09. Terima Kasih, Jumi

2236 Kata
"Ju—Jumi?!" pekik Kevin tiba-tiba. Matanya langsung melirik pada gadis yang kini mengernyitkan dahi sembari menatapnya. Kevin merutuki dirinya sendiri. Siall! Kenapa harus memekik, sih?! Bisa habis Kevin ditertawakan jika seperti itu. Lagi pula, tidak ada yang mengetahui perihal Jumi selain dirinya dan orang suruhan ibunya. "Loh, kenapa Kevin?" tanya Mbok Irah heran. Anak itu sepertinya kerasukan karena Kevin secara tiba-tiba memekikkan nama anak dari sepupunya itu. Waduh, jika sudah begini akan menjadi jauh lebih gawat. Kevin harus segera mendapatkan penanganan luar dan dalam. Ah, ia tidak boleh berlama-lama membiarkan Kevin berada di sini. Bandi harus cepat membawa Kevin pulang. "Kenapa, Pak?" tanya Bandi turut merasa khawatir. Belum sempat Kevin menjawab, Mbok Irah jauh lebih dulu memotong ucapannya. Wanita tua yang mengurusnya seperti anaknya sendiri itu terlihat panik sehingga ucapan yang terlontar dari bibirnya pun terdengar tidak masuk akal di telinga Kevin. "Bandi, ayo cepet bawa Kevin pulang. Mbok takut dia kesambet syaiton!" seru Mbok Irah panik sambil menarik Kevin agar lekas berjalan. Bandi yang mendengar hal itu pun merasa panik. Benar juga, ia dengar penunggu sungai ini sangat banyak dan bisa saja kehadiran Kevin membuat mereka terusik karena tingkah laku pria itu. Hal selanjutnya benar-benar membuat Kevin muak. Bandi menggendongnya seperti tuan puteri. Menjijikan! Iwwh, benar-benar Menjijikan! "Bandi, turunin saya! Kamu ngapain, sih?!!" teriak Kevin saat Bandi masih mencoba untuk menggendongnya. Ya ampun, dia masih bisa berjalan meski tubuhnya lemas. Tak perlu mengangkat tubuhnya dan digendong ala bridal style, itu memalukan tahu! Kevin ini laki-laki dan dia juga menyukai perempuan. Bahkan perempuan yang berhasil menarik hatinya itu kemungkinan besar adalah perempuan yang sama dengan yang menolongnya saat ini. "Tapi Bapak, kan lagi le—" elak Bandi terpotong oleh ancaman Kevin yang membuatnya mau tidak mau harus menurut. "Turunin! Saya bilang turunin sekarang! Saya masih bisa jalan. Kalau kamu enggak turunin saya sekarang, saya pecat kamu!" ancam Kevin saat Bandi masih tak mematuhi ucapannya. Bandi yang mendengar hal itu pun dengan spontan melepaskan Kevin sehingga Kevin terjatuh ke atas tanah. Mbok Irah dan Jumi sontak berteriak. Mereka menatap Bandi bengis karena menjatuhkan Kevin yang sedang sakit. Kevin berteriak kencang. Tubuhnya serasa remuk saat itu juga. Sudah lemas, hampir hanyut, dan sekarang dibanting ke atas tanah. Luar biasa. Ingatkan Kevin untuk memecat Bandi karena sikap kurang ajarnya! "ADUH!" teriak Kevin sembari memegang punggungnya yang dengan tidak etisnya menghantam tanah. Kevin meringis pilu. Sial sekali dia hari ini. Ia yakin, untuk beberapa hari ke depan punggungnya pasti akan sakit. Kalau sudah sakit begini, mau cari pijit di mana? Ia terbiasa pijit di salon langganan ibunya. "Mas Bandi!" "Bandi!" teriak dua perempuan yang tak lain adalah Jumi dan Mbok Irah. Mereka menatap Kevin ngeri. Bagaimana tidak ngeri sementara mereka melihat Kevin jatuh dengan mata kepala mereka sendiri? Lagian Bandi ini, sudah tahu Kevin sedang sakit, dia malah dengan spontan melepaskan gendongnya. Setidaknya, Kevin bisa diturunkan baik-baik. "Siall! Aduh, sakit banget punggung gue," umpat Kevin kasar sembari mengelus punggungnya dan berusaha duduk. Ia menatap Bandi nyalang. Sementara itu, Bandi yang ditatap pun ikut meringis takut. Kalau begini caranya, bisa benar-benar tamat riwayat pekerjaannya. Sudah susah-susah sabar menghadapi Kevin, masa sekarang ia harus dipecat hanya karena tidak sengaja menjatuhkan bosnya, sih?! "Maaf, Pak. Saya re—refleks!" ucap Bandi meminta maaf pada Kevin yang tengah meringis sakit. Kevin memalingkan wajahnya kesal. Jika tidak ingat Bandi memiki peran besar dalam perjalanan misinya, sudah ia tendang Bandi sejauh-jauhnya! Huh, untung saja. "Kamu iku kepriben, sih, Bandi! Wong lagi gering malah kamu banting. Melas Kevin'e, toh!" omel Mbok Irah sambil menunjuk wajah Bandi yang masih ketakutan. (Kamu ini gimana, sih, Bandi! Orang lagi sakit malah kamu banting. Kasihan Kevinnya!) Bandi tersenyum paksa. Senyum ketakutan lebih tepatnya. "Maap, Mbok. Aku ora sengaja. Aku kaget, loh, Mbok. Masa aku nember due pegawean, tapi wis dipecat mancing gara-gara bli sengaja jatohin bosku. Kan bli lucu, Mbok!" tukas Bandi. Ia memberanikan diri menatap Mbok Irah yang masih tidak terima. Ia tahu bahwa Mbok Irah memang cerewet, tetapi ia tidak tahu jika Mbok Irah akan secerewet ini. Dulu, hanya Kevin saja yang benar-benar cerewat dan menyebalkan. Rupanya, sekarang datang lagi manusia sejenis Kevin versi perempuan tua. (Maaf, Mbok. Aku enggak sengaja. Aku kaget, Mbok. Masa aku baru dapat pekerjaan udah harus dipecat cuma gara-gara enggak sengaja ngejatohin bosku. Kan enggak lucu, Mbok!) "Kamu, lah, sing langka lucu-lucue!" balas Mbok Irah tidak mau kalah. Apa Bandi tidak bisa mengerti kekhawatirannya? Ia sangat khawatir pada Kevin dan bahkan ia sampai menyusul Kevin ke sini. (Kamu, lah, yang enggak ada lucu-lucunya sama sekali!) Sementara itu, yang Kevin lakukan sejak tadi hanyalah berdiam diri. Ia hanya menonton malas perdebatan unfaedah dan aneh di depannya. Percuma juga jika ia berusaha mendengarnya dengan serius karena ia sama sekali tidak mengerti bahasa yang digunakan. Jumi yang memahami hal itu pun lekas mengambil alih keadaan. Ia meminta pada Mbok Irah dan Bandi untuk menghentikan perdebatan mereka dan kembali fokus pada Kevin yang entah bagaimana sakit punggungnya sudah hilang. Sekarang, ia merasa sakit kepala karena orang-orang di sekitarnya berdebat. "Udah, Mbok, Mas! Jangan ribut terus," lerai Jumi sembari tersenyum kecil. Ia berusaha memaklumi perdebatan yang terjadi, tetapi sepertinya tidak dengan Kevin. Lelaki itu bahkan mulai berjalan seorang diri menuju motor Bandi. Ia pergi begitu saja saat Jumi melerai keributan yang terjadi di antara Mbok Irah dan Bandi. Mendengar ucapan Jumi, Mbok Irah dan Bandi pun menengok dan seketika terkejut saat melihat Kevin yang berjalan sendirian menuju motor. "Ikuloh, Mas'e wis dingini! Wis, gagian ditulungi. Aja ribut bae, toh. Melas Mas'e," beritahu Jumi pada Mbok Irah dan Bandi yang seketika berlari tergopoh-gopoh. Gawat! (Ituloh, Masnya udah ngeduluin, cepet tolongin! Jangan ribut aja. Kasihan Masnya.) Jumi tersenyum lebar saat ia menatap kepergian mereka. Setelah itu, Jumi pun beralih pada cuciannya dan membereskannya. Ia akan pulang karena ibu dan ayahnya pasti khawatir. Jumi pun melangkah pergi sembari mengibas-ngibaskan bajunya yang basah oleh keringat dan air. Huft, hari ini sangat melelahkan, tetapi Jumi bahagia! ***** Malam harinya, Kevin demam tinggi. Lelaki dengan perawakan putih dan kulit mulus disertai bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya itu terus muntah sepanjang malam. Mbok Irah yang merasa khawatir pun memilih untuk tidak pulang. Ia memilih untuk menjaga Kevin. Mbok Irah tak perlu memikirkan keluarganya karena anak-anaknya sudah besar. Suaminya pun telah tiada dan anak-anaknya tidak lagi bergantung dengan dirinya meski mereka satu rumah. Bekerja dengan Kevin seperti mengurus anaknya lagi di masa lalu. Sakit yang Kevin derita rupanya cukup lama, ia bahkan sudah dua hari tidak masuk kerja dan hanya bisa berbaring di ranjang. Tubuhnya terasa lemas dan tak nafsu makan. Demamnya sudah turun sejak satu hari yang lalu. Namun, karena Kevin yang selalu menolak untuk makan pun berakibat pada kurangnya nutrisi pada tubuhnya. Tubuhnya yang dulu berisi dan penuh otot itu pun tampak sedikit kurus. Mbok Irah bahkan sudah kehabisan akal membujuk Kevin untuk makan. Sempat terpikir dalam benak Mbok Irah untuk menghubungi orang tua Kevin, tetapi Kevin melarangnya. Entah apa yang anak itu pikirkan, ia hanya berdalih tidak ingin membuat orang tuanya khawatir. Kevin tetaplah Kevin meski ia tengah sakit. Beribu alasan yang ia lontarkan kepada Mbok Irah semata hanya agar orang tuanya tidak mengetahui keadaannya. Lelaki itu tidak ingin jika sang ibu akan membawanya kembali ke kota, sementara ia mulai menemukan titik terang dalam misi pencariannya. Kevin bahkan sangat yakin jika saat ini dia tidak akan salah. Hatinya mengatakan jika gadis itu adalah Jumi sang kembang desa yang ia cari selama ini. Jika saja tubuhnya tidak sedang sakit, ia pasti sudah melancarkan langkah seribu guna mendekati Jumi setelah ia memastikan semuanya. Sekarang jangankan memastikan, untuk bangun saja rasanya kepalanya berputar-putar. "Bandi, orang yang kemarin nolong saya itu namanya Jumi?" tanya Kevin pada Bandi yang tengah memberikan obat padanya. Pekerjanya itu sangat setia dan jujur sehingga membuat Kevin mudah menaruh kepercayaan pada Bandi. Bandi yang mendengar pertanyaan Kevin pun mengangguk pelan. Ia masih tidak sadar ke mana arah pembicaraan mereka. "Jumi siapa? Saya mau berterima kasih," tanya Kevin penasaran. Ia membuat nada bicara dan raut wajahnya senatural mungkin agar Bandi tidak curiga. Mungkin saja Bandi ingat dengan percakapan mereka saat itu. Bandi menatap Kevin santai. "Ituloh, Pak. Dia itu Jumi yang pernah saya ceritain, kembang desa dari desa ini," jawab Bandi sembari mengemasi plastik obat Kevin. Jujur saja, Kevin yang sakit seperti ini ternyata lebih merepotkan. Ia harus bolak-balik apotek hanya karena mencari obat yang cocok dengan Kevin. Ia baru tahu jika Kevin memiliki banyak alergi. Kevin yang hendak meminum obatnya itu pun nyaris menyemburkan air di dalam mulutnya ke wajah Bandi. Pria itu benar-benar terkejut setengah mati. Ia belum menyiapkan mentalnya untuk mendapat jawaban seperti ini. Duh, kok, Kevin menjadi tiba-tiba grogi, ya? Perasaan sebelumnya dia santai-santai saja. Siall! Kevin seperti remaja yang baru jatuh cinta, padahal Kevin yakin ia mulai mengenal cinta saat di bangku SMP meski hanya sekedar cinta monyet. "Bapak kenapa?!" pekik Bandi khawatir. Memang benar sih, ia khawatir, tetapi bukan pada Kevin, melainkan dirinya sendiri yang nyaris menjadi uji coba ilmu hitam Kevin. Ia yakin, air yang menyembur keluar dari mulut Kevin pasti penuh u*****n dan caci maki. "Enggak, kok. Saya cuma kaget, kok, rasa obatnya pahit!" Salting! Dasar Kevin! Bohong saja terus sampai Jumi bertemu denganmu nanti! "Pokoknya lusa kamu bantu saya ketemu Jumi, titik." Kevin tetaplah Kevin yang arogan dan egois. ***** "Eh, ada apa Mas Bandi?" tanya Jumi terkejut saat melihat Bandi yang berada di sampingnya. Saat ini, Jumi baru saja pulang sekolah. Ia bahkan sedang berjalan menuju rumahnya. Namun, Bandi membunyikan klaksonnya beberapa kali sehingga membuat Jumi terkejut mendengarnya. "Jumi, ayo ikut aku!" ajak Bandi tanpa mempedulikan raut penuh pertanyaan dari Jumi. Jumi yang mendengar ajakan Bandi pun menggeleng. Untuk apa ia harus mengikuti Bandi? Dia ingin pulang ke rumah. Lelah setelah delapan jam berada di sekolah. Bandi yang berada di samping Jumi dengan motornya pun berhenti. Ia juga meminta Jumi agar berhenti. "Bli, ah! Jumi pengen balik, Mas." Jumi menghela napasnya lelah. Kenapa lagi lelaki satu ini? Apa dia berniat melakukan PDKT juga dengan dirinya? Ampun, Jumi lelah meladeni orang-orang yang ingin PDKT dengan dirinya! Kejadian beberapa hari yang lalu di mana dia menolak Jordi pun menjadi hal paling menakutkan. Ibunya marah besar, terlebih lagi saat melihat baju-baju kotor yang belum tercuci semuanya. Selain itu, baju yang Jumi kenakan juga berantakan dan basah. Jumi sudah memberi penjelasan pada sang ibu, tetapi ibunya tidak percaya. (Enggak mau, ah! Jumi mau pulang, Mas.) "Eh, aja balik dikit! Ayo melu karo aku ketemu pak Kevin!" cegah Bandi sambil mencengkram tangan Jumi. Jumi mengerutkan alisnya kesal. Ia benar-benar ingin pulang dan tidak mencari masalah lagi dengan ibunya. Masalah yang kemarin saja membuat ibunya marah sehingga membakar beberapa bukunya. Lalu, setelah ini apa lagi? (Eh, jangan pulang dulu! Ayo ikut sama aku ketemu pak Kevin!) "Kevin sapa maning, Mas? Jumi ora kenal!" ucap Jumi lelah. Siapa lagi Kevin ini? Lagi pula, kenapa harus bertemu dengan dirinya, sih?! (Kevin siapa lagi, Mas? Jumi enggak kenal!) "Ikuloh, wong sing kamu selametin wingi. Iku bosku, jare'e pengen ketemu karo kamu." Bandi masih berusaha membujuk Jumi. Bagi Bandi, hal ini sudah tak aneh lagi. Jumi memang dikenal jarang keluar rumah dan lebih suka belajar dibanding bermain atau berkumpul dengan teman sebayanya. Jadi, Jumi pasti merasa tidak biasa. (Ituloh, orang yang kamu selamatkan kemarin. Itu bosku, katanya mau ketemu sama kamu.) "Eh, keadaan'e kepriben, Mas?" tanya Jumi tiba-tiba. Sejujurnya, Jumi khawatir pada orang yang ia selamatkan itu. Lelaki itu terlihat dewasa, tetapi sangat manja. Dia juga sangat arogan dan sombong. Namun, Jumi yakin jika dia adalah orang yang baik. (Eh, keadaannya gimana, Mas?) Bandi menggelengkan kepalanya pelan. "Wong'e lagi gering. Wis olih patang dina, lah. Melas pisan kondisi'e, Jumi. Bokatan bae umure bli panjang, deweke pengen ketemu karo kamu!" jelas Bandi sedih. Ia sengaja melakukan hal ini agar Jumi merasa tidak tega. Kalau Kevin dengar, sudah dapat dipastikan jika orang itu akan mengamuk saat itu juga. Dia pasti sudah mengumpati Bandi sekasar-kasarnya. (Orangnya lagi sakit. Udah dapat empat hari, lah. Kasian banget kondisinya, Jumi. Barang kali aja umurnya enggak panjang,  dia pengen ketemu sama kamu!) Jumi yang mendengar hal itu pun merasa kasihan. Ia dengan cepat naik ke motor Bandi dan meminta Bandi menjalankan motornya. ***** Sesampainya di rumah Kevin, Jumi merasa kesal bukan kepalang pada Bandi yang menipunya. Katanya lelaki yang ia tolong itu tengah sakit, nyatanya? Lelaki itu bahkan tengah bermain ponsel di ruang tamunya. Jika saja Bandi tak cepat mencekal tangannya, ia pasti sudah kabur. "Mas Bandi nipu Jumi, ya? Itu orangnya sehat bugar gitu!" tuduh Jumi sembari menunjuk wajah Bandi yang cengengesan. "Itu orang sehat cuma badannya aja, kayaknya dia kerasukan, deh! Soalnya sikapnya aneh banget," tukas Bandi tidak berbohong. Selama sakit Kevin memang bersikap aneh. Dia menjadi lebih sering senyum dan ceria meski sangat malas makan dan tingkat manjanya bertambah. "Ah, masa, sih?!" tanya Jumi tak percaya. Saat ini mereka sibuk berbisik-bisik sehingga tidak menyadari jika orang yang menjadi topik ghibahan mereka itu ada di depan mereka. Bukannya marah, Kevin justru tersenyum lebar. Ia merasa senang dengan kedatangan Jumi. "Jangan ngomongin saya terus. Bandi, kamu balik kerja sana!" tegur Kevin tiba-tiba membuat mereka terkejut. Bandi yang mendengar hal itu pun dengan cepat kembali ke proyeknya. Sementara itu, Jumi yang berada di dekat Kevin pun merasa kaku Kevin tetap bersikap santai. Ia justru mengucapkan sesuatu yang sangat tulus sehingga membuat Jumi terperangah. "Terima kasih, Jumi. Tanpa kamu saya tidak akan selamat!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN