Hamparan puing-puing bangunan serupa sampah yang berserakan di mana-mana, mengotori permukaan bumi yang semula hijau. Menghalangi setiap jalan dan akses. Namun Victor terus melangkah. Menggendong sang putra di belakangnya. Sementara pria tua terus membuntutinya di belakang.
"Papa, itu mobil kita!" Teddy menunjuk ke sebuah mobil yang terbalik serupa rongsokan.
Victor menerawang, melihat ke arah mobilnya. Kemudian menggerakkan langkah mendekatinya. Begitu sampai, ia mengamatinya sejenak.
"Sekarang bagaimana kita akan pergi, Papa?" tanya Teddy lagi.
"Sebentar, Nak!" Victor merendahkan tubuh. Seakan menyuruh anaknya untuk turun dari punggungnya.
Kaki Teddy menyapa permukaan tanah. Memijak rerumputan yang tak lagi segar.
"Simon, jaga Teddy, ya!" pinta Victor pada pria baya tersebut. Mengusap pucuk kepala Teddy lantas menggerakkan kaki untuk lebih dekat lagi dengan mobilnya.
Simon membawa tubuh Teddy untuk rapat dengannya.
Victor mengamati mobilnya. Masih kelihatan bagus. Kerusakannya tidak terlalu parah. Hanya beberapa bagian dan sisi yang penyok akibat hantaman benda-benda berat. Juga, kaca belakang yang retak namun tak pecah. Saat Victor mengintip di dalamnya pun masih baik-baik saja. Barang-barangnya yang berada di sebuah ransel masih di dalam sana dengan keadaan aman.
Victor mencoba masuk. Mengemudikan mobilnya dan membawanya ke posisi yang benar. Beruntung mesinnya tersebut masih bekerja.
Pria itu sedikit lega. Setidaknya, ia bisa menggunakan mobilnya itu untuk pergi dari tempat tersebut. Usai menjajal mesin mobilnya, Victor keluar. Menjemput sang putra.
"Ayo, Teddy, kita naik mobil itu lagi," kata Victor dengan sedikit senyuman.
"Apa mobilnya sudah bisa, Papa?" Teddy memang banyak sekali bertanya. Memang seperti itu anak-anak pada usianya.
"Ehm. Mobil kita masih baik-baik saja," ucap Victor setelah merendahkan tubuhnya, menyamakan tinggi sang putra. "Sekarang, ayo kita masuk ke dalam." Pria itu merapatkan tubuh sang putra padanya, kemudian mengangkatnya.
"Ufff… kau sekarang cukup berat, ya!"
"Benarkah? Tubuhku yang semakin berat atau tulang papa yang semakin tua? Haha!" seloroh Teddy membuat mereka tertawa.
"Yah, aku rasa keduanya, hehe," kata Victor dengan terkekeh.
"Kita mau ke mana setelah ini?" Simon membuka suara dengan sebuah pertanyaan, yang Victor sendiri tak tahu jawabannya dengan pasti.
"Entahlah. Kita akan mencari tempat yang aman," balas Victor sembari menyemburkan napas. "Ayo!"
Pria itu kemudian bergerak ke arah mobil. Simon membuntutinya dari belakang.
Victor membuka pintu belakang dan memasukkan sang putra ke kursi belakang. Simon masuk setelahnya. Lantas Victor merapatkan kembali pintunya dan bergerak ke pintu depan. Ia masuk dan siap untuk mengemudi.
"Sudah siap? Pakai sabuk pengaman kalian!" perintah Victor.
"Papa, sabuknya putus." Teddy menunjukkan sabuk pengamannya yang putus akibat guncangan tadi.
Victor menoleh ke belakang. Melihat dan terdiam sejenak. Lantas mengembangkan bibirnya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Teman dewasa di sampingmu itu akan menjagamu," ujarnya.
Simon mengangguk. "Aku tidak akan membiarkanmu kenapa-napa." Simon mengangkat tubuh Teddy dan memangkunya. Lantas memeluknya dengan erat.
Victor tersenyum. Kemudian memfokuskan pandangannya ke depan. Mulai menyalakan mesin mobilnya. Kemudian memutar setir. Membawa mobil tersebut keluar dari hamparan puing-puing bangunan.
Jalan menuju jalan utama tidaklah lancar seperti biasa. Aspal retak dan sampah-sampah berat tercecer di setiap tempat. Belum lagi batu-batu serta benda-benda lainnya. Itu sangat membuat Victor kesusahan.
Dilihatnya dari jendela kaca, sekelilingnya tampak porak poranda. Gedung-gedung hancur sebagian. Pohon-pohon tak lagi ada yang berdiri jejak. Manusia-manusia juga sepi tak terlihat. Serupa tak berpenghidupan lagi kota tersebut. Belum lagi, langit yang terselimuti awan gelap.
Victor terus saja membawa mobilnya menyusuri jalanan yang rusak.
"Papa, Teddy laper!" Suara perut Teddy dan suara mulutnya saling beradu.
Victor pun merasakan kalau patutnya tersebut juga keroncongan. Serupa ada sebuah serangga yang menggerogotinya. Terasa begitu menusuk. Pun begitu dengan Simon.
"Victor, apa tidak sebaiknya kita mencari makanan di sekitar sini?" tanya Simon dengan nada lemas. Daya tahan tubuhnya sudah mulai terkuras.
"Sebentar, aku cari toko atau mall yang masih layak."
Victor memelankan deru mobilnya. Tangannya fokus pada kemudi sementara kepalanya celingukan mengamati sekitar. Seakan kedua netranya tak sabar menemukan sebuah tempat berisi makanan yang bisa mengganjal perut mereka.
"Ah, itu dia!"
Setelah cukup lama mencari, akhirnya Victor menemuka sebuah toko besar yang masih lumayan bagus. Hanya sebagian bangunan saja yang ambruk dan terlihat beberapa makanan instan seperti roti dan sebagainya yang berantakan.
Victor menepikan mobilnya tepat di depan toko tersebut.
"Ayo! Kita bisa mencari roti-roti yang masih bagus di sana." Victor melepas sabuk pengamannya setelah mematikan mesin mobil. Membuka pintu dan keluar. Kemudian bergerak ke belakang, membukakan pintu untuk sang putra.
"Ayo, Sayang!" Victor membantu Teddy turun.
Kemudian disusul oleh Simon, yang lantas merapatkan pintu mobil.
Victor berjalan mengandeng tangan Teddy memasuki toko tersebut. Simon berjalan di belakangnya. Mereka bertiga mengamati sekitarnya yang benar-benar dalam kondisi mengenaskan. Semuanya berantakan. Namun, beruntungnya di antara semua kekacauan tersebut, terlihat sebuah rak besar berisi roti-roti yang masih terbungkus rapi.
"Sebentar." Victor melepaskan gandengan tangannya pada Teddy. Bergerak maju. Mengambil salah satu roti dan mengecek bungkusnya. Dilihatnya tahun kadaluarsa masih lama. Itu artinya roti tersebut masih aman dikonsumsi.
Victor membuka bungkusnya dan menyerahkannya ada sang putra. Menyuruh putra semata wayangnya tersebut untuk segera melahapnya dan mengisi perutnya yang kosong tersebut agar tak lagi keroncongan.
"Ayo makanlah!" kata Victor.
Teddy mulai memakannya dengan lahap.
Simon ikut mengambil dan mulai memakannya. Mereka semua makan sampai kenyang. Kebetulan juga terdapat botol-botol air mineral yang bisa mereka gunakan untuk menahan dahaga.
"Kita akan bawa roti-roti ini ke mobil untuk persediaan makanan kita nantinya." Victor berkata pada Simon.
Simon mengangguk.
Setelah perut mereka terisi cukup penuh dan kenyang, Victor dan Simon mulai memasukkan beberapa roti dan minuman ke dalam mobil. Setelah dirasa cukup, mereka pun kembali masuk ke mobil dan siap melakukan perjalanan lagi.
Victor masih belum tahu arah dan tujuannya sekarang. Ia tetap mengikuti jalur yang ada. Karena sejauh mata memandang, tak ada tempat di sekitar sana yang layak untuk dihuni. Semuanya porak poranda. Tornado telah menghancurkan tempat tersebut hanya dengan waktu singkat.
Roda-roda mobil Victor terus berputar. Seakan menurut ke mana sang tuan membawanya.
Di hamparan puing-puing bangunan yang berserakan. Juga perabotan rumah seperti kasur, kursi, meja dan sebagainya yang rusak bagai sampah. Ada mayat-mayat yang ikut andil dalam mengotori setiap permukaan bumi. Darah-darah mengalir dan merembes ke tanah. Kondisinya begitu amat mengerikan.
Sebuah tangan bergerak saat sebagian tubuhnya tertimbun pasir bangunan. Perlahan tangan itu meraba-raba. Kemudian mampu mengangkat kepalanya. Kedua mata membuka. Melihat keadaan sekitar yang begitu mengenaskan.
Seorang wanita dengan rambut berantakan dan pakaian yang kotor bangkit setelah pingsan. Ia mengusap wajahnya yang tertutup debu bangunan. Hingga terlihat dengan jelas wajahnya tersebut yang ternyata dia adalah Devina.
***
"Dave!" Devina berteriak, memanggil sang kakak yang tak tahu entah di mana.
Kepalanya pusing. Terakhir kali ia mengingat kalau dia dan Dave pergi bersamaan dengan beban luka hati yang dibawanya. Mereka awalnya menaiki bus. Berjalan ke arah barat setelah mengetahui tujuannya ke timur hanya sia-sia dan malah mendapatkan kesedihan baru.
Di tengah perjalanan angin menyambar. Tornado datang secara tiba-tiba dan meluluh lantakkan keadaan di sekitarnya. Bus yang mereka tumpangi tersapu dan keluar dari jalanan. Mengguling. Mereka meloncat. Mencoba berlari tetapi tornada yang ganas menghantamnya.
Setelah itu Devina dan Dave terpisah. Kemungkinan selanjutnya, mereka tak sadarkan diri.
Kini Devina telah kembali bangkit. Namun, bagaimana dengan sang kakak? Ke mana dia? Tubuhnya tidak temukan. Apakah dia berhasil selamat atau justru….
Devina menggeleng cepat. Membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. Hanya Dave yang ia punya di dunia ini sekarang. Orang-orang dekatnya sudah tak lagi bersamanya. Jika Dave tiada, maka ia akan sendirian.
"Dave!" Devina naik di atas puing bangunan yang paling tinggi. Berteriak dengan amat kencang sesuai tenaga nada suaranya yang tersisa.
Matanya memandang sekitar. Semuanya luluh lantak. Tak ada lagi kehidupan atau tanda-tanda dari orang-orang yang bangkit. Mayat-mayat tersenyum penuh darah dan dalam kondisi yang mengenaskan.
"Dave…." Air mata luluh dari kedua sudut matanya. Merintih. Tenaganya terkuras cukup banyak. Sehingga membuatnya frustasi.
Devina duduk di serpihan puing bekas bangunan. Menundukkan kepalanya serupa bunga layu. Menangis pilu tanpa seorang pun yang menemaninya.
Beberapa saat kemudian mobil Victor melewati daerah tersebut. Dari kejauhan ia melihat siluet wanita yang duduk sendu. Victor mulai memelankan mesin mobilnya. Melihat dan mengamati dengan saksama kalau itu adalah wujud manusia.
"Aku rasa dia seseorang. Sebentar aku akan mencoba menemuinya." Victor menghentikan mobilnya.
Teddy melirik ke arah sana. "Papa, bagaimana kalau itu monster?" kata Teddy.
"Kau tenang saja, Sayang. Aku tidak akan mendekatinya." Victor melepaskan sabuk pengamannya. Menoleh kebelakang. "Kalian tunggu di sini dulu, oke?"
Gegas Victor membuka pintu dan keluar dari mobil. Bergerak melewati puing-puing dengan hati-hati.
"Hei!" Victor memanggil dari kejauhan. Namun wanita di sana masih tak meresponnya. Sibuk dengan tangisnya.
Victor kembali melangkah maju untuk lebih dekat lagi. Naik di atas puing yang menggunung lebih tinggi. Dari situ mulai bisa Victor identifikasi kalau seseorang di sana merupakan seorang perempuan.
"Hei! Apa kau butuh bantuan?!" tanya Victor dengan berteriak sekencang mungkin.
Devina yang mendengarnya mulai menghentikan tangisnya. Memutar kepalanya ke belakang. Melihat seorang pria yang berdiri di atas puing bangunan.
Mata Devina mengamati dengan jeli. Menganggap kalau pria itu tak asing baginya. Memang benar, saat ia amati itu memang pria yang pernah bersamanya tempo hari.
"Victor?!" Devina berteriak. Mulia membangunkan tubuh.
Victor mengernyitkan dahi. Kemudian ia memperhatikan lebih jeli lagi. Baru tersadar kalau wanita itu adalah Devina.
"Devina?"
"Victor!" Devina merasa gembira. Ia mulai menuruni puing-puing, dan mencoba bergerak ke arah Victor. Namun kakinya tersebut terpeleset dan membuatnya terjatuh.
"Devina!" Victor bergerak maju menghampirinya.
"Devina!"
Setelah sampai di dekatnya, Victor membantu Devina untuk berdiri.
Devina merasa amat gembira. Akhirnya ia tidak sendirian. Lantaran tak bisa mengontrol kegembiraannya, ia memeluk pria di depannya itu dengan amat erat.
Victor ragu-ragu untuk membalasnya, tetapi kemudian ia merengkuh tubuh Devina.
Pelukan itu tak berlangsung lama lantaran Devina mulia tersadar dan menyudahi pelukan tersebut. Devina merenggangkan tubuh dan sedikit mundur ke belakang.
"Maaf," kata Devina dengan pandangan ke lain arah.
Victor pun ikut salah tingkah.
Pria itu kemudian memperhatikan penampilan Devina yang berantakan. "Kau baik-baik saja?" tanyanya kemudian.
Devina mengangguk. "Aku baik-baik saja? Lihatlah, tornado menghancurkan tempat ini. Tentu saja keadaanku tidak baik!" kata Devina.
"Maaf." Victor menyemburkan napas. Kemudian baru tersadar akan sesuatu. "Di mana Dave?" tanyanya membuat Devina kembali sedih. "Apa dia baik-baik saja?"
Devina hanya terdiam menunduk.
Victor memperhatikannya dengan saksama. Menebak bahwa ada sesuatu yang tidak beres tentang Dave.
"Hei… hei … kenapa? Ada apa?" Victor meraih kedua bahu wanita itu. Menatanya untuk menghadap ke arahnya. "Ada apa? Kau bisa cerita padaku. Mungkin aku bisa membantu."
"Dave … Dave …." Devina mendongak. Menatap ke arah Victor. Matanya mulia berair. "Dave tidak ditemukan. Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Tetapi aku tidak menemukannya. Terakhir kali kami bersama lalu tornado datang. Kami berpisah. Aku tak sadarkan diri. Dan Dave…." Devina kembali menunduk. Menangis penuh sendu. "Aku tidak tahu di mana dia."
Victor langsung membawa tubuh wanita itu dalam dekapannya. Memeluknya seakan memberikan ketenangan. Mengelus pucuk rambutnya. "Tenanglah, Dave pasti akan baik-baik saja," katanya.
"Apa kau akan mencarinya? Apa Dave akan ditemukan?" tanya Devina di sela-sela tangisnya.
"Yeah, tentu saja. Kita akan mencarinya bersama-sama," ucap Victor yang entah mengapa langsung membuat hati Devina sedikit tenang.
"Papa!" Suara Teddy terdengar cukup sayup.
Victor yang mendengarnya, mulai merenggangkan pelukannya. Menoleh ke arah mobilnya. Teddy dan tampak melambaikan tangan dari kaca jendela mobil.
"Teddy?" Devina menyungging senyum saat melihat bocah itu. "Apa dia baik-baik saja?" tanyanya pada Victor.
"Yah, dia baik-baik saja." Victor menjawab dengan garis bibir yang tertarik dan kedua pandangan yang mengarah pada sang putra di mobil sana. "Ayo ke sana, mereka pasti akan senang melihatmu!" ajak Victor.
Mereka mulai berjalan bersama. Melewati puing-puing. Devina hendak terjatuh, tetapi Victor lagi-lagi langsung menyelamatkannya. Menggenggam tangan wanita itu dan menuntunnya.
"Hati-hati," katanya.
"Apa si pria tua itu masih bersamamu juga?" tanya Devina seiiring langkah yang terus maju. Mencari celah di antara hamparan benda-benda yang sudah rusak.
"Simon maksudmu? Yah, dia masih bersama kami," jawab Victor. "Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?" seloroh Victor bertanya.
Devina terkekeh pelan. "Bukan begitu. Hanya saja dia sedikit menyebalkan."
"Yah, kau benar. Kami selalu bahkan selalu berdebat. Dia yang bersikap seolah-olah tahu masa depan. Itu membuatku muak. Haha!"
Keduanya saling berbincang sembari terus melangkah, hingga pada akhirnya sampai ke mobil Victor.
"Devina!" decak Teddy gembira.
Mulai membuka pintu mobilnya dan langsung turun dari sana. Pun begitu dengan Simon.
"Devina!" Teddy berlari ke arahnya. Menghambur di pelukan wanita itu.
Devina senang dengan sikap ramah Teddy yang masih mengenalinya. "Bagaimana kabarmu, Jagoan?" tanya Devina sembari merenggangkan pelukannya.
"Aku baik, karena Papa dan temanku Simon selalu menjagaku. Bagaimana denganmu?"
Teddy memperhatikan penampilan Devina yang berantakan. Masih ada debu material bangunan yang melekat di pakaiannya. Juga keadaannya yang terlihat pucat lemas.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Teddy.
"Ehm." Devina mengangguk seraya tersenyum. "Aku baik-baik saja sepertimu!" seru Devina sembari menoel hidung mungil Teddy.
"Di mana pria tinggi itu? Kenapa tidak bersamamu?" tanya Teddy lagi merujuk pada Dave.
"Maksudmu, Dave?" Devina menaikkan sebelah alisnya.
"Ehm. Oh ya ampun. Aku lupa namanya." Teddy menepuk jidatnya bagai orang yang lugu. Dan itu membuat mereka tertawa.
"Devina, kau bisa istirahat sejenak. Ada beberapa roti dan minuman di mobil. Kau bisa memakannya," kata Victor.
Devina mendongak menatapnya. Mulai mendirikan tubuhnya. "Tidak, Victor. Aku harus mencari Dave sekarang!"
"Memangnya Dave ke mana?" tanya Simon.
***
"Dave tidak ditemukan. Aku sudah mencarinya tapi aku tidak berhasil menemukannya." Devina menyemburkan napas gusar. Menatap Victor dengan kedua matanya yang mulai mengembun. "Apa dia masih bisa diselamatkan?"
"Hei… kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja Dave masih bisa diselamatkan." Victor menggerakkan kedua tangannya, menyentuh kedua bahu Devina seakan memberikan sebuah dukungan juga ketenangan. "Kita akan menemukan Dave bersama-sama, oke?" Victor memberkata sembari menganggukkan kepalanya, bermaksud menyuruh wanita di depannya itu untuk mengangguk pula.
Devina menelan ludah, juga menelan semua pikiran negatifnya. Kemudian mengangguk.
"Baiklah sekarang kita akan mencari Dave bersama-sama. Kita berpencar tapi jangan sampai kehilangan satu sama lain. Dave pasti ada di sekitar sini," ujar Victor dengan pandangan yang menyapu sekitarnya, yang penuh dengan puing-puing.
"Papa, aku ikut!" Teddy berkata sembari mendongak menatap pada sang ayah.
Victor mengangguk. Hendak menggendong anak itu tetapi Teddy menolak.
"Papa, aku ingin berjalan seperti Papa. Aku tidak mau Papa capek kalau terus-terusan menggendongku," celetuk anak itu, yang mampu menciptakan senyum simpul di garis bibir para orang dewasa.
"Baiklah-baiklah! Tapi apa kakimu tidak sakit?" tanya Victor.
"Tidak dong. Teddy kan kuat seperti Spiderman! Aku akan temukan Dave sebelum kalian menemukannya!" decak anak itu seakan menjadi hiburan bagi mereka yang tengah bersedih.
"Kau ada-ada saja." Victor mengusap pucuk kepala Teddy dengan bangga. "Ayo!" Ia mengulurkan tangannya ke arah Teddy. Dan dan cepat anak itu meraihnya dan menggenggamnya.
Mereka mulai mencari Dave. Berkeliaran di antara puing-puing yang menggunung.
"Dave!" Victor berteriak, berharap pria itu mendengar teriakannya.
"Dave!" Disusul oleh Devina yang berteriak.
Sementara Simon bergerak ke umbrukan puing-puing bangunan dan menelaah setiap tempat.
***
Hari sudah mulai sore. Tetapi Dave masih belum ditemukan. Hanya beberapa mayat yang mengenaskan yang mereka jumpai. Itu semakin membuat Devina cemas sekaligus sedih.
"Dave!!!"
"Dave! Apa kau mendengarku?!"
"Dave!"
Di antara seumbruk benda-benda rongsokan yang menggunung, terluka sebuah tangan yang mulai bergerak. Tangan itu lama-lama keluar. Teddy yang melihatnya langsung mendekat.
Ia mengamati dengan saksama. Tangan itu masih kelihatan bagus tanpa luka parah. Hanya sedikit goresan saja yang sudah mengering. Teddy mulai mengais satu persatu sampah yang menimbun tubuh manusia. Tidak terlalu berat untuk ukuran sampah botol-botol plastik.
Hingga akhirnya tubuh seorang pria mulai terlihat jelas.
"Papa!" Teddy berteriak. Masih menatap tubuh yang tak sadarkan diri tersebut.
Victor menolah. Bahkan ia tak sadar kalau Teddy sudah tidak lagi di sampingnya. "Teddy!" Victor panik dan langsung bergerak mendekat.
"Sayang, ada apa?" tanyanya sembari merendahkan tubuh menyamai tinggi sang putra.
Teddy masih terdiam dengan tertegun. Sementara tangannya diangkat, menunjuk ke sebuah tubuh yang hanya kelihatan separuh saja. Lainnya tertimbun beberapa rongsokan.
Victor melirikan mata melihatnya. Berpikir bahwa itu tubuh Dave, karena perawakannya sangat mirip dengan pria itu.
"Sebentar ya, Nak!" Victor menyuruh Teddy menyingkir sejenak. Lantas ia maju dan mulai memindahkan sampah-sampah yang menimbun tubuh tersebut. Hingga pada akhirnya, terlihat kepala Dave dengan posisi miring dan tak sadarkan diri. Di atasnya terdapat sebuah kursi yang rusak penuh paku. Kemungkinan, darah dari kening Dave akibat goresan paku tersebut dan kepalanya masuk ke dalam rangka kursi.
"Dave!" Victor sedikit lega, tetapi ia tak bisa mengeluarkan tubuh temannya itu sendirian. Ia mulai memanggil Simon dan Devina.
"Simon! Devina! Aku menemukan Dave!" teriaknya.
Simon dan Devina yang mendengarnya langsung bergerak menuju sumber suara.
Mereka merasa senang karena akhirnya tubuh Dave ditemukan. Terutama Devina yang amat gembira.
"Dengar, kita harus mengeluarkan kepala Dave dengan sangat hati-hati. Karena sedikit salah bergerak akan membuatnya tertancap paku," ujar Victor.
Devina mendekat. Paham akan perintah Victor.
Mereka bertiga pun mulai mengevakuasi tubuh Dave dengan sangat hati-hati sehingga tubuh pria malang itu berhasil keluar. Dan kabar gembiranya Dave masih bernapas, bahkan jemarinya sedikit bergerak.
"Dave! Kau mendengarku? Dave?" Devina menangis, mencoba membawa kesadaran kakaknya kembali.
Dave bisa mendengar suara-suara mereka, tetapi terasa amat sulit untuk membuka matanya.
"De-vi-na?"
