Pencarian

1066 Kata
Sejak kepergian gadis itu, hati Kakek Wijayanto tak pernah benar-benar tenang. Setiap pagi, ia memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Jelita—gadis sederhana yang telah menolak tawarannya dengan mata yang jujur dan penuh harga diri. Namun, hari-hari berlalu tanpa hasil. Tak ada satu pun kabar. Tak ada jejak. Seolah gadis itu menghilang ditelan bumi. Di ruang kerja yang megah dan sepi, kakek duduk termenung di balik meja kayu jatinya. Di hadapannya, setumpuk dokumen terbengkalai, tak satu pun disentuh. Pandangannya kosong menatap keluar jendela, membiarkan cahaya pagi menyinari wajah tuanya yang kini tampak lebih letih dari biasanya. “Kenapa segalanya terasa begitu sulit ...?” gumamnya lirih, hampir seperti bisikan yang ditelan angin. Bukan karena harga dirinya yang terluka akibat penolakan. Tetapi, karena di lubuk hatinya, ia merasa memiliki hutang besar—bukan kepada Jelita semata, melainkan kepada masa lalu yang belum sempat ia tebus. Dan kini, kesempatan itu nyaris hilang. Sudah lebih dari seminggu sejak kakek Wijayanto kembali dari “pelariannya” bersama Jelita. Namun sejak hari itu pula, raut cerianya memudar. Ia kerap duduk di kursi goyang di balkon rumah, memandangi langit yang sama dari pagi hingga senja datang, gumamannya hanya satu, “Cucunya sahabat lama … dia baik sekali … Jelita.” Dani awalnya tak terlalu memikirkan hal itu. Ia pikir, ini hanya fase singkat dari kebiasaan aneh sang kakek yang memang sejak dulu suka berlebihan jika sudah menyukai seseorang. Akan tetapi, hari-hari berlalu, dan kemurungan itu tak juga reda. Bahkan kini, sang kakek mulai kehilangan nafsu makan, dan setiap malam berbicara dalam tidur, seolah memanggil-manggil seseorang yang hilang dari hidupnya. “Dani … cucunya orang baik itu, dia harus kau temukan! Aku ingin bertemu lagi,” bisik sang kakek suatu malam ketika Dani menemaninya tidur. Dani terdiam. Ada perasaan tak nyaman menyelinap di dadanya. Ia memang tak mengenal Jelita, hanya mendengar sepintas cerita dari kakeknya—gadis yang membantu menyelamatkan dirinya saat tersesat, menolongnya yang hampir saja tertabrak mobil yang berlalu-lalang, bahkan membantunya mencari makanan juga membelanya dari pemilik toko roti yang bermulut pedas. Tetapi, satu yang Dani tahu pasti: sang kakek jarang memuji seseorang, apalagi sampai seperti demikian. Malam itu, Dani duduk sendiri di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang tak bergerak. Tangannya tak sanggup menyentuh tuts keyboard. Entah kenapa, wajah sayu kakeknya selalu terbayang. Dan akhirnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dani mengetik nama itu di mesin pencarian: Jelita Cantika Maharani. Yang ia temukan pun malah mengejutkannya. Berita-berita lama berserakan: “Pewaris restoran ternama divonis penjara karena video asusila.” “Skandal memalukan, Jelita dipenjara!” “Mantan narapidana itu kini tak jelas keberadaannya.” Dani menelan ludah. Tak ada yang menunjukkan bahwa Jelita adalah “wanita baik” seperti yang digambarkan kakeknya. Tapi ia juga tahu, kakeknya tak mudah tertipu. Jika kakeknya sampai sejatuh hati itu pada seseorang, pasti ada hal besar yang tak ditulis oleh media. Akhirnya, Dani memutuskan mencarinya. Bukan karena penasaran. Bukan karena percaya, tapi karena ia ingin membuat kakeknya tersenyum kembali. Ia pun mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Jelita. Di sisi lain kota, Jelita kembali menggulung selimut—yang sempat diambilnya di bak sampah—di emperan rumah kosong di pinggiran gang sempit. Sudah tiga kali ia diusir di hari pertamanya tinggal di kosan. Semua karena satu alasan yang sama: dia mantan narapidana. Sekalipun ia bersikap sopan dan tak pernah mengganggu siapa pun, begitu identitas aslinya terbongkar, orang-orang langsung memandangnya seolah ia wabah menular. Dingin malam menggerogoti tulang, tapi yang lebih menusuk justru ingatan-ingatan pahit yang tak henti menghantui. Ia memejamkan mata, dan wajah Daria pun muncul. Perempuan itu tersenyum puas saat Jelita diseret ke ruang sidang, tak membantah saat video palsu diputar di depan hakim. Bahkan saat Jelita menangis dan meminta salah satu keluarganya membelanya. Namun, nyatanya tak ada satu pun dari mereka bersuara. Sania, saudari tirinya, menyeringai bangga di barisan pengunjung sidang. Diam-diam, tanpa Jelita tahu, ia menggenggam tangan Beni—pria yang dulu berjanji akan menikahi Jelita. Hingga akhirnya mereka berdua mengungkapkan secara terang-terangan status mereka itu pada Jelita yang baru saja keluar dari penjara. Pengkhianatan itu tak bisa dilupakan. Dan lebih sakit lagi, ketika surat warisan peninggalan ayahnya dibacakan tanpa menyebutkan namanya sedikit pun. Daria telah menghapus namanya dari segalanya. Rumahnya. Restoran milik ayahnya. Masa depannya. Tak bersisa. Jelita menggenggam kalung liontin peninggalan sang ayah yang masih ia simpan—satu-satunya harta yang sempat dibawanya. Bahkan kalung tersebutlah yang selalu menemaninya di penjara waktu itu. Kalung tersebut seperti sisa napas ayahnya yang masih menyala dalam dirinya, mengingatkannya bahwa ia masih belum kalah. Akan tetapi, untuk membalas semua itu, tentu saja ia butuh tempat tinggal. Ia butuh modal. Ia butuh titik awal untuk bisa bangkit. Dan saat itu, ia teringat pada satu-satunya orang yang tak melihatnya seperti sampah—kakek tua dengan jaket kumal yang tersesat di trotoar kota, yang menggenggam tangannya erat sambil berkata, “Kau bukan orang jahat.” Air mata Jelita jatuh pelan. Baginya kini, di tengah dunia yang mengusirnya, hanya sosok itulah yang memberi sedikit ruang untuk bernapas. Ia ingin bertemu kakek itu lagi. Tapi bagaimana caranya? Ucapan Kakek Wijayanto terngiang-ngiang di telinganya. Tawaran menikah itu memang menggelikan juga tidak masuk akal dan malah membuat jantungnya berdebar. Dan yang paling sulit untuk diabaikan … adalah tatapan Dani. Tatapan heran, lalu berubah menjadi tajam, namun tetap sopan. “Apakah jika lebih baik aku terima saja tawaran itu?” batin Jelita bimbang. Beberapa hari terakhir terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Jelita sudah mencoba melamar kerja di sana-sini—warung makan, toko kelontong, hingga penjaga parkir. Namun, semua tempat menolaknya. Alasannya beragam, dari “sudah penuh” hingga tatapan curiga yang mengusirnya sebelum sempat bicara banyak. Karena tak ada pilihan lain, ia pun memberanikan diri untuk mengamen. Hanya bermodalkan suara seadanya dan botol plastik bekas yang diketuk-ketukkan sebagai pengiring, Jelita menyusuri trotoar dengan suara lirih. Malu? Tentu. Tapi rasa lapar jauh lebih memaksa. “Kalau malu, kita tidak makan,” gumamnya dalam hati, mencoba meneguhkan langkah. Beberapa orang lewat tanpa menoleh. Beberapa lainnya memberi koin receh. Tidak banyak, tapi cukup untuk membeli sebungkus nasi dan sebotol air mineral. Dan untuk saat ini, itu lebih dari cukup. *** Sementara Dani, yang tengah melacak lewat kenalan dan kamera CCTV kota, tak menyangka langkah jika mereka akan segera bersinggungan kembali. “Rupanya kau ada di sana,” gumamnya. “Cepat siapkan mobil!” suruhnya pada anak buahnya tanpa menoleh dan masih memfokuskan pandangan pada layar monitor yang menampilkan wajah Jelita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN