Dave melajukan mobilnya sampai di perkotaan yang masih layak dihuni. Di sana masih ada beberapa orang yang berlalu lalang. Bangunan juga masih berdiri kokoh. Mereka seperti mendapatkan sedikit titik terang di tengah ketegangan yang melanda.
Dave menghentikan mobilnya di pinggiran jalan. Melihat keadaan luar dari kaca mobil.
"Sepertinya kota ini belum tersentuh bencana. Lihatnya, semuanya layak. Yah, meskipun tanpa sedikit sunyi," kata Dave. Matanya tiada henti memandang sekitar.
"Kau benar, Dave. Mungkin kita bisa singgah sejenak di sini," sahut Victor.
"Sampai kapan?" Simon bertanya tiba-tiba.
"Sampai kondisi membaik." Devina melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Berdiri memandang suasana luar. Menghirup udara yang masih tak segar seperti sedia kala.
Dave ikut keluar.
Devina bergerak mendekati salah satu seorang pria di sana. Ia bertanya pada orang tersebut.
"Permisi, apa ada penginapan di sekitar sini?" tanya Devina.
"Di depan sana kau bisa mendapatkan apartemen. Ada banyak apartemen di sana," kata orang tersebut.
"Apa tempat ini aman?" Dave yang baru sampai di samping Devina langsung bertanya begitu saja pada pria tersebut.
Pria itu terdiam sejenak.
"Aku tidak tahu kedepannya, tetapi … sejauh ini kota ini belum terdampak apa pun," ucapnya. "Apa kalian bermigrasi? Bagaimana keadaan di kota sebelumnya?" Pria itu balik bertanya.
Dave menghela napas berat sembari menggelengkan kepala.
"Semuanya tidak ada yang baik. Kota kami hancur dan tidak ada yang tersisa."
"Kalau begitu terima kasih. Kami akan coba mencari apartemen yang kosong!" Devina tersenyum ke arah pria tersebut.
Lantas Dave dan Devina kembali berjalan menuju mobil.
"Bagaimana?" tanya Victor saat Devina masuk ke dalam mobil.
"Pria itu berkata kalau ada apartment di sana. Mungkin kita coba menjadi tempat yang kosong," jawab Devina sembari membenarkan posisi duduknya.
"Kabar baiknya di sini belum tersentuh bencana. Tapi tidak tahu akan bertahan sampai kapan." Dave menyahut. Mulai menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Kita lihat saja," gumam Victor.
Mobil kembali melaju. Menyusuri jalanan yang diapit gedung-gedung pencakar langit. Hingga sampai di sebuah deretan gedung, Dave menghentikan mobil tersebut.
"Apa ini tempatnya?" Devina membuka kaca jendela.
"Kurasa. Coba kita pastikan dulu!" Dave membawa mobilnya masuk ke dalam tempat parkir.
Mobil itu berhenti dan mereka mulai keluar satu persatu. Dave dan Victor berjalan menuju resepsionis. Yang lainnya mengikuti.
Mereka mempertanyakan apakah ada tempat kosong pada petugas resepsionis. Sayangnya hanya ada satu apartemen yang kosong. Dan itu yang paling sempit. Lantaran banyaknya orang yang bermigrasi ke sana. Mereka tidak punya pilihan selain menerima apartemen tersebut. Dave membujuk pekerja resepsionis tersebut terkait biaya sewa. Setelah membuat kesepakatan antara kedua belah pihak, mereka pun mulai naik ke apartemen. Kebetulan mereka mendapatkan unit lantai atas, yaitu lantai lima belas.
"Lumayan. Cukup setidaknya untuk kita berempat." Devina memandangi interior apartemen tersebut.
"Kau melupakan satu orang lagi, Devin!" seloroh Dave. "Kau tidak menghitung jagoan kita!" tunjuknya pada Teddy.
Devina tersenyum lebar. Merendahkan tubuhnya menyamakan tinggi Teddy. "Jadi, kau juga termasuk orang dewasa?" tanyanya dengan bercanda.
"Tentu saja! Aku sudah dewasa. Iya, kan, Papa?" celetuk Teddy.
"Iya, Sayang." Victor terkekeh sembari mengelus pucuk rambut sang putra.
"Ya Tuhan!" Simon tiba-tiba bergumam dengan posisi menghadap jendela kaca besar tembus pandang.
"Ada apa?" Dave terheran sembari berjalan mendekatinya.
Kedua mata Simon masih menatap ke depan. Tepat memandang ke arah hamparan laut yang terlihat luas di sana.
"Ada apa? Apa ada sesuatu?" Dave masih bertanya.
Victor yang mendengar perbincangan mereka mulai berjalan mendekat. Sementara Devina masih sibuk bersenda gurau bersama Teddy.
"Laut!" ucap Simon dingin.
"Kenapa dengan laut?" Victor menyahut dengan bertanya.
"Kenapa kalian tidak memastikan terlebih dahulu kalau tempat ini dekat dengan laut?" Simon bertanya serius.
"Memangnya kenapa kalau dekat dengan laut? Bukankah itu malah bagus? Kita bisa melihat pemandangan dari sini. Ah, ya … di sana juga ada gunung!" Dave menunjuk ke arah gunung yang terlihat di seberang laut.
"Celaka!" Simon semakin menunjukkan raut wajah panik.
"Kenapa sih?" Dave masih tak mengerti.
"Dave, aku rasa ide buruk berada di tempat seperti ini dalam keadaan seperti ini." Victor yang berbicara. "Jika bencana sampai mencapai tempat ini, maka gunung itu akan terpengaruh. Dan di bawahnya ada air laut. Kau bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Tsunami!" jawab Dave mantap.
"Apa?" Devina yang mendengar, menjadi panik.
"Tidak, kami hanya menganalisa saja!" jawab Dave. Pria itu menunduk. Menggaruk janggutnya sembari berpikir. Lantas kedua matanya beralih memandang Victor. "Kau benar. Tapi kita tidak bisa mencari tempat lain selain ini. Begini saja, kita sementara akan di sini. Kalau kita merasakan ada sesuatu yang tidak baik, maka kita akan cepat pergi dari sini," saran Dave.
"Tapi bagaimana kita bisa merasakan bencana itu kapan dan di mana akan terjadi? Kita bahkan selalu saja berada dalam masalah." Devina menyahut dengan nada suara panik.
Dave memandang ke arah Simon. "Bukankah kita punya pawangnya?" Perkataan Dave tersebut langsung membuat Victor dan Devina menatap ke arah Simon.
Simon menjadi gugup. Kepalanya menggeleng. "Kalian tidak akan pernah bisa percaya padaku," ujarnya.
"Tapi kali ini aku percaya!" Dave berkata demikian, walau masih sedikit ragu. Pria itu menghela napas. "Maaf sebelumnya aku tidak pernah mempercayai insting dan perkataanmu. Karena kau tahu sendiri, kami orang modern tidak lagi percaya peramal. Tetapi, setelah melihat semua kejadian yang kita alami dan kau sudah mempridiksi hal itu sebelumnya, maka aku sedikit percaya akan instingmu itu." Dave menoleh ke arah Victor dan Devina secara bergantian.
"Bagaimana menurut pendapat kalian?" tanyanya.
"Kurasa tidak ada salahnya percaya pada seorang teman. Bukankah Simon juga sudah bagian dari kita?" ujar Victor.
Devina mengangguk. "Kami percayakan padamu!" ucapnya pada Simon.
Simon tersenyum tipis. "Terima kasih. Tapi, perlu kalian ketahui, instingku tidak selalu benar. Bisa juga salah sasaran. Karena bencana dan kehancuran, hanya Tuhan yang tahu kapan itu terjadi."
"Yah, baiklah. Mulai sekarang aku juga akan mendengar nasihat tetua mu itu. Hahaha!" seloroh Dave.
Mereka tertawa bersamaan.
Malam itu semuanya tampak terlelap. Hanya Simon yang masih terjaga dan berdiri di balkon luar. Sorot matanya tertuju pada air laut yang terhampar. Gelombang sedang tidak baik-baik saja dan awan hitam tampak berkerumun di tengah laut sana. Seakan mengisyaratkan akan sesuatu.
Meskipun kota tersebut masih belum terserang bencana alam, tetapi bencana kecil seperti akses sarana prasarana kota menjadi terhambat. Tidak ada tenaga listrik dan mereka mengandalkan api lilin sebagai cahaya penerang. Hal itu membuat suasana di sekitar sana menjadi gelap total. Terlebih, rembulan sudah absen menerangi bumi sejak beberapa bulan yang lalu.
Firasat Simon sedang tidak baik-baik saja saat melihat air laut yang mulai pasang.