12. Ajakan Kevin

1194 Kata
"Mas Jordi, ana apa? Ana urusan karo bapak? Ari ana urusan, Bapak langka ning umah," tanya Jumi malas saat telah membuka pintu. Matanya menatap enggan pada Jordi yang dengan percaya dirinya berdiri gagah di depannya. Sorry, ya, Jumi tidak berpengaruh, tuh!  (Mas Jordi, ada apa? Mau ada perlu sama bapak? Kalau lagi ada urusan, bapak enggak ada di rumah.) Sejujurnya, Jumi sedikit terkejut saat melihat jika orang yang datang ke rumahnya adalah Jordi. Ibunya sama sekali tidak mengatakan apa pun mengenai identitas orang tersebut. Ia hanya bilang akan ada lelaki yang datang dan Jumi harus memperlakukannya dengan baik. Pertanyaan tadi hanyalah sekedar basa dan basi! Jumi terlampau muak, tetapi ia tidak bisa bertindak bebas. Jordi tersenyum tampan, tetapi menyebalkan menurut Jumi. Lelaki itu selalu saja mencari perhatiannya dan hal itu membuat Jumi jengah. Cara yang digunakan lelaki itu pun sangat licik, ia mendekati orang tua Jumi agar Jumi tidak akan berkutik lagi. Jordi menggeleng semangat. Untuk apa ia datang ke sini hanya karena ada urusan dengan ayah Jumi? Lebih baik ia suruh saja Ayah Jumi untuk mendatanginya. Yang kaya, kan, dia dan bukan keluarga Jumi. Menurut prinsip hidup seorang Jordi, warga desa di sini harus datang kepadanya bila butuh. "Ora, aku ana urusan karo dirimu, dudu bapakmu. Kan, aku demen'e karo dirimu, Jumi. Moso iya aku demen karo bapakmu, pedang mangan pedang aran'e!" jawab Jordi setengah menggoda Jumi. Lelaki itu menjilat bibir bawahnya dan menatap Jumi intens. Entah kenapa Jumi sangat cantik hari ini. Setelah pertemuan terakhir mereka yang gagal berkencan, kali ini Jordi tak akan memberi kelonggaran. Jumi harus mau berkencan dengannya kali ini! (Enggak, aku ada urusan sama kamu, bukan bapakmu. Aku, kan, sukanya sama kamu, Jumi. Masa iya aku suka sama bapakmu, pedang makan pedang namanya!) Jumi memutar bola matanya malas. Satu lagi yang tidak ia suka dari Jordi, lelaki itu terkadang membicarakan hal yang sama sekali tidak ia pahami. Begini ya, Jumi itu polos dan lugu. Ia tidak tahu hal-hal mengenai dunia percintaan. Jumi hanya tahu PDKT yang ibunya ajarkan padanya. Itu saja, sudah. Maka dari itu, kehadiran Kevin yang berhasil mendebarkan hatinya itu pun tak dapat Jumi pahami artinya. Jika Kevin sudah jelas menaruh rasa pada Jumi, tetapi Jumi bisa saja tidak satu pemikiran dengan Kevin. Semakin lama ia mengenal Jordi, semakin lama juga ia tidak paham dengan sikap lelaki itu. Seharusnya, semakin kenal maka semakin paham dan dekat. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Jumi merasa semakin enggan berdekatan dengan Jordi yang sayangnya menjadi kandidat istimewa orang tuanya. Seperti kali ini, mana ada pedang makan pedang. Dalam dunia peperangan saja, pedang memakan nyawa. Ketajamannya selalu berhasil melukai musuhnya dan bahkan membunuhnya. Namun, ucapan Jordi baru saja sama sekali tak berdasar. Ia tahu jika Jordi adalah murid terakhir yang lulus dengan nilai pas-pasan. Itu pun orang tuanya menggunakan jalur dalam. Namun, Jumi tak menyangka jika Jordi sebodoh itu. Berbicara mengenai Jordi, Jumi jadi teringat lagi dengan Kevin. Lelaki itu meski awalnya terlihat tidak memilih akhlak, ia ternyata sangat cerdas dan baik. Buktinya saja ia diajak makan bersama meski bukan orang penting atau orang dekat dalam hidup Kevin. Menurut Jumi, cara berterima kasih Kevin sangatlah unik. Jarang-jarang ada pria yang berani mengajaknya makan di rumah mereka. Sebenarnya ada, sih, hanya saja ia tolak. Pengecualian untuk Kevin, ia tidak dapat menolak Kevin. Rata-rata dari mereka mengajaknya makan untuk menyogok dirinya agar menerima lamaran. Hal itu sangat menyebalkan bagi Jumi. Jumi bukan bahan sogokan! Ia manusia, berhak memilih. Namun, Jumi juga menyadari jika ia tidak pernah bisa membela diri. Ia selalu kalah. "Mas bli dikongkon manjing, kih?" tanya Jordi memberi kode pada Jumi yang masih membiarkannya berdiri di depan pintu. Jumi memejamkan matanya. Berusaha menahan rasa kesal di dadanya akibat ulah ibu dan ayahnya. Ia pun bergeser ke kiri dan membiarkan Jordi masuk dengan tetap membuka pintu rumah. Jordi tersenyum senang. Sudah lama ia bermimpi bisa berduaan dengan Jumi. Akhirnya mimpi itu tercapai juga. (Mas enggak disuruh masuk, nih?) "Lah, lawang'e dibuka, Jum?" tanya Jordi setengah terkejut. Ia sudah membayangkan jika mereka benar-benar akan berdua tanpa ada yang mengganggu. Kalau begini, kan, bisa saja ada orang lewat dan membuat PDKT mereka jadi tidak lancar. (Loh, pintunya dibuka, Jum?) Jumi mengangguk sebagai jawabannya. "Iyo, tak buka, Mas. Kita iki dudu laki rabi, bli enak engko dikira ngapai karo warga." Jordi tersenyum kecut. Justru itu tujuannya agar ia bisa menikahi Jumi. (Iya, pintunya aku buka, Mas. Kita ini bukan suami istri, enggak enak entar dikira ngapain sama warga.) "Ari dikira ngapa-ngapain karo warga ya bli papa, Jum. Bagus malah, engko kita bisa kawin cepet. Bli usah nunggu sue ngurus ini itu, langsung akad bae." Jordi menjawab dengan senyuman nakalnya. Ia memandangi tubuh Jumi dari atas ke bawah. Satu kata untuk Jumi, cantik. (Kalau dikira ngapa-ngapain sama warga ya enggak masalah, Jum. Bagus malah, nanti kita bisa nikah secepatnya. Enggak perlu nunggu lama ngurus ini itu, langsung akan aja.) Jumi memilih diam. Ia tidak berminat untuk menanggapi ucapan Jordi yang terlewat kacau. Kalau dipikirkan hanya akan menambah bebannya saja. Jumi berharap Jordi lekas pulang agar dia bisa istirahat secepatnya. ***** "Bapak mendi, Bu?" tanya Jumi saat membuka pintu dan melihat ibunya yang tengah berdiri sembari mengipasi wajah. Cuaca hari ini memang sangat panas. (Bapak mana, Bu?) "Bapakmu ana urusan. Mau ning dalan ketemu karo bature," jawab Ibu Jumi. Jumi mengangguk paham dan langsung bergeser agar ibunya bisa masuk. (Bapakmu ada urusan. Tadi di jalan ketemu sama temannya.) "Jum, waktu ana Jordi kamu kongkon masuk bli?" tanya sang Ibu saat ia sudah memasuki rumah. Jumi yang mendengar pertanyaan itu pun menghela napas. Baru saja datang, tetapi yang dibicarakan tidak jauh-jauh dari Jordi. Apa Jordi jauh lebih penting dari anaknya sendiri? Seharusnya, Ibunya itu mengkhawatirkan dirinya yang ia paksa menemani Jordi. Seharusnya ia bertanya, apakah Jumi baik? Apakah Jordi berbuat sesuatu kepada Jumi? (Jumi, waktu ada Jordi kamu suruh masuk enggak?" "Nggih, Bu. Wis tak kongkon manjing." Jumi bantu membawa barang-barang ibunya. Ia menggeret tas berisi makanan yang pasti sengaja saudaranya bawakan. (Iya, Bu. Udah tak suruh masuk.) "Yowes, ibu arep adus. Barang-barang'e diberesi, baju'e dicuci." Jumi hanya mengangguk pelan. Ia kemudian beralih pada tas ibunya, mengambil baju ibu dan ayahnya untuk ia cuci. Selama beberapa hari menginap di sana, pasti ibunya sangat sibuk. Raut wajahnya juga terlihat lelah. Setelah Jumi membereskan barang-barang ibunya, ia pun memilih untuk memasuki kamar sebentar.  (Yaudah, Ibu mau mandi. Barang-barangnya dirapihkan, bajunya dicuci.) Jumi merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia akan mencuci baju sore nanti di sungai. Sepertinya enak jika ia mencuci sembari bermain air sungai. Setelah melewati siang hari yang panas, sore hari bermain di sungai pasti akan terasa sangat segar. Ah, lebih baik Jumi tidur dulu sekarang karena ia sangat mengantuk sejak tadi. Namun, Jumi menahan kantuknya karena takut tertidur saat menunggu orang tuanya pulang. Mereka bisa memarahi Jumi nanti saat terlalu lama membuka pintu. Saat Jumi akan tertidur, ponselnya berbunyi pertanda ada pesan yang masuk. Langsung saja Jumi mengambil ponselnya dan membukanya. Matanya membulat terkejut saat mendapati ada sebuah pesan dari Kevin. Raut wajahnya yang sedari tadi tampak tidak bersemangat menjadi berbinar cerah. Pesan Kevin seperti vitamin baginya. Mas Kevin Jum, sore nanti ke sungai, yuk! 15.46
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN