Kecelakaan

996 Kata
ISTRIKU BUNUH DIRI (?) 2 Sudah jam dua siang. Ponselku berdering. "Pak, Keyla dan Khalisa belum dijemput. Tadi kami sudah menghubungi Bu Selna. Tapi, ponselnya tidak aktif. Anak-anak kasian, karena semua teman-temannya sudah pulang." Ya ampun, Selna! Kemana dia? Apa beli sarapan ke Antartika? Pasti nih, keasikan ngobrol sama temannya. Tapi, kok aneh selama ini Selna tak punya teman akrab. Dia tak pernah juga seperti ini sebelumnya. Tiba-tiba saja aku merasa khawatir. "Baik Bu, saya akan segera menjemput anak-anak. Terima kasih atas infonya." Aku bergegas membersihkan meja kerja, lalu segera keluar memesan taksi online dan meluncur ke sekolah anak-anak. Kenji menangis sendirian, sekolah sudah sepi. Hanya ada satu guru yang menemani. Kebetulan guru baru yang tidak mempunyai data kesiswaan sehingga tak bisa menghubungi orang tua murid bersangkutan. Aku bergegas ke sekolah Keyla dan Khalisa, keadaan yang sama juga terjadi. Kedua putriku menangis karena sudah siang begini mereka belum dijemput. Setelah mengucapkan terima kasih kepada gurunya, aku bergegas mengantarkan anak-anak pulang. Karena aku masih harus kembali ke kantor. Baru saja taksi berhenti, keadaan tak kalah runyam. Ibu sibuk mendiamkan Kevin, sementara Ningsih mengendong Kenan yang menangis tak henti-henti. "Zion, untung kamu pulang. Istri kamu kemana, sih? Sampai hari gini belum juga pulang. Ibu capek Zion!" kata Ibu hampir menangis. "Selna belum pulang, Bu?" "Kalau sudah, Ibu tak akan seperti ini. Dari pagi belum pada makan. Ibu lapar, capek." Sempat terbersit keheranan dalam hati. Bukankah menurut Ibu, setiap hari Ibu bertugas menjaga Kevin dan Kenan disaat Selna menulis. Seharusnya tak serepot itu dong. "Bang, bantuin gendong Kenan nih, mana diapersnya penuh." Kepalaku mendadak pusing. "Ningsih! Ganti dong! Kan kamu sudah biasa. Abang lagi pusing mikirin kemana Mbakmu!" "Ih, aku jijik!" sahutnya dengan mata mendelik. "Ningsih! buruan ganti saja sana! Biasa juga bisa!" cetus Ibu. Aku geleng-geleng bisa-bisa Ningsih malah mengandalkanku yang baru saja pulang kerja, bahkan harus balik lagi ke kantor. Aku meraih ponsel mencoba menghubungi Mas Nathan, kakak laki-laki Selna satu-satunya yang bekerja disebuah rumah sakit. Mungkin Selna kerumah kakaknya itu. Awas saja kalau ternyata benar. Baru saja hendak mencari kontak Mas Nathan, telepon berdering. "Benar ini dengan Pak Rahmadi Zion Nugraha?" "Benar, ini dengan siapa?" "Kami dari pihak kepolisian, Pak. Mobil yang diduga dikendarai istri Bapak, menabrak dinding jalan dan jatuh ke dalam sungai di kawasan Bogor. Harap Bapak segera ke rumah sakit Polri Kramat jati, untuk indentifikasi jenazah." "Indentifikasi jenazah? Maksud Bapak?" "Pengendara mobil dengan plat B 1404 BKT seorang perempuan dinyatakan meninggal ditempat. Diharapkan kedatangan Bapak, segera." Ponsel terjatuh begitu saja, sepersekian detik duniaku terasa sunyi. Berharap segera terbangun dari mimpi. Ga mungkin itu Selna, gimana mungkin Selna sampai di Bogor. Tadi pagi dia hanya pamit beli sarapan. Pasti Selna yang lain, ga mungkin selnaku. Tapi plat mobilnya, kok bisa sama. Tangisan Kevin dan Kenan membuatku tersadar. "Zion! Buruan suruh Selna pulang! Ibu capek." Ibu juga mulai menangis. 'Ya Allah, mimpi macam apa ini!' "Bu, Zion mau kerumah sakit. Selna kecelakaan!" Suaraku bergetar menahan emosi dalam d**a. Aku masih berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Selna hanya luka-luka, tak ada luka serius apalagi sampai meninggal. Bahkan berharap itu bukan Selna Hapsari Wijayanti, istriku yang kucintai. "Tapi, anak-anak gimana, Yon?" Aku meraih ponsel yang tadi terjatuh dan bergegas keluar rumah. "Bu, titip anak-anak!" "Zion! Aduuuh!" pekik Ibu. "Abang, ajak Kenan, nih!" sahut Ningsih. Semua benar-benar terasa kacau. "Ayaaah ikut. Aku mau ketemu, Bunda..!" teriak Keyla dan Khalisa setengah menangis. Aku lupa apa anak-anak, seharusnya mereka tak usah tahu Bundanya kecelakaan. "Ikut Ayah, aku ga mau sama Nenek, Nenek galak." kini Kenji ikut bersuara. Taksi online yang kupesan sudah menunggu didepan gerbang. Gegas aku masuk, masih kulihat lima anakku menangis histeris. Ibu juga Ningsih yang tampak kewalahan. *** "Mbak, saya mencari pasien atas nama Selna Hapsari Wijayanti. Dirawat dimana, ya?" tanyaku. Perawat dengan berkacamata itu saling tatap dengan rekan disebelahnya. "Bu Selna yang kecelakaan di Bogor?" katanya meyakinkan. "Mungkin, Sus." jawabku sekenanya, karena ga masuk logika saat Selna yang tinggal di Jakarta tapi bisa kecelakaan di Bogor. "Mari ikut saya, kebetulan Dokter Nathan juga ada disana." Aku mengikuti langkah suster itu dari belakang. Syukurlah ada Mas Nathan juga, memang rumah sakit ini tempat kakaknya Selna praktek juga. "Suster, kenapa kesini?" Suster itu menuju lorong yang mengarah ke ruang jenazah. Suster itu tak menjawab, hingga tepat berada dipintu ruangan yang paling menakutkan di rumah sakit, perempuan berpakaian serba putih itu terdiam. Derit pintu terbuka, sosok yang aku kenal muncul dari sana. Bugh! "Lelaki, si*lan! pembunuh! kamu pembunuh adikku!" Pukulan hebat mampir tepat dimukaku. Sakitnya tak terperi, darah segar keluar dari hidungku. "Sabar, Dok! Sabar!" pekik suster lalu berusaha memegang tangan Mas Nathan. "Saya buat mati juga kamu! kamu sia-siakan Selna, hingga dia frustasi! Ini mau kamu kan, puas kamu sekarang, HA!" seru Mas Nathan. Laki-laki yang biasa pendiam dan tak banyak bicara itu terlihat sangat emosional. "Apa salah saya, Mas?" tanyaku tak mau kalah. Kenapa justru aku yang disalahkan. "Gara-gara frustasi hidup denganmu yang tak peka, tak pandai memuji istri, dan sikap yang berat sebelah, Selna stres! Suami macam apa kamu! Tak bisa menjadi bahu tempat dia bersandar. Sekarang pergi kamu dari sini! Biar semua saya yang urus!" Mas Nathan mendorong tubuhku hingga terjengkang ke belakang, tak lama pintu kamar jenazah terbuka. Sebuah brangkar dengan seseorang jenazah yang sudah ditutupi kain putih di dorong dengan tergesa-gesa oleh tim medis, yang sepertinya rekan-rekan Mas Nathan. "Langsung bawa ke ambulance!" Titah Mas Nathan. "Baik, Dok!" Aku terperangah tentu saja dengan sejuta rasa memenuhi d**a. Aku juga berhak melihat istriku. Tangisku pecah, memohon kepada Mas Nathan agar aku diberi kesempatan. Tapi, muka masam penuh kebencian membuatku tak dapat mendekat. "Zion, ikhlaskan Selna. Semua sudah terjadi. Ini ponsel Almarhumah, kamu bisa lihat isinya. Semoga menjadi pembelajaran, Selna akan dimakamkan di Bandung disamping makam ayah dan ibunya. Mbak akan mencoba bicara baik-baik pada Mas Nathan agar kamu di ijinkan ikut ke pemakaman." Mbak Sinta, istri Mas Nathan yang juga seorang dokter menyerahkan sebuah ponsel yang dapat kuterka adalah milik Selna. Aku luruh ke lantai. Begitu besarkah salahku ya, Allah. Selna ... Maafkan, Mas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN