Ponsel di tangan Dani bergetar, panggilan dari nomor tak dikenal itu masih segar dalam ingatannya. Suara cemas mantan karyawan ayah Jelita yang menawarkan bukti vital terngiang-ngiang. Ini adalah risiko besar, tapi juga satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan kebenaran. Dani berjalan cepat ke kamar Jelita, raut wajahnya serius. “Kita harus bicara,” katanya, tanpa basa-basi. Jelita menatapnya, merasakan ada kedaruratan dari nada suara Dani. Ia mengangguk dan mempersilakan Dani masuk. Dani menjelaskan tentang panggilan telepon misterius itu, dan tawaran untuk bertemu di gudang tua dekat pelabuhan. “Ini bisa jadi jebakan,” ujar Jelita, khawatir. “Bisa jadi. Tapi ini juga kesempatan kita,” balas Dani, matanya tajam. “Jika dia benar-benar punya bukti yang bisa menjatuhkan Daria dan Sania,

