Jelita menatap pintu kayu mahogani rumah yang kini ternoda. Simbol aneh, seperti goresan kapur hitam, membentuk lambang kunci bersilang yang sama persis dengan yang ada di dokumen lama ayah Jelita, terlukis di permukaan kayu. Di bawahnya, setangkai mawar hitam layu tergeletak, kelopaknya yang keriput kontras dengan durinya yang tajam. Aroma kematian dari bunga itu seolah menusuk indra penciuman Jelita, membuat bulu kuduknya berdiri, merinding. Ini bukan sekadar ancaman biasa; ini adalah pesan yang sangat pribadi dan menakutkan, dikirim langsung ke rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya. “Dani!” panggil Jelita, suaranya tercekat. Dani segera menghampiri, matanya menyipit begitu melihat lukisan dan bunga itu. Raut wajahnya berubah serius. Ia tahu ini ulah Beni. Lagi dan lagi

