Masuk Dalam Dimensi Lain

2642 Kata
Kedua tangan Victor masih mencoba menghalau angin yang terus membuatnya hampir terpental. Saking besarnya angin dari berbagai yang menghalau, membuat tetumbuhan saling bergoyang tak tentu arahnya. Sampah-sampah serta ranting ikut beterbangan. Tong di pinggiran jalan roboh dan terseret. Victor mencoba maju, berniat untuk kembali saja lantaran cuaca tiba-tiba sangat buruk. Namun langkah kakinya itu begitu berat. Serasa menerjang barang yang begitu berat. Jaket yang dikenakannya terombang-ambing. Bahkan tubuhnya ikut terombang-ambing. Dari kejauhan, ia melihat seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan yang berada di tengah jalan sendiri. Anak itu membawa sebuah payung hitam, yang kemudian payung tersebut terbalik ke atas dan terlepas pada tangan mungilnya. "Mama!" Anak perempuan itu menjerit. Memanggil ibunya yang tak kunjung datang. Victor berinisiatif untuk menolongnya sebelum ia kembali ke rumah. Ia berbalik arah. Bergerak maju walau terasa amat berat. Dilihatnya pohon-pohon besar mulai kehilangan daun daunnya. Sementara pohon pohon kecil mulai tumbang dan terseret angin yang begitu dahsyat. Sepertinya, itu merupakan tornado dadakan yang menyerbu perkotaan. Teriakan anak kecil di sana mulai tak terdengar akibat ricuhnya benda benda sekitar yang beterbangan. Brak! Sebuah tong sampah menghantam tubuh Victor hingga membuatnya terjatuh. Lantas tong tersebut menggelinding di jalanan, sebelum akhirnya tornado mengangkatnya dan membawanya melayang. Victor tertegun melihat tersebut. Suara pintu rumah yang terbuka serta jendela yang tiba-tiba rusak mengalihkan perhatiannya. Daun pintu tersebut sampai terlepas dari engselnya dan terbang di sedot tornado. Genteng genteng saling berjatuhan. Kedua mata Victor yang menyipit itu masih bisa melihat penampakan anak kecil di depan sana. Dengan susah payah ia mencoba bangkit, tetapi ia bisa merasakan kalau angin di depannya bisa menggerakkan sedikit demi sedikit tubuhnya. "Arghh!" Teriakan anak kecil di sana semakin nyaring melewati gendang telinganya saat suara tersebut dibawa oleh angin ke arahnya. Bahkan ia juga bisa melihat kalau tubuh anak itu mulai roboh. Victor segera bangkit. Melawan semua beban berat yang hampir menerbangkannya. Saat kakinya sudah mulai bisa menyokong tubuhnya untuk berdiri, tiba-tiba angin berhenti. Tornado sudah pergi entah ke mana. Suasana menjadi lebih hening dari sebelumnya. Victor menyadari jemarinya yang berdarah akibat hantaman benda-benda tadi. Baru terasa pedihnya sekarang. Ia mengusap darah tersebut dari jemarinya. "Mama …." Suara tangisan anak perempuan kembali terdengar. Merengek. Memanggil sang ibu. Pandangan Victor langsung teralih kepadanya. Melihat anak itu yang tersimpuh di tengah jalan dengan wajah yang sedikit terluka di bagian kening. "Astaga!" Victor menganga. Gegas bergerak ke arahnya. "Mama!" Pekikan anak itu kembali terdengar cukup nyaring saat melihat sang ibu yang berlari ke arahnya. Victor menghentikan langkahnya sejenak saat melihat wanita itu. Berpikir bahwa ibu sang anak perempuan tadi sudah datang. Anak perempuan tadi mulai membangunkan tubuhnya sendiri. Beberapa orang mulai keluar rumah. Melihat kondisi rumah mereka masing-masing yang bagian depannya sebagian ada yang hancur. Dari arah lain, Victor melihat Benjamin yang juga datang. Sepertinya Benjamin sudah melihat pria itu, buktinya, saat ini lelaki tua itu mempercepat langkahnya menghampiri Victor. "Paman Ben!" panggil Victor. Detik berikutnya, suara bergemuruh kembali terdengar di langit sana. Orang-orang yang berada di luar mulai mendongak, menatap langit, penasaran akan suara yang mencekam tersebut. Dari kejauhan sana, sebuah gulungan berwarna hitam tampak membuat mereka berpikir keras. Gulungan yang panjang dan berbentuk melingkar yang tiada