Semilir angin menderu tipis, mendinginkan suasana malam yang terhias rembulan bulat sempurna, tengah mengintip di balik awan. Ribuan kejora ikut mengsukseskan malam yang indah kala itu. Malam dengan awan tipis yang tergores lepas di angkasa.
Berbagai kunang-kunang memamerkan cahaya cantiknya, saling beterbangan mengelilingi sebuah Wastu kuno bersejarah. Bangunan dengan arsitektur kuno yang terlihat tua, namun tampak indah. Bangunan itu tampaknya sudah berdiri berabad-abad lalu, yang hanya menyisakan tembok besar dan berbatuan yang tak beratap.
Di depan Wastu itu, terdapat sebuah mobil hitam mewah yang terparkir rapi, namun tak menampakkan siapa pemiliknya. Mungkin saja pengemudinya tengah berada di dalam Wastu, mengeksplorasi bangunan tua yang bertembok besar.
Serangga kecil dengan cahaya indahnya menyusuri satu demi satu bangunan bersejarah itu. Menerangi setiap ruangan yang dilanda . Tiba-tiba Segerombolan dari mereka terusik oleh tangan lembut yang mencoba menangkapnya.
Seorang gadis cantik dengan pakaian yang kekinian layaknya anak muda zaman sekarang itu mencoba meraih kunang-kunang yang beterbangan bebas di depannya. Gadis bertubuh seksi dengan rambut panjang yang tergerai lepas, merasa sedih lantaran tangannya tak juga bisa menggapai satu pun serangga bercahaya. Alhasil, ia hanya bisa menyaksikan indahnya hewan kecil yang terus memancarkan cahaya itu di depannya. Senyum simpul tergores lepas dari garis bibirnya yang memang manis itu.
Namanya Nia Sharma, seorang model yang kerap menangkan penghargaan. Selain menjadi seorang model, ia juga hobi dengan traveler. Sudah beberapa tempat menarik ia kunjungi, bahkan ia sering bolak-balik ke luar negeri. Kekayaan keluarga, dan ketenaran yang dimiliki membuatnya melupakan akan tujuan hidup yang sesungguhnya.
Ia lebih suka hura-hura bersama teman-temannya. Kehidupan malam sudah menjadi kebiasaannya bagi gadis kota sepertinya. Bahkan keluarganya tak mempersalahkan hal itu. Mereka cukup bangga dengan kesuksesan yang telah diraih anaknya.
Nia begitu kagum ketika melihat hewan malam yang berterangan di depannya itu. Seperti dirinya yang terus bersinar di setiap malam, hewan itu juga terus memancarkan cahaya dari tubuhnya yang kecil emut.
Nia begitu asyik menikmatinya, tiba-tiba tangan kekar membungkam mata indahnya, hingga membuatnya tak bisa menikmati pemandangan di depannya lagi. Nia membalasnya dengan senyum, lalu ia berbalik menatap pria yang berdiri di belakangnya itu.
"Kau?" Suara lembut dari bibir Nia akhirnya terucap.
Pria itu hanya tersenyum, memandanginya dan berkata, "Lihat kunang-kunang itu, bahkan mereka kalah cantik denganmu!" ujarnya.
Nia terus memaparkan pesona senyumnya. "Ravi, apa kau mencoba merayuku?"
"Ayolah Nia, kita ini sepasang kekasih, buatlah malam ini menjadi romantis!"
Dia adalah Ravi Jaykar, pria yang romantis dan terbilang cool. Ketampanannya itu hampir terpahat sempurna dengan goresan kumis tipis yang teroles rapi di sekitar rahang. Apalagi cara bicaranya yang gombal, mampu menyihir wanita mana pun termasuk Nia.
Ia memadu cinta dengan Nia yang sudah membuatnya tergila-gila selama ini. Mereka bahkan sudah berpacaran hampir lima tahun. Dan rencananya mereka akan segera menggelar pernikahan untuk hubungan yang lebih serius.
Sama seperti Nia, bahkan Ravi juga menyukai kehidupan malam. Hingga tak heran jika mereka bertemu dan saling tertarik satu sama lain. Namun uniknya, mereka setia satu sama lain.
Bahkan dalam kehidupannya, Nia hanya bermain cinta dengan Ravi saja. Selama ini tak pernah ada yang mengisi hatinya, kecuali Ravi seorang. Jadi, dia semakin yakin kalau Ravi adalah jodoh terbaiknya. Meskipun sama-sama b***t.
Perlahan Ravi mendekat ke arah Nia, tangannya memegang pinggang ramping kekasihnya itu dan mendorong sedikit, hingga mereka saling berdekatan tanpa jarak yang menghalang. Bibir terselimuti kumis tipis yang teroles rapi mencoba mendarat di kening gadis cantik yang mulus.
"Kau adalah segalanya bagiku!" bisikan lembut merasuk ke dalam telinga Nia yang tengah tersenyum simpul.
Nia mengerakkan tangannya, jemarinya meraba pipi Ravi yang teroles berewok tipis. Bibir manisnya mengucap ke arah pria yang terus memegangi erat pinggangnya itu.
"Kau adalah jiwaku, aku berharap tak ada yang memisahkan kita, bahkan kematian sekalipun!"
Mereka berdua saling berpelukan erat dengan mata terpejam saling merasakan getaran cinta yang berkobar di benak jiwa.
Semerbak angin menghantam dedaunan hingga terbang melintas ke hilir sungai. Sehelai daun mengambang di permukaan air, dengan santai diangkut arus sungai yang mengalir tenang.
Di sebuah sungai kecil yang mengalir di dekat Wastu tua, terdapat juga dua sejoli yang tengah menikmati keindahan malam yang bertabur bintang kala itu. Mereka tampak begitu romantis, memandang langit dengan seribu kejora.
"Lihat! Ada bintang jatuh!" ucap seorang gadis yang tengah bersandar di d**a pria, tangannya menunjuk ke arah langit yang memperlihatkan komet ataupun bintang berekor menjatuhkan dirinya.
"Make a wish!" ucapnya lagi tertuju pada pria yang merupakan kekasihnya itu.
Pria itu berbisik di telinga sang gadis, "Aku berharap kita bisa hidup selamanya bersama, sampai tujuh kehidupan sekalipun!"
Gadis itu memejamkan matanya, dan membuat harapan bersama jatuhnya sang bintang. Seperti yang dikatakan kebanyakan orang, bahwa bintang yang jatuh bisa menyampaikan doa kita pada Tuhan.
"Apa yang kau doakan?!" tanya sang pria.
"Aku hanya ingin kau hidup lebih lama dariku, karena aku tidak ingin melihatmu mati, lebih baik aku dulu yang mati!" balas gadis itu.
Seketika mulut manis sang gadis dibungkam dengan tangan kekar berotot. Pria itu menggelengkan kepalanya. "Kita tidak akan berpisah, kita akan tetap hidup bersama. Lihat bintang di sana!"-tangannya menunjuk ke arah langit yang bertabur seribu bintang-"nama kita telah tergores indah dia atas sana! Krystal dan Simon
Simon!" serunya.
Mereka adalah Krystal dan Simon, sepasang kekasih yang merupakan teman-teman Ravi dan Nia. Tak kalah dengan temannya, mereka berdua juga memadu cinta di bawah rembulan malam yang terus memancarkan cahaya terangnya.
Slmon Antonio adalah seorang mahasiswa yang baru saja terwisuda. Setelah kelulusannya, ayahnya meminta untuk studinya di London dan juga mengurus perusahaan ayahnya yang bertengger di negeri Inggris itu. Namun ia menolaknya, ia lebih tertarik tinggal di kotanya sendiri.
Tentu penolakan Simon itu ada alasan lain. Yaitu, gadis yang membuatnya tergila-gila sejak di bangku kuliah. Dan akhirnya kini ia bisa memenangkan hatinya dan menjadi kekasihnya.
Sedangkan Krystal D'zouza, anak seorang pengusaha ternama juga. Selain ayahnya pengusaha, ibunya juga seorang artis bintang film yang sudah pensiun. Kedua orang tuanya itu ingin sekali putrinya bisa melanjutkan karya ibunya sebagai seorang seniman, terutama ibunya sendiri.
Hal itu diiyakan oleh Krystal, tapi dengan syarat ia bisa mengatur kehidupannya sendiri. Tak ada yang boleh ikut campur, apalagi melarangnya untuk berbuat yang ia kehendaki. Selama menurutnya benar, ia selalu melakukan hal luar biasa bersama teman-temannya.
Kehidupan malam sudah menjadi hal lumrah bagi mereka semua. Dengan berdasarkan kekayaan yang mereka miliki, mereka bebas melakukan apa saja. Tak perlu takut akan hukum, karena bagi mereka hukum itu setara dengan uang. Jika ada uang, maka ia akan terbebas.
Krystal berdiri dari duduknya, bergerak menuju bibir sungai. Ia perlihatkan wajah cantiknya itu atas permukaan air. Air yang mengalir tenang ter sinar cahaya rembulan itu memantulkan bayangan Krystal. Ia berbalik menatap Simon yang sedari memandanginya dari tumpukan batu.
“Simon, kau lihat bulan itu. Cahaya bening itu mampu bersinar dalam air. Pantulannya justru tak kalah indah dengan wujud aslinya,” kata Krystal.
Simon mendekat ke arahnya, dan memeluknya dari belakang. “Kau pun tak kalah cantik dari rembulan itu. Kau putri seorang artis, kecantikan adalah prioritas utama yang harus kau pertahankan!” ujar Simon, menggurui Krystal.
Krystal tersenyum lepas mendengar pujian sang kekasih. Ia bangga dengan takdir kecantikan yang Tuhan berikan, bahkan dengan gelar sebagian seorang putri mantan artis terkenal. Ia tak tahu kalau semua yang ada di dunia adalah tipuan belaka, karena semua manusia pasti akan tiada dan tak mungkin membawa semua kekayaan dunianya.
Ketika mereka tengah asyik memainkan cinta, tiba-tiba ...
"Ularrr!!!"
Terdengar suara wanita yang berteriak histeris mengagetkan mereka berdua. Begitu mendengarnya, mereka langsung bergerak menuju ke arah sumber suara, begitu pun dengan Ravi dan Nia yang merasa terganggu dengan datangnya pekikan wanita itu. Mereka sama-sama bergerak untuk mengecek siapa yang telah mengusik momen romantis mereka.
Terlihat seorang gadis tengah cemas sekaligus ketakutan berdiri di antara berbatuan. Gadis berambut panjang sepanggul itu begitu histeris, seperti melihat hantu saja.
Dia Devina Bose, gadis cantik dengan setelan baju pink dan jeans-nya tampak begitu menawan, walau dalam ketakutan sekalipun.
Seorang pria dengan kaus hitam tiba-tiba menghampirinya. Pria itu tampak keheranan melihat Devina yang tengah ketakutan setengah mati. "Devina? Ada apa denganmu?!" tanyanya.
Devina yang menyadari kedatangan sang pria, langsung tergerak memeluk pria itu. Ia membenamkan wajahnya itu dalam d**a bidang sang pria, dengan memasang wajah ketakutan yang menggebu. Nafasnya begitu ngos-ngosan, seperti lepas dari lari maraton.
"Victor, ada ular!" lirihnya.
"Di mana?!"
Pria itu adalah Victor. Sesosok yang tampan dan macho dengan kumis tipis yang teroles di sekitar rahangnya. Pria bertubuh tegap ideal itu merupakan teman Devina dan juga sahabat Ravi dan lainnya.
Simon, Krystal, Ravi, dan Nia datang menghampiri mereka berdua yang tengah berdiri di atas batu tua besar.
"Ada apa kalian?!" tanya Ravi keheranan.
Victor menengok ke arah mereka, "Devina bilang dia melihat ular!"
"Devjna, di mana ularnya?!" sahut Nia yang ikut keheranan.
"Di sana!" Devina menunjuk ke arah tumpukan berbatuan tua yang sudah agak keropos, dengan lapisan lumut hijau sebagai selimutnya.
Mereka semua melihat ke arah berbatuan berkumut itu dengan saksama. Dan benar adanya apa yang dikatakan Devina
. Terlihat seekor ular cobra berwarna hijau muda bercampur kekuningan tengah melintas di antara berbatuan. Sisiknya mengilat terpancar cahaya rembulan malam, sedangkan matanya terlihat memerah tajam.
Ular itu bergerak gesit ketika menyadari ada manusia yang di dekatnya. Ular dengan gerakkan berkelok-kelok menyusuri setiap berbatuan, berniat meninggalkan dari tempatnya berada. Namun, sebongkah batu tiba-tiba jatuh menghalangi jalannya. Hingga ular itu tak mampu untuk melaju.
"Jangan biarkan ular itu lari semudah itu!" Ternyata Simon yang melemparnya.
Ravi juga ikut meraih batu yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melempar batu itu hingga mengenai kepala sang ular. “Kita habisi ular itu!” sinisnya.
Ular cobra hijau itu menggeliat kesakitan, lidah panjangnya terus menjulur ke arah mereka dengan kepala yang kembang kempis. Memperlihatkan keganasannya, namun tak membuat mereka gentar sekalipun.
"Ular itu harus mati!" ketus Nia.
Mereka semua mengambil batu dan saling melemparkan ke arah sang ular yang terus menggeliat kesakitan. Kalaupun ular itu bisa berbicara, pasti ular itu akan menjerit dan mengerang hebat. Tapi mereka tak punya rasa kasihan, justru mereka terus menghujaninya dengan berbagai batu yang tak berdosa di dekatnya.
Ular cobra dengan sisik hijau muda itu sudah tak menunjukkan gerakkannya lagi, hanya kepalanya saja yang kembang kempis dengan tubuh yang tergeletak lemas Mereka semua bergerak menghampirinya.
Ravi melirik sebuah kayu segenggam tangan dan memungutnya, lalu ia tonjokkan pada ular cobra yang tak berdaya itu. "Aku rasa dia sudah mati! Tapi aku masih ingin menyiksanya, ini sangat seru teman-teman, ayo! Ambil tongkat dan pukul ular bodoh ini!" cercanya.
Satu-persatu dari mereka memukuli ular cobra yang sudah di ambang maut itu, namun ular itu masih tetap bertahan. Tubuhnya begitu lemas, rasanya tak kuasa lagi untuk kabur dari para manusia itu. Hanya matanya saja yang bisa melirik dan merekam semua wajah-wajah mereka yang telah menyiksanya tanpa ampun itu.
"Ayo bangun ular! Bangun kalau kau punya kekuatan, patuk kami kalau kau bisa!" tantang Victor.
Tiba-tiba ular itu mengerakkan tubuhnya, kepalanya mendongak dan menatap mereka semua, lidahnya yang menjulur ke arah mereka.
Dorrr!!!
Suara tembakan melepaskan peluru dari pistol dan langsung menembus mata sang ular hingga membuatnya tak bernyawa lagi. Pandangan semua orang tertuju pada seorang pria berkemeja putih dengan pistol di tangannya.
"Dave!" ucap Devina.
Dia adalah Dave, pria yang agak sedikit tua dari mereka, namun tak kalah macho dengan mereka. Tatanan rambut yang rapi ter-pomade ke atas. Ia meniup kecil ujung pistolnya, dan bergerak ke arah mereka.
"Teman, untung kau datang tepat waktu, kalau tidak ular itu pasti sudah mematuk kami, kau adalah yang tertua dari kami, kau penyelamat kami!" ujar Simon.
Dave memandangi mereka, "Ayo cepat pulang, sebelum ular itu bangkit dan menyerang kalian lagi!" perintahnya.
Mereka semua bergerak berjalan bersama meninggalkan seekor ular cobra yang berhasil mereka bunuh. Sesekali kaki lancang mereka menendang tubuh panjang sang ular.
Malam sudah mulai larut, langit pun agak gelap. Rembulan yang tadinya terpancar indah sekarang hilang seketika, digantikan dengan gumpalan awan pekat yang membentang luas.
Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi, mereka segera masuki mobil yang terparkir di depan Wastu tua itu dan bersiap untuk pulang. Rintik hujan mulai turun dan membasahi semua jalan.
Dave mengemudikan mobilnya dengan laju kencang, agar cepat sampai ke rumah. Menerjang hujan dan angin yang mencoba menerobos mobilnya.
Di dalam mobil, Victor memulai pembicaraannya, "Teman, aku dengar cerita, bahwa seekor ular yang mati penuh dendam, dia akan bangkit mencari dan menghukum pelenyapannya!"
"Apa kau mencoba menakut-nakuti kami Victor?!" kata Krystal agak kesal.
"Tidak! Aku hanya dengar cerita saja!" tukas Victor.
"Ayolah kawan! Kau kebanyakan baca cerita horor, itu hanya takhayul!" ujar Dave sembari terus mengemudikan mobilnya.
"Lalu bagaimana jika itu benar?" sahut Devina.
Ravi mengernyitkan dahi. "Luar biasa! Bahkan kalian berdua saling mendengar cerita konyol itu? Kalian berdua kebanyakan non ton film. Apa yang kalian tonton? Pasti ceritanya seperti ini, Sang ular yang bangkit dan balas dendam pada kita, tapi balas dendamnya itu gagal karena dia menyukai salah satu dari kita," kata Ravi bercanda, hingga membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak.
"Haha! Kira-kira, siapa yang akan dia sukai?" sahut Simon meledek.
"Hanya ada dua pria di sini yang masih jomblo, Victor dan Dave," timpal Ravi.
"Kalian ada-ada saja!” tutup Dave.
Hujan mulai tersebar lebat, menumbuhkan berbagai tanaman kecil yang terguyur airnya. Bersamaan dengan itu, tubuh ular cobra bersisik hijau yang para pemuda bunuh tadi, tertimpa rintik hujan. Seketika cahaya terpancar dari tubuhnya dan membuat gerakan di bagian bola matanya hingga melirik tajam.
Hujan mengguyur deras malam ini, gemuruh petir membantai lekat membuat suasana semakin mencekam. Di antara berbatuan tua, yang telah keropos di makan usia, terdapat seekor ular hijau. Ular cobra yang para pemuda siksa dengan keji tadi. Cobra bersisik hijau muda, berbelang kuning di garis tubuhnya yang panjang tengah tersimpuh tak berdaya di permukaan batu tua. Tubuhnya yang panjang terlukis luka lebam yang membuat sisiknya kehilangan keelokannya. Beberapa di antaranya mengalir darah segar yang terpadu dengan rincikan dari langit.
Derasnya air hujan, membuat malam membabi buta. Setiap rincikannya, membasuh darah ular itu hingga berceceran ke segala tempat. Ular itu hanya berdiam diri tak berkutik, membiarkan tubuhnya ditimpa reruntuhan air langit.
Tes! Tes!
Begitu cepat dan brutal. Hingga akhirnya, darah yang terus tumpah itu mendidih membangkitkan sang ular. Dari matanya yang kuning, melirikkan bola yang mencorong tajam.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di sebuah rumah besar nan megah, bukan seperti rumah namun Villa dengan arsitektur yang megah. Layaknya hotel bintang lima, rumah itu juga disusun atas berlapis ruangan bertingkat.
"Sudah sampai, kalian mau tetap bermalam di dalam mobil atau masuk ke dalam?!" ujar Dave pada teman-temannya yang sudah mulai mengantuk.
Victor bangun dari pejamkan matanya. “Sudah sampai?” tanyanya, kemudian ia keluar terlebih dahulu. Ia buka pintu mobil samping, kebetulan ia juga duduk di bagian pinggiran dekat jendela.
Begitu Victor membuka pintunya, udara dingin langsung menerobos masuk tanpa permisi. Ia menadahkan tangannya ke luar, jemarinya itu dibiarkan tertimpa rincikan kecil yang belum kunjung berhenti.
“Badai sudah berhenti, tapi masih tersisa rincikan ini!” ujar Victor pada teman-temannya yang masih santai di dalam mobil.
Nia menatap langit dari jendela kaca mobil yang mengembun itu, ia usap butiran embun yang menghalangi pandangannya. Gadis cantik itu memajukan bibirnya.
"OMG! So bagaimana aku turun?" kesalnya.
"Tetap di tempat!" perintah Ravi. Pemuda itu turun terlebih dahulu setelah Victor, lalu ia menadahkan tangannya ke arah kekasihnya itu. "Sekarang kemarilah!" serunya sembari menyuruh Nia menggenggam tangannya.
Nia meresponsnya dengan senyuman hangat, sehangat martabak telur yang baru keluar dari penggorengan. Kekasihnya itu begitu perhatian padanya, langsung saja menggenggam tangan kekasihnya itu. Dan di sambut tangan kekar Ravi yang langsung menariknya keluar. Pelan dan penuh kelembutan.
“Apa aku harus membopongmu ke dalam? Tanganku ini selalu siap untuk mengangkatmu ke mana pun,” seru Ravi pada Nia.
“Luar biasa! Aku seperti menonton film di depan mata!” canda Victor pada mereka berdua. Ia sudah berada di luar dan membiarkan tubuhnya tertimpa rincikan kecil. “Lihat teman-teman, kita punya tokoh dalam film. Romeo dan Juliet!” ujarnya lagi.
“Diam kau teman, apa kau iri dengan kami? Makanya cari pacar! Jangan kelamaan melajang!” balas Ravi.
“Kau benar Ravi, kita harus carikan dia pasangan, biar dia tidak selalu berkomentar pada kita!” Simon, yang kemudian membuka pintu mobil samping kiri.
Krystal ikut berkomentar, “Kenapa kalian bersusah payah? Tuan putrinya sudah ada di sini!” sindirnya sembari melirik Devina.
Seru jika Devina salah tingkah, ia sembunyikan senyuman malu-malu dengan memasang wajah sok polos. “Apa kau menyindirku, Krystal?”
“Oh manis. Ayolah aku hanya bercanda. Mari kita turun mobil!” ajak Krystal pada Devina.
Ketika kaki mulus Devina hendak menuruni pintu mobil, tiba-tiba tangan mengarah padanya. Seperti memberi kode untuk memegangnya.
“Mari aku bantu!” kata Victor pada Devina.
“Oh! Lihat, kalian begitu manis!” gemas Nia, sembari mencubit pipi Ravi sampai kepalanya ikut bergerak ke mana jemari itu membawa.
Ravi menerima begitu saja cubitan Nia, lagi pula tak sakit pun. Apalagi itu cubitan kekasihnya, pasti ada rasa manis-manisnya bercampur keju. “Apa yang harus aku katakan tentang kisah cinta kalian?” candanya pada Victor dan Devina.
“Diam dalam cinta!” Dave tiba-tiba menyahut pembicaraan mereka.
“Tepat sekali! Kalian aktor yang hebat, mampu menyembunyikan perasaan kalian!” kata Ravi lagi.
“Kalian terlalu over non ton film romantis!” balas Victor , kini ia sudah berhasil menggandeng tangan Devina keluar mobil.
“Ya, kami memang hobi film romantis, tidak sepertimu yang menonton film takhayul jelmaan ular, ssstttt ...!” sambung Simon.
Semuanya tertawa terbahak-bahak, kecuali Victor yang merasa konyol di depan teman-temannya. Bahkan keluartertawa walau hanya memperlihatkan separuh gigi rapinya.
Semua sudah berada di luar mobil sekarang, tertinggal Dave yang belum. Ia beranjak dari bangku setir, dan membuka pintu lalu melangkah keluar. Ia dongakkan kepalanya, dan berkata pada mereka yang masih asyik dengan candanya.
“Apa kalian akan tetap bermain hujan di sini? Masuklah makan malam menunggu kalian di dalam!” tutupnya sembari melangkah menuju pintu masuk rumah.
Mereka terdiam ketika mendengar aba-aba dari Dave. Dan langsung mengikutinya dari belakang untuk bersama-sama masuk ke dalam rumah mereka. Seorang penjaga pintu membukakan pintu pada mereka dan mempersilahkannya untuk masuk.
"Akhirnya kita sampai pada istana kita!" lega Simon.
"Rumah ini adalah milik kita, hanya kita yang berkuasa di sini!" sahut Ravi.
Nia ikut berkomentar, "Kau benar, orang tua kita semua adalah para miliuner, jadi apa pun yang kita inginkan itu sangat mudah layaknya membalikkan telapak tangan!"
"You are right Nia, sudah garis nasib kita mendapat kemewahan seperti ini!" sahut Krystal, yang ikut menyombongkan diri.
"Tapi ingat, orang tua kalian semua menyuruhku untuk menangani kalian, jadi jangan lupakan kalau aku sudah bagaikan kakak bagi kalian!" ingat Dave.
Victor mendekat, "Ya, kami ingat itu kakak, kau yang paling tertua dari di sini, jadi kami tak akan menolak perintahmu!"
"Sekarang bersiaplah! makan malam akan disajikan 5 menit lagi, kalian tidak akan tidur dengan perut kosong!" tutup Dave. ia bergerak ke dapur menginstruksikan semua pelayannya untuk segera menyiapkan makan malam.