Monster Gunung

1015 Kata
"Setelah kami memakamkan orang tua kami, kemudian kami berniat mencari kalian. Kami menaiki bus lalu tornado datang. Dan yah… kau tahu sendiri apa yang terjadi setelahnya." Dave menyemburkan napas pasrah. "Aku minta maaf telah membuat kalian mengingat kenangan pahit ini." Victor berucap sembari memandang ke arah Dave dan Devina secara bergantian. "Tidak apa-apa," ujar Dave. "Oh iya, bagaimana soal istrimu? Apakah Elena baik-baik saja? Kenapa dia tidak bersamamu?" tanya Dave. Kini giliran Victor yang terdiam. Menghela napas dengan mata terpejam. Dave dan Devina yang melihatnya, seolah menebak bahwa tidak yang baik yang terjadi. Victor meneguk saliva sejenak. "Elena meninggal. Dia sudah meninggal lama setelah ibu mertuaku meninggal," kata Victor yang langsung membuat Dave dan Devina prihatin. "Kami turut berduka," kata Dave. Victor mengangguk. Masih mencoba menahan air matanya untuk tidak lagi berlinang. "Bagaimana Teddy? Pasti dia sangat terkejut saat itu." Devina bertanya. "Kami berdua hancur. Tapi, yang membuatku kembali semangat menjalani hidup sampai saat ini adalah putraku. Dia sangat terpukul tetapi juga sangat dewasa sekali sikapnya. Kalian tahu apa yang dia katakan saat di pemakaman Elena?" Victor memberi jeda sejenak. Kedua matanya menoleh ke arah Teddy yang sibuk bercanda bersama Simon. "Dia berkata, 'Papa, jangan menangis. Nanti itu ibu ikut menangis'." Victor menarik garis bibirnya tipis. "Aku langsung memeluknya dan berjanji untuk terus menjaganya." Dave dan Devina tersenyum ke arah Teddy. "Dia memang anak yang cerdas," kata Dave. Setelah saling bertukar cerita, mereka pun memilih untuk istirahat di kamar masing-masing. Hingga suatu pagi, saat burung-burung berkicauan, Teddy terbangun dari tidurnya. Anak itu mendapati sang ayah yang masih terpulas. Ia melihat jam tangan sang ayah yang menunjuk pukul enam pagi. Lantas, anak itu mulai beringsut dari ranjang. Bergerak keluar kamar dan berjalan menuruni tangga. Semuanya masih tampak sunyi. Teddy berjalan menuju dapur. Mengambil gelas di meja dan menuangkan air pada dispenser. Air tersebut sampai tumpah lantaran anak itu sedikit kesusahan saat mematikan keran dispenser. Bunyi tegukan di tenggorokan anak itu terdengar nyaring saat ia meminum air tersebut hingga tandas. Lantas, Teddy meletakkan gelas tersebut ke atas meja. Kaki mungilnya mulai bergerak ke arah pintu belakang. Membukanya dan udara dingin langsung menerobos tubuhnya. Terasa amat sejuk. Untungnya, jaket tebal yang diberikan sang ayah tadi malam membantunya menghalau udara dingin tersebut. Alih-alih kembali, Teddy justru terus menggerakkan langkahnya maju ke depan. Kakinya kini sudah menyapa rerumputan yang menelan sepatunya. Sementara pandangannya tertuju pada puncak gunung yang terhampar tak jauh dari sana. Segerombolan burung-burung tampak keluar dari sana dan terbang menjauh. Teddy memandanginya tiada henti. Mencoba menangkap burung-burung yang bermigrasi. Di atasnya sana, terdapat ribuan burung yang beterbangan. Seakan panik telah diusir dari sarangnya. Tangan mungil Teddy mencoba meraih di atasnya. Tetapi burung-burung tersebut masih jauh darinya. Bergerombol dan membuat keadaan menjadi gelap. Hingga pada akhirnya suara bergemuruh muncul dari puncak tersebut dan membuat Teddy ketakutan. Anak itu mulai membalikkan tubuhnya. Bergerak cepat ke arah pintu. Begitu sudah mencapai pintu, ia langsung menutupnya rapat-rapat. Suara gemuruh tersebut masih terdengar walau tidak begitu jelas, juga pekikan burung-burung yang terdengar melewati atap villa tersebut. Teddy bergegas menaiki tangga. Kembali menuju kamar. Di sana ia mendapati sang ayah yang masih terlelap. Teddy mendekat dan mencoba membangunkannya. "Papa! Papa! Bangun!" teriak bocah itu. "Ada monster!" "Papa!" Victor yang mendengar suara sang anak langsung terjaga. Napasnya terengah-engah. "Teddy! Ada apa?" tanya Victor sembari membangunkan tubuh. Menatap sang putra dengan perasaan campur aduk. "Papa, ada monster. Ayo kita pergi saja dari sini!" Anak itu merengek. "Monster?" Victor mengernyitkan dahi. "Iya, Papa. Di sana ada monster. Monsternya jagat. Dia mengusir burung-burung. Suaranya juga besar." Teddy menirukan suara gemuruh dari gunung tadi. Victor beringsut dari ranjang. Bergerak menuju jendela dan membuka tirainya. Dilihatnya puncak gunung yang aman-aman saja. "Di mana monsternya, Nak?" tanya Victor. "Di gunung, Papa!" "Tapi tidak ada apa-apa, Nak, di sana. Lihat!" Victor menyingkap tirai tersebut seluruhnya. Lantas bergerak ke arah Teddy dan menggendongnya. Ia memperlihatkan puncak gunung dari sana. "Lihat, tidak ada apa-apa!" Teddy membungkam kedua matanya rapat-rapat dengan kedua tangannya. "Tidak mau. Di sana ada monster," celetuknya. Victor menghela napas berat. "Ya sudah. Kalau begitu kita sarapan saja. Apa kau sudah lapar?" tanya Victor. Teddy mengangguk. "Tapi di dapur tidak ada apa-apa." "Oh ya? Kau sudah ke sana?" Teddy mengangguk polos. "Aku tadi minum. Lalu keluar pintu belakang. Aku melihat banyak burung-burung yang terbang. Lalu ada suara monster yang keluar dari gunung." Anak itu memberi jeda sejenak. "Papa, ayo kita pergi saja. Aku takut di sini," rengeknya. "Iya, Sayang. Kita tidak lama kok di sini. Kita pasti akan pergi, oke?" "Tapi kapan?" "Iya, nanti, Sayang. Sekarang… kita sarapan dulu, ya?" Victor membawa sang putra keluar kamar. Ia berpapasan dengan Devina yang baru saja bangun dari tidurnya. "Hei, selamat pagi!" sapa Devina. "Pagi," jawab Victor. "Selamat pagi, Jagoan!" Devina berseru pada Teddy. "Pagi." Teddy menjawab dengan wajah cemberut. "Hei, kenapa?" tanya wanita itu. "Teddy bilang dia melihat Monster," jawab Victor. "Monster?" Devina mengernyitkan dahi. "Tidak ada monster di sini, Sayang." "Tapi aku mendengar suaranya di puncak gunung," celetuk Teddy. "Oh, ya?" "Itu mungkin harimau," sahut Victor pada Devina. "Bukan, Papa. Suaranya lebih besar dari harimau dan singa." Teddy membenarkan. "Oh, ya?" Devina menaikkan sebelah alisnya. Namun tidak menganggap serius ucapan bocah itu. "Baiklah kau bisa menceritakan harimau dan singa itu padaku, oke?" "Devina, bisa kau ajak Teddy sebentar. Aku akan mencoba bahan pangan di bawah. Mungkin wanita kemarin bisa membantuku," pinta Victor. "Baiklah. Ayo, Jagoan! Bersama Tante Devina!" Wanita itu mengambil alih Teddy dari gendongan Victor. "Apa Dave sudah bangun?" tanya Victor. "Entah. Kamarnya masih tertutup. Aku rasa dia belum bangun," tebak Devina. "Simon pasti juga belum bangun. Kalau begitu aku turun sendiri saja." "Kau yakin?" "Ehm. Aku akan segera kembali setelah mendapatkan bahan-bahan yang bisa dimakan atau setidaknya bisa dimasak. Kau jaga Teddy, oke?" Devina mengangguk. "Oke!" Victor mengusap lembut pucuk kepala Teddy dan bergegas menuruni tangga. "Papa mau ke mana?" Teddy bertanya dengan merengek. "Papamu mau mengusir harimau dulu, agar harimau itu tidak mengaggumu lagi. Oke?" Devina mencoba menghibur Teddy. "Aku bilang itu bukan harimau," sangkal Teddy. "Oh ya? Lalu, apa kalau bukan harimau?" tanya Devina dengan nada ringan. "Monster!" jawab Teddy mantap sembari memperagakan betapa besarnya monster tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN