Setelah Dave dinyatakan sembuh, Mereka mulai melanjutkan perjalanan mencari tempat yang aman lantaran kota yang ditinggali saat ini sangat rawan akan bencana.
Sebuah mobil putih yang sudah sedikit rusak itu masih menemani perjalanan Victor. Dia bersama sang putra serta ketiga temannya mencoba mencari tempat untuk berteduh.
"Sekarang tujuan kita akan ke mana?" tanya Devina.
"Aku rasa di kota akan sangat berbahaya lantaran ada begitu banyak gedung-gedung pencakar langit. Jika terjadi bencana, maka itu bisa menjadi ancaman bagi kita semua." Victor memberi jeda sejenak. Membasuh tenggorokannya dengan saliva. "Terlebih, orang-orang kota sudah mulai sunyi. Sebagian besar menjadi zombie, dan sebagiannya lagi tewas dilanda oleh bencana." Amat berat saat mengatakan hal itu, mengingat keluarganya sendiri kini sudah tak ada lagi di dunia.
"Bagaimana kalau kita ke desa?" Dave tampak menyarankan. "Seperti yang Victor jelaskan tentang kondisi di kota, aku rasa di desa tempat yang cocok untuk kita. Yah, paling tidak untuk sementara waktu sampai kondisi ini bisa diatasi. Dan mungkin juga bencana belum mencapai daerah pedesaan."
"Tapi, Dave… bukannya di desa harusnya malah hancur?" Devina mengernyitkan dahi.
"Memang, tapi daerah rawan bencana itu justru di kota-kota besar. Aku punya teman dahulu. Dia tinggal di desa. Saat kami bertemu, dia selalu bercerita kalau kehidupan di desa sangat mengasyikkan dan presentase bencana sangat kecil terjadi di sana," kata Dave menyakinkan.
"Aku setuju dengan Dave!" Victor berdecak. "Tapi, ke desa mana kita akan singgah? Pokoknya yang penting harus sedikit jauh dari kota ini."
"Aku rasa daerah di dekat perbukitan cocok. Di sana pasti lahannya masih hijau. Mata kita bisa segar sedikit setelah melihat begitu banyak keruntuhan dan kengerian," saran Dave. "Bagaimana?" tanyanya kemudian meminta pertimbangan.
"Baiklah, aku setuju." Devina mengiyakan.
"Aku juga." Victor menarik napasnya lega. "Simon, bagaimana pendapatmu? Kau yang lebih tua dari kami semua, sudah sewajarnya jika kami meminta pendapatmu terlebih dahulu." Victor bertanya pada Simon yang duduk di kursi sampingnya sembari memangku Teddy.
Anak kecil itu tampaknya tengah terlelap dalam tidurnya.
Simon terdiam beberapa jenak. Sejatinya ia ingin mengatakan, kalau tempat manapun mereka gunakan berpijak, kalau bencana sudah datang, tidak akan bisa ada yang mengelak. Tetapi ia sadar, perkataannya tersebut hanya akan membuat mereka semakin geram terhadapnya. Mengingat setiap ia berbicara soal masa depan, mereka menjadi tidak suka.
"Terserah kalian saja," jawab Simon singkat.
"Aku anggap perkataanmu ini sebagai tanda persetujuan." Dave di kursi belakang menimpalinya.
"Oke. Kalau begitu mari kita menuju perbukitan." Usai mengatakan hal itu, Victor lantas menggerakkan roda mobilnya menyusuri jalanan menuju perbukitan.
Setelah beberapa gedung hancur yang dilewatinya, juga jalanan yang sedikit rusak, akhirnya mobil Victor berhasil meninggalkan perkotaan dan mulai menuju ke sebuah perbukitan. Pepohonan tampak masih rapi berjejer di pinggiran jalan. Semak-semak juga tumbuh subur di bawahnya. Semuanya tampak hijau dan segar.
Mereka tampak terlelap kecuali Victor dan juga Simon. Sebuah batu cukup besar mengganjal di depan roda mobil Victor sehingga membuat mobil tersebut sedikit oleng dan Victor menghentikannya secara mendadak. Hal itu membuat semuanya terbangun.
"Papa…." Teddy tampak meringik di pangkuan Simon.
Pria baya itu mengelusnya untuk menidurkannya kembali. Tetapi suara Dave dan Devina di belakang membuat Teddy benar-benar terjaga dari tidurnya.
"Arghh! Apa kita sudah sampai?" Dave menguap. Melihat ke sekelilingnya yang tampak hijau.
"Di mana kita?" Devina ikut bertanya.
"Sepertinya ada masalah dengan roda mobilnya," kata Victor sembari menoleh ke belakang. "Sebentar aku coba!"
"Papa!" Suara Teddy menghentikan pria itu.
Victor menoleh ke arahnya.
"Sayang."
Teddy mulai mendudukkan tubuhnya.
"Papa mau ke mana?" tanya anak itu. Wajahnya masih tampak mengantuk.
"Papa akan keluar sebentar mengecek mobil. Kau di sini dulu, oke?" Victor mengelus pipi sang putra sembari memamerkan garis bibirnya tersenyum. Kemudian ia gegas membuka pintu mobil dan keluar.
Victor merasakan udara yang begitu sejuk di luar sana. Semilir angin menerpa dedaunan dan udara masuk ke rongga hidung pria itu.
"Hufft!" Victor menghembuskan napas. Lantas mulai mengecek roda mobilnya.
Dave ikut keluar dari mobil. Udara segar langsung menyambutnya.
"Ufff… akhirnya … setelah sekian lama aku tidak menghirup udara seperti ini." Dave merentangkan kedua tangannya, melakukan perenggangan otot-ototnya.
Victor melirik ke arahnya. "Sepertinya ini tempat yang cocok untuk kita sembunyi dari marabahaya. Bukan begitu, Dave?" tanya Victor sedikit bercanda.
"Yah, kau benar. Tetapi tidak selamanya benar." Dave berucap sembari melihat seekor ular yang berukuran cukup besar tengah melilit di sebuah dahan pohon.
"Apa ada masalah serius dengan rodanya?" tanya Dave melirik ke arah Victor.
"Tidak. Sepertinya rodanya hanya menabrak batu saja tadi. Jalanan ini sedikit naik, karena itu mungkin agak susah untuk kembali melaju. Tapi…." Victor menggantung ucapannya. Mulai mendirikan tubuhnya.
"Tapi apa?" tanya Dave.
"Aku rasa aku perlu bantuan kalian untuk mendorong mobil ini."
Dave langsung mengernyitkan dahi tidak percaya.
Victor kembali masuk ke dalam mobil. Siap menyalakan mobilnya. Sementara Dave, Simon dan Devina siap mendorong mobil tersebut untuk membantunya berjalan.
"Satu… dua … tiga …!" Dave memberi aba-aba pada Simon dan Devina. Mereka mendorong benda besi tersebut bersamaan.
"Sedikit lagi!" Victor berteriak dari dalam seraya terus memutar kemudi.
"Ayo lagi. Satu dua tiga!"
Akhirnya mobil tersebut pun bisa kembali berjalan. Dave, Simon, dan Devina segera naik ke dalam mobil pada posisi masing-masing.
"Papa kita mau ke mana?" Teddy bertanya pada sang ayah.
"Kita akan mencoba cari tempat, Nak!" jawab Victor sembari tersenyum.
Mobil Victor mulai menaiki perbukitan. Mulai terlihat pula perumahan penduduk di sekitar sana. Juga terlihat daerah perkotaan yang tampak hancur dari sana.
Dave dan Devina sibuk memperhatikan pemandangan tersebut di sekitarnya. Perumahan penduduk mulai terlihat banyak.
"Sepertinya di sini belum terjamah bencana. Orang-orang juga tampak sehat," kata Dave saat melihat beberapa orang yang berlalu lalang di depan rumah mereka.
"Papa, lihat!" Teddy menunjuk ke arah pucuk gunung yang begitu tinggi. Gunung tersebut terlihat hijau.
Victor menengok. "Itu gunung, Sayang. Kau suka?"
Teddy mengangguk mantap. "Sepertinya indah sekali, Papa. Bagaimana kalau kita main ke sana? Teddy belum pernah melihat gunung sebelumnya."
"Iya, nanti kita ke sana, ya!" ucap Victor membuat Teddy berdecak gembira.
Sementara Simon yang memangkunya hanya terdiam dengan raut wajah penuh arti.
"Victor, kita coba tanya salah satu penduduk desa di sini. Siapa tahu ada penginapan untuk kita," saran Dave.
"Baiklah." Victor menyetujuinya. Mulai menepikan mobilnya dan berhenti di tepian jalan.
Lantas mereka mulai keluar satu persatu.
Victor dan Dave bergerak ke salah seorang warga.