Raman menatap tajam pada kedua orang didepannya,seperti tatapan seekor macan yang siap menerkam mangsanya. "Apa kau juga menghianatiku?" matanya tak sedetikpun beralih dari sasarannya, seolah tak ada satu celah pun untuk dua orang di depannya kabur dari dirinya. "Maafkan saya ,Pangeran. Saya tidak pernah berniat menghianatinya mu, tapi sungguh apa yang kau lakukan ini tidak benar pangeran!! Kau tidak boleh membunuh orang!" Dua masih merangkul tubuh pemuda yang sudah lemas tak berdaya itu "Dia pantas mendapatkan ini Ken! Aku sudah muak bermain petak umpet denganya! dia dan gurunya yang b*****h itu sudah menghianati kita! dan kau tau Ken,aku sangat membenci penghianatan!!" Teriak Raman dengan lantang "Cukup Pangeran!! Kau sungguh tak tau apa-apa,dan mungkin saat ini memang saat yang

