13. Kejutan Kecil untuk Jumi

2245 Kata
Juki (Jumi Kekasih Hati) Ngapain, Mas? 15. 47 Meski Jumi senang Kevin menghubunginya, ia tetap saja tidak bisa menerima ajakan Kevin begitu saja. Terlebih lagi Kevin mengajaknya bertemu di sungai dan orang tuanya sudah pulang ke rumah. Mereka bisa saja curiga nanti. Sudah Jumi katakan bukan bahwa orang tuanya tidak akan suka pada orang asing, terlebih lagi seperti Kevin. Ia takut Kevin mendadak kehilangan akhlaknya saat mendengar ucapan pedas ibunya. Meski Jumi baru mengenal Kevin, Jumi tahu bahwa Kevin adalah sejenis laki-laki yang mulutnya bisa merangkap menjadi admin ghibah. Namun, tetap saja Kevin adalah orang yang baik. Mas Kevin Ngobrol aja, Jum. Ketemuan gitu. Mau enggak? Kalau enggak mau, ya udah. 15.48 Tidak sampai satu menit Jumi sudah menerima balasan dari Kevin. Gadis itu terdiam sebentar sebelum akhirnya mengirim jawaban yang berhasil membuat Kevin berjingkrak-jingkrak di tempatnya. Kevin berteriak girang karena untuk kedua kalinya Jumi mau menerima ajakannya. Ia tidak ingin membuat Kevin berpikir jika Jumi tak ingin menemuinya jika Jumi tak ingin menemuinya. Juki (Jumi Kekasih Hati) Jumi mau, Mas! Nanti Jumi izin buat nyuci baju sekaligus ketemuan sama Mas Kevin 15. 48 Setelah mengirim balasan untuk Kevin, Jumi pun bergegas untuk berganti pakaian. Namun seakan teringat sesuatu, Jumi pun akhirnya kembali meraih ponselnya dan langsung mengirim pesan pada Kevin. Ia terlalu bersemangat ketika Kevin mengajaknya bertemu. Entahlah, bertemu Kevin menjadi hal yang paling menyenangkan bagi Jumi. Juki (Jumi Kekasih Hati) Eh, Mas. Jam berapa? 15. 52 Cukup lama untuk menunggu balasan dari Kevin. Hingga sepuluh menit kemudian, Kevin pun membalas. Lelaki itu mengirim balasan yang membuat Jumi merasa bersalah. Ia tidak enak karena membuat Kevin repot berkomunikasi dengan dirinya. Mas Kevin Jumi, maaf saya baru jawab. Tadi pulsa saya habis dan baru beli sekarang. Kita ketemu jam empat lebih, ya. Kita ketemu di tempat Jumi nyelametin saya! 16. 03 Mata Jumi membulat. Ia dengan cepat mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak. Setelah itu, ia bergegas untuk keluar kamar dan mengambil baju kotor ibu dan ayahnya untuk ia cuci di sungai. Ia kemudian menghampiri sang ibu yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ibunya yang melihat penampilan Jumi pun menaikkan sebelah alisnya. Mata julidnya langsung melirik sang anak dari atas ke bawah. Matanya menelisik curiga karena penampilan Jumi. "Kamu ganti klambi?" tanya  Lastri—ibu Jumi—jutek. Sore-sore begini kenapa harus mengganti baju? Kenapa tidak sekalian mandi saja? Aneh. (Kamu ganti baju?) "Nggih, Bu. Jumi arep mbasuh klambi ning sungai. Kaya'e enak bari dolanan banyu," jawab Jumi sopan sembari menundukkan kepalanya. Meski Jumi sering kali merasa kesal dengan sang ibu, ia tetap berusaha mematuhi ibunya selagi hal yang diperintahkan sang ibu masih dapat ia lakukan. (Iya, Bu. Jumi mau nyuci baju di sungai. Kayanya enak sambil mainan air.) Lastri mengerutkan dahinya. Ia merasa semakin curiga pada putrinya sendiri. Tatapannya semakin tajam dan menelisik. Namun, Jumi berhasil menguasai dirinya. Ia sama sekali tidak memperlihatkan rasa gugup yang menderanya. Jika ia perlihatkan, ibunya bisa saja semakin curiga dan melarangnya. Ia tidak ingin mengecewakan Kevin. "Yowes. Sedurunge Maghrib kamu kudu ana ning umah. Awas bae ari ngaret!" tukas Lastri mengizinkan anaknya. Lastri pun langsung berjalan memasuki kamar dan meninggalkan Jumi sendiri. Jumi menghela napasnya lega. Akhirnya ia berhasil melewatinya. Tanpa menunggu lama, Jumi pun bergegas menuju sungai. Ia berusaha memperlambat langkahnya saat masih berada di sekitar rumah. Ia takut ibunya akan mengawasinya. Saat sudah jauh dari rumah, Jumi berjalan cepat. Ia bahkan terkadang berlari sembari membawa ember cuciannya. (Yaudah. Sebelum Maghrib kamu harus ada di rumah. Awas aja kalau lama!) **** Di sisi lain, Kevin yang menentukan waktu mereka bertemu itu justru belum bersiap sama sekali. Lelaki itu tengah sibuk berkutat dengan peralatan yang sama sekali tidak pernah ia sentuh sebelumnya. u*****n kasar dan teriakan terus saja terdengar di dalam rumah karena Kevin yang terkejut dan takut. Lelaki itu membuat jarak sejauh mungkin agar dia tidak terluka dan membuat kadar ketampanannya berkurang. Kalau kadar ketampanannya berkurang, Jumi bisa saja berpaling darinya. Eh, memangnya Jumi sudah menjadi miliknya, ya? Ah, sepertinya Kevin terlalu halu untuk ini. Ia memiliki banyak saingan. Bayangkan saja, ada berapa lelaki di desa ini? Dan sudah dapat dipastikan sebagian besar dari mereka menyukai Jumi. "Aduh!" pekik Kevin sembari mengusap wajahnya yang terasa panas. Ia mengipasi wajahnya dengan tangan. Panas sekali sampai-sampai Kevin rasanya ingin menyerah saja. Namun, Kevin tidak ingin kejutannya untuk Jumi gagal. Ia yakin jika Jumi pasti akan sangat senang nanti. Kejutan? Ya. Kevin berniat untuk memberikan kejutan pada Jumi. Gadis polos dan lugu itu akan mendapatkan kejutan sederhana yang ia buat. Meski kejutannya sederhana, ia yakin jika Jumi akan menyambutnya dengan antusias. Kevin melirik ponselnya dan memekik kesal setelahnya. Waktu terasa sangat cepat sampai ia tidak menyadari jika ia terlambat lima menit dari waktu yang ia tentukan sendiri. Kevin melirik pada dirinya sendiri. Tampilannya sangat berantakan dan akan membutuhkan banyak waktu untuk merapihkannya. "Parah, udah jam segini lagi. Belum perjalanannya, Jumi pasti nunggu lama, nih," dumel Kevin pada dirinya sendiri. Tanpa berpikir panjang, Kevin pun langsung memasuki kamar dan mengganti pakaiannya. Ia bersiap sedemikian rupa untuk membuat Jumi semakin dalam menatapnya. Meski Kevin berusaha bersikap formal dan angkuh, ia tetap saja tahu jika Jumi sering kali diam-diam menatapnya. Gadis itu seakan buta pada perangai yang berusaha ia tunjukkan. "Jumi, moga kamu seneng, deh, aku kasih kejutan!" harap Kevin sebelum berangkat menggunakan motor. Lelaki itu tak lupa membawa kejutannya untuk Jumi nanti. Ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa reaksi Jumi nanti. Gadis itu pasti sangat senang. ***** "Loh, Mas Kevin durung teka?" gumam Jumi terkejut saat melihat tempat yang masih kosong. Gadis itu melirik sekitarnya dan tak menemukan keberadaan Kevin. Raut wajahnya yang semula berbinar pun meredup sedikit, ia kira Kevin sudah datang lebih dulu karena dia yang mengajak. Namun, lelaki itu justru terlambat. Huh, tahu gitu ia tidak perlu berlari hingga napasnya tak beraturan. Ia pikir ia tidak ingin mengecewakan Kevin, tetapi lelaki itu yang mengecewakannya. Tidak kecewa juga, sih, hanya saja sedikit..., kesal. (Loh, Mas Kevin belum dateng?) "Aku SMS bae Mas Kevin." Setelah itu, Jumi pun mengirim pesan pada Kevin. Ia menanyakan di mana keberadaan Kevin saat ini. Barang kali Kevin mendadak ada urusan atau semacamnya, jadi ia bisa tidak terlalu berharap. (Aku SMS aja Mas Kevin.) Jumi memilih untuk mencuci pakaian selagi menunggu balasan Kevin. Setelah lima belas menit, Kevin tak kunjung menjawab pesannya sehingga membuat Jumi menghela napas pasrah. Gadis itu dengan lesu melanjutkan kegiatannya. Tenaganya yang biasanya besar pun terasa berkurang tiba-tiba. Jumi merasa semangatnya turun begitu saja. Ah, Mas Kevin menye— "JUMI!" Ah, itu dia orangnya! Jumi yang semula fokus mengucek pakaian itu pun langsung menoleh. Matanya membulat saat melihat kehadiran Kevin dengan berbagai jinjingan di tangannya. Saat Jumi ingin menghampiri Kevin, lelaki itu memberi tanda agar ia tetap di tempatnya. Jumi pun berinisiatif untuk mencuci tangannya yang dipenuhi dengan busana sabun. Ia melirik Kevin yang telah duduk di sampingnya. Lelaki itu mengeluarkan beberapa tepak makan. Jumi yang melihat hal itu pun mengernyitkan dahinya. Apa yang Kevin bawa? Perasaan lelaki itu tidak mengatakan apa pun padanya. Jika ia tahu Kevin membawa makanan, ia pasti akan membawa makanannya juga agar mereka bisa makan bersama. Ish, menyebalkan! "Mas, kenapa baru datang, toh?" tanya Jumi sembari melirik Kevin yang tengah membuka tepak makannya. Kevin masih belum menjawab. Lelaki itu sibuk membuka tepaknya karena makanan yang ia bawa masih panas. Aroma yang menguar dari tepak makan itu membuat perut Jumi keroncongan. Ia ingin makan, kan, jadinya. Jumi memegang perutnya. Ia benar-benar lapar sekarang, ditambah lagi ia belum makan tadi. "Jumi laper, kan?" tanya Kevin. Jumi melongo di tempatnya. Lelaki itu bukannya menjawab pertanyaannya malah bertanya balik pada dirinya. Namun, pertanyaan Kevin berhasil membuat pipi Jumi merona. Ia malu ketahuan sedang lapar. Lagi pula jika ia sedang lapar, apa yang akan Kevin lakukan? Membagi makanannya? Yang benar saja! Ia yakin Kevin tidak akan memberikan makanan itu pada dirinya. Belum tentu juga ia menyukainya. Jumi enggan menjawab jujur. Ia hanya menggeleng dan kembali mencuci baju. Kevin tersenyum-senyum. Gadis itu pasti malu saat ini. Ah, Kevin ingin mencubit pipinya. Jika tidak ingat jika dirinya harus selalu stay cool, pasti saat ini Kevin sudah melakukan hal konyol yang mungkin saja akan membuat Jumi jijik melihatnya. Tak lama kemudian, perut Jumi pun berbunyi keras. Jumi memegang perutnya dengan spontan. Gadis itu melotot kaget karena ulah cacing di perutnya sendiri. Ia kemudian menengok dan langsung mendapati Kevin yang tersenyum lebar ke arahnya. "Nah, perutnya bunyi, tuh!" ledek Kevin sembari tertawa kencang. Lelaki itu tertawa puas di tempatnya tanpa menyadari raut wajah Jumi yang berubah. Jumi memanyunkan bibirnya. Kevin benar-benar puas mengejeknya. Ini semua salah perutnya! Kenapa harus berbunyi di depan Kevin, sih?! Meski suara arus sungai cukup deras, ia yakin jika Kevin pasti mendengar suara perutnya karena tempat duduk mereka yang berdekatan. Kevin berhenti tertawa. Lelaki itu melirik pada Jumi yang memanyunkan bibirnya. Habis sudah masa bersenang-senangnya saat melihat raut wajah gadis idamannya berubah. Gadis itu sepertinya sedang merajuk. Terbukti dari bibirnya yang manyun dan wajahnya yang berpaling. Rasa bersalah seketika menyergap Kevin. Ia tidak enak pada Jumi. Ia kira Jumi akan ikut tertawa bersamanya, ternyata tidak. "Eh, saya salah, ya?" tanya Kevin. Jumi menggelengkan kepalanya masih dengan bibirnya yang maju. Kevin tersenyum kecil. Tanpa berpikir panjang, Kevin bergegas untuk memberikan tepak makannya pada Jumi. Jumi pun terkejut di tempatnya. Ia tidak paham dengan apa yang Kevin lakukan. Apa Kevin memintanya untuk menyuapi dirinya di saat ia sedang lapar? Kalau iya, Kevin benar-benar menyebalkan! "Ngapain, Mas?" tanya Jumi malas. Ia menatap Kevin yang hanya tersenyum lebar di sampingnya. Perasaannya semakin tidak enak. Namun, perutnya kembali berbunyi saat hidungnya dengan rakus menghirup aroma makanan yang Kevin bawa. Benar-benar menggugah selera! "Itu makanan buat kamu. Makan, gih!" jawab Kevin. Jumi mengernyitkan aslinya. Untuk dirinya? Makanan ini? Yang benar saja, Kevin pasti hanya kasihan padanya! Andai perutnya tidak berbunyi, ia yakin lelaki itu tidak akan memberikan makanannya. "Enggak, ini makanan Mas Kevin. Jumi enggak mau makan makanan Mas Kevin. Ntar Mas Kevin laper." Jumi kembali menyerahkan makanan itu. Gadis itu dengan cepat kembali mencuci bajunya mengabaikan Kevin yang paham jika Jumi sedang ngambek pada dirinya. Kevin memang tidak ahli dalam percintaan, tetapi jika dengan Jumi, Kevin akan mencoba untuk menjadi ahli dalam percintaan. Jumi ini polos dan yang harus bergerak adalah dirinya. "Tadi Jumi nanya kenapa saya dateng telat, kan?" tanya Kevin memancing Jumi untuk berbicara. Jumi awalnya tetap diam, tetapi akhirnya ia menjawab pertanyaan Kevin dengan singkat. Sekesal apa pun dirinya, ia tahu bahwa diabaikan itu tidak enak. Yaa, meski jawabannya hanya berupa anggukan atau gelengan. "Iya." Kevin tersenyum di tempatnya. Lelaki itu kembali menaruh tepak makannya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya kepada Jumi. Jumi terperanjat di tempatnya. Gadis itu memekik keras. Terkejut dengan yang Kevin lakukan. Apa Kevin ingin berbuat tak senonooh pada dirinya?! "Mas, ngapain?!" pekik Jumi histeris. Ia berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Kevin. Berada sedekat ini dengan Kevin ternyata membuat jantung Jumi berdebar kencang. Ia jadi bisa melihat wajah tampan Kevin dengan detail. Kevin tersenyum lebar. Lucu sekali! "Iniloh, saya mau nunjukkin tato yang baru saya punya." Kevin semakin mendekatkan wajahnya pada Jumi. Jumi yang semula histeris pun kini mulai merasa penasaran. Perasaan di desa ini tidak ada orang yang membuka jasa tato. Lantas, di mana Kevin mendapatkannya? Jumi semakin dibuat heran saat ia melihat tato Kevin yang tak berbentuk. Itu tidak seperti tato pada umumnya. Meski Jumi tidak punya TV, gadis itu pernah melihat layar tancap di balai desa dan ada seorang tokoh yang menggunakan tato. Namun, tato Kevin sepertinya tidak sama dengan tato yang ia lihat saat itu. Tato Kevin lebih mirip seperti cipratan..., minyak. "Loh, kok kaya cipratan minyak?" beo Jumi. Gadis itu dengan polos menyentuh "tato" milik Kevin. Saat itu juga Kevin memekik keras. Perih. "Aduh! Jangan dipegang, dong!" pekik Kevin sembari menjauhkan wajahnya. Jumi tersenyum kikuk. Tato itu sakit, ya? Perasaan di film yang ia lihat, tokohnya biasa saja. Bahkan ketika bagian tubuhnya yang bertato dipukul, aktor itu sama sekali tidak kesakitan. Namun Kevin? Ia lemah! "Loh kok, sakit Mas?" tanya Jumi polos. Kevin mendelik kesal. Padahal ia sudah memberi kode pada Jumi. Dia, kan, ingin disayang-sayang. Minimal Jumi tahu terbuat dari apa tato itu. Sudahlah, Jumi memang polos. "Sakitlah, ini kecipratan minyak tahu." Kevin menjawab dengan dongkol. Lelaki itu meringis sakit. Salep yang ia oleskan di wajahnya ternyata tidak berfungsi mengurangi rasa sakitnya. Ia jadi takut jika besok luka itu akan membesar dan berair. "Loh, katanya itu tato, Mas!" ucap Jumi membuat Kevin kesal. Sekarang, gantian lelaki itu yang terlihat merajuk. Jumi yang melihat hal itu pun menjadi bingung. Kenapa, sih, Kevin ini menjadi tertular penyakitnya Jordi? Kenapa tidak langsung mengatakan yang sebenarnya saja?! Jumi jadi bingung, kan! Kevin tak merespons. Lelaki itu sibuk meringis sakit hingga membuat Jumi merasa bersalah. "Maaf, deh." Jumi memilih mengalah. Ia sadar di sini dia yang salah karena membuat Kevin kesakitan. Mendengar hal itu, Kevin pun mengangguk pelan. Ia mulai menatap wajah Jumi yang tersenyum lebar di depannya. "Emangnya Mas Kevin kenapa bisa kena minyak?" tanya Jumi berusaha membuat Kevin luluh. Benar saja. Lelaki itu kini tersenyum lebar menatap Jumi yang membalas senyumannya. "Saya kena cipratan minyak pas lagi goreng nugget buat kamu," jawab Kevin dengan lancar. Jumi mengangguk menanggapi ucapan Kevin. Sedetik kemudian, ia menyadari sesuatu. Ucapan Kevin terlalu ambigu untuk ia pahami. Ah, ia harus bertanya pada Kevin. "Maksudnya gimana, Mas?" tanya Jumi tidak paham. Gadis itu menatap Kevin dengan serius. Kevin balas menatapnya serius dan tersenyum lebar setelahnya. "Saya dateng ke sini telat karena masak semua makanan ini buat kamu." Tolong pukul Jumi saat ini juga! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN