Teddy tampak terbangun dari tidurnya. Menggerakkan kaki mungilnya keluar kamar. Menapaki lantai dan berjalan menuruni tangga. Ia melihat kepulan asap yang membumbung kebal.
Anak itu berjalan mengikutinya.
Sampai di belakang Villa, ia melihat dengan kedua mata kepalanya kalau gunung yang menjulang tinggi tersebut menyemburkan asap yang begitu tebal. Juga, terdengar ledakan bergemuruh di dalamnya yang seakan meraung-raung hendak keluar.
Teddy terus memandanginya. Lantaran penasaran, tanpa sadar kakinya berjalan mendekat.
Ledakan semakin menyeruak hingga membakar seluruh pepohonan. Api mencuat dan lahar panas mulai membanjir.
Dor!!!
Victor terbangun dari tidurnya. Melihat sang putra tak bersamanya. Pria itu menjadi panik. Dilihatnya suasana yang begitu panas. Terdapat api di mana-mana.
Victor berlari menuruni tangga. Meneriakkan nama sang putra. Tetapi tak ada respon sama sekali.
Lantas, ia mulai mendengar suara ledakan yang bersumber dari belakang rumahnya. Victor bergegas menghampirinya.
"Teddy!"
Pria itu melihat sang putra yang terlahap lahar panas gunung meletus. Wajahnya rusak. Mencoba berjalan ke arah Victor tetapi di pertengahan jalan tiba-tiba tubuhnya roboh akibat lahar panas yang terus menggerogoti tubuhnya hingga hancur.
"TEDDY!!!"
Terjaga!
Kedua mata Victor membuka seketika. Embun keringat membasahi pipi dan wajahnya. Napasnya serupa terpenggal. Pria itu menyadari semua yang baru saja ia alami hanyalah mimpi buruknya belaka.
Segera ia membangunkan diri. Menenangkan pikir dan juga mengatur napasnya. Saat sudah sedikit tenang, ia melirik ke ranjang. Harusnya sang putra masih terbaring di sana. Harusnya sang putra masih terlelap di sampingnya. Tetapi, di atas ranjang tersebut hanya ada dirinya juga guling mungil.
Victor kembali panik.
Gegas pria itu beringsut dari ranjang. Bergerak keluar kamar. Dilihatnya suasana yang masih sepi. Teman-temannya masih belum terbangun. Dan Teddy hilang entah ke mana.
"Teddy!"
Victor menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Ia mencari ke setiap sudut ruangan hingga keluar rumah.
Dilihatnya Teddy yang tengah berdiri mematung. Tangannya meraih puing-puing kecil yang beterbangan.
"Teddy!" Victor bergegas menghampirinya.
"Papa, ada salju!" kata Teddy sembari meraih benda putih ringan yang beterbangan di sekitarnya.
Victor mengernyitkan dahi. Sama halnya dengan Teddy, ia meraih benda ringan tersebut. Menyentuhnya dan benda tersebut langsung hancur menjadi debu.
"Ini sejenis abu." Victor bergumam. Kemudian memandang ke atas. Dilihatnya langit yang gelap bukan karena mendung, melainkan ada begitu banyak abu yang beterbangan di atas sana.
Victor dan Teddy mulai terbatuk. Udara sedang tidak baik-baik saja. Hawa dingin seakan tergusur oleh suhu yang begitu tinggi. Terasa sedikit panas.
"Teddy, ayo masuk saja!" Victor mengajak sang putra masuk ke rumah. Kemudian menutup pintunya rapat-rapat.
"Sayang, kamu di sini dulu, ya!" Victor bergerak cepat menuju pintu belakang.
Teddy membuntutinya.
Victor melihat di belakang sana lebih mencekam. Kepulan asap yang membumbung kebal terlihat keluar dari pucuk gunung. Tiada habisnya seakan terus menyembur.
Satu hal yang Victor tahu, bahwa gunung tersebut sedang erupsi dan sebentar lagi pasti akan meletus.
"Papa, apa monster akan keluar dari dalam sana?" Teddy bertanya di belakang Victor.
Victor menoleh. Sedikit terkejut mendapati putranya yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
"Teddy, kenapa kau ikut keluar. Ayo masuk!" Victor meraih tubuh sang putra dan menggendongnya. Masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kembali.
Victor bergerak menaiki tangga. Menurunkan Teddy di atas sana. Sementara ia gegas bergerak menggedor pintu kamar teman-temannya.
"Dave! Bangun, Dave! Kita harus segera pergi dari sini!" teriak Victor.
Lantas beralih menggedor kamar Devina.
"Papa, ada apa?" Teddy bertanya kebingungan.
"Nak, cepat bantu Papa membangunkan Simon!" perintah Victor.
Teddy menurut. Mengangguk lantas bergerak ke arah sofa tempat Simon terbaring.
"Devina! Bangun!"
Tak lama akhirnya Dave membuka pintu. Wajahnya masih tampak mengantuk.
"Victor, ada apa?" tanya Dave di ambang pintunya. Melihat ke arah Victor yang sibuk mengetuk pintu kamar Devina.
"Dave, cepat bersiap dan kita pergi dari sini secepatnya. Gunung sedang erupsi dan sebentar lagi akan meletus!" jelas :? Victor dengan suara gugup.
"Apa?!" Dave tertegun. Bergerak ke arah jendela kamarnya. Menyingkap tirai yang menyembunyikan kaca tembus pandang. Dilihatnya dari dalam sana bahwa keadaan di luar benar-benar tertutup asap tebal.
"Sial!" Pria segera mengenakan kausnya. Bergegas mempersiapkan diri.
Devina mulai membuka kamarnya. Ia tampak terbatuk-batuk.
"Devina, cepat! Kita harus pergi dari sini. Gunungnya akan meletus."
Sesaat setelah Victor mengatakan hal itu, terdengar bunyi ledakan dari arah gunung. Itu membuat mereka membungkam kedua telinganya dengan panik.
"Devina cepat bersiap!" Victor memerintah. Raut wajahnya dilanda seribu kepanikan.
"Teddy!" Victor bergegas ke arah sang putra.
Simon datang dengan menggendong Teddy.
"Kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya!" ujar Victor. Ia mengambil Teddy dari Simon dan menggendongnya.
Lantas, mereka mulai menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Bergerak ke arah mobil satu persatu. Sebelum masuk ke dalam kendaraan besi tersebut, pandangan mereka tertuju sejenak ke arah puncak gunung yang tertelan asap tebal.
Kini mereka sudah berada di posisi masing-masing. Victor yang mengemudi, Teddy di pangkuan Simon. Sementara Dave dan Devina duduk di bangku belakang.
Mobil pun langsung melaju menuruni perbukitan. Sialnya jalanan terhalang oleh orang-orang yang sibuk berlarian menyelamatkan diri. Juga, ditambah hewan-hewan yang mulai turun gunung.
Akses jalan mereka menjadi macet.
Suara klakson terus membising saat Victor tiada henti memencet tombol klakson. Menyuruh gerombolan orang serta hewan yang menghalau di depan sana, tetapi sama saja. Mereka sama-sama panik.
"Kalau kita menunggu mereka sampai jalanan kosong, maka kita akan tersapu oleh lahar panas yang sebentar lagi keluar dari perut gunung!" Dave mendesah kesal.
"Aku juga bingung, kenapa semua ini bisa seperti ini! Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu!" Victor menaikkan nada suaranya.
"Kita coba cari jalan lain. Pasti ada!" Devina ikut berkomentar.
"Aku tidak tahu, Devina. Aku tidak tahu jalan mana yang cocok kita lewati. Semuanya padat! Aku juga bingung kenapa jadi begini."
Ledakan semakin terdengar bergemuruh. Victor melirik ke arah Teddy yang gemetar ketakutan. Lantas, ia memutuskan untuk mencari jalan pintas. Menggerakkan mobilnya menerjang perkebunan milik warga. Permukaannya yang tidak rata membuat mobil tersebut gonjang ganjing. Namun Victor berhasil mengendalikan kendaraannya tersebut hingga menerobos sampai belakang rumah wanita dan pria yang membantunya kemarin.
Victor melihat mereka berdua yang hanya berdiri diam.
Victor menghentikan mobilnya seketika. Membuat teman-temannya terheran.
"Victor, ada apa?" tanya Devina.
"Sebentar!" Victor keluar dari mobil bergerak ke arah dua pasangan suami istri.
Dave ikut keluar membuntutinya.
"Kalian, cepatlah ikut bersama kami!" Victor berteriak pada mereka, lantaran suara gemuruh dalam perut gunung mulai mengganggu.
"Sebentar… sebentar…!" Dave bergerak ke arah Victor. "Tapi mobil kita tidak muat, Victor!"
"Aku tidak bisa meninggalkan mereka di sini. Mereka sudah membantu kita sebelumnya!" bantah Victor.
"Yah, kau benar." Dave mengangguk-angguk. Lantas pandangannya beralih pada suami istri di sana. "Cepatlah, masuk ke mobil kami. Kalian akan aman!"
Dua pasangan tersebut hanya terdiam.