"Yah! Ini aku." Suasan menjadi mengharu biru saat tangis Devina pecah bersemu kebahagiaan. "Aku akan menyelamatkanmu, Dave! Kau tenang saja. Ada Victor dan Simon di sini. Dan yah, Teddy ada di sini. Kami menginginkanmu kembali pulih."
Devina mendongak, menatap ke arah Victor. "Victor, tolong bantu aku mengangkat tubuh Dave. Kita harus membawanya ke rumah sakit cepat!" pintanya penuh permohonan.
"Iya, baiklah. Tapi, di keadaan yang seperti ini, aku tidak yakin kalau di rumah sakit–"
"–aku tidak peduli apakah ada dokter atau di tidak di sana, Victor! Kita bawa saja kakakku ke sana. Aku tahu cara mengobatinya!" kata Devina penuh penekanan.
"Oke!" Victor segera membantu Devina membawa tubuh Dave yang lemah tersebut ke arah mobil.
Sementara Simon menggendong Teddy membuntutinya dari belakang.
Hari sudah menjelang sore kala itu. Victor menata tubuh Dave di bangku belakang ditemani oleh Devina dan Simon. Sementara Teddy duduk di bangku depan di samping sang ayah. Lantas Victor segera melajukan mobilnya, membawa ke empat roda tersebut menyusuri jalanan, mencari-cari rumah sakit yang masih layak untuk disinggahi.
"Ka-lian mau mem… ba-wa-ku ke ma-na?" Dave bertanya dengan terbata-bata. Seperti amat susah sekali untuk mengeluarkan sepatah kata dari kerongkongannya.
"Kami akan membawamu ke rumah sakit, Dave! Kau pasti akan segera pulih," jawab Devina.
"A-ku tidak… a-ku tidak ku-at, Devina. Aku … aku hanya akan merepotkan kalian saja," kata Dave dengan amat susah payah.
Devina menggeleng. Air matanya kembali jatuh. "Tidak… tidak, Dave. Jangan berkata seperti itu. Hanya kau yang kumiliki sebagai keluargaku. Jangan katakan itu. Kau pasti akan selamat."
"D-devina… aku minta maaf… aku tidak bisa menepati janjiku untuk mempertemukanmu….."
"Sstt… sudah! Kau jangan banyak bicara. Itu hanya akan membuat tenagamu semakin lemah."
Setelah cukup jauh mobil itu menyisir, tak lama akhirnya mereka menemukan sebuah rumah sakit di pinggir jalan. Rumah sakit tersebut masih tampak bagus. Bangunan masih berdiri seutuhnya.
Victor dan Devina gegas membawa masuk ke dalamnya. Simon menggendong Teddy mengekori mereka.
Rumah sakit tersebut tampak kosong nan gelap. Tenaga listrik tak lagi berfungsi. Benda-benda juga sedikit berantakan. Tetapi bangunannya masih berdiri kokoh.
Victor merebahkan tubuh Dave di ranjang tempat pasien.
"Devina, apa kau yakin bisa menanganinya?" tanya Victor sedikit ragu.
"Kau tenang saja. Aku bercita-cita menjadi dokter. Karena suatu keadaan, cita-citaku itu kandas. Mungkin saatnya sekarang aku mewujudkannya. Kau tinggal membantuku apa yang aku perlukan saja," jelas Devina..
"Baiklah." Victor mengangguk setuju.
Devina pun mulai menjalankan aksi medisnya menangani kakaknya yang terluka. Berbekal pengetahuannya, ia berharap pengobatannya itu berhasil dan Dave bisa kembali pulih.
Semua alat-alat medis mulai terpasang dalam tubuh Dave dan sudah mulai bekerja.
"Sekarang bagaimana?" tanya Victor yang masih belum melihat reaksi apa pun dari Dave.
"Kondisinya mungkin kritis. Kita akan menunggu sampai dia berjuang dalam kondisi seperti ini." Devina menunduk. Menjatuhkan air matanya.
"Apa kakakku akan selamat?" Kembali pertanyaan tersebut terlontar dari mulutnya.
"Pasti!" Victor mengelus bahu Devina bermaksud memenangkan. "Aku rasa kau sudah melakukan yang terbaik. Sekarang kita hanya akan bisa pasrah pada Tuhan."
Malam itu mereka bermalam di rumah sakit tersebut. Saat tengah malam, Dave tiba-tiba mulai tersadar. Sedikit terkejut saat melihat alat-alat medis yang mengerumuninya. Ia mencoba membangunkan diri, tetapi terasa sulit dan malah benda yang ia jatuhnya.
Bunyi benda tersebut membuat Devina terbangun dari tidurnya. Ia melirik ke arah ranjang. Melihat sang kakak yang mencoba membangunkan diri. Gegas ia menghampirinya.
"Dave!"
"Dave, kau sudah sadar?" Devina kembali mengecek kesehatan pria itu. Demamnya sudah mulai menurun dan pria itu sepertinya sudah berhasil melewati masa kritisnya.
"Jangan bangun dulu, kau butuh istirahat," katanya.
"Apa yang kau lakukan padaku? Argh!" Dave sedikit merasakan sakit di tubuhnya.
"Aku berusaha mengobatimu," kata Devina.
"Kau pikir dirimu dokter?" Dave menuinggung dan itu membuat Devina menundukkan kepala sedih.
"Lihatlah dirimu. Apa kau sudah bercermin? Aku rasa dokter manapun akan minder melihatmu," seloroh Dave yang ternyata hanya bercanda.
Devina lantas tersenyum lebar. Mulai menatap sang kakak. "Kau selalu mengejekku."
"Kau juga mengejekku saat aku tidak bisa menjadi polisi," balas Dave sembari terkekeh.
Devina membantu Dave menyamankan posisinya. Kemudian menarik kursi dan digunakan untuk duduk di samping ranjang Dave.
Dave menyemburkan napas. Tangannya yang lemas tersebut meraba pipi Devina. Membasuh bulir bening yang turun pelan membasahi pipi.
"Maafkan aku, Devina. Aku tidak bisa menjagamu, dan ternyata kau yang harus menjagaku seperti ini. Aku juga tidak bisa menepati janjiku. Aku sudah berjanji akan mempertemukanmu pada ayah dan ibu. Tapi….." Dave mengambil napas berat.
Devina menggeleng. Menyentuh tangan Dave yang terasa hangat. "Tidak, Dave. Kau sudah berusaha."
"Andai aku bisa membawamu lebih cepat sebelum mereka–"
"–mereka selalu bersama kita!" Devina menyela perkataan sang kakak dengan cepat. Menelan ludah, menyembunyikan kesedihan yang amat dalam. "Bukankah kau yang selalu bilang kalau mereka selalu bersama kita? Setiap saat, di hati kita."
Dave mengangguk. Butiran embun yang semula memenuhi kelopak matanya kini mulai mencair. Terasa hangat saat melewati pipinya. "Mereka memang selalu bersama kita."
"Kau cepatlah sembuh. Agar aku tidak menjadi dokter abal-abal lagi." Devina mengatakan hal itu dengan nada lelucon.
Dave terkekeh. Kemudian matanya melirik ke arah Victor yang tampak terlelap memeluk anaknya di sebuah kursi panjang.
"Kau bertemu dengannya lagi di mana?" tanya Dave merujuk pada Victor.
Devina menoleh, memandang ke arah Victor. "Aku bertemu saat sedang frustasi mencarimu. Saat itu aku duduk sendirian, lalu dia datang. Kami tidak menyangka bisa bertemu lagi. Mereka membantuku mencarimu. Bahkan Teddy yang lebih dahulu melihatmu." Devina menjelaskan dengan senyuman sembari memandang wajah Teddy yang polos tengah terlelap.
"Anak kecil itu memang jagoan," kata Dave sembari terkekeh. "Lalu, bagaimana dengan pria tua itu?"
"Simon?" Devina menimpali. "Dia bersama kami. Tapi, entah ke mana dia sekarang." Devina bahkan baru tersadar kalau pria itu tiba-tiba menghilang.
"Dave, aku rasa di menghilang." Wanita itu beranjak dari duduknya. "Aku akan mencarinya sebentar!" katanya lagi kemudian bergerak keluar ruangan.