Keluar dari Multivers

3182 Kata
“Bagaimana ini bisa terjadi?” Vishaka tiba-tiba masuk. “Vishaka, teman kami ... Victor telah menjadi korban!” isak Nia. “Apa kau melihat ularnya?” Vishaka bertanya pada wanita yang masih syok tadi. Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak melihat apa pun. Aku melihat dia sudah tiada,” jelas wanita itu, lalu enyah dari sana karena ketakutan. “Vishaka, kau bilang liontin itu akan melindungi kami, kan? Lalu apa seSimong? Victor yang menjadi korban!” Simon tak terima. “Vishaka! Jawab pertanyaan Simon!” bentak Dave. “Kenapa kalian menyalahkanku? Teman kalian sendiri yang ceroboh, dia tak mau memakai terus liontin itu!” bela Vishaka. “Tapi Victor sudah memakainya, dia tak mungkin sampai melepaskannya!” bantah Nia. “Lalu ini apa?” Vishaka menunjukkan liontin itu pada mereka. “Bagaimana mungkin?” heran mereka. “Aku tadi menemukannya di luar, mungkin tanpa sadar ia melepaskannya, atau memang ular itu yang memaksanya untuk melepaskan liontinnya!” jawab Vishaka. Lagi-lagi mereka ditimpa kabar yang tak mengenakkan. Pahit bak empedu, pedas mengalahkan cabai rawit, dan asin mengalahkan garam pantai. Satu lagi dari mereka telah tiada. Masih dengan pelaku yang sama, seorang jelmaan ular. Siapa lagi musuh mereka selain ular. Dan lagi-lagi Dave harus menyembunyikan kematian sahabatnya dari orang tuanya sendiri. Membungkamnya dari massa. Hari berkabung menyelimuti mereka. Tinggal bertiga kini yang tertinggal. Akhirnya dengan berat hati, mereka menguburkan mayat Victor di halaman yang sama, halaman belakang rumahnya. Berdampingan dengan makam teman-teman lainnya, yang telah mendahuluinya. Empat kuburan terjejer rapi. Pertama Ravi, Krystal, Ruchika, dan Victor. Halaman rumah mereka kini dipenuhi kuburan, layaknya pemakaman umum. Sehari kemudian setelah kematian Victor ... Dave duduk termangu di dalam ruangannya. Ia tampak berpikir keras akan perihal kematian sahabatnya yang disebabkan oleh ular. Dan naga jika nanti orang tua mereka tahu, hancurlah dia. Nada panggilan masuk dari ponselnya yang tergeletak di meja. Dave meraihnya, namun masih santai bersandar di kursi. Begitu ia melihat layar ponselnya yang terus bergetar, sontak ia langsung berdiri, memasang wajah ketegangan. “Celaka!” batinnya bergumam. “Apa yang harus aku katakan seSimong? Bagaimana orang tua Ravi bisa menelepon mendadak?” Dave tak tahu harus bagaimana. Ia berpikir keras. Duduk dengan kaki kanan dipangkunya, dan jemari meremas-remas kening. Pikirannya diserbu oleh perasaan tidak tenang, sedangkan ponselnya masih saja bergetar. “Pikir ... Pikir ... Dave ... Ayo pikir ...!” gumamnya. Dengan frustrasi, ia raih ponsel itu dan menerima panggilan masuk dari orang tua Ravi. Ia keraskan suara sepiker ponselnya. “Halo! Dave!” Ayah Ravi yang berbicara. “Halo, Pak Jay, bagaimana kabarmu?” Dave mencoba basa-basi. “Baik. Dave kenapa Ravi tak mengangkat teleponku? Aku sudah menghubunginya berkali-kali, apa dia baik-baik saja?” “Bagaimana dia bisa menerimanya, dia sudah berada dalam tanah!” kata Dave dalam hati. “Oh Pak, mungkin Ravi sedang sibuk. Kau tenang saja, aku ada di sini untuk mengurus anakmu ... Sebenarnya Pak, aku sedang ada meeting hari ini. Aku akan menghubungimu nanti!” alasan Dave, kemudian mematikan panggilannya begitu saja. Dave menghela nafas lega. Ia sandarkan lagi tubuhnya di kursi empuk itu. Lalu ia pejamkan sejenak matanya, pikirannya ia atur agar tenang. Tiba-tiba, nada panggilan masuk lagi dari ponselnya. Ia menengok, dan mendapat kejutan lagi. Kali ini orang tua Krystal yang menelepon. Pasti akan menanyainya hal yang sama, yaitu tentang keadaan anaknya yang sebenarnya sudah tiada. Dave gusar. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia alihkan panggilan itu, agar tidak bisa terhubung. Tak lama, ponsel itu berhenti bergetar dengan sendirinya. Dave mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia meraih segelas air yang ada di depannya. Ia teguk air itu. Belum juga selesai meneguk, sudah ada panggilan masuk lagi. Matanya melirik, dan kini dari ibu Ruchika. Dave tersedak, ia taruh begitu saja gelas yang masih menyisakan air setengah. Ia mulai emosi, bingung, dan stres. Rasa itu berkecamuk dalam hati dan pikirannya. “Dari pada aku mengangkatnya, dan mereka menghujaniku dengan pertanyaan yang sama, lebih baik aku matikan saja handphone sialan ini!” Dave me-reject panggilan dari ibu Ruchika. Lalu ia hendak me-non aktifkan ponselnya, tapi sebelum ia mematikan daya ponselnya itu, giliran panggilan dari orang tua Victor yang berbunyi. Dave emosi. Ia remas ponsel tipisnya itu, lalu ia lempar begitu saja hingga pecah menghantam lantai. “Sial! Kenapa harus orang tua mereka? Kenapa bukan orang tua Nia, atau Simon yang telepon?” Dave mendudukkan tubuhnya lagi. Sudah cukup ponsel tak berguna itu bermain-main dengannya. Ia tak peduli jikalau harus merusak ponsel mahal itu, daripada harus menghadapi orang tua temannya yang akan menanyakan kabar anak yang sejatinya sudah di alam lain. Lagi pula ia masih punya cadangan ponsel lain, yang ia simpan di sakunya. Bagi pengusaha seperti dia, hanya satu ponsel saja tak mungkin cukup. Selain untuk kebutuhan perusahaannya, ia juga butuh gaya hidup layaknya para bujangan kaya. “Coffee?” Tiba-tiba saja tangan putih mulus menyodorkan secangkir kopi padanya. Dave melirik ke kopi itu, namun belum menyentuhnya. Ia beralih melirik ke arah wajah orang itu. Tapi, wajah orang itu disembunyikan oleh cadar yang menutupi wajahnya. Dia seorang wanita, matanya yang bersinar menandakan pasti gadis itu sangat cantik. “Siapa kau?” tanya Dave. “Aku pelayan baru perusahaan,” jawab wanita itu. Begitu lembut dari bibirnya yang tertutup cadar. Sejenak Dave terenyuh dengan mata wanita itu. Ia mendadak terlena, mata itu mengingatkan akan mata binar Selena. Namun yang ini lebih cantik. Ia terus memandangi wanita itu, tangannya gatal ingin menarik cadar yang menyembunyikan wajah cantiknya. “Minumlah tuan, sebelum kopinya dingin,” kata gadis itu lagi, sembari melirik ke arah kopi. Dave meraih kopi itu, namun pandangannya masih terfokus padanya. Ia raba secangkir itu, tak sengaja menyentuh kulit sang wanita. Betapa kenyal dan lembutnya kulit mulus itu. Ingin sekali Dave terus menjelajahinya, namun ia tak mungkin bersikap seperti itu pada wanita yang masih asing baginya. “Thanks!” ucap Dave. Lalu ia hendak meminum secangkir kopi itu. Permukaan cangkir sudah menyentuh bibirnya yang terapit kumis tipis rata, sampai rahangnya. Matanya melirik tangan lembut gadis itu, sedangkan bibirnya terfokus pada secangkir kopi. Dave tak jadi meminumnya, ia buah secangkir kopi itu setelah melihat sesuatu di kulit gadis itu. Tangan wanita itu mengeluarkan sisik ular berwarna biru bersemu ungu. Ia menatap tajam ke arah wanita itu. “Ular! Kau ular! Beraninya kau datang ke sini!” Dave menarik tangan wanita itu dengan erat. Namun wanita itu melepaskan genggaman Dave, dan berhasil kabur dari ruangan itu. Dave murka. Ia menelepon semua pekerjanya untuk menghentikan wanita bercadar itu. Ia ambil ponsel yang ada di sakunya. Ia telepon Vishaka, berkali-kali, namun Vishaka belum juga menganggap panggilannya. “Vishaka! Vishaka! Ayo angkat teleponnya!” gumam Dave gusar. Tiba-tiba, Nia meneleponnya. Segera ia menerimanya. Ia tempelkan ponselnya itu di telinga, dan dengan gugup berkata, “Nia! Untung kau telepon. Di mana kau seSimong?” “Aku dan Simon sedang menuju ke ruanganmu!” jawab Nia dalam telepon. “Hentikan gadis bercadar. Dia ular, dia jelmaan hentikan dia!” perintah Dave, yang kemudian mematikan panggilannya. Nia yang berada di tangga tertegun. Ia berkata pada Simon, “Simon, Dave bilang gadis jelmaan itu ada di sini. Dia memakai cadar, kita harus menangkapnya. Kita berpencar!” kata Nia. Simon mengiyakan ajakan Nia, kemudian mereka berpencar. Ia menuju ruang samping, dan Nia ke arah lain. Wanita bercadar yang merupakan jelmaan itu terlihat menuruni tangga. Setiap anak tangga ia susur. Begitu tergesa-gesa, terlihat dari cara jalannya yang menjajakan kaki. Nia yang kebetulan tak jauh dari tangga, melihat wanita bercadar itu. Dengan segera ia berlari dan menarik tangannya dari belakang. “Mau ke mana kau ular!” Wanita itu menghentikan langkahnya. Tangannya mulai mengeluarkan sisik ular yang berwarna biru keunguan. Namun bercahaya dengan perpaduan merah muda. Desisannya juga menggema dari balik cadar yang dikenakan. Nia melihatnya dengan jelas. Tepat di depan mereka terdapat juga dinding yang terbuat dari kaca bening. Nia bisa melihat dengan jelas matanya yang tidak tertutup cadar itu menyala, dan berwarna biru. Persis mata ular. Nia terus memegangi lengannya dari belakang. Sedangkan tangan yang satunya ia gunakan menarik cadar wanita jelmaan itu. Dari pantulan kaca, tergambar jelas wajah jelmaan itu. Nia seperti tak asing lagi. Pantas saja, wajah wanita itu mirip sekali dengan Vishaka, namun seluruh mukanya tertutup sisik-sisik ungu. Wanita itu berbalik, dan menendang lulut Nia, hingga tertekuk. Kemudian pegangan tangan erat Nia terlepas darinya. Dan segera wanita itu kabur meninggalkan Nia. Nia kesakitan. Lututnya seperti tertekuk. Ia tak lagi bisa mengejar wanita jelmaan itu. “Sialan!” cercanya sembari terus memegangi lututnya. “Nia, kau baik-baik saja?!” tanya Simon dari belakang. Nia mencoba bangun. Ia berdiri di depan Simon. “Simon, aku tadi sudah menangkap gadis jelmaan itu. Dia ... Dia tak asing lagi bagi kami!” ujar Nia dengan gugup. “Maksudmu kau melihat wajahnya? Siapa dia?” tanya Simon. “Ular itu adalah Vishaka! Aku melihatnya sendiri, ular itu ....” “Di mana ular itu?” Vishaka memotong ucapan Nia. Ia tiba-tiba datang bersama Dave. Nia menghampirinya. “Kau! Kau ularnya!” tunjuk Nia pada Vishaka. “Nia, apa maksudmu?” Dave keheranan. “Iya Dave, aku melihat dengan jelas di kaca itu. Kalau wajah wanita itu sama persis dengan wajah Vishaka!” bantah Nia. “Tapi dari tadi Vishaka baru datang setelah aku mencoba meneleponnya. Dan gaun wanita itu juga berbeda dengan gaun Vishaka!” bela Dave. “Tapi ....” Nia tak jadi melanjutkan perkataannya. “Jangan bodoh! Ular itu telah memperdaya kalian, kalian pernah ditipu sebelumnya, kan? Saat ular itu menyamar menjadi Nia dan membunuh Ravi.” Vishaka menatap ke arah Nia. “Dan kau Nia, kau pernah mengalaminya sendiri kan? Ular itu juga pernah menjelma Ravi dan mengajakmu keluar dari sel!” ucap Vishaka. “Kau Vishaka, kita harus lebih cerdik darinya!” ucap Nia. “SeSimong apa langkah kita selanjutnya?” Simon membuka mulut. “Tetap tenang. Ingat selalu pakai liontin yang kuberikan itu. Dia tidak akan berani menyerangnya!” janji Vishaka. “Baiklah! Kita lanjutkan aktivitas kita. Aku akan ada meeting hari ini, jadi aku akan pulang telat nanti. Simon, Nia, kau ajak Vishaka ke rumah!” kata Dave yang kemudian beranjak pergi. “Ayo!” ajak Simon pada mereka berdua. Mereka bertiga berpulang menuju rumah. Setelah mereka sampai, Simon masih berada di dalam mobil. Ia berbicara pada Nia dan Vishaka. “Kalian lanjutkan saja mengobrolnya, aku ada urusan di luar,” ucap Simon, kemudian mengemudikan mobilnya lagi menuju gerbang keluar. “Ayo Vishaka!” ajak Nia. Mereka berjalan menuju rumah besar itu. Sepanjang perjalanan menuju pintu, mereka terus berbincang. “Sudah cukup ular itu bermain-main dengan kita, kita harus segera menghentikan aksinya!” gemas Nia. “Aku akan membantu sebisa mungkin!” kata Vishaka. “Aku akan menemuinya langsung, di tempat kejadian itu bermula!” “Di mana itu?” tanya Vishaka. “Sebuah bangunan kuno. Wastu tua itu!” jawab Nia mantap. Mentari cerah menyongsong, menyambut embun yang masih menggumpal di atas dedaunan. Jalan-jalan masih basah meninggalkan air yang tertampung di lubang. Bunga kuncup saling bermeSimon menghiasi peSimongan taman rumah bak istana raja itu. Dave mengemudikan mobilnya, menelusuri jalan perkotaan. Rupanya jalanan sangat licin hari ini, akibat hujan yang mengguyur tadi malam. Baru selang lima hari dari tahun baru, dan di bulan Januari ini memang getir-getirnya turun hujan. Dave asyik mengemudikan mobilnya, dengan memasang headset di telinganya. Ia begitu menikmati pagi sejuk kala itu, dengan alunan musik yang ia dengarkan melalui headset. Ketika ia hendak melewati tikungan, tiba-tiba ia melihat seekor ular yang melintas. Ular cobra yang memiliki sisik biru keunguan, dan garis merah muda di sisinya. Begitu cantik memang, tapi bagaimanapun ular tetaplah ular. Dan setiap ular pasti berbisa, apalagi itu ular cobra. Dave menghentikan mobilnya. Ia menyadari kalau ular itu memiliki sisik yang sama seperti yang wanita bercadar kemarin miliki. Ia melepaskan headset dari telinganya, dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian ia turun dari mobil. Kebetulan saat itu jalanan sangat sepi, tak ada kendaraan yang lewat selain milik Dave. Dave terus terfokus pada ular yang melata menuju kerimbunan pohon. Diam-diam, Dave mengikuti ular dari belakang. Ular itu terus mengerakkan langkahnya, hingga masuk di antara padatnya semak belukar dan rimbunnya pohon. Tepat di bawah pohon besar, ular itu menghentikan gerakannya. Tubuhnya yang panjang ia lingkar dengan kelapa mematung. Dave ikut menghentikan langkahnya. Ia bersembunyi di balik pohon lain dan terus mengintip ular cobra dari sana. Kali ini ia akan mengetahui wujud asli teman Selena itu. Dan setelah itu dia akan menangkapnya. Ia takut akan kemurkaannya, karena ia tak lupa untuk memakai liontin yang mengikat di lehernya. Ular cobra itu tiba-tiba menggoyangkan kepalanya yang mengembang. Lalu tak lama ular itu mulai berubah menjadi manusia. Setelah mengetahui wujud aslinya, betapa terkejutnya Dave. Penampakan jelmaan ular itu berhasil membuat jantung Dave terasa terhenti. Mata Dave pun melolong sempurna, seperti hendak keluar dari kelopaknya. Ia gelengkan kepalanya, dan mulut membuka. “Tidak mungkin!” gumamnya pelan. “Tidak mungkin!” Dave mengucek matanya untuk memastikan apakah penglihatannya itu benar atau salah. Namun setelah ia kucek, tetap sama. Mata itu melihat dengan jelas kalau sesosok jelmaan ular itu tak lain dan tak bukan adalah Vishaka. Yeah, Vishaka! Si pawang ular pelindung mereka. Dave masih belum bereaksi. Ia masih berpikir itu pasti tipuan optik dari sang ular. Jelmaan itu bisa berubah wujud sesuai keinginannya. Dan pasti ia seSimong sedang menggunakan wujud Vishaka untuk mengelabuhinya. Dave tetap diam di tempat dan terus terfokus pada Vishaka. Kemurkaan dan emosi yang menggebu terlihat jelas di mata Vishaka. Seolah siap untuk meledak kapan saja. Vishaka meremas batang pohon yang berdiri di dekatnya itu. Otot-ototnya mulai menonjol dari lehernya, mata tajam dan juga alis tebal membentuk huruf V. Kerutan di dahi sudah menunjukkan betapa marahnya dia. “Kurang ajar! Mereka tidak akan bisa selamat lagi. Aku harus segera mengakhiri semua ini!” ucapnya. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Bodoh sekali mereka! Mereka pikir aku adalah penyelamat? Pelindung?” Ia memiringkan senyumnya. “Tapi sebenarnya akulah bencana bagi mereka!" Vishaka menyongsong liontin yang sama yang ia berikan pada mereka. Ia angkat liontin itu setinggi muka. Mata ularnya terfokus pada liontin itu. “Mereka mengira liontin ini akan melindunginya dari jelmaan ular? Hahaha ... Mereka telah berhasil aku kulabui! Liontin ini tak punya kekuatan magis apa pun, ini hanya batu permata biasa!” Vishaka melempar jauh-jauh liontin itu. Dari balik pohon, Dave mendengarnya dengan jelas. Ia menyadari kalau itu memang benar-benar Vishaka, dan sekali lagi mereka telah tertipu dengan jelmaan ular. Vishaka melanjutkan kata-katanya. "Aku telah datang! Vishaka telah datang untuk membalaskan dendam Selena, yang belum tuntas! Aku telah berhasil menipu mereka. Selena telah lenyap di mata mereka, tapi Vishaka masih berdiri tegak dan siap melanjutkan misi balas dendamnya!" senyum sinis menyeringai. Vishaka merunduk. Lalu ia berubah menjadi ular lagi. Ular cobra ungu, yang lebih kuat. Ia kembali mengerakkan tubuh panjangnya. Berkelok-kelok menyusuri jalan lembap akibat hujan tadi malam. Dave temenggung, ia tak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya terkunci. Hanya rasa kekesalan bercampur amarah yang menggebu memenuhi otaknya. Ia meremas batang pohon dan memukulnya keras. Matanya tajam hingga mengangkat kedua alisnya. Dave segera pergi dari sana, dan berniat menceritakan semuanya pada Simon dan Nia. Mereka harus berhati-hati dengan Vishaka. Si pawang ular bermuka dua. Segera ia menghampiri mobilnya yang sudah menunggunya di tapi jalan. Ia masuk dan mengemudikan pulang dengan laju kencang. Setelah sampai di rumah, ia mencari-cari Simon dan Nia. “Simon!” “Nia!” Ia berteriak kencang, menghebohkan seisi rumah. Sampai semua pelayannya takut akan kemarahannya itu. Dave mencari Simon di kamarnya. Ia mendapati Simon tengah berbaring santai di kamar, dengan headset di telinganya. “Bahaya sedang mengintai kau malah enak-enakkan di sini!” marah Dave. Simon terjungkal, dan langsung berdiri dengan keheranan. “Ada apa, Dave?” tanya Simon sembari mencabut headset yang menempel di telinganya. “Di mana Nia?!” tanya Dave membentak. “Aku tidak tahu, sejak semalam aku tak melihatnya,” jawab Simon. “Tapi kenapa kau datang dan marah-marah seperti ini?” Simon balik tanya. "Simon! Kita telah ditipu!" Dave berkata dengan kesal. Simon masih keheranan. "Siapa yang menipu kita?" "Vishaka!" jawab Dave. "Maksudmu?" Dave mencoba menjelaskan apa yang baru dilihatnya tadi. "Ternyata Vishaka adalah musuh yang kita cari-cari, dia adalah jelmaan ular. Dia telah menipu kita!" "Apa?!" sontak Simon kaget tak percaya. "Iya, aku melihatnya sendiri, dia berubah menjadi ular. Dan dia mengatakan kalau dia akan membunuh kita, dia berakting akan menolong kita. Tapi ternyata, dia sendiri yang akan menghabisi kita!" "Kurang ajar!" murka Simon. Tangannya mengepal sempurna. "Kita telah gegabah mempercayainya, kita tidak berpikir dulu kalau ular itu sangat licik! Dan kau ingat, kemarin dia mengatakan kalau jelmaan ular menyamar jadi Nia dan membunuh Ravi, bahkan kita belum memberitahu soal itu padanya, kan? Lalu bagaimana dia bisa tahu?” gusar Dave. “Dan ya, dia juga mengatakan kalau jelmaan itu menyamar jadi Ravi dan mengajak Nia kabur dari penjara, bahkan kita semua tidak tahu tentang itu. Nia sendiri belum menceritakan pada kita, lalu dari mana dia tahu?” tambah Simon. “Jelas-jelas dia ada di balik semua ini! Dia dalang dari semua ini!” "SeSimong apa yang akan kita lakukan?" Simon menatap Dave. "Sama seperti dia yang telah menipu kita, kita juga akan menjebaknya. Sama seperti Selena, kita juga akan menghabisinya. Kita akan mengakhiri semuanya seSimong!" "Tapi bagaimana? Kita hanya manusia dan dia jelmaan, dia punya kekuatan. Tidak seperti Selena, bahkan dia tak takut akan seruling ular!" "Kita juga tak kalah kuat dengannya. Buktinya, kita bisa menghancurkan Selena. Kita juga akan menghancurkannya di tempat yang sama, kita memulai semuanya." "Maksudmu, Wastu itu? Apa rencanamu?" Simon mengerutkan dahi. Dave tersenyum sinis. "Selena mati terbakar. Kita juga akan membakar mereka semua, semuanya sampai ke akar-akarnya." "Aku masih tidak mengerti, Dave!" bingung Simon. "Bom!” ucap Dave mantap. “Kita akan meluluh lantakkan seluruh tempat itu dengan bom berantai!” "Luar biasa Dave, hebat! Kau memang yang terbaik!" puji Simon dengan menepuk pundak temannya itu. "Bersiaplah Vishaka! Kehancuranmu telah dihitung mundur dari seSimong!" “Malam ini kita bertiga harus memasang bom itu, dan besoknya kita ajak Vishaka ke sana. Kita kelabuhi dia, sama seperti Selena. Lalu kita ledakkan bom itu hingga menghancurkan semuanya. Kita tidak akan dijerat hukum, tempat itu jauh dari peSimongan kota, jadi tak akan ada yang melihatnya!” Mereka semua tertawa sinis. Membayangkan bagaimana Vishaka akan menemui Selena di alam lain. Dan tidak akan bisa bangkit lagi. Tiba-tiba seseorang datang dan mengejutkan mereka. Dia adalah Victor. "Victor, kau?" Dave menganga. "Kau masih hidup?" "Iya aku masih hidup," jawabnya tegas. "Bagaimana bisa?" "Karena ini bukan duniaku!" "Apa?!" Victor menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dave. Aku tidak mau menjadi bagian dari permainan kehidupan aneh ini. Aku ingin kembali saja. Aku ingin kembali!" "Apa maksudmu kembali? Kau ingin kembali ke mana?" "Ke duniaku yang berbeda. Ini bukan duniaku. Tidak. Ini bukan duniaku!" Victor berteriak pilu. menekuk lututnya tersimpuh ke tanah. Memegang kepalanya dan berteriak pilu. "KEMBALIKAN AKU KE DUNIAKU!!!" Angin menerpa seketika, membuat semua benda berantakan. Bahkan, tubuh Victor yang diserbunya terasa melayang dan terpental. Detik berikutnya... "Papa!" Suara anak kecil menggema di telinga Victor. Pria itu membuka matanya. Terbangun dengan amat terkesiap. Menyadari dirinya berada di sebuah mobil depan setir. "Papa?" Kembali Suara anak kecil itu terdengar di belakangnya. Victor menoleh ke belakang. Melihat anak kecil yang mirip dengannya. Mungkinkah itu Teddy? Apakah dia sudah kembali ke dunia aslinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN