11. Obrolan Hangat

2047 Kata
"Eh, Jumi! Ayo sini, Mi!" ajak Kevin sembari melambaikan tangannya saat Jumi telah tiba di pekarangan rumahnya. Mbok Irah yang mendengar suara Kevin pun lekas menengok. Tangannya yang semula sedang merapihkan tikar mendadak berhenti saat melihat Jumi yang tersenyum malu-malu pada Kevin. Matanya memincing sempurna dan langsung saja otaknya memutar momen langka yang beberapa waktu ia ketahui. Berbagai spekulasi muncul begitu saja di dalam pikirannya. Kevin yang tampak kegirangan dan Jumi yang tampak malu-malu kucing bukanlah sebuah kebetulan. Ia tahu betul jika seorang gadis akan merasa malu dan canggung saat berhadapan dengan lelaki yang ia sukai. Untuk Kevin, ia sudah yakin seribu persen jika anak itu memang benar-benar jatuh cinta pada Jumi. Namun untuk Jumi, ia yakin jika Jumi belum menyadari perasaannya. "Iya, Mas." Jumi menyahut dengan lembut sembari melepaskan sandalnya dan langsung duduk di atas tikar. Sementara itu, Bandi yang melihat hal itu pun menjadi canggung. Telinganya seolah ternoda mendengar pekikkan Kevin beberapa waktu lalu. Ini masih terasa mimpi baginya saat tidak langsung mendengar isi hati bosnya sendiri. Terlebih lagi, rasa itu ditunjukkan untuk orang yang ia pikir sama sekali bukan selera seorang Kevin yang notabennya adalah lelaki kota modern. "Akhirnya, udah lengkap orangnya. Mbok, siapin makanannya," pinta Kevin sembari menatap Mbok Irah yang hanya terdiam melihat keberadaan Jumi. Entahlah, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa saat berhadapan dengan Jumi. Selain Jumi adalah anak dari sepupu yang merangkap sebagai musuhnya, Jumi juga ternyata berhasil merebut hati seorang Kevin. Mbok Irah sama sekali tidak cemburu. Hanya saja ia merasa hal ini hanyalah khayalannya semata. "Mbok," tegur Kevin saat melihat Mbok Irah yang tetap diam di tempatnya. Mendengar teguran Kevin, Mbok Irah pun mengedipkan matanya. Ia langsung berjalan memasuki rumah untuk mengambil beberapa makanan yang sudah ia siapkan. Jumi yang melihat hal itu pun berinisiatif untuk membantu Mbok Irah. Ia ingin mendekatkan dirinya dengan orang yang selalu ibunya jelek-jelekkan. Ia yakin jika Mbok Irah tak seburuk yang ibunya ceritakan. Ibunya itu memang memiliki mulut yang luar biasa menyakitkan. "Mas, Jumi mau ke dalem boleh? Mau bantu Mbok Irah," tanya Jumi tak enak hati. Ia menatap Kevin yang sejak tadi tak kunjung menurunkan bibirnya. Lelaki itu mirip seperti anak kecil yang diberi permen oleh ibunya. Terus tersenyum sepanjang hari! Kevin mengangguk pelan. "Boleh, tapi hati-hati, ya?" pinta Kevin yang langsung diangguki semangat oleh Jumi. Jumi pun langsung bergegas masuk dan menghampi Mbok Jumi yang berada di dapur. "Mbok," sapa Jumi mengejutkan Mbok Irah yang tengah mengambil piring. Mbok Irah pun langsung membalikkan badannya dan mendapati Jumi yang tengah tersenyum lebar. Jumi sedikit meringis dalam hati. Sejak ia datang, Mbok Irah selalu menatapnya tajam seolah siap mengulitinya kapan saja. Maka dari itu, Jumi memberanikan diri untuk mendekati Mbok Irah. Mereka sudah bertahun-tahun tidak akur dan sudah dapat dipastikan jika kecanggungan menjadi tembok yang harus mereka runtuhkan terlebih dahulu. "Kenapa?" tanya Mbok Irah judes. Ia memandang Jumi nyalang membuat Jumi yang ditatap seperti itu pun merasa gugup. Ia pikir jika sedang berdua seperti ini hubungan mereka dapat membaik dan hangat. Mungkin saja jika di depan orang banyak Mbok Irah menjaga image-nya. Image menjadi musuh maksudnya... Karena pertengkaran antara Mbok Irah dan ibunya bukanlah hal yang asing lagi. Warga desa bahkan sudah tak sanggup merukunkan mereka. "Mbok, pengen dibantoni bli? Jumi langka pegawean iki. Moso iya aku meneng bae ning jaba kayak majikan," tanya Jumi membuat Mbok Jumi terdiam. Jumi menunggu dengan harap-harap cemas. Ia takut ditolak oleh Mbok Irah hanya karena permasalahan keluarga mereka. Ia berharap Mbok Irah dapat bekerja sama dengan dirinya. Jika salah satu dari dua keluarga tak ada yang mengalah, sampai kapan pun tak akan pernah ada kata memaafkan. (Mbok, mau dibantuin enggak? Aku enggak ada pekerjaan ini. Masa iya aku diem aja di luar kaya majikan.) "Emang," gumam Mbok Irah. Jumi menatap Mbok Irah intens. Ia tidak dapat mendengar dengan jelas ucapan Mbok Irah. Namun, mulut Mbok Irah yang bergerak membuat Jumi yakin jika Mbok Irah tengah berbicara. "Mbok, ngomong opo, toh? Jumi ora krungu." Jumi memilih untuk bertanya. Ia penasaran juga dengan ucapan saudaranya itu. Menurutnya, dengan percakapan kecil seperti ini akan menjadi jembatan untuk merukunkan keluarga mereka. (Mbok, ngomong apa? Jumi enggak denger.) Mbok Irah berperang dengan batinnya. Gengsi menerima bantuan dari musuh bebuyutan sekaligus keluarganya sendiri. Kemarin karena kepalang tanggung saja ia berterima kasih pada Jumi. Tanpa kehadiran Jumi, Kevin mungkin sudah hilang terbawa arus. Ditambah lagi, pengakuan Kevin yang mengatakan ia menyukai Jumi membuat Mbok Irah waspada. Ia takut Kevin benar-benar mencintai Jumi yang notabennya menjadi incaran pria satu desa. Ia takut Kevin gagal bersaing sehingga memutuskan bunuh diri. Menyeramkan! Eh, memangnya ada yang bisa mengalahkan Kevin? Namun, tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran ibu Jumi yang ia kenal sebagai wanita licik. "Bli, Mbok bli ngomong apa-apa. Wis, kamu gawa iku makanan'e. Mbok arep mbasuh piring dikit, akeh debu'e!" ujar Mbok Irah jutek membuat Jumi tersenyum maklum. Tak apa, yang terpenting mereka bisa berbicara meski sedikit. Ia tahu jika Mbok Irah pasti sangat terluka karena sikap keluarganya selama ini. (Enggak, Mbok enggak ngomong apa-apa. Udah, kamu bawa itu makanannya. Mbok mau cuci piring dulu, banyak debunya!) Jumi pun langsung membawa makanan-makanan itu menggunakan nampan. Ia menaruh empat piring dan satu mangkuk sekaligus di dalam nampan. Mata Jumi mengernyit heran saat melihat wujud makanan itu tidak seperti makanan pada umumnya. Dia menatap penuh tanya pada Mbok Irah yang mengabaikannya. Jumi berjalan dengan pelan menuju pekarangan agar makanan yang ia bawa tidak jatuh. Setelah sampai, Jumi langsung menaruh makanan itu di atas tikar. Kevin yang melihat hal itu pun turut membantu Jumi. Sedangkan Bandi yang melihat pasangan baru bertemu itu pun merasa malu sendiri. Pipi Jumi yang bersemu dan wajah Kevin yang berseri-seri sudah menjawab semuanya. Mereka saling suka! Tak lama, Mbok Irah pun datang sembari membawa piring dan mangkuk yang berbentuk lucu. Itu semua Kevin yang membelinya. Ia pergi jauh-jauh ke kota hanya untuk membeli berbagai piring lucu dan unik. Ia sudah mempersiapkan acara makan-makan ini dengan sepenuh hati. Kota di mana desa ini berada tidaklah besar seperti kota tempat tinggalnya, tetapi masih terdapat mall seperti kota pada umumnya meski fasilitas mereka masih di bawah kata mewah dan memad "Jumi, ayo bantu Mbok ambil makanan lagi di dalam. Masih ada banyak yang belum dikeluarin," ajak Mbok Irah saat melihat Jumi yang menatap bingung makanan yang baru saja ia bawa. Jumi yang mendengar hal itu pun mengangguk patuh dan langsung berjalan masuk mengikuti Mbok Irah. Setelah sampai di dalam, Mbok Irah langsung menaruh beberapa piring dan mangkuk di atas nampak yang akan dibawa oleh Jumi. Sementara itu, Mbok Jumi sendiri membawa minuman beserta gelas-gelasnya. Mereka berjalan beriringan keluar rumah. Setelah sampai, langsung saja mereka menaruh makanan dan minuman itu di atas tikar. Saat acara dimulai, Jumi terus saja memandangi makanan aneh yang tersaji di depan Kevin. Matanya menatap dengan teliti seolah sedang menganalisis makanan sejenis apa di depannya ini. Seumur hidupnya, baru kali ini Jumi melihat makanan seperti itu. Kevin yang menyadari tatapan Jumi pada makanannya pun tersenyum lucu. Jumi terlalu serius sampai ia sendiri lupa untuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri. "Jumi, kenapa?" tanya Kevin sembari menatap Jumi yang terkejut di tempatnya. Ia terlalu serius sampai tidak menyadari sekitarnya. Ish, memalukan. Kenapa ia tidak langsung makan saja, sih?! "Eh, enggak kok, Mas. Jumi cuma aneh aja sama makanannya, hehehehe," jawab Jumi sembari cengengesan. Ia pun langsung mengambil makanannya dan memakannya. Saat Jumi makan, Kevin menatapnya intens. Jumi terlihat sangat cantik dengan bibir yang belepotan. Ah, tangan Kevin gatal ingin mengusap bibir kecil itu dengan tisu. Namun, hal tak terduga justru terjadi. Jumi mengusap bibirnya sendiri menggunakan lengan baju yang ia pakai. Kevin membulatkan matanya, tak menyangka Jumi akan melakukan hal itu di depannya. Kevin tak jijik, ia hanya belum terbiasa. ***** Setelah acara makan-makan selesai, Jumi pun pamit untuk pulang. Kevin pun langsung bergerak cepat mengambil kunci motornya guna mengantar Jumi ke rumahnya. Sesuai janjinya, ia akan mengantar Jumi pulang. Kevin menitip pesan pada Bandi untuk mengantarkan Mbok Irah pulang karena rumah mereka satu arah. Mbok Irah awalnya menolak karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi Kevin memaksa. Lelaki itu ingin rumahnya benar-benar kosong dan dia bisa berteriak girang sesuka hati. Tidak tahu saja dia jika Bandi dan Mbok Irah telah mengetahui semuanya. "Mas Kevin, tadi yang dimakan Mas Kevin itu apa? Kok Jumi baru liat, ya," tanya Jumi di tengah perjalanan. Kevin memelankan laju kendaraannya. Ia menatap Jumi melalui kaca spion. Raut wajah Jumi yang polos dan tampak bingung itu berhasil membuat Kevin menahan tawa. Jumi terlihat sangat lucu. Ia menjadi gemas sendiri melihatnya. Ya ampun, mengantar Jumi ternyata menjadi tantangan besar karena ia harus bisa menahan dirinya untuk tidak bersikap bar-bar. "Yang mana, nih? Mas, kan, makan banyak tadi," tanya Kevin memastikan. Jumi langsung terdiam, semua makanan Kevin tak ia kenali sama sekali. Bentuk penyajiannya juga aneh. "Semuanya Mas, Jumi enggak tahu nama semua makanan yang Mas makan. Eh, tapi Jumi tahu satu, sih. Ada daging, kan? Tapi kok aneh makannya, dicocol saos sama sayuran gitu. Di sini kalau dapat daging biasanya disate," ucap Jumi lucu. Hanya satu makanan yang ia kenali, daging. Namun, Jumi tidak tahu dimasak seperti apa makanan yang tadi Kevin makan. Kevin tertawa pelan. Lucu juga. Masa iya Jumi tidak tahu nama masakan daging yang baru saja ia makan. Ia rasa hal itu sudah tidak asing lagi, tetapi sepertinya Jumi memang tidak mengetahui hal itu. Di desa ini susah sinyal, ponsel Jumi pun ponsel jadul, dan mungkin saja Jumi tidak punya TV di rumah. "Itu namanya steak," jawab Kevin singkat membuat Jumi melebarkan matanya. Dari namanya keren, tetapi ia tidak tahu rasanya. Duh, kok, Jumi jadi penasaran dengan rasanya, ya? "Rasanya enak, Mas?" tanya Jumi membuat Kevin mengangguk. Karena rasanya yang enak itulah Kevin suka. Lagi pula, makanan yang tadi disajikan khusus untuknya memanglah makanan kesukaannya yang modern. Jumi mengangguk paham. Ada satu makanan lagi yang ia kenal, seperti ayam, tetapi sedikit aneh. "Terus, Mas. Ada makanan yang kayak ayam gitu, namanya apa? Kok banyak tepungnya?" tanya Jumi lagi nyaris membuat Kevin menyemburkan tawanya. Menurut Kevin, Jumi terlalu polos dan kampungan hingga tidak tahu makanan sejenis itu. Bukan maksud Kevin mengejek, hanya saja ia heran kenapa ada orang sepolos Jumi? Untuk makanan kali ini sudah dijual di mana-mana dengan harga yang terjangkau, masa Jumi belum mencobanya, sih? Kevin tertawa. Katanya Jumi hanya tahu satu makanan, rupanya gadis itu mengetahui dua makanan. "Katanya cuma tahu satu, kok, jadi dua?" tanya Kevin jahil membuat Jumi memukul pelan pundak Kevin. Kevin menyebalkan! Ia tadi, kan, sempat lupa. "Ish! Jawab aja, Mas!" rengek Jumi membuat Kevin terkekeh pelan. Gadis itu rupanya mulai menunjukkan sisi manjanya pada Kevin yang baru saja ia kenal. "Jumi enggak tahu?" tanya Kevin balik. Ia ingin mendengar jawaban dari Jumi. Mendengar hal itu, Jumi pun mengerucutkan bibirnya dan menggeleng pelan. Kalau tahu, kenapa ia harus bertanya? "Kalau Jumi tahu, Jumi endak bakal nanya, Mas. Lagian makanan Mas Kevin aneh-aneh, Jumi enggak pernah liat, apa lagi makan. Ibu enggak pernah ngasih makan Jumi kayak gitu," jawab Jumi membuat Kevin terdiam. Kasihan juga Jumi, hidup di desa ternyata membuatnya tertinggal dunia luar. Itu bagus, tetapi sebagai manusia kita butuh mencoba hal-hal baru untuk memperbaiki kualitas hidup. Dari yang Kevin lihat, warga desa di sini tidak ingin membuka diri mereka pada hal-hal baru. Mereka lebih suka hidup seperti ini meski menyulitkan mereka. "Ouh, gitu. Ya udah nanti Mas ba—" "Mas, berhenti, Mas! Di sini aja turunnya," pekik Jumi tiba-tiba memotong ucapan Kevin. Kevin dengan spontan menghentikan motornya dan langsung menatap Jumi yang telah turun dari motornya. Gadis itu dengan cepat berterima kasih dan langsung berjalan menuju rumah. Kevin ingin mengejar Jumi, tetapi gadis itu seperti enggan untuk ia temani. Jadi, ia memilih untuk menunggu Jumi hingga memasuki rumahnya. Saat sudah sampai di depan rumah, Jumi melambaikan tangannya kepada Kevin yang masih setia menunggunya. Setelah Jumi benar-benar memasuki rumah, Kevin memutar balik motornya dan segera pulang. Bertepatan dengan perginya Kevin, seorang pria berwajah dewasa datang dengan membawa beberapa plastik belanjaan. Lelaki itu terus memanggil-manggil Jumi yang tak kunjung membuka pintu. Sementara itu, Jumi yang berada di dalam kamar pun akhirnya berteriak. Ia memberi tahu pada lelaki itu untuk menunggu sebentar. Lelaki itu tidak boleh tahu jika ia baru saja keluar atau dia akan langsung mengadukannya kepada ibunya. "Huh, untung aja udah pulang. Mas Kevin masih ada enggak, ya? Aku enggak enak sama dia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN