Kesibukan Selna
ISTRIKU BUNUH DIRI (?) 1
"Mas, bisa tolong jaga Kevin sebentar. Aku mau membersihkan kotoran Kenan di kamar mandi."
Permintaan Selna, istriku malami ini. Mataku masih sangat ngantuk, rasanya baru saja tidur sudah dibangunkan lagi.
"Ganggu aja sih, Dek!" keluhku tanpa mempedulikan tangisan dua anak kembar kami yang saling bersahutan. Ya, kami punya anak kembar yang masih berusia satu tahun, Kevin dan Kenan namanya.
"Mas, tolonglah. Aku tak bisa membawa dua-duanya sekaligus. Kenan, mencr*t dari tadi nangis terus. Bangunlah Mas. Setelah itu kita siap-siap ke klinik." kini suara Selna terdengar putus asa.
"Aarrgh... kamu ini benar-benar ga bisa di andelin sih, Dek. Semalaman anak-anak rewel sangat menganggu, dan kamu tak bisa mendiamkannya."
Akhirnya aku bangun. Meraih Kenan dan mengendongnya dengan setengah hati. Sementara Selna segera berlalu tanpa menjawab sepatah katapun omelanku.
"Brisik banget sih, anak kamu! ga bisa apa kamu menjaganya." suara ibu terdengar lantang dari luar.
"Maaf Bu, si kembar lagi kurang sehat. Kevin dan Kenan, panas, buang-buang air juga." pembelaan dari Selna.
"Halaah, kamunya aja yang ga pandai jaga anak. Ganggu orang!"
Brak!
Lalu terdengar suara hempasan pintu yang membuat Kevin menangis dalam gendonganku. Hah! Ibu malah nambahin kerumitan ini aja.
"Mas, anterin aku ke klinik." Selna sudah kembali dari kamar mandi, dan sedang memakaikan pakaian Kenan.
"Besok sajalah, Dek. Mana ada klinik buka tengah malam begini!" tolakku. Padahal aku tahu, klinik 24 jam ada dokter jaganya. Tapi, malam telah larut juga udara yang begitu dingin membuatku enggan. Tak ada sahutan lagi dari Selna. Kevin sudah tertidur dipangkuan, aku meletakkan di kasur lalu kembali tidur. Selna dan Kenan, entahlah. Mataku terlalu berat untuk melihat keadaan mereka.
Sudah jam enam, Selna masih sibuk dengan anak-anak. Kevin terus menangis walau sudah di gendong oleh Selna. Sementara Kenan sedang menyusu memakai botol dot.
"Dek, Kenan minum s**u botol lagi!" tanyaku. Kenan masih satu tahun seharusnya dia masih minum ASI saat ini.
Selna tak menjawab, dia terus mengendong Kevin sambil menepuk-nepuk p****t bayiku itu. Aku bangun, menyebalkan sekali, Selna mendiamkanku, aku langsung berlalu ke kamar mandi. Gara-gara semalam bangun bantuin Selna mengendong Kevin, aku jadi kesiangan.
"Dek, mana sarapan?" kini emosiku tersulut. Sudah telat ke kantor, tapi jangankan air minum, sarapan pun tak ada.
"Bunda, aku kesiangan. Seragamku mana!" teriak Keyla, putri keduaku yang sekarang duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar.
"Ayah, lihat tas Kakak tidak." seru Khalisa, Putri sulungku kini dia kelas 5 bersekolah ditempat yang sama dengan Keyla.
"Ayah ga tau, Kak. Masa tas kamu, nanya ke ayah." kesalku. Selna benar-benar tak becus. Anak-anak heboh karena tak diurusnya dengan benar.
"Kenji, bangun sudah siang. Kamu ga sekolah!"
Suara-suara heboh itu memenuhi ruang dengarku pagi ini. Sementara Selna tak juga keluar dari kamar.
"Heboh banget sih, pagi-pagi. Udah kayak pasar malam!" sungut Ibu yang sepertinya juga baru bangun.
"Selna mana sih, Yon. Udah siang gini belum ada teh hangat dimeja. Apa dia masih tidur?"
"Kevin dan Kenan sakit, Bu. Tolonglah Ibu bantuin."pintaku yang memeriksa termos yang kosong, dispenser juga tidak dicolok, sempurnalah sudah.
"Tugas Ibu kan siang, Yon. Setiap hari Ibu yang lelah mengurusi anak-anak kamu. Tanya aja Ningsih, adikmu. Istrimu hanya sibuk di depan ponsel kalau ga, sibuk sama laptopnya." adu Ibu yang membuatku emosi.
Selna memang seorang penulis merangkap seorang pedagang online. Dulu sebelum menikah dia seorang bekerja sebagai kepala cabang sebuah perusahaan swasta. Namun, melihat gajinya lebih besar dariku, justru itu sangat mengangguku. Bagaimana jika Selna tidak menghargaiku? Akhirnya setelah kubujuk, dia mau juga resign, sibuk mengurus rumah tangga.
Terakhir sejak Kevin dan Kenan lahir, Selna memintaku untuk mencarikan pembantu. Namun, aku tolak mentah-mentah. Karena Ibu dan Ningsih sudah meminta tinggal dirumah, katanya untuk bantu-bantu Selna. Selna sangat senang, setiap hari ada yang membantu dirumah.
Dulu sebelum si kembar lahir, pendapatan Selna sebagai penulis lumayan besar, sehingga kami bisa merenovasi rumah dan membeli mobil, tentu dengan patungan denganku. Kini sejak, kembar mulai aktif, Selna jarang nulis. Alasannya selalu sibuk dengan anak. Padahal ada Ibu yang setiap kupulang kerja selalu kecapean karena mengurus pekerjaan rumah.
"Selna! Cepat belikan sarapan! Aku sudah kesiangan. Sini anak-anak aku yang pegang!"
Aku masuk ke kamar, Kevin dan Kenan masih saja rewel. Aku mengendong Kevin lalu memberikan pada Ibu, walau Kevin meronta tak mau. Tapi, aku abaikan karena Kenan juga sudah meraung-raung di kamar.
Selna tak mengucapkan sepatah katapun. Dia lekas berpakaian lalu meraih kunci mobil.
"Pakai motor aja, sih! kan nanti malah lama, kena macet! katanya pinter, tapi kok ..." Ibu menggantung ucapan saat melihat tatapan tajam dari Selna. Baru kali ini aku melihat Selna semarah itu. Akupun tak berani menyela. Biarkan saja semaunya. Yang penting aku bisa berangkat kerja setelah sarapan.
"Istrimu itu, makin kesini makin belagu, Ibu lihat. Mentang-mentang pendapatnya sebagai penulis besar dari kamu. Apa kamu ga takut, dia nanti makin ngelunjak? Sekarang aja lihat, tak ada sarapan, anak-anak ga di urus. Malah enak-enakan di kamar." Panas di d**a terasa mendengar perkataan Ibu. Namun, aku tetap berusaha menepis. Bagaimana pun Selna adalah wanita pilihanku. Dulu dia sangat cantik, elegan tentu saja terawat. Karena sibuk dengan anak dia jadi seperti itu.
"Si kembar sakit, Ibu kan dengar semalaman mereka nangis." belaku.
"Halah, ngurus gitu aja ga bisa!" Sungut Ibu.
"Nigsih! Bangun! gendong nih Kevin, ibu mau ke kamar mandi." teriak Ibu. Ningsih keluar dengan muka masih mengantuk, gadis bungsu ini memang selalu dimanja Ibu. Ibu pun bergegas hendak ke kamar mandi.
"Nek, Kenji dulu. Kenji udah telat!"
Kenji dengan gesit mendahului neneknya. Wajah Ibu memerah.
"Sebentar doang, Bu."
Ibu mendengkus lalu duduk di kursi, seperti menahan rasa ingin buang air.
"Kenji, cepetan..." teriak Ibu sambil mengapit kedua kakinya. Aku hanya tersenyum melihat wanita yang telah melahirkanku itu.
"Ya ampun, Selna kemana, sih? Sudah jam segini belum pulang juga!" aku terus bolak-balik melihat jam tangan. Sudah sejam sejak Selna pergi, tapi tak tampak juga batang hidungnya.
"Ayah, cepetan kita sudah telat." rengek Keyla dan Khalisa.
"Kenji juga, nih, Yah."
"Bunda belum pulang, kalian kan belum sarapan!"
"Tak usah, Yah. Ga keburu. Nanti sarapan beli di kantin sekolah aja. Buruan, Yah."
Akhirnya kami berangkat dengan perut kosong.
"Kevin dan Kenan gimana ini?" Tanya ibu cemas.
"Lho, biasanya kan juga Ibu yang mengurus" kataku heran.
Ibu nyengir, tak ada waktu lagi, aku sudah telat sekali. Terpaksa berangkat menggunakan taksi online. Karena mobil satu-satunya dibawa Selna.
Sungguh Selna sangat berbeda hari ini, ada apa dengannya.