Siang itu terasa cerah, membawa optimisme yang tak kalah terangnya dengan senyum Jelita. Di depan ruko sederhana yang kini bertransformasi menjadi restoran ayam goreng “Rasa Jelita”, puluhan balon warna-warni melambai-lambai, seolah ikut merayakan semangat baru.
Ini adalah hari pembukaan, puncak dari perjuangan panjang Jelita. Meskipun acaranya jauh dari gemerlap, hati Jelita dipenuhi kebahagiaan. Beberapa tetangga, teman lama dari masa sekolah, dan pelanggan pertama mulai berdatangan, tertarik oleh aroma ayam goreng renyah yang menggoda.
Kakek Wijayanto, dengan kemeja batiknya yang rapi, duduk di kursi roda yang dihiasi pita, ditemani Dani di sisinya. Mata tuanya berbinar bangga saat melihat Jelita melayani pelanggan dengan senyum ramah. Restoran ini mungkin kecil, tapi ini adalah kemenangan pertamanya, bukti nyata bahwa ia bisa bangkit.
“Ini ayam goreng terenak yang pernah saya cicipi!” seru seorang ibu-ibu dengan antusias.
Jelita tersenyum, hatinya menghangat. “Terima kasih, Bu! Semoga suka.”
Dani memandang Jelita, ada sorot kekaguman yang sulit ia sembunyikan. Gadis ini, dengan segala badai yang menerpanya, masih mampu berdiri tegak dan menciptakan sesuatu yang indah.
Di tengah keramaian yang hangat, sebuah truk pengantar bunga tiba di depan restoran. Seorang pengantar membawa dua buah karangan bunga raksasa. Satu karangan bunga dengan pita hitam bertuliskan: Turut berduka cita atas bisnis kecilmu. Semoga cepat tutup. Pengirim: Daria dan Sania. Karangan bunga kedua, juga dari mereka, bertuliskan: Selamat atas usaha barumu. Jangan sampai bangkrut, ya. Salam dari yang sudah sukses duluan.
Suasana tiba-tiba hening. Beberapa tamu menoleh, terkejut melihat pesan-pesan sinis itu. Wajah Jelita sempat memucat, namun ia segera menguatkan diri. Ia tahu ini adalah ulah Daria dan Sania.
Dengan senyum tipis yang tak gentar, Jelita berjalan mendekat. Ia mengambil kartu ucapan itu, membacanya sekilas, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang bisa melihat.
“Terima kasih atas ‘ucapan selamat’ dari Ibu Daria dan Ibu Sania!” seru Jelita dengan suara nyaring, namun tetap tenang. “Saya menghargai perhatian Anda. Semoga bisnis saya bisa menginspirasi banyak orang untuk bangkit, bahkan dari keterpurukan sekalipun.”
Beberapa tamu bertepuk tangan, mengagumi ketegaran Jelita. Daria dan Sania, yang mungkin mengira Jelita akan panik, pasti akan terkejut dengan reaksinya.
Kakek Wijayanto, yang menyaksikan insiden karangan bunga itu, merasa darahnya mendidih. Ia tidak bisa membiarkan cucu menantunya dihina di hari istimewanya. Dengan spontan, Kakek mengambil mikrofon dari salah satu panitia acara.
“Hadirin sekalian!” suara Kakek Wijayanto menggelegar, menarik perhatian semua orang. “Saya, Wijayanto, ingin mengumumkan bahwa saya sangat, sangat bangga pada Jelita! Ini bukan hanya restoran, ini adalah bukti kegigihan, semangat pantang menyerah, dan cinta pada kuliner yang luar biasa!”
Kakek menunjuk karangan bunga dari Daria dan Sania. “Ada beberapa orang yang mungkin tidak suka melihat cahaya baru dalam hidup ini. Tapi biarlah! Mereka hanya pecundang yang tidak bisa melihat orang lain bahagia!” Kakek tertawa renyah, diikuti tawa para tamu.
“Restoran ‘Rasa Jelita’ ini akan menjadi bukti bahwa kebaikan dan kerja keras akan selalu menang! Mari kita dukung Jelita!” Kakek mengangkat tinjunya, disambut tepuk tangan meriah dan sorakan semangat dari para tamu. Jelita menatap Kakek, matanya berkaca-kaca. Dukungan terbuka ini adalah kado terindah baginya.
Di balik layar, perang dingin bisnis memang telah dimulai. Beni, yang masih mengawasi setiap gerak-gerik Jelita, mencoba melancarkan serangan. Ia mencoba menyabotase pengiriman bahan baku dari pemasok ke restoran Jelita, dengan menyuap beberapa oknum kurir untuk mengalihkan pesanan atau menunda pengiriman. Ia juga membuat beberapa akun palsu di media sosial untuk menulis ulasan negatif tentang ‘Rasa Jelita’, menuduh kebersihan yang buruk atau rasa yang tidak enak.
Namun, Dani tidak tinggal diam. Ia sudah mengantisipasi hal ini. Tim keamanannya telah diinstruksikan untuk memantau setiap pengiriman dan ia juga memiliki tim IT yang bertugas memantau aktivitas media sosial terkait Jelita.
Sebagian besar upaya sabotase Beni berhasil digagalkan sebelum mencapai Jelita. Beberapa ulasan negatif palsu dengan cepat dihapus atau dilaporkan, dan pengalihan pasokan berhasil diantisipasi.
Dani tidak memberi tahu Jelita tentang ini. Ia ingin Jelita fokus pada restorannya dan tidak terbebani oleh intrik kotor di belakangnya. Ia tahu Jelita sudah terlalu banyak menanggung beban.
Setelah hari pembukaan yang melelahkan namun sukses, Dani dan Jelita berdiri di depan restoran yang kini sudah sepi. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya lembut, menciptakan suasana yang tenang. Jelita merasa lelah, namun puas.
“Kau melakukannya dengan baik, Jelita,” kata Dani, suaranya pelan.
Jelita menoleh, terkejut mendengar pujian tulus itu dari Dani. “Terima kasih, Dani. Semua ini tidak akan mungkin tanpa bantuanmu dan Kakek.”
Dani tersenyum tipis. “Ini semua hasil kerja kerasmu. Kau pantas mendapatkannya.” Ia menatap Jelita, matanya memancarkan kebanggaan. “Aku bangga padamu.”
Kata-kata itu menyentuh hati Jelita lebih dari apa pun. Selama ini, ia hanya menerima cemoohan dan keraguan. Mendengar Dani, orang yang dulunya sangat dingin dan jauh, mengucapkan kalimat itu, membuat hatinya menghangat.
“Terima kasih,” bisik Jelita, suaranya sedikit bergetar.
Mereka berdiri dalam diam sejenak, menikmati ketenangan malam dan kebersamaan yang semakin terasa nyaman. Ada sebuah ikatan yang tak terucap, namun semakin kuat, di antara mereka. Sebuah ikatan yang lahir dari pernikahan kontrak, namun tumbuh karena dukungan dan pengertian yang tulus.
Sementara Jelita sibuk mengelola restoran barunya, Dani tidak pernah berhenti mencari dokumen rahasia perusahaan lama ayah Jelita. Ia menghabiskan malam-malamnya di ruang kerja, meneliti berkas-berkas lama, laporan keuangan yang rumit, dan notulen rapat yang sudah usang.
Suatu malam, saat ia meneliti sebuah arsip rapat dewan direksi dari PT. Pratama Sejahtera yang sangat lama, ia menemukan sesuatu yang aneh. Di bagian bawah salah satu halaman, tersembunyi di antara stempel dan tanda tangan yang buram, ada sebuah simbol kecil yang terukir samar. Simbol itu berbentuk seperti kunci bersilang dengan tiga bintang kecil di atasnya.
Dani mengerutkan kening. Simbol ini ... ia pernah melihatnya. Di mana? Ia mencoba mengingat. Lalu, tiba-tiba, sebuah memori melintas di benaknya.
Beberapa waktu lalu, saat ia menggeledah barang-barang Beni secara diam-diam, ia pernah melihat simbol serupa terukir di sampul belakang sebuah buku harian lusuh milik Beni, yang ia temukan terselip di antara barang-barang lama Beni saat ia melacak informasi mengenai dia. Ia juga pernah samar-samar melihatnya sebagai liontin kalung yang dipakai Daria di sebuah foto pesta lama yang pernah ia lihat.
Simbol yang sama. Itu adalah petunjuk. Itu bukan sekadar kebetulan. Simbol itu pasti memiliki arti penting, menghubungkan Beni, Daria, dan mungkin rahasia gelap perusahaan lama ayah Jelita. Apakah simbol itu adalah tanda suatu kelompok organisasi? Atau kunci untuk sesuatu yang lebih besar?
Tepat saat Dani sedang memandangi simbol itu, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal. Ia ragu sejenak, lalu mengangkatnya.
“Halo?”
Suara di ujung sana terdengar cemas dan berbisik. “Apakah ini Tuan Wijayanto? Saya ... saya tidak punya banyak waktu. Saya mantan karyawan Pak Pratama. Saya tahu ... saya tahu tentang kecurangan keuangan yang dilakukan Daria dan Sania. Tentang bagaimana mereka menggelapkan dana dan memanipulasi warisan. Saya punya buktinya. Tapi saya tidak bisa berbicara di telepon. Mereka ... mereka mengawasi saya.”
Dani menegang. “Siapa Anda? Di mana Anda ingin bertemu?”
“Saya akan kirimkan alamatnya. Di gudang tua dekat pelabuhan. Malam ini. Sendirian. Jangan bawa siapa-siapa! Saya takut ... mereka akan membunuh saya jika tahu saya bicara.” Suara itu terdengar panik, lalu sambungan terputus.
Dani menatap ponselnya, lalu menatap simbol kunci bersilang di dokumen lama itu. Mantan karyawan. Bukti. Gudang tua. Dan rasa takut yang jelas dalam suara itu. Semua ini terasa seperti jebakan, tapi juga satu-satunya jalan untuk mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya. Ia tahu ia harus pergi.