henti berputar itu semakin lama semakin dekat. Terlihat pula benda-benda yang beterbangan di dalamnya juga mengelilinginya. Sejenak mereka masih memandang dengan posisi diam. Namun, saat gulungan itu semakin mendekat, mereka langsung tahu apa benda itu sebenarnya. "p****g beliung!" Victor mengucap gugup. Benda-benda di sekitar mereka mulai teesempar dan terangkat saat anginnya dari kejauhan mulai terasa. Anak perempuan tadi menjerit. Berlari ke arah ibunya. Tetapi beberapa saat kemudian, p****g beliung mencapainya dan dengan mudahnya membawa tubuh mungil itu terbang bersamanya. Orang-orang di sekitar yang melihatnya langsung menjerit panik. Sang ibu bergerak, berniat menolong sang anak. Tetapi sejatinya dia malah mendekati marabahaya itu sendiri. Tubuh wanita itu ikut tersambar dan terangkat. Naik di telan gulungan angin yang begitu dahsyat. Saking dahsyatnya sampai meluluh lantakkan benda-benda yang ada di depannya. Seakan tak pandang bulu, semuanya dilibas dan dibawa naik olehnya. Orang-orang semakin berteriak panik. Mereka bergerak cepat menuju rumah masing-masing. Tetapi satu persatu terkena sambaran p****g beliung tersebut dan tubuhnya terangkat ke atas. Tidak cukup dengan p****g beliung, tornado dari arah lain juga mulai berdatangan. Sebuah kolom udara yang berputar kencang yang membentuk hubungan antara awan cumulonimbus atau dalam kejadian langka dari dasar awan cumulus dengan permukaan tanah. Tornado muncul dalam banyak ukuran dan berbentuk corong kondensasi yang terlihat jelas yang ujungnya yang menyentuh bumi menyempit dan sering dikelilingi oleh awan yang membawa puing-puing. Victor yang menyadari tempat yang digunakannya berpijak saat ini sangat berbahaya, berinisiatif untuk segera kembali pulang menemui sang putra yang berada di dalam rumah. Namun saat kakinya tersebut bergerak maju, ia kembali ingat dengan Benjamin. Victor menoleh. Melihat Benjamin yang berlarian dikejar tornado. "Paman Ben!" Victor bergerak cepat ke arahnya. "Victor pergilah, jangan ke sini. Selamatkan putramu, Teddy!" Suara Benjamin semakin pudar, tetapi masih bisa di dengar oleh Victor. "Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian." Victor terus bergerak maju. Hingga ia bisa mencapai tubuh pria baya itu. "Ayo, Paman. Kita harus segera pergi dari sini!" Victor mengajak Benjamin bergerak maju. Namun tiba-tiba tornado dari arah samping membuat mereka teesempar. Brak! Tubuh Victor menghantam sebuah pohon. Masih merasakan sakit di pinggangnya, tetapi ia harus menghindar gesit saat dahan di atas sana jatuh. Victor mengguling. Beruntung dahan pohon tersebut tak mengenai tubuhnya. Jantung berdegup begitu kencang. Sementara Benjamin tampak tersimpuh di pinggiran jalan. "Paman, Ben!" Mulai membangunkan tubuhnya. Kakinya sakit juga pinggangnya, membuatnya kesusahan untuk berdiri. Belum lagi keningnya yang mengucur darah. Pria baya di pinggir jalan sana masih menggerakkan sedikit tangannya. Itu artinya Benjamin masih hidup. Mencoba membangunkan tubuh tetapi terasa begitu sulit. "Paman Ben!" Suara Isak Victor terdengar dari kerongkongannya. Menggeserkan tubuhnya mendekat ke arah pria baya tersebut. Saat itu suasana sedikit tenang. Tornado dan p****g beliung sibuk menyerbu tempat lain dan meluluh lantakkan segalanya. Hal tersebut dimanfaatkan Victor untuk bergerak ke arah Benjamin. Begitu ia berhasil di dekatnya, Victor berkaca-kaca saat melihat kondisi pria tua itu. "Paman Ben, aku akan membantu ke rumah dan mengobatimu. Kau pasti akan selamat," kata Victor sembari mengusap darah dari kening pria tua itu. Kepala Benjamin bocor mengucur darah saat tornado tadi menghantamnya dan membuatnya tersambar aspal. Tubuhnya itu begitu lemah. Bahkan tenaganya tak cukup kuat untuk menggerakkan beberapa bagian tubuhnya. Berbicara saja menjadi terpenggal-penggal. "Nak, Victor. Pergilah. Se… lamatkan