Victor mulai kembali menggerakkan mesin mobilnya. Membawa ke empat roda tersebut terus berputar, menyusuri jalan raya dengan sedikit kendaraan yang berlalu lalang.
Teddy yang duduk di bangku belakang, sibuk bermain dengan Simon. Detik berikutnya, kedua matanya itu melirik ke arah pandangan di belakang sana. Awan tampak menggerombol besar. Membentuk kepulan asap yang hitam pekat, sehingga menyebabkan langit menjadi gelap.
Tampak segerombolan benda-benda kecil berwarna hitam. Benda benda tersebut terbang di sekitar gumpalan awan pekat menyerupai burung saja.
Teddy terus memperhatikannya tanpa mengedipkan mata sekalipun.
"Ada apa?" Simon yang berada di sebelahnya bertanya pada bocah tersebut.
Teddy masih terdiam merenung.
Simon menyentuh bahunya. Baru bocah itu tersadar. Teddy menggerakkan tangan, menunjuk dengan telunjuk mungil tersebut ke arah hamparan awan gelap.
Simon menoleh ke belakang, melihat awan yang begitu pekat. Wajahnya langsung tertegun. Meneguk ludah, lantaran merasakan sesuatu yang tidak baik.
"Victor, percepat mobilnya," kata Simon.
"Kenapa?" Victor bertanya tanpa menoleh ke belakang, sibuk dengan kemudi dan kedua pandangan itu terfokus pada badan jalan.
Simon tak menjawab. Menata kepala anak kecil di sampingnya untuk tidak terus memperhatikan awan gelap di belakang sana yang semakin lama semakin tampak mengerikan. Bahkan menyerupai sesosok monster yang besar dan hendak melahap siapa saja.
Victor yang sibuk mengemudi, mulai melirikkan kedua matanya. Menatap cermin yang menggantung di atas. Dari sana terlihat dua orang berbeda usia yang tampak khawatir.
"Teddy, ada apa, Sayang?" tanya Victor penasaran.
"Papa, di belakang sana ada monster seram," ucap Teddy.
Victor memindahkan pandangan sejenak ke arah spion mobil. Melihat suasana di langit belakang sana yang tampak menggulita.
"Itu mendung, Sayang. Sebentar lagi akan turun hujan. Papa akan bawa kalian cepat agar tidak kehujanan di jalan," kata Victor. Mulai melanjutkan menambah kecepatan mobilnya.
"Papa, Teddy takut!"
"Tidak apa-apa, Sayang."
"Papa, langitnya menjadi gelap."
"Simon, jaga Teddy!" perintah Victor.
Simon memeluk anak kecil di sampingnya, memberikan sebuah ketenangan.
Langit mulai menggelap. Muncul kabut putih menyelimuti setiap jalanan. Victor menjadi kesusahan kala memandang ke depan. Mencoba mencari celah dan tetap menjalankan mobilnya. Hanya saja kecepatannya sedikit menurun dari sebelumnya.
Benda-benda hitam menyerupai burung di belakang sana semakin mendekat. Teddy yang terus saja memperhatikannya terus memasang wajah penasaran. Tak sedikit pun memindahkan ekor matanya ke arah lain. Hingga benda hitam tersebut tampak mendekat dan ternyata itu bukanlah burung, melainkan sebuah benda yang beterbangan.
Brak!
Benda tersebut menghantam kaca belakang mobil hingga retak dan tentu hal itu sangat mengejutkan Teddy. Tepat di depannya seperti dihantam dari atas begitu saja. Bahkan Simon pun ikut terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Pun begitu dengan Victor yang secara tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Ada apa?" tanyanya sembari menoleh ke belakang. "Oh my God!" Mulutnya itu menganga saat melihat benda-benda yang beterbangan di belakang mobilnya dan siap menghantamnya lagi satu persatu.
"Simon, jangan biarkan Teddy melihat ke belakang!" Victor meninggikan suaranya. Kembali menatap ke depan. Mulai menambah kecepatan mesin mobilnya.
"Victor, itu badai yang sangat ganas sedang mengancam kita." Simon bersuara. Semakin menambah Victor panik saja.
"Aku tahu. Kau jaga saja putraku!" kata Victor panik. Memutar-mutar setir.
Tiba-tiba angin menghantam dari berbagai arah. Mobil-mobil di sekeliling yang berlalu lalang juga tampak panik. Mereka sebagian berhenti, dan itu malah semakin berbahaya. Puing-puing yang beterbangan menghantam setiap mobil. Meretakkan kaca bahkan sampai memecahkannya.
"Papa, monster apa yang ada di sana?" tanya Teddy dengan suara yang gemetar.
"Itu Tornado, Nak. Angin yang begitu ganas!" jawab Victor di sela-sela ia mengemudikan mobilnya.
Brak!
Tirr!!!
Kembali mobil mereka terhantam puing bangunan hingga penyok bagian belakangnya. Victor bahkan sampai kehilangan kendali sejenak. Mobil tersebut oleng. Namun beruntungnya pria itu mampu mengambil alih.
Simon mengajak Teddy menunduk. Menghindar dari setiap kaca. Karena akan sangat berbahaya jika kaca mobil tersebut pecah kemudian mengenai mereka. Sementara Victor menggerakkan mobilnya, menghindar dari benda-benda yang menghantamnya. Kecepatan begitu tinggi, dan jalannya tidak beraturan. Membuat roda mobilnya sering oleng.
Di belakang sana tornado terus bergerak. Ukurannya jauh lebih besar dari sebelumnya. Badai juga tak mau berhenti. Menyerbu alam semesta dan menyebarkan kabut yang begitu tebal sehingga membuat pandangan menjadi terganggu.
"Aaa!" Teddy berteriak saat mobil Victor oleng dan hendak menabrak mobil lainnya.
"Teddy, kau baik-baik saja?" Victor memundurkan mobilnya sejenak, kemudian kembali melakukannya.
Di depan sana, kabut begitu tebal. Namun lama-kelamaan kabut tersebut tesapu oleh angin. Hingga terlihat sebuah kolong besar berwarna hitam yang begitu tinggi hingga menyapa permukaan langit. Sebuah gulungan angin yang dahsyat, membawa awan gelap berserta petir. Benda-benda di sekitar mulai luluh lantah. Puing-puing bangunan beterbangan dan menghantam jalanan satu persatu.
Mobil berwarna merah di depan sana mulai terhantam puing besar sehingga mengakibatkan mobil tersebut hancur dan terbalik.
Victor menghentikan mengerem tiba-tiba, membuat sabuk pengaman Simon dan Teddy terlepas. Mereka terjatuh ke bawah.
"Teddy, apa kau baik-baik saja?" Victor bertanya dengan panik, sembari menoleh ke belakang. Memastikan sang putra baik-baik.
"Papa di depanmu!" Teddy menunjuk sebuah puing yang bergerak hendak menghantam kaca depan mobil Victor.
Victor menatap lurus, tertegun sekaligus tercengang. Jantungnya berdegup begitu kencang. Namun segera ia memutar setir mobil menghindar. Beruntung puing bangunan tersebut tak jadi menghantamnya. Namun, sebagai gantinya mobilnya tersebut oleng membuat tubuh Simon terhantam sampingnya hingga kepalanya sedikit berdarah.
"Simon, kau tak apa?" tanya Teddy.
"Aku baik-baik saja." Kembali Simon merengkuh tubuh Teddy dan melindunginya.
Victor mulai menjalankan mobilnya kembali. Melewati beberapa mobil yang sudah hancur dan juga puing-puing bangunan yang berserakan di sepanjang jalan. Belum lagi dikejar tornado dari arah depan juga belakang.
Angin yang begitu kencang membuat pohon-pohon tumbang. Tiang listrik roboh saling bertabrakan. Akibat terserang badai yang begitu ganas.
"Victor, kita tidak bisa bergerak maju atau pun berbalik arah. Tornado menyergap kita. Lakukan sesuatu!" teriak Simon.
Angin mului masuk dari setiap celah lubang mobil tersebut membuat suara teriakan mereka sedikit samar.
"Aku akan coba mencari jalan lain!"
Victor memutar mobilnya, memilih menerobos jalan ke samping. Melewati lapangan penuh rerumputan juga pepohonan.
"Kau akan ke mana?" tanya Simon.
"Apa ada rumah bencana yang dibangun di sekitar sini." Victor terus melajukan mobilnya dengan pandangan yang menjelajahi apakah ada tempat yang dibangun untuk mengantisipasi terjadinya bencana.
"Ini Tornado, Victor. Bangunan mana pun pasti akan terserbu olehnya."
"Diamlah! Untuk mengatasi tornado, kami biasa membangun rumah bawah tanah. Di sana kita bisa menggunakan untuk bersembunyi saat tornado menyerbu," jelas Victor dengan nada tinggi.
"Apa kau akan sembunyi di bawah tanah? Lalu bagaimana jika terjadi gempa?" Simon tak sadar kalau pertanyaannya tersebut hanya membuat Victor panik saja.
"Simon, tolong jangan memikirkan bahaya yang terjadi. Kita tidak punya jalan lain selain mencari tempat bawah tanah.
Victor menghentikan mobilnya. Menoleh ke belakang.
"Ayo keluarlah. Di sana ada rumah bawah tanah. Kita harus segera ke sana!" perintah Victor.
"Papa, bagaimana mobilnya?"
"Kita tinggalkan di sini, Sayang. Ayo!" Victor mulai membuka pintu mobilnya. Mengeluarkan tubuhnya dari sana. Dilihatnya pemandangan di luar yang begitu mencekam.
Langit seperti hendak ambruk dan bertabrakan dengan bumi. Pohon-pohon tampak melayang di kejauhan sana akibat terhantam tornado. Juga, bangunan-bangunan serta gedung-gedung pencakar langit yang tampak kehilangan sebagian fasadnya.
Victor bergerak cepat ke pintu belakang. Membukanya dan meraih tubuh sang putra. Lalu membawanya ke pelukannya. Merengkuh tubuh mungil itu agar anaknya itu tak melihat betapa mengerikannya alam saat ini.
"Papa, Teddy takut," rengek anak itu dalam dekapan sang ayah.
"Jangan khawatir. Kau akan baik-baik saja, Nak! Papa di sini bersamamu." Victor mengecup pucuk kepala Teddy dan memberikannya ketenangan.
"Simon, ayo cepat keluar!" perintah Victor kemudian.
Pria baya itu mulai menonjolkan tubuhnya. Memandangi suasana luar yang begitu mencekam. Ia mengambil napas dalam-dalam.
"Apa kau yakin?"
"Jangan banyak bicara dan cepatlah ikut bersamaku jika kau ingin selamat!" celetuk Victor. Kemudian pria itu mulai bergerak maju. Berlari sembari menggendong sang putra menuju ke sebuah tempat di mana terdapat rumah yang dibangun di bawah tanah.
Simon berlari membuntutinya dari belakang.
***
Kaki Victor bergerak cepat. Namun sialnya sebuah batu kecil menghadang di depannya tanpa ia ketahui hingga membuat kakinya tersebut terantuk. Victor terjatuh dengan sang putra.
"Hei, kau tidak apa-apa?" Simon mencoba menolong. Membantu Victor dan Teddy berdiri.
Teddy melihat ke arah lain. Ketakutan semakin menjadi dalam dirinya saat menyaksikan hamparan langit yang seperti hendak meledak. Awan gelap bergerombol dan kolom angin begitu dahsyat merampas semua benda-benda. Pohon-pohon beterbangan dan juga bangunan-bangunan.
"Teddy, Sayang, jangan dilihat, Nak!" Victor membungkam kedua mata sang putra dari belakang. Lantas mengangkat tubuh itu dan menggendongnya.
"Kita harus segera sampai." Victor kembali menggerakkan kakinya secepat mungkin.
Simon bergerak lebih cepat, agar bisa membuka gerbang rumah bawah tanah untuk mereka. Sementara itu, Teddy masih saja melihat ke arah belakang. Menyaksikan betapa dahsyat dan mengerikannya tornado menyerbu setiap tempat yang dilaluinya.
Sesampainya di sebuah tempat di mana rumah bawah tanah atau biasa di sebut sebagai rumah bencana dibangun, Victor menurunkan Teddy.
"Sayang, tunggu dulu, ya! Jangan lihat ke sana!" Victor memberi pesan pada sang putra untuk diam di sampingnya.
Sementara Victor mulai membantu Simon membuka sebuah gerbang. Dengan susah payah akhirnya gerbang tersebut terbuka.
"Cepatlah masuk!" perintah Victor pada Simon.
"Tidak, kau duluan yang masuk bersama putramu," ucap Simon.
"Baiklah." Victor beralih ke arah Teddy.
"Teddy, ayo!"
"Papa, Teddy takut." Anak itu begitu gemetar.
"Papa di sini, Sayang. Papa tidak akan membiarkanmu terluka. Kau percaya pada papa kan?" Kedua mata Victor menunjukkan sebuah perlindungan. Mata itu yang membuat Teddy merasa damai.
Anak kecil itu mengangguk.
Gegas Victor menggendongnya. Membawa Teddy masuk ke dalam. Menuruni tangga untuk sampai di bawah tanah sana.
Angin semakin lama semakin kencang.
"Simon, ayo cepat!" teriak Victor di bawah sana.
Simon masih berdiri di tempat. Menyaksikan betapa mengerikannya saat ini. Siapa pun akan dilibas habis jika masih saja berkeliaran di luaran sana. Bahkan ia juga melihat tubuh manusia yang serupa boneka, diterbangkan begitu saja. Teriakannya senyap akan suara gemuruh tornado.
"Simon!!!" Victor kembali berteriak.
Simon tersadar. Mulai bergerak masuk, dan menutup gerbang yang terbuat dari seng tersebut. Saat gerbang itu tertutup, suasana gemuruh mulai senyap.
Simon menuruni tangga, sembari bergumam, "Tidak akan ada yang selamat–"
"–Simon, tolonglah!" Victor memotong perkataan pria baya tersebut. "Kita di sini mencoba menyelamatkan diri, jangan membuatku semakin panik!"
Teddy terlihat menangis.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kita akan baik-baik saja, oke?" Victor mengecup pipi Teddy dan merengkuhnya lebih erat lagi.
Simon sampai di bawah. Melihat interior rumah bencana tersebut yang apik. Terdapat kasur dan perabot lainnya. Tidak lebih seperti rumah pada umumnya.
"Sampai kapan kita akan di sini?" tanya Simon sembari memperhatikan setiap sudut rumah tersebut.
"Sampai badan di luar sana menghilang," jawab Victor.
Di dalam sana mereka mulai duduk diam. Hingga beberapa saat kemudian terdengar bunyi bergemuruh yang semakin mendekat. Itu artinya tornado sudah mencapai tempat itu.
"Papa, Teddy takut." Teddy kembali merengek. Kedua tangannya memeluk erat tubuh sang ayah.
"Tenang, Sayang. Papa di sini bersamamu." Victor mengelus pucuk rambut sang putra. "Kau tidurlah saja. Bencana ini pasti akan berlalu. Oke?"
Teddy mengangguk polos.
Victor membawa sang putra ke sebuah ranjang. Menemaninya dan membuat anak itu terlelap dengan mengelus-elus rambutnya seperti pipinya.
"Papa menyayangimu, Nak!" Pria itu merendahkan kepalanya. Bibirnya menyapa pipi lembut sang putra dan mengecupnya. Berganti keningnya.
"Sudah tidur?" tanya Simon yang menggerakkan kaki mendekat. Melihat teman kecilnya tersebut yang sudah terlelap.
Victor mengangguk. "Kau tahu, dia adalah harta berharga yang saat ini aku miliki. Hanya dia saja yang tersisa. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan membiarkannya terluka." Victor berucap dengan nada pelan. Matanya mengembun, dengan pandangan ke arah Teddy yang terpulas.
Tangannya itu ia gerakkan menggenggam tangan mungil sang putra dan mengelusnya.
"Kita akan menjaganya bersama-sama," kata Simon. Lantas bergerak ke arah kursi dan mendudukkan pantatnya di sana.
Angin ribut masih belum berlalu. Suara getarannya sampai di bawah sana. Bahkan tempat tersebut terasa sedikit bergetar. Beberapa benda yang menggantung di atas mulai berjatuhan.
Victor sedikit menjauh, mencari tempat yang aman.
Tornado tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga belas menit. Setelahnya, suasan gemuruh seperti langit yang runtuh tersebut mulai memudar. Tempat tersebut menjadi sunyi.
"Apa tornado sudah pergi?" tanya Victor kembali membuka suara.
"Tornado sudah pergi, tetapi aku rasa bencana lainnya akan datang," kata Simon. Mulai mendirikan tubuhnya. "Dunia ini sudah tua, Victor. Bukan berniat menakut-nakutimu. Tapi itulah kenyataannya. Aku mendapatkan firasat yang sangat buruk untuk dunia ini."
"Simon, tolonglah!" Suara Victor sedikit meninggi. Membuat Teddy bergerak sedikit. Victor melihatnya. Kembali mengelus lengan anak itu agar kembali nyaman dalam tidurnya. Lantas beralih menatap Simon. Mulai berbicara dengan nada pelan.
"Aku tahu kau paranormal. Kata orang paranormal bisa melihat masa depan. Sekarang katakan, bagaimana masa depanku? Bagaimana masa depan Teddy?" tanya Victor penuh dengan tuntutan.
Simon memperhatikannya sejenak. Kemudian memindahkan pandangan ke arah Teddy. Lantas menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, Victor. Aku tidak sehebat itu. Aku bukan Tuhan," katanya dengan nada pelan.
"Lalu kenapa kau selalu bertingkah bahwa kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?!"
"Itu berdasarkan insting dan perasaanku. Aku merasa dunia ini sudah tua. Kau lihat saja, apa yang telah terjadi beberapa tahun belakangan ini. Manusia sakit-sakitan. Lalu menjadi mayat hidup. Kemudian bencana datang. Entah apa lagi fenomena apa lagi yang akan terjadi di masa mendatang. Bukankah ini merupakan peringatan dari Tuhan?"
"Kenapa Tuhan memperingatkan? Kenapa juga Tuhan merusak alam buatannya sendiri?" Victor bertanya serius.
Simon menghela napas dalam. "Karena manusia suka merusak alam buatannya," katanya semakin membuat Victor emosi.
"Merusak? Merusak bagaimana?" Pria itu mendirikan tubuhnya. Tak terima dengan asumsi pria baya tersebut. "Kami membangun, bukan merusak. Kami membangun kota, gedung, dan sebagainya agar alam ini semakin berkembang dan maju–"
"–dengan merusak alam?" Simon mendekat ke arahnya. "Bisa kau hitung berapa banyak pohon yang sudah kalian tebang untuk sebuah pembangunan yang kau bilang memajukan umat manusia?"
"Kami menebang bukan berarti membiarkannya begitu saja. Tapi kami kembali mereboisasinya. Kami menanam kembali penghijauan dalam bangunan-bangunan. Kami memperbaiki teknologi agar lebih canggih. Kami membuat robot dan segalanya agar meringankan pekerjaan manusia!"
Simon menggelengkan kepalanya pelan. Menyemburkan napas. "Kau tidak tahu, Victor. Yang kalian lakukan justru membuat dunia ini semakin tua. Tanah menjadi tercemar–"
"–sudah cukup!" Victor mulai meninggikan nada suaranya. "Kau tidak akan tahu dengan perkembangan zaman karena kau sendiri memilih hidup seperti di zaman purba!" tunjuk Victor ke arah Simon. "Apa kau bilang tadi? Tuhan marah pada manusia? Lalu kenapa hanya manusia saja yang dihancurkan? Padahal masih ada mahkluk lain yang juga sama-sama merusak!"
"Makhluk lain?" Simon menaikkan kedua belah aslinya.
"Alien!"
"Alien?"
"Kau tidak tahu? Alien–" Victor memotong ucapannya saat Teddy terlihat tampak membuka matanya terbangun dari tidurnya.
"Papa?" suara Teddy begitu lemas.
"Sayang?" Victor bergerak cepat ke arahnya. "Kau sudah bangun?"
Teddy mulai membangunkan tubuhnya. "Kenapa Papa teriak-teriak? Kalian berantem lagi, ya?" tanya Teddy pada sang ayah, kemudian memindahkan pandangannya ke arah Simon.
Anak kecil itu menepuk jidatnya sembari menyemburkan napas pasrah. "Haduuhh… kalian seperti anak-anak saja. Lihat, aku lebih dewasa dari kalian tapi aku tidak pernah berantem," kata Teddy dengan wajah yang amat menggemaskan.
Tentu saja hal itu membuat Victor tersenyum. "Oh, ya? Jadi anak papa sudah dewasa sekarang?" Victor bercanda sembari menggelitik perut sang putra.
Teddy tertawa geli. Hal itu membuat Simon menarik bibirnya tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Papa, sudah. Perutku geli!" celetuk Teddy bersemu tawa.
Victor menghentikan aksinya. Membawa tubuh Teddy mendekat dan lantas merengkuhnya. "Papa menyayangimu, Sayang!"
"Papa, apa monsternya sudah menghilang?" tanya Teddy.
"Monster?" Victor lantas mengerti apa yang disebut 'monster' oleh sang anak. "Oh ya. Kurasa monsternya sudah tidak ada."
"Kalau begitu ayo keluar, Papa. Rasanya sesak di dalam sini," kata Teddy.
"Sebentar, ya!" Victor mendirikan tubuhnya. Menatap ke arah pria baya yang berdiri tak jauh darinya. "Simon, tolong jaga Teddy."
"Papa mau ke mana?" tanya Teddy.
"Papa mau membuka gerbang dan memastikan bahwa monster itu sudah pergi. Oke?" Victor mengulas senyum sembari mengelus pucuk kepala Teddy.
"Simon," sambungnya memberi isyarat pada Simon. Lantas pria itu bergerak. Menaiki tangga berniat membuka gerbang. Namun sayangnya gerbang tersebut mendadak seperti beton yang begitu kuat.
"Arghh!" Victor mencoba mendorong tetapi tenaganya tak cukup kuat. Sepertinya, ada sebuah benda yang menghadangnya di atas sana. Itu bisa terjadi, lantaran tornado membawa berbagi puing-puing serta benda-benda dan membiarkannya berserakan begitu saja.
Victor kembali menuruni tangga.
"Bagaimana, Pa?" tanya Teddy.
"Sebentar ya, Nak!"
Victor mengambil sebuah tongkat besi. Lantas kembali menaiki tangga. Mendorong gerbang tersebut. Memukul-mukulnya dengan keras, tetapi tak mau juga membuka.
Simon menoleh ke sumber suara di atas sana. "Teddy, kau di sini sebentar ya. Aku akan membantu ayahmu!"
Teddy mengangguk setuju.
Simon mulai mendirikan tubuhnya. Bergerak ke arah tangga yang menjulang ke atas. Dilihatnya Victor yang sibuk menjebol gerbang tersebut dan terlihat amat kesusahan.
"Butuh bantuan?" Simon bertanya dari bawah sana.
Victor menghentikan aksinya sejenak. "Tidak perlu, kau jaga Teddy saja," katanya. Lantas kembali memukulkan tongkat besi pada gerbang di atasnya.
Teddy tampak beringsut dari ranjang. Menapakkan kakinya di lantai. Bergerak ke arah Simon. Memandang ke atas, melihat sang ayah yang sedang kesusahan.
"Papa, biarkan Simon membantumu. Kau tidak akan bisa membukanya sendirian!" teriak Teddy.
Victor menoleh sejenak ke belakang, tepatnya ke bawah kaki tangga. Melihat ke arah sang putra. Sedikit menyunggingkan senyum. "Tidak perlu, Nak! Ayahmu ini jagoan. Ototnya masih berfungsi dengan baik," selorohnya. "Papa bisa melakukannya sendiri."
Kembali Victor meluruskan pandangan ke atas. Mendorong gerbang dengan tongkat besi. Namun begitu kesusahan, sehingga membuatnya terpeleset dan sedikit mengguling sampai tengah anak tangga.
"Papa!" Teddy berteriak panik.
"Papa tidak apa-apa," kata Victor sembari tersenyum, lantas mulai membangun tubuhnya.
"Papamu itu memang keras kepala," gumam Simon ke arah Teddy. Lantas pria baya itu mulai bergerak mencari tongkat besi. Setelah mendapatkannya, ia menggerakkan langkahnya menaiki tangga dan mulai membantu Victor.
"Jangan halangi aku. Putramu sudah tidak sabar ingin keluar!" katanya sembari melewati Victor begitu saja.
Victor menyemburkan napas dan mulai naik.
Mereka pun mendobrak gerbang tersebut secara bersamaan, hingga mulai sedikit terbuka. Terlihat pula di atasnya sana terdapat sebuah benda yang menumpangnya. Victor dan Simon sekuat tenaga terus mendorong gerbang tersebut, hingga benda di atasnya berpindah. Lantas dengan mudahnya gerbang tersebut bisa dibuka.
Sinar dari luar langsung menyorot ke bawah, membawa udara sedikit sejuk yang masuk ke dalam.
"Sebentar, biar aku saja!" Victor maju dan melihat keadaan di luar sana.
Dilihatnya keadaan di luar yang amat sangat memprihatinkan. Semuanya porak-poranda. Benda-benda berserakan di berbagai tempat. Tumbuhan tumbang dan puing-puing terhampar luas. Kota tersebut benar-benar seperti kota mati. Namun, satu hal yang membuat pria itu lega. Tornado sudah menghilang dan tak terlihat lagi.
Victor kembali menoleh ke bawah. Memutar tubuh dan berjalan menuruni tangga.
"Apa tornado sudah hilang?" tanya Simon.
"Yah." Victor mengangguk.
Simon mulai naik beberapa langkah hingga sampai pada permukaan gerbang. Angin tipis menerpanya. Terasa sejuk. Tetapi matanya itu berduka. Melihat semua keadaan yang tak lagi sama. Semua telah hancur. Diluluh lantakkan sesaat oleh tornado.
"Papa, apa monsternya sudah pergi?" tanya Teddy.
"Iya, Sayang. Monsternya sudah pergi." Victor tersenyum pada putranya. Lantas mengangkat tubuh Teddy dan menggendongnya. Membawanya melangkah menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai ke permukaan.
"Semuanya hancur," kata Simon saat Victor sudah keluar.
Simon menutup kembali gerbang tersebut.
"Papa, kenapa semuanya hancur?" Teddy bertanya dengan wajah sendu. Air mata mulai mengembun dari kedua matanya. "Di mana orang-orang?"
Sejauh mata memandang, hanya ada kehancuran. Puing-puing serta benda-benda lainnya berserakan. Mereka kini seperti berada di tengah-tengah pembuangan sampah yang begitu besar.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kita coba cari orang-orang yang masih hidup." Victor mengenduskan kepalanya pada leher sang putra. Pria itu butuh kekuatan untuk menghadapi semua ini. Dan kekuatannya adalah bersama putranya.
"Ayo!" Victor mengajak Simon untuk melangkah maju.
Mereka mulai berjalan. Mencari celah dari berbagai benda yang menghadang di setiap jalan. Rerumputan hijau tak lagi terlihat. Semuanya tertimbun oleh puing-puing. Perabot rumah dan sebagainya hancur berantakan. Pepohonan kehilangan daunnya dan tumbang di mana-mana. Juga ada cairan merah yang mengalir dari bawah timbunan batu bata serta pondasi bangunan. Dan di antara itu, Teddy melihat sebuah tangan.
"Papa!" Teddy menunjuk ke arah tangan yang menonjol di permukaan.
Victor melirik. Buru-buru menurunkan Teddy. Ia bergerak ke arah timbunan batu bata tersebut. Ada tubuh yang tertimbun dan hanya sebagian lengan tangannya saja yang terlihat.
"Papa!" Teddy hendak berjalan mendekatinya.
"Simon, jaga Teddy!" pinta Victor.
Tangan mungil Teddy lantas dicekal oleh tangan tua itu. Dibawanya ke belakang kembali dan dikurung dengan kedua tangannya. Tak boleh ke mana-mana.
Sementara Victor mulai membongkar gunungan material bangunan tersebut. Memindahkan batu bata satu persatu. Hingga terlihat kepala manusia yang penuh darah. Kepala itu sudah tak lagi bernyawa, dalam artian sudah menjadi mayat. Wajahnya hancur akibat reruntuhan. Tetapi Victor masih bisa mengidentifikasi kalau jasad tersebut adalah seorang pria.
Lantaran tercengang Victor mengambil langkah mundur. Menggeleng dan merapatkan kedua matanya rapat-rapat. Membalikkan tubuhnya seketika. Bulir bening dari sudut pupilnya turun tanpa ia sadari.
Sejatinya, pria itu memiliki perasaan yang sensitif. Melihat mayat dengan kondisi mengenaskan, tiba-tiba menggetarkan hati Victor.
Pria itu bergerak ke depan, mendekati sang putra.
Victor langsung memeluknya erat dan menggendongnya.
"Papa, kenapa? Kenapa kau tidak menolongnya? Papa, kasihan dia!" celetuk Teddy.
"Dia sudah tidak lagi bisa diselamatkan, Nak!" kata Victor bersemu tangis. Lantas pria itu menata pandangan sang putra agar tidak terus-menerus menatap mayat tersebut.
"Ayo!" ajaknya pada Simon yang mematung.
Berada di kondisi yang mengenaskan dan kota yang hancur tidak pernah terpikir sekalipun di benak Victor. Semua ini serupa mimpi buruk yang begitu nyata.
Mereka kini mulai kembali melangkah. Melewati puing-puing bangunan serta benda-benda yang berserakan penuh derita.