Sebuah Kesepakatan

1184 Kata
Hujan baru saja reda ketika Dani keluar dari mobilnya. Jalanan masih basah, dan udara menyimpan aroma tanah yang khas. Matanya menyisir sekitar, lalu berhenti pada sosok perempuan yang sedang duduk di pinggir taman kota. Rambut panjangnya sedikit berantakan, tubuhnya tampak lelah. Tetapi, Dani mengenali wajah itu. Itu Jelita. Ia menghampiri perlahan, ragu, seolah takut kalau itu hanya bayangan semu. Akan tetapi, saat Jelita menoleh, mata mereka bertemu. Sekilas. Dingin. “Kau,” ucap Dani datar. “I-iya?” jawab Jelita pelan, sama dinginnya. Tak ada pelukan. Tak ada kehangatan pertemuan. Mereka seperti dua orang asing yang dipertemukan oleh kebetulan yang aneh. Dani ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahnya kelu. Jelita hanya menunduk. “Kakek mencarimu,” ucap Dani akhirnya. “Untuk apa?” Jelita bertanya tanpa menatapnya. “Entahlah ... dia ingin bertemu. Lebih baik kau ikut denganku!” Setelah beberapa saat hening, Jelita akhirnya mengangguk. Apakah ini yang ia harapkan? Dalam hati, ia sendiri tak tahu kenapa ia menyetujuinya begitu saja. Mungkin karena lelah. Mungkin karena ingin tahu. Atau mungkin karena diam-diam wajah Dani masih teringat jelas di benaknya. Sementara itu, Kakek Wijayanto tampak lemah di ranjang rumah sakit pribadinya. Rumah sakit tersebut adalah milik keluarga Wijayanto. Wijayanto Medical Center. Ketika Jelita masuk, mata sang kakek langsung berkaca-kaca. Seolah pertemuan itu adalah anugerah yang tak ternilai. “Jelita ... akhirnya kau datang juga ....” Suaranya parau dan lemah. Jelita tersenyum sopan. “Saya minta maaf baru bisa datang, Kek.” Kakek Wijayanto mengangguk pelan. “Kakek mungkin tak punya banyak waktu lagi. Tapi sebelum kakek pergi, ada satu keinginan terakhir ....” Dani berdiri di sisi tempat tidur, menatap kakeknya dengan alis terangkat. Ia belum pernah melihat sang kakek bertingkah seperti ini. “Apa keinginan itu, Kek?” tanya Dani pelan lalu menghembuskan napas kesal dan memutar bola matanya malas. Ia sudah tahu jika ada niat terselubung di balik tingkah sang kakek. Kakek tersenyum samar, matanya menatap bergantian pada Dani dan Jelita. “Kakek ingin kalian menikah ... sebelum kakek tutup usia.” Sejenak hening. Perkataan itu kembali terulang. Namun, kali ini dalam situasi yang berbeda. Kondisi yang sepertinya sangat sulit untuk Jelita tolak. Jelita sontak menoleh ke arah Dani, dan Dani menatap sang kakek dengan ekspresi terkejut. “Kek, aku sudah bilang jika ini ... tidak masuk akal. Kami bahkan bukan—” Dani mencoba beralasan. “Kini kalian sudah saling mengenal. Kakek tahu Jelita gadis baik. Dani, lakukan ini untuk kakek, ya?” Jelita membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang keluar. Ia bingung. Dalam pikirannya, ini terlalu cepat, terlalu janggal. Tetapi di saat yang sama, ia teringat betapa sulitnya hidup di luar sana. Ia tak punya rumah, tak punya uang, dan hampir tak punya masa depan. Setelah beberapa saat, Dani menarik napas panjang dan menoleh pada Jelita. “Kita bisa bicara empat mata?” Jelita mengangguk. Mereka keluar dari ruangan dan berdiri di teras belakang rumah sakit. Udara malam dingin menusuk. “Aku tahu ini konyol,” Dani memulai. “Tapi ... mungkin kita bisa membuat perjanjian. Pernikahan kontrak. Satu tahun. Setelah itu, cerai.” Jelita terdiam. “Kakek akan senang, kau akan punya tempat tinggal dan bantuan dana. Aku juga bisa lanjut hidup tanpa beban setelah semua ini.” Ia berpikir sejenak. Opsi ini terasa pahit, tapi juga logis. Mungkin ... inilah jalan satu-satunya untuk bertahan. “Satu tahun. Tak lebih. Setelah itu, aku bebas pergi, dan kau bebas mencari siapa pun yang kau mau,” Jelita berkata tegas. “Setuju.” Mereka berjabat tangan. Dingin, kaku, tapi ada semacam kesepakatan di baliknya. *** Pernikahan itu digelar sederhana. Tak ada pesta megah. Hanya keluarga dekat dan beberapa pegawai rumah sakit yang dijadikan saksi. Kakek Wijayanto tersenyum puas dari atas kursi rodanya, tampak lebih ceria dari sebelumnya. “Terima kasih ... kalian telah mewujudkan harapan terakhir kakek,” katanya sambil meneteskan air mata. Jelita mengenakan kebaya sederhana, wajahnya dihiasi riasan tipis. Dani berdiri di sisinya, mengenakan jas hitam dengan ekspresi netral. Tak ada senyum, tak ada genggaman tangan. Hanya formalitas. Setelah ijab kabul selesai, keduanya pun berjalan menuju ke arah di mana mobil terparkir. “Kita akan tinggal di rumah utama?” tanya Jelita. “Tidak. Di rumah yang telah aku persiapkan. Lebih tenang. Lebih ... pribadi.” Jelita hanya mengangguk. Namun, sebelum keduanya sempat membuka pintu, suara Kakek Wijayanto memanggil mereka dengan senyum penuh rahasia. “Eh, eh, tunggu sebentar!” ujar beliau dengan nada bersemangat. “Kakek masih menyimpan satu kejutan terakhir untuk kalian berdua.” Dani berbalik dengan alis mengernyit. “Kakek, bukankah akan lebih baik jika kami segera pulang?” “Tidak kali ini,” sahut beliau, tersenyum penuh arti. “Sebagai kakek, tentu kakek juga ingin memberi kenangan manis pada malam pertama cucunya.” Beliau memberi isyarat pada perawatnya, dan kursi roda perlahan bergerak menuju ke arah di mana rumah kecil di bagian belakang halaman utama berada. Di dalam kompleks rumah sakit terdapat paviliun atau bangunan khusus yang dulunya adalah rumah keluarga atau wisma eksklusif untuk tamu penting. Jelita dan Dani saling menatap bingung, namun tetap mengikuti dengan sikap sopan. Beberapa langkah kemudian, mereka tiba di depan pintu rumah mungil yang telah direnovasi. Begitu pintu kamar utama dibuka, keduanya langsung terpaku. Ruangan itu ... tampak seperti hasil imajinasi seorang dekorator yang terlalu banyak menonton film percintaan. Pita merah muda melintang di dinding, balon berbentuk hati menggantung dari langit-langit, dan kelopak mawar merah tersebar rapi di atas seprai putih. Dua boneka pengantin adat duduk tegak di tengah ranjang, lengkap dengan senyum yang dijahit rapi. Jelita langsung menutup mulut, menahan tawa yang hampir pecah. Dani menghela napas, lalu memijat pelipisnya dengan pelan. “Kakek ... ini sungguh—” “Romantis, bukan?” potong Kakek dengan penuh bangga. “Kakek juga sudah menyiapkan lilin aromaterapi dan daftar putar musik pengantar tidur. Sayangnya, speakernya rusak. Jadi, kalau kalian ingin musik, mungkin bisa saling bersenandung saja.” Ya, tentu saja sang kakek mencari-cari alasan. Jelita tak kuasa menahan senyum. Bahkan Dani pun akhirnya tertawa kecil. “Terima kasih, Kek. Ini ... benar-benar tak terduga,” ujar Dani. Kakek mengangguk mantap. “Nikmatilah! Malam ini bukan hanya simbol, tapi awal perjalanan baru. Jangan sia-siakan suasananya!” Kemudian dengan nada pelan dan mata yang berkilat nakal, beliau menambahkan, “Ingat, pintunya dikunci rapat-rapat! Privasi itu penting.” Dani hanya menggeleng, tersenyum kaku. Setelah berpamitan, perawat mendorong Kakek menjauh dari paviliun mungil itu. Tak lama setelah itu, seorang staf wanita menghampiri keduanya, membawa tas kain putih bersih. “Permisi,” ucapnya sopan. “Ini titipan dari Tuan Besar Wijayanto—pakaian tidur untuk Tuan Muda dan Nona. Sudah disiapkan sejak pagi tadi. Tuan Besar yang memintanya secara khusus.” Jelita membuka tas itu dan langsung terdiam. Di dalamnya, sepasang piyama katun lembut—dengan motif serasi, warna biru laut untuk Dani dan biru muda dengan renda putih untuknya. Tampak elegan, namun tetap menunjukkan maksud ‘pasangan baru’. Jelita menelan ludah. “Pakai ini?” “Kalau tak ingin Kakek curiga, sebaiknya iya,” sahut Dani pelan. “Lagi pula, kita sudah sepakat untuk menjalani ini demi beliau, bukan?” Jelita terdiam sejenak, lalu menghela napas pasrah. “Baiklah. Tapi jangan macam-macam!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN