Suara dingin di telepon yang Beni terima, memerintahkannya untuk menyerang Kakek Wijayanto, masih menggema di kepala Dani. Ya, tentu saja Dani tahu tentang itu dari tim IT yang berhasil menyadap panggilan tersebut. Meskipun Beni tidak langsung mengungkapkan identitas penelepon, Dani yakin itu adalah dalang yang lebih besar. Informasi dari tim keamanan Dani pagi itu mengonfirmasi firasatnya: ada peningkatan aktivitas mencurigakan di sekitar rumah, beberapa wajah baru terlihat mengawasi dari kejauhan. Ancaman terhadap Kakek Wijayanto adalah nyata dan mendesak. Dani segera bertindak. Ia melipatgandakan jumlah pengawal yang berjaga di dalam dan sekitar kediaman Wijayanto. Setiap pintu dan jendela diperiksa ulang, patroli diperketat, dan rute perjalanan Kakek ke mana pun akan diawasi ketat.