putramu. Per-gi jauh dari kota ini. Selamatkan nyawa kalian," kata Benjamin terbata-bata. Victor menggeleng cepat. Air matanya bocor, jatuh menimpa kepala Benjamin. "Paman akan selamat. Paman pasti bisa. Aku akan membawamu!" "Tidak, Nak. Maafkan Paman. Paman tidak kuat lagi. Kurasa ini saatnya aku pergi. Jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal." Usai mengucapkan kalimat tersebut, Benjamin lantas menghembuskan napas terakhirnya. "Paman Ben!" Victor berteriak pilu. Menggoyang-goyangkan tubuh tua itu tetapi tetap saja tak mau bereaksi. Tiba-tiba tornado kembali datang. Menghantam setiap benda yang di laluinya. Membawanya terbang bersamanya. Victor semakin panik saat tornado tersebut bergerak ke arahnya. Puing-puing yang dibawanya mulai terhantam satu persatu. Gegas pria itu berdiri berlari maju. Sesekali ia melirik ke belakang, melihat tubuh Benjamin yang tersedot corong kondensasi ganas. Berputar-putar di atas sana sebelum akhirnya lenyap di telan pekatnya angin. *** Victor bergerak cepat. Menghindar dari tornado yang mencoba menyerbunya. Ia bersembunyi di bawah sebuah kolong jalan. Masuk ke dalam dengan tubuh gemetar. Pria itu bisa merasakan dengan jelas getaran di atas sana. Bagaimana tornado meluluh lantakkan segala yang ditangkapnya. Beberapa saat kemudian, keributan tersebut mulai senyap. Victor berpikir kalau gulungan angin ganas tersebut sudah berpindah tempat. Gegas ia keluar dari tempat persembunyiannya. Benar. Angin ganas tersebut tampak jauh berpindah tempat dan merusak tempat-tempat lainnya. Dilihatnya perumahan dan pohon-pohon yang tumbang. Puing-puing berserakan di setiap tempat. Namun kali ini bukan itu yang membuat Victor panik. "Teddy!" Pria itu baru teringat akan sang anak yang cukup lama ditinggalkannya di rumah bersama Simon. Gegas pria itu menggerakkan langkahnya. Berjalan cepat ke arah rumah sang mertua dahulu. Tiba di halaman, langkah Victor memelan. Persediannya rapuh seketika dan kakinya cosplay menjadi jelly. Sekujur tubuhnya gemetar sementara kedua matanya berair. Melihat sebuah rumah di depannya yang porak poranda. Genteng pecah berceceran. Daun pintu hilang entah ke mana. Jendela retak dan sebagian ada yang pecah. Puing-puing bangunan runtuh sebagian. Dan hal terburuknya, rumah tersebut berisi sang anak yang berada di dalamnya. "Tidak… tidak mungkin." Pria itu menggeleng dengan kepala yang gemetar. Mencoba menggerakkan kakinya maju, yang terasa begitu berat. Sementara jantungnya berdegup begitu saat membayangkan kemungkinan terburuknya. Victor mulai mencapai pintu. Melihat keadaan rumah yang berantakan. Kursi sofa mengguling. Meja tersempar. Hiasan dinding runtuh berceceran di mana-mana. Saat kakinya masuk ke depan lagi. Kondisi rumah tersebut begitu sangat berantakan. Ia bahkan tak menemukan batang hidung sang putra maupun temannya, Simon. "Teddy?" Suara Victor begitu gemetar. "Simon?" Dengan panik ia mulai mencari ke segala sudut ruangan. Dengan terus berteriak. "Teddy! Simon!" Ia melirik sebuah ruangan yang tertutup rapat. Victor bergerak ke sana. Menggedor pintu tersebut dan memanggil mereka. "Teddy! Simon!" "Papa!" Suara Tertua terdengar dari dalam sana. Sedikit lega. Ia mencoba membuka pintu tersebut. Mendobraknya tetapi terasa begitu berat. "Victor, apa tornadonya sudah tidak ada?" Simon terdengar bertanya dari dalam sana. "Iya. Tornado sudah pergi. Cepat buka pintunya. Kita harus segera pergi dari sini!" teriak Victor. "Baiklah. Tunggulah. Aku akan memindahkan benda-benda ini dulu!" Dari dalam sana, Simon tampak memindahkan benda-benda seperti balok kayu, kursi, dan juga meja dari depan pintu. Benda-benda tersebut yang tadinya ia gunakan untuk mengunci rapat pintu dan juga jendela agar angin tak masuk ke ruangan tersebut. Setelah semuanya ia pindahkan, pintu tersebut menjadi sangat ringan untuk dibuka. Victor segera masuk. Terasa haru saat melihat sang putra yang baik-baik saja. Gegas ia menghampiri Teddy. Merendahkan tubuhnya, menekuk lutut guna menyamakan tinggi anak tersebut. Lantas ia mulai memeluknya dan mencium kedua pipinya. "Syukurlah kau baik-baik saja. Papa sangat takut jika sesuatu terjadi padamu." Kembali Victor mendekap tubuh mungil tersebut. "Papa bilang tidak akan meninggalkanku. Tapi kenapa tadi Papa pergi? Teddy sangat takut di sini," celetuk bocah itu yang langsung membuat hati Victor serasa ditusuk dengan duri. Air mata yang sedari tadi tertampung di pelupuk mata akhirnya kini membanjir, bertanda sebuah penyesalan sang ayah terhadap sang putra. "Maafkan, Papa, Nak!" Air mata Victor kini membasahi pundak Teddy. "Papa tidak tahu hal ini akan terjadi." "Tadi Teddy sudah melarang Papa keluar rumah. Simon juga berkata kalau di luar sangat berbahaya." Kembali anak itu berceloteh. Victor melirik sejenak ke arah Simon. Simon menundukkan kepalanya. "Maafkan Papa, Sayang." Victor merenggangkan pelukannya. Kedua tangannya meraih pipi mungil Teddy dan mengelusnya. Sementara kedua sorot matanya terfokus pada wajah polos penuh ketakutan di depannya. "Sayang, kita harus pergi dari sini. Di sini akan sangat berbahaya," ucap Victor menyakinkan Teddy. "Tapi ini rumah nenek. Kenangan ibu juga ada di sini. Kita mau pergi ke mana?" "Teddy, di sini sangat berbahaya. Angin ganas itu bisa datang lagi kapan saja. Kita harus segera keluar dari sini, oke?" "Di mana pri itu? Benjamin." Simon membuka suara, mempertanyakan soal keberadaan Benjamin. Victor menundukkan kepala. Membisu untuk sesaat. "Papa, di mana kakek itu?" Tangan Teddy meraih janggut Victor dan mengangkatnya. Victor mengerjap. Sejatinya terasa sulit untuk mengatakan sebuah kebenaran yang begitu menyakitkan. Pria itu meneguk saliva. Mulai merangkai kata-kata yang terasa sulit untuk diucapkan. Sementara dadanya begitu terasa sesak. "Paman Ben… Paman Ben sudah tiada. Dia sudah meninggal." Air mata Victor kembali bocor. "Apa?" Simon menganga. "Bagaimana bisa?" tanyanya kemudian. "Angin itu… Tornado sudah menghancurkan semuanya. Orang-orang dibawanya naik ke atas bersamanya. Di luar semuanya porak poranda." Victor menjelaskan hal tersebut dengan sesenggukan. Teddy menggerakkan tangan mungilnya untuk membasuh kedua mata sang ayah. "Papa, jangan menangis." Teddy menghambur di pelukan sang ayah. Victor meneguk ludah. Menelan semua kesedihan itu mentah-mentah. Terasa sulit untuk melanjutkan hidup ke depan, lantaran bahaya terus saja menghadang. Namun ia harus kuat. Demi sang putra. "Sebaiknya kita harus segera pergi dari sini." Victor menyeka air matanya dengan punggung jemari lantas mulai mengangkat tubuh Teddy dan menggendongnya. "Simon, ayo kita pergi!" Victor bergerak keluar ruangan. Simon membuntutinya dari belakang. Setelah berhasil keluar dari rumah, mereka segera bergerak ke arah mobil. Simon bisa melihat keadaan sekitarnya yang memprihatinkan. Pohon-pohon tumbang dan kehidupan daunnya. Rumah-rumah kehilangan atapnya. Dan puing-puing berserakan di berbagai tempat. "Simon!" Victor membuyarkan lamunan pria itu. "Ayo masuklah!" perintahnya setelah memasukkan tubuh Teddy ke dalam mobil. Simon mengangguk kemudian mulai menarik daun pintu mobil dan mulai memasukkan tubuhnya ke dalam. Lantas merapatkan daun pintunya kembali. Gegas Victor bergerak ke pintu depan. Masuk dan mulai mengenakan sabuk pengaman. "Sayang, pakai sabuk pengamanmu!" perintah Victor pada sang putra. Teddy segera menjalankan perintah ayahnya itu. "Simon, kau juga!" Kembali Victor menyambung. Simon masih belum tahu bagaimana caranya mengenakan sabuk pengaman tersebut. Ia hanya bisa melihat anak kecil di sampingnya yang sibuk mengikat tubuhnya dengan seat belt. Saat ia mencoba mempraktekkannya, ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya. "Mau aku bantu?" Teddy yang menyadari teman dewasanya itu tak tahu menahu dengan segala kecanggihan fasilitas, mulai membantu. Dengan sangat polos dan lugu Teddy mengajari Simon. Hal itu disaksikan oleh sang ayah dari kaca depan mobil. Tentu saja itu membuat senyum sedikit mengembang dari garis bibir Victor. "Selesai!" seru Teddy saat sudah berhasil mengikat tubuh pria baya di sampingnya dengan sabuk pengaman. "Terima kasih." Simon terkekeh sembari mengelus pucuk kepala anak kecil di sampingnya. "Sudah semua?" Victor mulai menancap gas dan menderukan mobil tersebut. Meninggalkan perumahan elit yang sudah porak poranda akibat amukan tornado ganas beberapa saat yang lalu. Mobil Victor sudah sampai di jalan raya. Bergerak ke jalur timur. Ia bisa melihat sekelilingnya tersebut yang masih baik-baik saja. Keadaan kota belum tersapu oleh ganasnya tornado. Hanya saja daerah tersebut terlihat sepi. Hanya beberapa mobil yang belalu lalang. "Pa, kita mau ke mana?" tanya Teddy. "Kita akan cari tempat yang aman, Nak!" jawab Victor. Sejatinya, ia tak tahu menahu arah tujuannya sekarang. Yang terpenting, bisa terbebas dari marabahaya. Dan yah, tiba-tiba terlintas dalam ingatannya tentang Dave dan Devina. Kemarin mereka juga menuju jalur timur. Victor berpikir, dan sangat berharap kalau dia bisa bertemu kembali dengan mereka. Terlihat seekor burung yang terbang ke arah barat. Awalnya burung tersebut melintasi mobil Victor dengan tenang, tetapi beberapa saat kemudian burung tersebut kembali terlempar. Jatuh tepat di kaca mobil bagian depan. Hal itu tentu membuat Victor syok. Pria itu pun menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Melihat sekelilingnya. Benda-benda beterbangan tak tentu arahnya. Lama-lama, sebuah kolong besar yang terus memutar-mutar tercipta di depan jalan sana. Menyedot semua benda yang berada di depannya. Termasuk mobil Victor. Victor berusaha untuk terus memutar balik, tetapi sayang sekali gulungan berupa angin tersebut sangat ganas dan tak mampu ditahan oleh apa pun. Mobil Victor masuk ke dalam sana, ke sebuah dimensi yang berbeda. Dimensi yang menghubungkan ke alam lain. Semuanya sangat berbeda. Pancaran sinar yang cukup terang membuat Victor menyipit aku mata. Lama kelamaan pria itu pingsan. Beberapa saat kemudian, ia kembali terbangun. Membuka matanya perlahan. Ia menyadari kini tubuhnya berada di sebuah ranjang tempat tidur. Victor gegas membangunkan tubuh. Saat melihat cermin di depannya, ia menyadari wajahnya tersebut sedikit berubah. Wajah pria itu menjadi sepuluh tahun lebih muda dari sebelumnya. "B-bagaimana ini bisa terjadi?" Victor terus meraba pipinya dengan perasaan heran. Ia tak ingat apa pun. Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering. Sebuah pesan w******p grup muncul dari notifikasi ponselnya. Victor meraih ponsel tersebut. Membaca pesan-pesan dari para anggota grup. Anehnya, Victor seperti mengenal mereka semua dan tampak akrab. "Guys, jangan lupa nanti malam kita ada janji ke suatu tempat." Seseorang bernama Ravi yang mengirim pesan. "I know, Baby!" Gadis bernama Nia terlihat membalas. Kemudian disusul yang lainnya. Ada sekitar tujuh orang yang berada di grup tersebut. "Kita mau ke mana memangnya?" Gadis bernama Krystle tampak bertanya. "Jangan pura-pura tidak tahu!" Simon yang membalasnya. "Ayolah, Krystle. Kau pasti akan tahu nantinya!" Pesan dari Devina masuk setelah Simon. "KALIAN BERISIK!" Tiba-tiba seseorang atas nama Dave mengirim pesan tersebut. Beberapa saat kemudian, muncul notifikasi bahwa grup chat tersebut dikunci oleh Dave. Victor mengerutkan dahi heran. Masih bingung dengan segala hal yang di luar nalarnya. "Memangnya kita mau ke mana?" tanyanya pada diri sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN