Victor mengendarai mobilnya menuruni perbukitan. Melaju dengan sangat hati-hati hingga pada akhirnya sampai di perumahan warga. Ia menghentikan mobilnya di rumah wanita kemarin.
Victor keluar dari mobilnya dan melihat seorang pria baya yang berdiri di depan rumahnya, tengah memberi minum seekor kuda.
"Permisi!" Victor menyapanya setelah mendekat ke arahnya.
"Siapa kau?" Pria baya itu bertanya.
"Aku…." Victor memotong ucapannya saya melihat wanita baya yang kemarin keluar dari rumah.
"Kau pemuda yang kemarin yang menempati Villa itu, kan?" Wanita itu mencoba mengingat.
"Iya." Victor mengangguk mantap.
"Ada apa?"
"Begini, bisakah aku mendapatkan bahan makanan yang bisa dimasak?" tanya Victor langsung pada intinya.
"Ada beberapa sayuran di kebun, juga s**u sapi segar dan telur. Sebentar, akan aku ambilkan." Wanita itu lantas bergerak kembali masuk ke rumah.
"Kemarilah, duduk dulu." Pria baya tadi bersikap ramah pada Victor. Bergerak menuju tempat duduk di depan rumah.
Victor membuntutinya.
"Duduklah!" Pria baya tersebut mempersilakan Victor untuk duduk.
Victor mendudukkan pantatnya di kursi yang terbuat dari anyaman rotan.
"Kau dari mana?" tanya Pria itu.
"Sebenarnya aku dari kota dan berniat singgah di sini sejenak," jawab Victor. Masih terlihat canggung.
Pria baya itu terkekeh. "Bencana membuat para manusia berlari dan mencari tempat sembunyi. Tetapi, sebenarnya mereka hanya akan mendekatkan diri pada kematian."
Victor mengernyitkan dahi. Merasa heran dengan perkata pria baya tersebut.
"Apa maksudmu?" tanya Victor dengan sedikit terkekeh.
"Dengar, Nak! Ke mana pun kau berlari, kalau bencana itu sudah menjadi takdir, maka tidak ada satupun manusia yang bisa menghindarinya. Lihatlah, dunia semakin lama semakin menua dan manusia pasti akan musnah seiring perkembangannya zaman."
"Tapi kami datang ke sini untuk sebuah perlindungan. Kami yakin desa ini bisa melindungi kami." Victor berkata serius.
Pria itu masih saja terkekeh. "Apa kau berpikir tempat ini juga aman?"
Victor mengangguk. "Aku melihat sebuah kehidupan di sini. Kehidupan yang tidak aku temui di kota untuk saat ini. Kehidupan yang damai dan tentram."
"Tidakkah suara tadi pagi dapat membuatmu was was?" Pria baya itu kembali bertanya.
"Suara?" Victor menaikkan kedua belah alisnya. Ia juga mengingat tentang perkataan Teddy tentang suara tersebut. Victor hendak bertanya lebih jelas, tetapi wanita baya tadi sudah datang dengan sekantong bahan-bahan makanan.
"Ini, Nak!"
Victor berdiri. Mengambil bahan-bahan tersebut. Lantas merogoh sakunya. Ia sadar tak memiliki uang sepeserpun.
"Tidak perlu. Kau boleh membawa bahan-bahan itu," kata wanita itu.
"Baiklah, terima kasih."
"Tunggu dulu!" Pria baya itu mulai mendirikan tubuhnya. "Sebaiknya, kau cepat-cepat cari tempat yang lebih aman sebelum semuanya terlambat," ujarnya yang membuat Victor semakin kebingungan.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih atas kebaikan kalian." Victor lantas bergegas memasuki mobilnya, dan mulai melajukannya kembali menaiki bukit.
"Ah, itu papamu sudah datang!" seru Devina pada Teddy saat melihat mobil Victor yang memasuki halaman.
"Papa!" Teddy berlari menghampiri.
Victor keluar mobil dengan sekantong bahan-bahan makanan. Memeluk sang putra dan menciumnya.
"Papa, kenapa lama sekali?"
"Kau sudah merindukan papa?" Victor mengangkat tubuh mungil itu. Mulai menggerakkan kaki ke arah Devina.
"Ini, ada beberapa bahan makanan. Kau bisa memasaknya."
"Baiklah." Devina mengambil kantong tersebut dan bergerak menuju dapur.
Victor mulai memasuki rumah.
"Hei, selamat pagi!" sapanya saat melihat Dave dan Simon yang sudah terbangun.
"Selamat pagi!" Mereka menjawab bergantian.
"Maaf, aku telat bangun tadi. Kepalaku pusing sekali," kata Dave.
"Tidak apa-apa," ucap Victor.
"Kau tadi mengambil bahan makanan di rumah wanita kemarin?" tanya Dave.
"Ehm." Victor mengangguk.
"Hei, para pria… bisakah kalian membantuku di dapur? Sarapan tidak akan tersaji dengan cepat kalau tidak ada yang membantuku!" Devina tampak beteriak dari arah dapur.
"Lihatlah, nyonya besar sudah mulai memerintah." Dave menyemburkan napas gusar.
"Teddy, kau main dengan Simon dulu, ya! Papa akan membantu Devina menyiapkan sarapan untuk kita semua. Oke?" Victor menurunkan Teddy.
"Oke!" seru Teddy sembari mengacungkan jempolnya. Lantas anak itu bergerak ke arah Simon.
Victor dan Dave lantas melenggang menuju dapur dan mulai membantu Devina menyiapkan sarapan.
Sementara Simon mengajak Teddy keluar guna mencari udara segar. Namun udara saat itu mendadak hangat, padahal harusnya di pegunungan seperti itu udaranya akan terasa sejuk.
"Simon, apa kau merasa kepanasan?" tanya Teddy saat melihat pria itu yang menata kerah kemejanya.
Simon menatap ke arah Teddy kemudian mengangguk. "Yah, sedikit panas. Hehe."
"Ini pasti gara-gara Monster tadi!" celetuk Teddy.
"Monster?" Simon mengerling.
Teddy mengangguk lugu. "Tadi aku mendengar suara monster menyeramkan di gunung sana. Monster itu membuat burung-burung beterbangan."
"Suara monster? Burung beterbangan?" Simon bergumam, sementara pikirannya menggabungkan kedua hal tersebut.
Saat semua hidangan sudah tersaji di atas meja, mereka mulai makan dan sedikit berbincang-bincang.
"Tadi aku bertemu dengan suaminya wanita kemarin," kata Victor memulai pembicaraan.
"Oh, ya? Bagaimana orangnya?" Devina bertanya.
"Kenapa? Apa kau begitu sangat penasaran dengannya?" celetuk Dave. "Ingat, dia sudah memiliki istri!"
"Diam, Dave!" Devina melototi Dave yang berbicara sembarang.
"Kurasa dia seumuran dengan Simon," kata Victor. "Gaya bicaranya juga aneh."
"Seperti Simon juga?" Dave menyahut cepat.
Semua sorot mata langsung tertuju ke arahnya.
"Maaf, Simon. Aku hanya bercanda. Sungguh, aku tidak bermaksud mengejekmu!" celetuk Dave tanpa dosa.
"Memangnya apa yang pria itu katakan, Victor?" tanya Devina kemudian.
"Dia memperingatkan ku, memperingatkan kita, untuk pergi dari sini secepatnya," kata Victor mantap.
"Tunggu dulu. Apa dia sudah tahu kalau sebenarnya kita bukan penyewa villa ini dan telah berbohong pada istrinya?" Terdapat kerutan di dahi Dave. Sementara kedua mata pria itu mengerling menatap Victor.
Victor mengedikkan bahu tanda tak tahu. "Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi, dari perkataannya … bukan merujuk ke sana. Melainkan, ke arah lain."
"Maksudmu?" Devina mulai serius.
"Begini, jika mereka menyuruh kita pergi karena sudah tahu kalau kita bukan penyewa villa ini, dan hanya untuk menumpang saja, lalu kenapa mereka masih bersikap baik padaku? Buktinya, wanita itu memberikan bahan-bahan makanan ini secara percuma."
Victor, Dave, dan Devina mulai mengaduk asumsinya masing-masing..
Sementara Simon hanya terdiam, dan Teddy sibuk melahap makanannya.
"Lalu menurutmu apa?" Devina kembali bersuara ke arah Victor.
"Aku rasa, pria itu memperingatkan akan sesuatu yang mungkin bakalan terjadi di sini. Dia menyebut soal suara, dan tadi pagi Teddy juga bilang mendengar suara."
"Suara Monster, Papa!" Teddy menyahut.
Semua sorot kini terpaku pada sosok anak kecil itu.
"Aku tidak bohong. Ada suara monster di gunung. Monster itu mengusir burung-burung."
Dave dan Devina mengernyitkan dahi.
"Ah, mungkin itu harimau. Ya… mungkin saja ada harimau turun gunung dan pria tadi menyuruhmu berhati-hati," asumsi Dave.
"Bagaimana pendapatmu, Simon?" tanya Victor ke arah Simon yang hanya membisu duduk di sebelah Teddy.
Simon meneguk ludah. Mulai mengangkat kepala menatap mereka bergantian. "Kalau aku yang berbicara, kalian akan menganggap ku membual. Dan bahkan saat Teddy mengatakannya pun kalian tidak mengindahkan sama sekali. Lalu aku harus berpendapat apa?" Simon menjeda perkataannya sejenak.
"Kalian orang-orang kota yang sudah pernah mengemban pendidikan cukup tinggi. Harusnya kalian tahu kalau suara dari gunung sehingga membuat burung-burung beterbangan. Ini bukan soal binatang buas. Tapi hal lain yang–"
"–maksudmu gunung ini akan meletus?" Dave berucap seadanya dengan nada sedikit tinggi namun diiringi candaan.
Kini semua sorot beralih padanya.
"Aku hanya bercanda. Kenapa kalian menatapku seperti itu. Ayo makanlah lagi. Itu masih ada telur. Telurnya tidak enak bukan. Entah telur apa yang wanita itu berikan padamu, Victor. Atau… juru masaknya saja yang tidak bisa memasak dengan benar," celetuk Dave mengalihkan perhatian.
"Kau yang memasaknya, Dave!" Devina menimpalinya.
"Oh, benarkah?" Dave memajukan tubuh. Meraih telur ceplok di atas piring dan memakannya. "Umm… enak sekali. Aku memang benar-benar koki yang hebat."
Devina memutar mata malas. Sementara Victor menggelengkan kepala sembari tersenyum heran.