"Eh?" celetuk Jumi terkejut saat Kevin mengucapkan terima kasih pada dirinya. Bukan kata terima kasih yang menjadi fokus utama Jumi, tetapi cara lelaki itu menyampaikannya. Lelaki yang di pertemuan pertama mereka itu berani membentak dan mengaturnya justru tampak sangat berbeda kali ini. Dia tampak lebih manusiawi sehingga hal itu menambah kadar ketampanannya. Ya ampun, bisa lupa diri Jumi jika sudah berhadapan dengan lelaki tampan yang ia tolong beberapa hari lalu.
"Kenapa, kaget?" tanya Kevin sembari tersenyum kecil. Diam-diam matanya melirik pada Jumi yang sedang menundukkan wajahnya malu. Lelaki itu menatap Jumi dengan matanya yang berbinar. Setelah berhari-hari sakit dan menahan diri untuk tidak menemui Jumi yang selama ini ia cari, akhirnya setelah rencana kerja samanya dengan Bandi berhasil membuatnya bertemu langsung dengan Jumi untuk yang kedua kalinya. Harapan Kevin ke depannya, ia akan terus bertemu Jumi.
"Ah, enggak." Jumi menggelengkan kepalanya. Mana ada orang kaget karena ucapan terima kasih. Wajarlah kalau Kevin mengucapkannya dengan sebuah teriakan, tetapi kali ini berbeda. Akan sangat aneh jika ia terkejut hanya karena sebuah ucapan terima kasih, bukan? Ia akan tampak sangat konyol. Di antara mereka tidak ada hubungan apa pun dan tidak sepantasnya ia malu-malu kucing setengah terkejut seperti ini.
"Jumi, mau masuk dulu? Minum dulu gitu, hitung-hitung sebagai balas budi saya," tawar Kevin dengan sedikit kaku. Aduh, kenapa dia yang malu sekarang, ya? Perasaan ia sudah menyiapkan mentalnya sejak tadi, kenapa sekarang hilang lagi? Kevin merutuk dalam hati. Ia menilai dirinya sendiri terlalu bar-bar menunjukkan ketertarikannya. Ia bahkan dengan tidak tahu malunya mengajak Jumi untuk mampir, padahal mereka baru saja mengenal dan pertemuan pertama mereka sangatlah buruk. Memalukan, tetapi berhasil membuat Kevin menaruh harapan.
"Eeeumm, Jumi mau, sih, Mas. Tapi takut dicari Ibu, nanti Ibu marahin Jumi lagi!" jawab Jumi setengah kebingungan. Sebenarnya, ia ingin sekali mampir dan mengobrol bersama Kevin. Dari yang ia dengar, Kevin adalah orang kota. Pasti ada banyak pengalaman yang laki-laki itu dapatkan dibanding dirinya. Ia ingin mendengar pengalamannya. Ia juga ingin bertukar pikiran. Di sini ia tidak punya teman bertukar pikiran. Dari kelihatannya, Kevin adalah orang yang cerdas dan baik.
Kevin menggaruk kepalanya pelan. Kalau sudah berurusan dengan ibu-ibu, Kevin menyerah. Demi apa pun, mereka termasuk sejenis kaum yang bahkan lebih ganas dari singa. Kalau berbicara pedas, kalau bertindak tegas, dan kalau mengghibah pasti selalu ikhlas. Apa lagi kalau sudah berurusan dengan orang ketiga, sudah pasti akan dibabat sampai tuntas! "Saya juga bingung, tapi saya mau ngajak kamu makan. Kasihan kamu, pasti berat narik saya di dalam air," ringis Kevin. Ia tidak boleh salah melangkah atau ibu dari Jumi bisa saja menjadikan dirinya lauk untuk disantap. Anak gadis seperti Jumi pasti tidak boleh dibawa sembarangan!
Dasar Kevin, tidak tahu saja dia jika ibu Jumi bahkan menyuruh anaknya sendiri untuk melakukan PDKT. Kalau Kevin tahu, pasti dia sudah panas dingin! Jumi dan Kevin sama-sama terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya, Jumi pun memilih untuk mengambil langkah. Bukan langkah menuju pelaminan, tetapi langkah untuk pulang ke rumah dan melupakan jamuan. Anggap saja ajakan Kevin sebagai jamuan untuknya, bukan? "Jadi gimana, Mas? Jumi harus sampe rumah sebentar lagi," tanya Jumi. Ia tidak ingin membuat Kevin kecewa karena ia sangat yakin jika Kevin membuat rencana ini dengan susah payah. Ia bahkan meminta bantuan Bandi untuk membujuknya. Kasihan juga jika umurnya benar-benar pendek seperti ucapan Bandi. Ia takut digentayangi oleh arwah Kevin. Ganteng, sih, tapi ngeri juga.
"Aduh, saya juga bingung. Padahal saya mau ngasih kamu hadiah karena udah nyelametin saya, soalnya kamu, kan, bertaruh nyawa juga. Kalau kamu enggak kuat, kamu juga bakal hanyut sama kayak saya," jawab Kevin bingung. Ia menatap wajah Jumi yang tampak cemas. Sejujurnya, Kevin ingin sekali berbincang dengan Jumi. Ia ingin memulai langkah seribunya. Namun, ia tidak tega melihat raut wajah Jumi yang sangat melas. Sudah imut, polos, dan sekarang tampak memelas. Paket komplit untuk membuat Kevin berubah pikiran.
"Ya udah, sekarang kamu pulang aja. Kita bisa ngobrol lain kali, kok. Pasti orang rumah pada nungguin, kan?" putus Kevin. Ia menatap Jumi yang kini tengah mengangguk lucu. Ah, Kevin merasa gemas dan ingin mengunyel-unyel pipi tembemnya. Sayang, ia harus menahannya. Belum saatnya, hehehehe.
"Beneran enggak apa-apa, Mas? Jumi endak enak." Jumi merasa tak enak hati. Ia menatap Kevin takut-takut. Siapa tahu Kevin mendadak kerasukan dan langsung menyerang dirinya, kan?
"Enggak, kok. Enggak apa-apa. Kita bisa ngobrol lain kali. Jumi mau, kan?" tanya Kevin meminta persetujuan Jumi. Kalau Jumi sudah oke, maka langsung ia tancap gas. Jangan beri kendor.
Jumi mengangguk pelan. Ia tersenyum malu karena melihat Kevin yang menatapnya lembut. Aish, baru kali ini ada pria yang menatapnya seperti itu. Biasanya hanya ada lelaki nakal yang mengandalkan harta orang tua dan suka sekali memaksa yang mendatanginya. Pria-pria itu pasti menatap Jumi dengan nafsu. Mereka selalu tersenyum genit pada Jumi. Anehnya, ibunya selalu menerima saja kehadiran orang seperti itu yang bisa dibilang menjadi parasit di kehidupannya.
"Jumi ada HP, kan?" tanya Kevin. Ia akan bertukar nomor dengan Jumi agar komunikasi mereka semakin mudah. Jumi yang ditanya seperti itu pun dengan polos dan semangat mengeluarkan ponsel dari saku roknya. Ia kemudian memamerkan ponsel jadulnya pada Kevin yang terperanjat melihatnya. Ponsel tahun berapa itu?!
"Ini HP Jumi, Mas!" ujar Jumi riang. Ia membolak-balikkan ponselnya di depan Kevin yang menatapnya cengo. Zaman sekarang masih menggunakan ponsel jadul itu? Demi apa pun, ponsel pembantu di rumahnya bahkan jauh lebih bagus dari ponsel Jumi yang hanya bisa menggunakan tombol. Ponsel milik Jumi bahkan tidak memiliki kamera depan. Satu pertanyaan lagi, apa Jumi bisa bertahan dengan ponsel kelewat jadul seperti itu?!
"Mas, kenapa ngeliatin HP Jumi terus? Bagus, ya?" tanya Jumi bangga. Ia menatap Kevin penuh kegembiraan yang langsung dibalas dengan senyuman canggung Kevin. Andai saja Jumi tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Sudah dipastikan gadis itu akan langsung bersedih.
"Iya, HP-nya bagus. Mana nomor Jumi, sini Mas masukin ke memori telepon Mas," puji Kevin sembari meminta nomor ponsel Jumi. Jumi pun tanpa berpikir panjang langsung memberikan ponselnya pada Kevin yang merasa kesulitan menggunakan ponsel Jumi. Lelaki itu bahkan menyipitkan matanya karena layar ponsel Jumi yang bergaris-garis menyulitkan dirinya untuk melihat nomor Jumi. Selain itu, ukuran ponsel Jumi yang sangat kecil di tangan Kevin membuat lelaki itu was-was. Jangan sampai ia menjatuhkan ponsel yang sangat Jumi banggakan itu.
"Mas Kevin kenapa? Matanya minus?" tanya Jumi polos. Kevin yang mendengar hal itu pun mengangguk pelan. Kasihan Jumi jika ia beri tahu yang sebenarnya. Biarlah Jumi menganggap matanya tidak normal, asalkan Jumi tetap bahagia.
"Aduh, mau Jumi sebutin enggak, Mas? Mas Kevin enggak bilang dari tadi, sih!" sesal Jumi dengan segera merebut ponselnya. Ia pun langsung menyebutkan nomor ponselnya dan hal itu berhasil membuat Kevin lega setengah mati. Jika boleh jujur, sejak tadi tidak ada yang ia ketik. Ia hanya pura-pura saja agar Jumi tak curiga. Matanya terasa mau copot melihat layar dan angka sekecil itu. Belum lagi layar ponsel Jumi yang belang seperti Zebra.
Setelah saling bertukar nomor, Jumi pun memilih untuk pulang. "Oke, Jumi pulang dulu, ya, Mas!" pamit Jumi berlalu pergi. Kevin yang melihat hal itu pun dengan cepat mencegah Jumi. Ia ingin mengantar Jumi menggunakan motornya.
"Jangan, Mas. Nanti ibu marah, Jumi jalan kaki aja," tolak Jumi sopan. Ia tidak ingin membuat ibunya marah dan berakhir mengancam akan memutuskan sekolahnya. Jumi masih ingin sekolah. Lagi pula, ibunya tidak suka dengan orang asing, apa lagi dari kota. Dulu pernah ada pria kota yang datang ke desanya dan berakhir dengan tidak baik. Lelaki itu sangat jauh dari kriteria sopan, ia bahkan sangat kasar melebihi Kevin. Jumi takut jika ibunya akan menuduh Kevin seperti itu.
"Eh, Mas khawatir kalau kamu sendiri. Mas anter, ya?" pinta Kevin memohon persetujuan Jumi. Jumi menggeleng pelan. Ia tetap pada pendiriannya.
Kevin terdiam. Ia sedang berpikir keras. Ia tidak tega membiarkan Jumi pulang sendiri karena gadis itu tadi datang bersama Bandi. Tak mungkin ia menyuruh Bandi untuk mengantar Jumi pulang karena akan membutuhkan waktu lama. "Kamu pulang sama Mbok Irah, ya!" ucap Kevin secara tiba-tiba membuat Jumi melotot di tempatnya.
Ini lagi, lebih-lebih berbahaya!
*****
Jumi sedang berguling-guling di atas kasur. Ia merasa bosan setengah mati. Ibu dan ayahnya pergi ke nikahan saudara mereka dan mereka tidak mengajak Jumi ikut serta dengan alasan bahwa akan ada seseorang yang datang mengajak Jumi berjalan-jalan. Jumi tidak tahu siapa lelaki itu karena yang Jumi tahu, ia akan dipaksa untuk menjalani PDKT oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal dan sukai. Jika orang itu baik, sih, Jumi juga tidak masalah. Hanya saja, Jumi bukanlah gadis bodoh yang mudah dikelabui. Jumi bisa membedakan antara yang tulus dan tidak. Contohnya saja Kevin, ia yakin jika lelaki itu memang benar-benar baik dan bukan hanya sekedar mencari muka.
"Aku bosen banget, pengen baca buku, tapi udah semua. Mau pinjem ke perpus, udah telat. Besok minggu dan baru bisa pinjem lagi hari senin. Kalau tahu ibu sama bapak mau pergi, aku pinjem aja buku yang banyak," keluh Jumi. Hari sudah sore dan ia benar-benar merasa mati kebosanan. Sejak siang hari selepas pulang sekolah, yang ia lakukan hanyalah membaca buku. Ia bahkan sudah menghabiskan dua buku sekaligus dan kini ia kehabisan buku bacaan. Di perpustakaan sekolahnya, batas meminjam buku maksimal adalah dua dan Jumi sudah mengambil jatahnya itu. Padahal, jika hari masih siang akan ada kemungkinan sekolahnya masih buka. Ia dapat mengembalikan dua buku itu dan meminjam yang baru.
Saat sedang sibuk melamun, Jumi pun dikejutkan dengan sebuah panggilan. Langsung saja ia mengambil ponselnya dan terperanjat di tempat saat melihat nama orang yang menelepon dirinya. Itu Kevin! Tanpa pikir panjang, Jumi pun lekas menjawabnya. Ia merasa senang karena Kevin mungkin saja bisa membunuh kejenuhannya.
"Halo, Mas Kevin?!" sapa Jumi ceria. Ia dengan sabar mendengarkan suara Kevin yang terdengar putus-putus. Ah, sinyal di desa ini memang buruk.
"Halo, Jumi! Maaf, ya, saya nelepon kamu ngedadak gini. Saya cuma ma—"
"Iya enggak apa-apa, Mas. Jumi malah lagi bosen, enggak ada orang di rumah!" potong Jumi semangat membuat Kevin yang berada di seberang sana pun terkekeh berat. Tak masalah ucapannya dipotong begitu saja karena ia mendapatkan gantinya, bahkan jauh lebih menyenangkan.
"Wah, kebetulan banget. Saya mau ngajak kamu makan, nih, di rumah saya. Sama Bandi sama Mbok Irah juga. Kamu mau ikut enggak, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih saya sama kamu," ajak Kevin senang. Jumi yang merasa di seberang sana pun memekik girang. Tuh, kan, benar jika Kevin bisa membunuh rasa bosannya. Lihat saja sekarang, Ia bahkan diajak makan-makan di rumah Kevin.
Jumi terdiam sebentar. Ia bingung, ia ingin menerima ajakan Kevin, tetapi ia ingat jika akan ada orang yang datang ke rumah. Bisa habis dia dimarahi ibunya jika orang itu datang dan dia tidak ada di rumah.
"Jumi, gimana? Mau enggak?" tanya Kevin lagi saat tidak mendapat jawaban Jumi. Ia benar-benar tidak sabar ingin makan bersama Jumi di rumahnya. Meski tidak hanya berdua, tetapi Kevin yakin hal itu akan membangun hubungannya dengan Jumi yang masih memerlukan banyak waktu.
"Jumi mau, Mas. Tapi kata ibu sama bapak bakal ada orang yang dateng ke rumah, Jumi takut pas orang itu dateng Jumi enggak ada di rumah," tutur Jumi sedih. Ia ingin sekali makan-makan di sana, apa lagi ada Mbok Irah selaku saudara jauhnya. Ia ingin mengakrabkan diri.
Sekarang gantian Kevin yang terdiam. Lelaki itu tengah memikirkan solusi untuk mengatasi masalah Jumi. Demi apa pun, ia tidak ingin gagal lagi. "Gini aja Jumi, gimana kalau Jumi ke sini dulu, terus pas udah selesai makan Jumi balik lagi ke rumah. Sebentar doang, kok!" saran Kevin membuat Jumi terdiam. Ia masih belum yakin.
Karena Jumi hanya diam, Kevin pun merasa semakin tersulut dan penasaran. "Emang orangnya dateng jam berapa, sih?" tanya Kevin penasaran. Siapa yang berani mengganggu jamnya untuk menghabiskan waktu bersama Jumi?!
"Kata ibu, sih, abis maghrib!" jawab Jumi mantap. Sebenarnya masih ada waktu untuk bertandang ke rumah Kevin, tetapi ia yakin akan terlambat sampai ke rumah nanti. Rumahnya dan rumah Kevin terpaut jarak yang jauh.
"Emang ibu sama bapak kamu ke mana? Kok, nyuruh kamu yang jagain?" tanya Kevin heran.
"Ibu sama bapak nginep di nikahan saudara, Jumi enggak diajak. Katanya Jumi suruh tunggu orang itu aja di rumah," jawab Jumi polos. Kevin yang mendengar hal itu pun menjadi panas. Kenapa Jumi tidak dibawa saja, sih?! Kasihan jika dia sendirian di rumah. Lagi pula, orang penting apa yang membuat Jumi harus tertahan di rumah?
"Ya udah, Jumi ke rumah saya aja. Nanti saya suruh Bandi jemput kamu dan pulangnya kamu dianterin sama saya. Gimana, mau?" tawar Kevin lagi. Jumi menggaruk kepalanya bingung.
"Kok, enggak sama Mas Kevin dijemputnya, kan, yang ngajak Mas Kevin?" tanya Jumi bingung membuat Kevin mati kutu. Siall! Ia justru sengaja menyuruh Bandi untuk menjemput Jumi nanti. Kalau Kevin yang jemput, bisa habis ditertawakan sepanjang perjalanan. Belum bertemu Jumi saja dia sudah grogi, apa lagi nanti. Bisa-bisa motornya masuk ke dalam parit!
"Kalau saya yang jemput, nanti nyasar. Saya, kan, enggak tahu rumah kamu. Harusnya cepet, malah lama. Terlalu menghabiskan banyak waktu," ujar Kevin di seberang sana. Jumi yang mendengar hal itu pun menganggukkan kepalanya semangat. Benar juga!
"Oke, Mas! Jumi mau! Tapi Jumi ganti baju dulu, ya," ucap Jumi dengan semangat. Setelah itu, ia langsung mematikan teleponnya dan bergegas mengganti pakaiannya. Meski bukan acara makan-makan yang besar dan mewah, Jumi harus tetap memberikan kesan yang baik, bukan?
Sementara itu, Kevin yang berada di kamarnya pun memekik girang. Akhirnya, ia berhasil mendapat waktu khusus untuk bersama Jumi.
"Jumi, Mas Kevin enggak akan nyerah. Mas akan ngejer kamu sampe dapat!!" pekik Kevin. Pekikkan Kevin rupanya terdengar sampai ruang tamu hingga membuat Mbok Irah dan Bandi yang tengah berada di sana itu pun saling berpandangan. Mata mereka menyiratkan ketidakpercayaan.
"Loh, Pak Kevin suka sama Jumi?"
"Kevin demen karo Jumi??" (Kevin suka sama Jumi??)