Senda Gurau

1012 Kata
Devina bergerak keluar ruangan guna mencari Simon yang tiba-tiba meninggalkan kursi tepatnya terlelap. Dia menemukan pria itu berdiri di balik jendela kaca yang retak sembari memperhatikan suasana luar. "Hei, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Devina. Simon melirikan mata ke samping sejenak tanpa menoleh ke arah wanita di belakang. Kembali pandangannya tersebut fokus pada suasana luar. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Devina lagi. "Aku sedang dunia ini." Simon menjawab singkat. "Apa yang kau lihat dari dunia ini?" Devina sampai di sebelah Simon. "Kehancuran." Simon menjawab dengan napas yang mendengus. Devina memutar mata malas. Seakan sudah muak dengan asumsi lelaki tua itu tentang kejadian yang menimpa alam semesta saat ini. "Maaf, jika kau memang benar-benar bisa melihat masa depan, bisakah kau katakan padaku. Apakah kita akan selamat dari semua bencana ini?" tanya Devina dengan nada menyinggung. Simon menoleh ke arahnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tetapi raut wajahnya mengandung arti yang sulit ditafsirkan. Devina tersenyum sumbang seraya menggelengkan kepala. "Kau tidak bisa menjawab, kan? Jadi tolong, berhentilah seolah-olah kau tahu segalanya." Setelah mengatakan itu, Devina lantas memilih enyah dari sana. Meninggalkan Simon yang masih mematung sendirian. Wanita itu bergerak masuk ruangan. Kembali mendekati Dave yang terbaring. "Apa kau menemukannya? Di mana pria tua itu pergi?" tanya Dave dengan suaranya yang masih lemah. Devina mendengus. Mengambil posisi duduk di kursi samping ranjang. "Dia ada di luar. Sikapnya aneh. Dia selalu mengatakan kalau dunia ini akan hancur." Dave terkekeh pelan. Itu membuat Devina mengernyitkan dahi terheran. "Kenapa kau tertawa?" tanya Devina. "Aku hanya tertawa saat melihat wajahmu yang kesal itu. Hehe." Dave menghentikan tawanya. "Sudahlah, lupakan dia. Para orang tua memang begitu bukan? Tidak kah kau ingat kakek dulu? Dia selalu menceramahi kita saat kita keluar malam." "Iya, aku ingat." Dave dan Devina mengingat masa-masa muda mereka yang penuh warna. Segala hal lucu yang terbayang di pikiran mereka membuat mereka tertawa bersama. Hingga akhirnya mereka kelelahan dan Dave kembali terlelap. Sementara Devina ikut terpulas di kursi sampingnya. Pagi menyongsong saat itu. Victor terbangun lebih dahulu. Ia terbangun dengan sangat hati-hati lantaran tak ingin membangunkan sang putra yang tidur di pangkuannya. Ia mengatur tubuh putranya itu untuk terbaring di kursi, dan ia bangkit setelahnya. Dilihatnya Simon yang juga mulai memasuki ruangan. Wajah pria itu sangat suram. "Hei, dari mana kau pagi-pagi seperti ini?" tanya Victor. "Aku di luar dan aku tidak tidur semalaman," jawab Simon. Victor sedikit mengernyitkan dahi. "Kenapa kau tidak tidur?" Saat Simon tak jadi menjawab saat tiba-tiba Devina mulai terbangun. Victor dan Simon menatapnya. Devina menguap. Matanya pedih sekali. Ia hanya tidur beberapa jam saja. Pandangannya tertuju pada Dave yang masih terlelap, sebelumnya akhirnya memindahkan pandangan tersebut ke arah Victor dan Simon. Victor berjalan mendekatinya. "Hi, selamat pagi!" sapa Victor. "Pagi. Kau sudah bangun?" Devina membalas menyapa. "Ehm. Bagaimana keadaan kakakmu? Aku harap dia jauh lebih baik," ucap Victor. Kedua mata Devina menyorot ke bawah, tepat ke arah Dave. "Syukurlah kondisinya jauh lebih baik. Tapi dia butuh istirahat." Kini Devina kembali menatap Victor. "Victor, bisa kau bantu aku mencari obat-obatan suntik?" "Ehm. Ayo! Mungkin ada di ruang medis." Victor mulai membalikkan tubuh. "Teddy masih tidur. Apa tidak masalah jika kau tinggal?" Devina bertanya sembari memandangi Teddy. "Ada Simon di sini. Dia bisa menjaganya." Victor menoleh ke arah Simon. "Simon, kau tolong jaga Teddy dan Dave, ya? Kami hanya sebentar saja," sambung Victor. Pria baya itu langsung mengangguk tanda setuju. Di ruang medis, Victor tampak mengobrol bersama Devina sembari memilih-milih obat yang masih layak untuk digunakan. "Apa kau tidak merasa aneh dengan Simon?" tanya Devina. "Kau tahu, tadi malam dia mematung sendirian di luar. Entah apa yang dilakukanya." "Dia memang agak aneh." Victor merespon. "Dia selalu berkata kalau dunia ini akan hancur. Dan katanya itu karena Tuhan murka dengan umat manusia." "Orang tua memang selalu berbicara seperti itu. Menyalahkan manusia-manusia milenial." Devina menyemburkan napas.q Saat mereka sedang asyik berbincang, Teddy mulai terjaga dari tidurnya. Anak itu menyadari tak ada sosok ayahnya di sampingnya. Ia langsung khawatir. "Papa!" Teddy mengucek kedua matanya. Mulai membangun diri. "Hei, Sobat kecil. Kau sudah bangun?" Simon menghampirinya dengan tersenyum ramah. "Papa di mana?" tanya Teddy dengan raut murung. Kedua matanya menyapu pandang interior ruangan tersebut tetapi tak menemukan sang ayah. "Papamu keluar sebentar. Dia ada di ruangan lain untuk mencarikan obat untuk Dave," kata Simon. Teddy menoleh ke arah ranjang. Melihat pria kekar yang tumbang di atasnya. "Dia masih sakit?" tanyanya. "Ehm. Dia–" "–Teddy!" Tiba-tiba Victor datang dari arah pintu. Senang melihat putra semata wayangnya sudah terbangun. Teddy menoleh, melihat ayahnya dengan beberapa kotak obat di tangannya. "Papa!" panggilnya. Anak itu hendak beringsut dari kursi. Tetapi ayahnya langsung menghentikannya. "Sebentar, ya, Nak!" Victor buru-buru meletakkan sekotak obat tersebut di meja. Lantas beralih ke arah Teddy. "Putraku!" Victor meraih tubuh mungil tersebut dan menggendongnya. "Bagaimana tidurmu, apa sangat nyenyak?" "Punggungku sakit, Papa! Aku tidak mau tidur di kursi lagi," ucap Teddy sembari menggeleng, membuatnya semakin terlihat gemas saja. "Oh, ya? Mana yang sakit coba Papa lihat!" Saat Victor sibuk bersenda gurau bersama sang anak, Devina mulai menyiapkan suntik untuk Dave. Ketika wanita itu hendak menyuntikkan ke lengannya, tiba-tiba Dave terbangun. "Hei, apa yang akan kau lakukan?" Dave langsung mencoba membangunkan diri. Walau terasa sedikit kesusahan. "Dave, aku hanya ingin menyuntikmu!" ujar Devina. "Tidak perlu!" Dave mencoba mengelak. "Aku tahu kau alergi jarum suntik, tapi ini demi kebaikanmu!" "Berhentilah bersikap seolah-olah kau ini dokter. Aku tidak mau di suntik!" Dave bagai anak kecil yang ketakutan di sudut ranjang. "Oh ya? Kau selalu menganggap dirimu polisi yang hebat. Polisi mana yang takut dengan jarum suntik?" balas Devina mengejek. Hal itu membuat Teddy tergelak. Pun begitu dengan Victor. "Dave, cepat! Ini suntiknya sudah siap!" Devina tak mau menyerah. "Aku tidak mau. Kau saja yang disuntik!" Dave sangat keras kepala. Teddy menggelengkan kepalanya sembari menepuk jidatnya. "Mereka seperti anak kecil. Iya, kan, Papa?" Victor tertawa. Pun begitu dengan Simon. "Hei, kalian… jangan menertawakanku!" Dave berkata pada Victor dan Simon. Lantas kembali menatap adiknya. "Devina, cepat singkirkan jarum itu dari hadapanku!" "Diamlah, Dave!" Devina mendekat dan langsung menyuntikkan di lengan Dave. Dave menjerit sejadi-jadinya. Itu semakin membuat mereka tergelak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN