"Maaf, apakah di sini ada penginapan?" Victor bertanya pada seorang wanita baya penduduk desa sana.
Wanita itu memperhatikan Victor dan Dave secara bergantian. Lantas kedua matanya beralih pada Devina, Simon di samping mobil sana, juga pada anak kecil—Teddy yang berada di pelukan Devina.
"Apa kalian dari kota?" tanya wanita baya tersebut.
Victor mengangguk. "Kami sedang mencari penginapan."
"Sebenarnya, ada beberapa villa di puncak sana." Wanita baya tersebut menunjuk ke arah perbukitan yang tampak sebuah atap villa di sana. "Tetapi, Villa itu sudah lama tidak ditinggali. Dan itu Villa milik orang kota. Sudah lama mereka tidak mengunjungi villanya. Suamiku yang dipekerjakan sebagai penjaganya dan aku tukang masaknya."
"Ehm." Dave mengatur nada suaranya. Kemudian maju selangkah dan berkata, "Sebenarnya… kami yang menyewa villa tersebut. Kami sudah berbicara dengan pemiliknya dan kami akan menempatinya sekarang." Dave mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang tengah berdusta.
Victor mengerutkan dahi ke arahnya. Merasa heran karena temannya tersebut telah berbohong.
"Benarkah?" Wanita baya tadi tampak ragu.
"Iya. Kami sudah menghubungi pemiliknya tadi. Kami hanya menanyakan letak villa tersebut kepadamu untuk memastikan saja. Hehe." Sebisa mungkin pria itu menyakinkan wanita tersebut..
Wanita baya itu melirik ke arah Teddy yang memasang wajah murung. Lantas kembali memantap ke arah Dave. "Sebentar, akan aku ambilkan kuncinya." Wanita itu lantas bergerak menuju rumahnya.
Victor tampak berbisik pada Dave.
"Dave, apa yang kau lakukan? Kenapa kau berbohong padanya soal villa itu?" celetuk Victor.
"Victor, dengar! Jika aku tidak berbohong, maka wanita itu tidak akan memberikan kuncinya. Sekarang yang terpenting adalah mendapatkan tempat tinggal!" kata Dave.
"Tapi bagaimana jika pemilik Villa itu tiba-tiba datang ke sini? Itu bisa saja terjadi, karena keadaan di kota sangat tidak memungkinkan untuk ditinggali, dan pemilik itu akhirnya ke sini," bantah Victor.
"Wow kau sudah memikirkan hal itu rupanya ya. Tapi apa kau memikirkan juga kemungkinan yang lainnya?"
"Maksudmu?"
"Maksudku… mungkin saja pemilik Villa itu sudah meninggal saat bencana kemarin terjadi," kata Dave begitu saja.
"Dave? Yang benar saja, kau–" Victor tak jadi melanjutkan perkataannya saat wanita baya tadi keluar dari rumahnya dan membawa sebuah kunci.
"Apa ada masalah?" tanya wanita itu sembari bergerak ke arah mereka.
"Ah, tidak. Kami hanya membicarakan soal tempat ini yang indah. Ada banyak perbukitan dan juga perkebunan. Udaranya juga sejuk. Benarkan, Victor!" Dave menepuk bahu Victor. Seolah tepukan itu mengisyaratkan pada temannya itu untuk setuju dengan perkataannya.
Victor terpaksa mengangguk sembari tersenyum. "Yah, benar. Hehe."
"Mana kuncinya?" Dave bertanya tidak sabaran.
Wanita itu sedikit ragu untuk memberikannya, tetapi Dave langsung menariknya.
"Terima kasih," kata Dave dengan bungah.
"Kalau butuh sesuatu, kalian bisa menghubungiku," ucap wanita itu.
"Iya, pasti. Pasti kami akan menghubungimu." Dave melirik ke arah puncak. "Apakah itu villanya? Sebenarnya kami sudah melihat foto-fotonya, tetapi kalau dari sini agak tidak jelas, hehe."
"Iya, itu!"
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih!" Dave lantas mengajak Victor untuk kembali ke mobil.
Mereka memasuki mobil satu persatu. Setelah itu Victor melakukannya, meninggalkan wanita tadi yang terus memandanginya.
Sesampainya di sebuah Villa, Victor menghentikan mobilnya di halaman yang terhampar rerumputan. Villa tersebut tampak bersih. Mungkin karena suami sang wanita tadi yang selalu menjaganya.
"Sudah sampai." Victor berkata pada Teddy yang dipangku oleh Simon di sampingnya. "Ayo turun!"
Victor gegas turun dan beralih ke pintu samping. Membuka pintu tersebut dan menggendong sang putra.
Yang lainnya mulai turun satu persatu. Tatapan mereka kini tertuju pada satu benda. Yaitu villa yang cukup megah yang berdiri kokoh di hadapan mereka. Sementara tak jauh di belakang sana, terdapat puncak gunung.
"Baiklah, coba kita lihat dalamnya. Ayo!" Dave berjalan memimpin mereka. Setelah sampai di depan pintu, ia mulai membuka pintu tersebut dengan kunci yang wanita tadi berikan.
Pintu terbuka dan interior ruangan mulai tampak. Semuanya rapi. Hanya beberapa debu dan benda yang terlihat usang karena tak tersentuh oleh tangan.
"Oke, inilah tempat tinggal kita sekarang."
"Kau bayar berapa wanita tadi agar kita bisa tinggal di tempat sebesar ini?" Devina bertanya sembari menyapu pandang Interior villa tersebut.
"Kau tidak akan percaya apa yang dilakukan kakakmu," sahut Victor dengan terkekeh.
"Memangnya apa yang dilakukannya?" tanya Devina.
"Tidak ada. Aku hanya bilang kalau kita sudah membuat kesepakatan dengan pemilik Villa ini." Dave berucap tanpa dosa.
Devina menyudutkan senyumnya.
"Stop! Jangan ada yang menceramahiku. Seharusnya kalian senang aku bisa mendapatkan tempat ini untuk kalian. Kalian tidak ingin bermalam di dalam mobil yang sempit itu, kan?"
"Hei, apa kau baru saja mengejek mobilku?" Victor tampak tak terima.
"Menurutmu, apakah mobilmu sempit dan jelek?"
"Sialan!"
Mereka tampak bersenda gurau sampai malam menjemput.
Malam itu Simon tampak menemani Teddy. Mereka saling bercanda bersama. Sementara Victor, Dave, dan Devina tampak berbincang di atas balkon lantai dua. Dari sana mereka bisa menyaksikan puncak gunung yang begitu gulita.
"Oh iya, bagaimana dengan tujuan kalian?" tanya Victor. "Maksudku, saat kita berpisah beberapa hari yang lalu. Apakah kau berhasil mendapatkan yang kau inginkan?"
Dave dan Devina terdiam seketika. Mereka sama-sama menundukkan kepala dengan merenung.
"Hei, ada apa?" Victor menaikkan kedua belah aslinya.
"Kami gagal," ucap Devina.
"Devina, kalau kau tidak ingin bercerita, jangan paksakan," ujar Dave. Lantas matanya melirik ke arah Victor. "Sobat, aku minta maaf. Sebaiknya kau tidak perlu bertanya soal itu."
"Baiklah. Aku yang minta maaf." Victor mengangguk. Seakan merasa bahwa mereka memiliki kisah menyedihkan yang coba mereka pendam.
"Tidak, Dave!" Devina kembali angkat bicara. "Buat apa kita menyimpan kesedihan itu yang pada akhirnya hanya akan menggerogoti hati kita. Aku sudah lebih baik sekarang. Dan aku akan membagi hal itu, mungkin perasaanku akan jauh lebih baik." Devina menelan ludah. Menatap ke arah Victor dan mulai bercerita.
"Sebenarnya saat itu kami sedang mencoba menemui orang tua kami. Sama sepertimu yang mencoba menemui istrimu. Tetapi, saat kami sampai di rumah. Kami melihat orang tua kami sudah tiada. Mereka sakit dan sangat membutuhkan pertolongan. Nasib buruk telah mengutuk kami sehingga kami telat untuk sampai di sana tepat waktu. Dan akhirnya…." Devina menelan ludah. Air matanya kembali membanjir. "Akhirnya…."
"Akhirnya orang tua kami meninggal di hadapan kami." Dave yang melanjutkan perkataan adiknya tersebut.
Victor tertegun mendengarnya. Matanya ikut berkaca-kaca. Yah, dia tahu betul bagaimana rasanya kehilangan orang tersayang. Karena ia juga mengalami hal itu sendiri.
"Aku turut berduka." Victor menunduk. Bergerak ke arah Devina dan mengelus punggungnya.