Darah segar meluncur dari bahu Raman seiring patahnya pedang yang di gunakan pria itu. "Pangeran...." teriak Raul histeris dan langsung menghampiri pangeran Ramandata yang masih memegangi sumber darah segar itu. Pria paruh baya itu melongo melihat pedangnya yang kuat dan selalu di gunakan untuk membunuh musuhnya malah berubah menjadi 2 di badan Raman. "Maafkan aku, Pangeran...maafakan aku...." Raul berlutut di kaki Raman yang masih mematung dengan darah mengalir di bahunya "Kau tak apa,Pangeran??" Tanya Ken Datu Banu tetap tenang membuat Raul keheranan kenapa pria itu setenang inu. "Aku... Ramandata...kau jangan lupakan siapa aku,Raul. Bangun!!! apa yang kau lakukan" "Ra.. Ramandata..." Pria yang tadinya diam mulai panik dan langsung pergi mendengar nama pemuda tampan di depa

