Letusan Gunung

1005 Kata
"Kalian pergilah. Kami akan menetap." Pria baya itu mengutarakan pendapatnya. Tentu saja membuat Victor dan Dave mengerling heran. "Tapi tempat ini sangat berbahaya. Sebentar lagi gunung akan meletus dan tempat ini pasti akan hancur!" Victor mencoba meyakinkan mereka. Namun, sepertinya kepala mereka sekeras batu pegunungan. Mereka berdua tetap kekeh pada pendirian. "Kami sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun di sini. Jika memang takdir mengharuskan kami tenggelam dalam lautan lahar gunung itu, maka kami akan menerimanya dengan senang hati," kata si pria itu tersebut yang ditambah anggukan sang wanita di sebelahnya sebagai tanda persetujuan akan perkataan yang baru saja dilontarkan. Dave dan Victor semakin heran dibuatnya. Saat mereka berusaha keras mempertahankan hidup. Berlari ke sana kemari mencari tempat aman, agar terlihat dari bahaya. Tetapi, dua pasangan suami istri tersebut malah justru menyerah pada takdir. "Apa kalian yakin tidak mau ikut bersama kami?" Dave memastikan sekali lagi. Kedua pasangan tersebut menggelengkan kepala lantas tersenyum. "Percuma kami ikut dengan kalian. Karena, ke manapun kaki melangkah, kemanapun mencoba mencari tempat berlindung, kalau sudah saatnya hancur maka semuanya akan binasa." Perkataan pria itu sudah seperti Simon saja. Tentu saja itu membuat Dave dan Victor sedikit muak. "Baiklah, kalau begitu." Dave menyemburkan napas pasrah. Kedua matanya beralih menatap Victor. "Victor, sebaiknya kita harus cepat pergi sebelum ledakan gunung semakin dahsyat!" ajaknya. Victor masih ragu untuk meninggalkan kedua pasangan suami istri tersebut. "Tidak apa-apa, Nak! Kalian pergilah. Aku doakan kalian senantiasa selamat." Pria baya itu menepuk bahu Victor. Victor menelan ludah. Mengangguk dan mengerjap sejenak. "Baiklah. Kalian jaga diri baik-baik, ya! Terima kasih sudah berbaik hati pada kami belakangan ini," kata Victor pada mereka. "Ayo, Dave!" ajaknya kemudian pada Dave. Pria di sampingnya itu masih terdiam. Meneguk ludah sejenak kemudian menatap wanita baya di depannya. "Maaf sebelumnya. Aku ingin jujur pada kalian. Sebenarnya aku telah berbohong soal Villa kemarin. Kami belum membuat kesepakatan pada pemilik Villa. Kami melakukan itu karena kami sangat membutuhkan tempat tinggal. Jadi–" Dave menghentikan perkataannya saat wanita baya di depannya menyentuh lengannya. Wanita itu tersenyum ke arahnya. "Tidak apa-apa, Nak! Aku sudah tahu hal itu." Ucapan wanita itu membuat Dave dan Victor mengerling. "Apa Victor sudah mengatakannya padamu?" tebak Dave. "Aku tidak mengatakan apa pun, Dave!" Victor menyahut. Pria baya tersebut terkekeh. "Sebenarnya kami sudah mendapat kabar seminggu yang lalu kalau pemilik Villa itu sudah meninggal." "Aku sengaja tidak mengatakan pada kalian karena aku melihat anak kecil yang kalian bawa. Sepertinya dia sangat membutuhkan tempat tinggal. Begitupun dengan kalian," sambung wanita baya tersebut. "Itu anakku." Victor menyahut sembari tersenyum. "Sekali lagi terima kasih!" Kedua pasangan tersebut mengangguk. "Kalau begitu kami pergi dulu. Ayo, Victor!" Dave lantas mengajak Victor pamit. Kedua pria tersebut gegas bergerak menuju mobilnya. Dave yang mengemudikan mobilnya. Sementara Victor duduk di bangku belakang bersama Devina. Teddy pindah ke belakang dan duduk di pangkuan sang ayah. Mereka pun membawa mobilnya menuruni perbukitan. Gunung semakin murka. Mengeluarkan semua material yang tak mampu dikandung oleh badannya lagi. Hingga suara letusan saling bersahutan. Orang-orang berteriak pilu. Mencoba mengungsi tetapi tak tahu harus ke mana. Bantuan dari pemerintah tak kunjung datang lantaran saat ini keadaan di kota juga sama mengenaskannya. Dan kemungkinan terbesar, orang-orang pemerintah juga sudah tiada akibat pandemi serta bencana yang melanda akhir-akhir ini. Semua kehidupan menjadi kocar-kacir saat setelah lockdown. Dave terus mengemudikan mobilnya. Menerobos semak-semak. Hingga pada akhirnya sampai di jalanan. Kecepatan mobilnya ditambah dua kali lipat. Membuat mobil tersebut sedikit oleng lantaran permukaan jalan yang tidak rata. Suara ledakan gunung terdengar nyaring. Material-material panas memuncrat sampai ke jalanan. "Dave, percepat lagi!" Devina berteriak. "Aku sedang mencoba!" Dave membalas dengan berteriak. Semua orang di mobil itu benar-benar panik. Victor memeluk erat tubuh Teddy yang gemetar ketakutan. Percikan api dari magma terjun serupa mercon. Menghujam ke segala arah. Sementara itu, kabut tebal berupa asap hitam memenuhi sekitar sehingga membuat pandangan mereka buram. Dave tak bisa melihat keadaan di depan. Meski sudah menyalakan sorot lampu mobil tetapi tetap saja tak mampu melihat keadaan di depan sana. Yang ia lakukan saat ini hanya fokus dan menerjang apa pun yang ada di depannya. Sekitar lima belas menit mobil tersebut melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Dan kini sudah sampai pada jalan raya. Mereka berhasil keluar dari desa tersebut, tetapi asap tebal masih belum hilang. Namun, tidak begitu tebal seperti yang sebelumnya. Dan dari sana, mereka bisa melihat puncak gunung yang tertelan oleh awan hitam pekat yang terus menyembur dari dalam. Selain itu, percikan api yang begitu dahsyat juga mendominasi. Bahkan sengatan hawa panas sampai pada mereka. Kulit mereka terasa terbakar. "Dave, gerakan mobilnya lagi. Jika gunung itu meledak, kemungkinan besar masih sampai di sini!" ujar Victor. Tanpa menjawab, Dave kembali menambah kecepatan mobilnya. Keempat roda tersebut terus berputar tiada henti bagai gasing. Menjauh sejauh mungkin. Hingga suara ledakan dahsyat menggelar merasuk gendang telinga mereka. Devina dan Victor melihat ke belakang. Mereka melihat gunung tersebut yang meletus dan mengeluarkan begitu banyak material panas seperti lava pijar, bebatuan, abu, dan awan panas. Lava adalah campuran batuan cair yang berpijar yang berada di atas permukaan bumi.Jika lava masih berada dalam perut bumi, maka disebut dengan magma. Magma adalah batuan cair yang berasal dari ruang dalam kerak bumi. Di dalam perut bumi, magma dapat bergerak yang dipengaruhi oleh magma yang terdapat di perut bumi bisa naik ke permukaan bumi karena terdorong gas bertekanan tinggi. Gas bertekanan tinggi ini kemudian akan mendorong magma sedikit demi sedikit ke permukaan bumi. Hingga pada akhirnya, magma dan gas akan keluar ke permukaan bumi. Victor bisa membayangkan betapa hancurnya daerah di sekitar sana. Dan mungkin saja dua pasangan suami istri tadi sudah lenyap menjadi abu. Teddy hendak menengok ke belakang tetapi Victor menghalanginya dan memeluknya erat. "Papa, apa monsternya masih mengejar kita?" tanya anak itu polos. "Semuanya akan baik-baik saja, Nak! Papa di sini bersamamu!" Victor mengecup pucuk kepala sang putra berkali-kali. Sementara Devina mulai memindahkan pandangannya ke depan. Mengerjap. Memendam dalam-dalam memorinya saat melihat ledakan tadi. Simon hanya hanya terdiam tanpa suara di samping Dave. Sedangkan Dave terus mengemudikan mobilnya, terus membawanya menjauh. Mereka kini sudah cukup jauh dari gunung tersebut. Bahkan pucuk gunungnya sudah tak lagi terlihat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN