Mas!" pekik Jumi histeris saat mendapati Kevin yang terduduk lemas secara tiba-tiba di sampingnya. Berusaha mengabaikan rasa sakitnya, Jumi pun memutuskan untuk bangun secepat mungkin dan menghampiri Kevin yang tampak pucat. Setelah berhasil bangun, Jumi langsung menghampiri Kevin dan menepuk-nepuk pipi lelaki itu. Kevin tak banyak menanggapi. Ia hanya menatap Jumi sayu dan tak lama kemudian Kevin pingsan. Jumi semakin berteriak histeris saat melihat lelaki yang baru saja ia selamatkan itu pingsan. Jumi menduga jika lelaki itu kedinginan karena terlalu lama berada di dalam air. Jumi tidak tahu apa yang harus ia lakukan sehingga yang ia lakukan sejak tadi pun hanya menepuk-nepuk pipi Kevin. Ia tidak membawa minyak aromaterapi yang mungkin saja bisa membantu Kevin bangun. Setelah lama usahanya tidak membuahkan hasil, Jumi pun memilih untuk mendekatkan baju kotor yang belum sempat ia cuci ke hidung Kevin. Jumi berpikir mungkin saja pria di depannya ini akan bangun setelah mencium aroma khas dari keringat orang tuanya. Butuh waktu beberapa saat untuk Kevin kembali sadar meski ia sudah menaruh baju kotor itu di dekat Kevin. Untuk memanfaatkan waktu yang ada, Jumi pun menggosok-gosok kaki dan tangan Kevin secepat yang ia bisa. Kevin menggeliat pelan. Hidungnya tampak kembang kempes saat mencium aroma yang sangat tajam. Tak membutuhkan waktu lama, Kevin pun membuka matanya. Terasa berat memang saat Kevin ingin membuka matanya, tetapi ia juga tidak tahan dengan bau yang ia cium saat ini. Sangat menjijikan dan berhasil membuat perutnya bergejolak mual. Saat sudah membuka matanya, Kevin pun dengan spontan duduk dan langsung memuntahkan isi perutnya. Ia muntah sampai rasa mualnya benar-benar hilang. Parah, perutnya serasa diaduk-aduk dari dalam. "Eh, Mas! Mas kenapa, toh?!" pekik Jumi khawatir. Ia kemudian berjongkok di depan Kevin dan memegang pundak lelaki itu untuk melihat keadaannya. Lelaki di depannya terus saja memuntahkan isi perutnya membuat Jumi khawatir setengah mati. Tidak bangun ia khawatir, setelah bangun justru lebih khawatir. Setelah Kevin merasa perutnya sudah jauh lebih baik, ia pun mengangkat wajahnya dan seketika wajahnya langsung berada tepat di depan wajah Jumi yang tengah menatapnya lekat. Jangan berharap ada adegan pandang-pandangan di sini karena nyatanya Kevin justru merasa emosi. Matanya tanpa sengaja melirik pada baju kotor yang berada di atas perutnya. Rupa-rupanya, baju itulah yang membuat perutnya mual bukan main.  "Jauhin! Jauhin dari saya! Siall! Hoeek!" pekik Kevin dan langsung kembali memuntahkan isi perutnya membuat Jumi merasa kebingungan. Jumi yang polos dan lugu itu pun dengan santai mengangkat baju ayahnya dan membawanya ke hadapan Kevin yang semakin merasa sesak napas. "Ini yang bikin Mas'e mual?" tanya Jumi dengan polos membuat Kevin yang tengah memuntahkan isi perutnya itu pun berteriak kesal. Sudah tahu jawabannya, kenapa masih bertanya, sih?! Memangnya ada bau menyengat apa lagi selain baju-baju kotor itu?! Tubuh Kevin sendiri tidak bau, begitu juga dengan tubuh gadis di depannya. "IYA!" jawab Kevin full tancap gas sehingga membuat Jumi yang mendengar hal itu pun merengut kesal. Sudah dibantu, marah-marah pula. Sekarang lelaki itu bahkan membentak dirinya. Ish, baru kali ini ia lihat lelaki sekasar ini. Benar-benar menyebalkan. Jumi pun memilih untuk mengalah. Ia menaruh baju ayahnya sejauh mungkin dari Kevin yang mulai tenang. "Pake nanya lagi!" sambung Kevin sembari mengusap kasar mulutnya menggunakan sapu tangan yang masih setia berada di kantong celananya. Luar biasa. Di saat ia nyaris hanyut terbawa arus sungai, sapu tangan itu justru tetap tersimpan manis di kantong celananya. Kevin bahkan merasa celananya akan lepas saat itu juga. Aish, benar-benar memalukan jika hal itu terjadi. Mau ditaruh di mana mukanya? "Ya maaf, kan, Jumi endak tahu!" ucap Jumi setengah menyesal. Menghadapi pria keras kepala, tidak tahu diuntung, dan suka sekali menancap gas seperti Kevin membuat mata Jumi terbuka. Ia tidak bisa membalas perbuatan lelaki itu dengan hal yang sama atau pertengkaran tidak akan terelakkan. Kevin masih sibuk pada dirinya sendiri. Lelaki itu menghirup napas sebanyak-banyaknya. Kevin bahkan tampak beberapa kali mengusap-usap tubuhnya yang kedinginan. Saking sibuknya, Kevin tidak fokus pada apa yang diucapkan oleh gadis di depannya, termasuk nama gadis tersebut. Andai saja Kevin fokus, mungkin dia sudah memekik girang saat ini. Bagaimana tidak girang, nama gadis tersebut sama persis dengan nama gadis yang selama ini ia cari—Jumi. "Dingin, ya?" tanya Jumi saat melihat Kevin yang mengusap-usap lengannya. Lelaki itu pun menatap ke arah Jumi yang tengah menatapnya lekat. Lalu, gadis itu pun melepas jaket tipisnya dan langsung memberikannya kepada Kevin yang merasa kebingungan. "Buat apa?" tanya Kevin sembari memegang jaket yang Jumi berikan. Jumi tersenyum lebar. Ia kemudian memberi tahu pada Kevin bahwa jaket itu bisa Kevin pakai untuk sementara agar rasa dingin yang ia rasakan berkurang. Meski Kevin sempat membuatnya kesal, Jumi tidak bisa marah berlarut-larut. Ia hanya kesal dan rasanya tidak baik jika ia memilih egonya dibanding membantu pria di depannya. "Mas'e, kan, lagi kedinginan. Yowes, aku kasih aja jaketku. Kasih pinjem maksudnya, hehehe," jawab Jumi singkat sembari cengegesan. Ngomong-ngomong, lelaki di depannya ini tampan juga, ya. Garis wajahnya sangat gagah dan menawan. Lebih-lebih lagi saat pria itu tersenyum kecil saat menerima jaket miliknya. Saat Jumi tersenyum lebar, mata Kevin sayu melihatnya. Baru kali ini ia melihat gadis sepolos dan secantik itu. "Makasih," ucap Kevin singkat. Kevin memalingkan mukanya malu. Baru kali ini Kevin mengucapkan terima kasih pada seorang perempuan yang bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan dirinya. Entahlah, Kevin hanya merasa terdorong untuk melakukannya. Setidaknya, kehadiran gadis itu berhasil menyelamatkan nyawanya. "Sama-sama!" balas Jumi senang. Baik juga pria itu ternyata. Seakan teringat sesuatu, Jumi pun lekas bertanya pada pria di depannya. Udara semakin dingin dan mereka tidak bisa terus berada di dekat sungai. Lagi pula, pria di depannya ini harus segera mengganti bajunya dan meminum obat. "Eh, Mas! Rumahnya di mana, toh? Mas'e harus cepet pulang. Masih dingin, kan, badannya?" tanya Jumi beruntun. Tidak mungkin pria itu akan tetap di sini karena masih merasa lemas, kan? Lagi pula, hari semakin sore dan ia harus pulang secepat mungkin. Selain itu, di sungai tidak ada penerangan jika malam hari. Kevin menganggukkan kepalannya untuk pertanyaan terakhir yang gadis itu ajukan. Semakin lama, tubuhnya terasa meriang tidak karuan. Rasanya malas sekali untuk menjawab pertanyaan gadis di depannya. Jika Kevin punya sihir, sudah ia pastikan ia akan langsung menggunakan sihirnya untuk berpindah tempat. Eits, sebelum berpindah tempat, ia akan menggunakan sihirnya untuk membuat kolam pribadi di rumah agar ia tak perlu datang ke sini dan dijahili oleh anak-anak nakal itu. Ya ampun, Kevin merasa ngeri sendiri mengingatnya. Mereka sudah seperti psikopat versi anak-anak. Sementara itu, Mbok Irah yang tengah memasak makanan untuk Kevin pun merasa khawatir. Sudah lebih dari tiga jam Kevin tidak kembali dan tidak mengabari dirinya jika ia sudah sampai di sungai. Kalau begini, masak pun tak tenang. Ia mengkhawatirkan Kevin yang sekarang entah bagaimana keadaannya. Kevin bilang hanya sebentar saja, nyatanya anak itu belum kembali sampai saat ini. "Aduh, anak itu ke mana, ya? Jangan-jangan nyasar lagi?" gumam Mbok Irah ketakutan. Akhirnya, Mbok Irah pun memutuskan untuk mematikan kompor dan bergegas menyusul Kevin. Sebelum keluar, tak lupa ia mengunci pintu agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. "Aduh, Kevin! Semoga kamu aman, ya, Mbok khawatir, nih!" resah Mbok Irah. Tubuhnya yang gempal itu pun berjalan cepat menyusuri jalan menuju sungai. Mungkin saja Kevin tersesat di sana. Lebih buruknya lagi, Kevin tidak membawa motornya! **** "Kevin!" pekik Mbok Irah saat melihat Kevin yang berada di tepi sungai bersama seorang gadis yang sepertinya tak asing lagi bagi dirinya. Mbok Irah yang panik melihat keadaan Kevin yang basah kuyup itu pun berlari tergopoh-gopoh ke arah Kevin yang tampak lemas. Kevin yang mendengar seseorang memanggil namanya pun lekas menengok dan mendapati Mbok Irah yang tengah berlari ke arahnya. Kevin tersenyum lebar. Ia punya harapan kalau begitu. Saat sudah berada di depan Kevin, Mbok Irah pun langsung memeriksa tubuh Kevin yang tampak menggigil kedinginan. Mbok Irah bahkan berputar-putar mengelilingi tubuh Kevin untuk mengetahui apakah Kevin terluka atau tidak. Kevin yang diperlakukan seperti itu pun hanya tersenyum. Ia senang diperhatikan oleh Mbok Irah seperhatian ini karena jujur saja, jarang sekali ada anggota keluarganya yang benar-benar mengurusnya menggunakan tangan mereka sendiri. Yaa, kecuali ayahnya, sih! Ayahnya itu meski menyebalkan dan suka mengatur, ia memiliki jiwa keayahan yang besar. Ayahnya bahkan rela menggendongnya seharian saat ia sakit sewaktu kecil. Berbeda sekali dengan ibunya yang hanya menyerahkan urusannya kepada asistennya. Tapi tetap saja, Kevin masih dongkol kepada Kenan! "Aduh Kevin, kamu ini berendem berapa lama, sih, sampe badannya menggigil gini?! Kan, udah Mbok bilang jangan lama-lama. Udah sore juga, harusnya kamu tahu waktu, dong!" omel Mbok Irah sambil memeriksa kening Kevin yang terasa hangat. "Lagian kamu itu berendem, kok, enggak dibuka bajunya?! Kalau mau berendem itu dibuka, dong!" omel Mbok Irah tanpa henti. Wanita tua itu terus saja berbicara membuat Kevin pusing mendengarnya. Kevin yang semula terenyuh pada Mbok Irah pun merasa emosinya tersulut seketika. Baru saja ia memuji Mbok Irah di dalam hati, eh, wanita tua yang menjadi orang tuanya di desa itu malah memarahinya. Kalau untuk urusan ribut dan adu mulut, Kevin selalu punya tenaga! "Aduh Mbok! Jangan ngomel dulu, dong! Badan Kevin sakit semua, nih. Perut Kevin juga mual. Bukannya ngasih obat, Mbok malah ngomel!" seru Kevin tak mau kalah. Mbok yang mendengar hal itu pun merasa kesal. Mana tahu dia jika Kevin akan begini! Kalau tahu, dari awal ia mencari Kevin pun pasti sudah membawa kotak obat-obatan. "Ih, mana Mbok tahu! Mbok ke sini juga karena khawatir sama kamu! Katanya sebentar, tapi enggak pulang-pulang," sungut Mbok Irah. Jumi yang melihat perdebatan antara Mbok Irah dan Kevin pun merasa pusing. Ia menatap Mbok Irah yang tak lain adalah saudara jauhnya. "Mbok, malu ada dia!" pekik Kevin saat Mbok Irah hendak menjitak kepalanya. Mbok Irah yang mendengar hal itu pun dengan spontan menatap pada gadis yang berada di dekat Kevin. Matanya membulat sempurna saat melihat anak dari sepupunya itu sedang bersama dengan Kevin. Matanya tiba-tiba saja memincing curiga. Melihat baju Kevin yang basah dan Jumi yang acak-acakkan membuat Mbok Irah berpikir macam-macam. "Kalian habis ngapain?!" tanya Mbok Irah menginterogasi Kevin dan Jumi yang tiba-tiba saja membulatkan mata mereka. Jumi menggeleng ribut dan Kevin menghela napasnya lelah. Ini pasti karena Mbok Irah terlalu banyak menonton sinetron di televisi. Jadinya begini, kan! "Kevin enggak ngapa-ngapain, Mbok. Kevin tadi hampir hanyut di sungai!" jelas Kevin malas. Oh, ayolah. Apa ini saat yang tepat untuk bertanya macam-macam sementara tubuhnya semakin menggigil kedinginan?! Kevin pikir Mbok Irah akan tenang setelah ia beri jawaban. Namun, kenyataan yang terjadi justru membuat Kevin semakin lelah. "HANYUT? KAMU HANYUT?!" teriak Mbok Irah saat mendengar penuturan Kevin. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. Mbok Irah pun merasa heran pada Kevin yang tetap santai berbicara meski nyawanya nyaris melayang. "Mbok, Udah," ucap Kevin berusaha menenangkan. "Terus kamu diselametin sama dia?" tanya Mbok Irah. Sepertinya, wanita tua itu masih belum puas mengorek informasi. "Iya, Kev—" "Eeeumm..., Mbok Irah, tadi Mas'e iki hampir hanyut kebawa arus. Aku tadi mau nyuci, terus enggak sengaja denger Mas'e yang teriak minta tolong," jelas Jumi takut. Jujur saja, ia tidak pernah berada sedekat ini dengan saudara jauhnya itu lantaran hubungan keluarga mereka memang tidak baik. Mbok Irah dan ibunya bahkan ribut berkali-kali. Sebenarnya, ini bukan salah Mbok Irah, melainkan salah ibunya. Namun, Jumi sebagai anak pun terkena dampaknya. "Ouh begitu. Padahal arusnya deras, kamu bisa gitu bantu Kevin sendirian?" tanya Mbok Irah sedikit meragukan. Ia tahu jika Jumi adalah gadis yang baik, tetapi jika mengingat sifat ibunya yang sangat jelek itu selalu berhasil membuatnya kesal. Sampai sekarang mereka bahkan tidak akur sama sekali. "Bisa, Mbok. Udah, ah, ayo pulang. Kevin kedinginan ini!" rengek Kevin. Ia sudah benar-benar kedinginan dan pembicaraan tidak penting itu harus ditutup secepat mungkin. Seakan teringat sesuatu, Mbok Irah pun meminta Kevin untuk menunggu sebentar. Ia akan meminta tolong pada seseorang agar bisa membawa Kevin pulang ke rumah. Tak lama dari itu, Bandi yang  ternyata dimintai tolong oleh Mbok Irah pun berlari kencang menghampiri Kevin yang semakin lemas. "Bapak kenapa, Pak?!" tanya Bandi khawatir. Tadi ia tanpa sengaja bertemu dengan Mbok Irah yang sedang mencari pertolongan. "Saya hanyut. Udah, cepet bantu saya pulang ke rumah," jawab Kevin singkat dan judes seperti biasanya. Kevin pun berdiri dibantu dengan Bandi dan Mbok Irah. Saat Kevin hendak berjalan menuju motor Bandi yang berada tidak jauh dari sungai, Mbok Irah pun menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih pada Jumi. "Makasih, ya, Jumi udah mau nolong Kevin," ucap Mbok Irah tulus. Mendengar ucapan Mbok Irah, Kevin yang tengah meringis karena tubuhnya sakit itu pun secara tiba-tiba kehilangan fokusnya. Nama itu, nama yang ia cari selama ini! Jangan-jangan gadis itu adalah Gadis yang selama ini ia cari?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN