Perangkap Ular

3294 Kata
Api menggulut, merentak ke segala arah. Membakar gorden kamar tanpa ampun. Asapnya menyembul hitam memekak ke segala tempat. Dave yang mendengar suara tembakan dari atas langsung menuju ruang atas. Dilihatnya sebuah ruangan yang terus mengeluarkan kebulan asap. Segera ia percepat langkahnya, dan mendobrak pintu itu. Betapa terkejutnya dia, matanya dengan jelas melihat sesosok Ravi yang tergeletak tak sadarkan diri di tengah guratan api. Dan tubuhnya terbasuh akan darah segar. “Ravi!!!!” pekiknya histeris. Simon, Victor, Krystal, dan Devina yang mendengarnya langsung menuju ruang atas. Begitu melihat kebakaran di kamar, mereka terkejut dan langsung mengeceknya. Namun keterkejutan lebih meningkat ketika melihat salah satu temannya tergeletak penuh darah. “Siapa yang melakukan ini?” teriak Dave. Tiba-tiba Selena datang. Ia ikut keheranan dengan datangnya api yang secara tiba-tiba membakar ruangan itu. Ia menelepon polisi untuk segera datang ke tempat insiden itu. Tak polisi datang, dan segera bertindak. Beberapa anak buahnya mengamankan tubuh Ravi yang tak sadarkan diri. Sedangkan pimpinan polisi melihat seorang gadis yang tergeletak di antara sisi ranjang. Gadis dengan pistol di tangannya. Itu mungkin gadis yang menembak Ravi tadi, dan belum sempat melarikan diri, asap sudah membuatnya terbius hingga pingsan. Polisi mendekat ke arah gadis itu, sebelum menyentuhnya, gadis itu tiba-tiba bangun. Betapa terkejutnya Dave dan lainnya begitu melihat wajah gadis itu. “Nia?” sepatah kata terucap dari mulut Krystal dengan raut muka seribu pertanyaan. Nia menyadari akan keramaian di sekitarnya. Ia begitu takut melihat api, apalagi seorang inspektur polisi di depannya. Ia melirik ke arah tangannya yang menggenggam senjata hitam. Buru-buru ia lempar pistol itu. Lalu ia menyadari akan kulitnya yang juga ternoda darah segar. “Apa yang sebenarnya terjadi, Nia?!” tanya Dave. Nia tak mampu berkata-kata, mulutnya itu seketika terkunci begitu melihat keadaan sekitar yang begitu heboh. Wajah ketakutan dan kecemasan mulai menonjol dari mukanya. “Apa kau yang melakukan semua ini nona? Kau yang membunuh pemuda itu?” tanya Polisi. “A-pa ... Apa yang terjadi ... Aku ... Aku tak melakukan apa pun,” ucapnya terbata-bata. “Kau telah membunuhnya, Nia!” teriak Devina.. “Kau telah membunuh seseorang dan membakar kamar ini, maka kami harus membawamu ke kantor polisi!” kata inspektur. “Borgol tangan gadis ini!” teriak inspektur pada anak buahnya. Anak buah polisi langsung menurut apa yang dikatakan pimpinannya. Dua polisi itu menarik Nia dari duduknya, dan yang satu memborgol pergelangan tangan model itu lalu menguncinya. Kini bukan lagi gelang permata dengan ribuan perak yang menghiasi tangan lembut Nia, namun sebuah gelang besi yang memborgol sebagai tanda seorang tahanan. Nia masih saja mengelak, ia mengatakan tak mengerti apa pun tentang semua ini. Ia memberontak, mengatakan umpatan apa pun pada petugas berseragam itu. “Lepaskan aku! Kalian tak tahu siapa aku! Aku anak pengusaha kaya, dan aku seorang model, lepaskan atau aku akan menuntut kalian di pengadilan!” cercanya. “Berhentilah mengoceh soal hukum Nona, bahkan kau sendiri yang akan dituntut atas dasar pelenyapan nyawa seseorang!” tegas inspektur. Nia memandangi teman-temannya yang hanya dia melihatnya. Hanya air mata yang mereka menghiasi wajah-wajah kaku mereka. Di antara mereka, Nia tak menemukan seseorang yang penting di hidupnya. Kekasihnya itu tak terekam oleh matanya. “Kenapa kalian diam saja! Kenapa kalian tak menghentikan mereka yang menahanku! Dave, kenapa kau tak mau menatapku!” Nia begitu marah pada teman-temannya, terutama Dave yang harusnya ia bertindak untuk menghentikan penangkapan tak berarti ini. “Ravi pasti akan menolongku, tidak seperti kalian yang hanya membisu! Di mana dia? Ravi di mana kau?!” Nia berteriak. “Bangunkan dia kalau kau bisa!” sahut Victor di sela-sela matanya yang terus menitik. “Apa dia tidur? Di mana dia, kenapa dia membiarkan para polisi ini memborgol tangan pacarnya? Di mana, biar aku bangunkan dia?!” Nia semakin memberontak, namun dua polisi terus menahan erat tangannya. “Ravi! Bangun! Di mana kau? Kenapa kau ....” “Ravi telah tiada!” Simon memotong teriakan Nia. “Dan kau yang melenyapkannya!” jelas Simon. Seketika Nia menjadi lemas. Teriakan yang selalu terlontar dari mulutnya seketika membisu, seperti ada yang menyumpal mulutnya dan merusak pita suaranya. Pandangannya kosong tak berisi, ia gelengkan kepalanya merasa tak percaya dengan apa yang Simon katakan. “Tidak! Tidak mungkin!” lirihnya. “Kenapa nona? Apa kau tak mau teriak lagi? Panggil orang yang telah kau bunuh itu!” ujar Inspektur. “Bawa gadis ini ke kantor polisi dan masukkan ke sel!” perintahnya pada anak buahnya. Dua anak polisi membawa paksa Nia, sementara yang lainnya sibuk memadamkan api agar tak menyebar. Ketika melewati depan pintu Nia melihat Selena yang berdiri di samping pintu luar. Nia langsung begitu saja memberontak agar polisi melepaskan pegangannya. Ia langsung mengoyak-oyak tangan Selena dengan tangisan mengisak. “Selena, kau bilang kalau aku ditangkap polisi kau akan membebaskanku kan? Aku mohon tepati janjimu!” Selena memeluk Nia untuk menenangkannya. “Kau tenanglah dulu, kami akan berusaha untuk membebaskanku!” bujuknya pada Nia. Polisi membawa kembali Nia, dan menggeretnya ke kantor polisi. Pimpinan polisi memberi interupsi lagi pada anak buahnya, “Lakukan penyelidikan ini!” Lalu inspektur itu menghampiri Dave. “Bar perusahaanmu ini akan kami selidiki. Sebelum kasus ini selesai, kau tak boleh menggunakannya!” kata Inspektur. Dave mengangguk saja tanpa membalas. Pikirannya dilanda kebingungan yang menggebu. Dua anak didiknya telah membuat malam ini menjadi mimpi buruknya. Ravi telah tiada, dan Nia sendiri yang menembaknya. Bagaimana kalau orang tua mereka mengetahui segalanya, dia yang menjadi orang pertama yang disalahkan. Inspektur berbicara lagi padanya. “Jenazah pria itu kami ....” “Tidak inspektur, kami yang akan membawanya pulang. Kami yang akan melakukan penghormatan terakhir pada sahabat kami ini. Dan kami sendiri yang akan memberitahu orang tuanya,” lirih Dave, sembari mengusap air matanya yang membendung di kelopak. Ia sengaja melakukan ini agar kematian Ravi tak sampai menjadi perbincangan publik dan akhirnya orang tuanya yang ada di luar negeri mengetahuinya. Lagi pula, ia juga ingin punya hak penuh atas penghormatan teman yang sudah seperti adiknya itu. Ia menatap ke arah Simon dan Victor, dan berkata, “Kalian bawa Ravi ke mobil, kita akan mengantarnya pulang!” ucapnya. Mereka semua berpulang meninggalkan pesta yang belum tuntas itu, dengan mayat salah satu dari mereka sebagai oleh-oleh. Rasa bahagia ataupun senang tak ditemukan dari wajah mereka. Wajah-wajah sayu penuh penyesalan justru yang menyelimutinya. Senyum mengerut sempurna dari setiap bibir. Sedangkan tangis Isak terus terdengar dari mulut Devina dan Krystal. Selena yang ikut dalam satu mobil mencoba sebisa mungkin untuk menenangkan mereka. Di jok mobil terisi jenazah Ravi, sedangkan mereka berkabung di dalam mobil. Mereka masih tak bisa menerima tentang kenyataan dari kedua temannya itu. Yang satu telah berpulang ke rumah Tuhan, dan yang satunya mendekam di jeruji besi. Tak berselang lama, akhirnya mobil yang dikemudikan Dave itu sampai di istana mereka. Dave turun dari mobil dan membuka jok belakang. Mayat Ravi sudah mulai kaku dengan noda darah yang masih membeku. Rasanya tak tega ia menatap adik angkatnya Simon dan Victor ikut turun, ia yang membopong mayat sahabatnya itu menuju ke dalam rumah. Sementara Selena menggandeng dua teman gadisnya, dann Krystal untuk sama-sama masuk ke dalam. Dave memarkirkan mobilnya di garasi dan kemudian berjalan menuju rumahnya. Penuh penyesalan dan kekecewaan. Begitu ia sudah sampai di ruang tamu, ia melihat Simon dan Victor meletakkan tubuh Ravi di atas sofa panjang. “Tidak ada yang boleh mengabari orang tuanya, termasuk keadaan Nia sekarang,” ucapnya tertuju pada semua. “Tapi, Dave ....” kata Devina. “Tidak!” tepis Dave. “Turuti perintahku. Kita akan mengubur mayat Ravi besok, dan aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membebaskan Nia,” tutupnya. “Bagaimana jika orang tua Ravi mengetahuinya nanti?” tanya Simon. “Aku yang akan mengatasinya! Kalian tak perlu cemaskan hal itu. Jangan ada yang keluar tanpa seizinku sebelum polisi menutup kasusnya!” ingat Dave memerintah. Ia melirik ke arah Selena dan berkata, “Selena, apa kau bisa membantu kami menangani semua ini?” tanyanya. “Kau tenang saja, aku seorang putri dari polisi sekaligus pengacara. Jika Nia memang tak bersalah, aku pastikan dia akan segera angkat kaki dari jeruji besi!” yakin Selena. “Aku akan menyelidiki kasus ini, bahkan sebelum para polisi itu menguaknya. Kalau Nia memang terbukti bersalah, aku serahkan itu pada kalian!” tutup Selena. “Baiklah! Kalian bisa pergi tidur sekarang!” perintah Dave pada semua teman asuhannya itu. “Sampai kapan kita akan menyembunyikan semua ini, Dave! Jangan berpaling pada kebenaran, sekecil kebohongan pasti akan bocor juga!” tutur Krystal. “Pergi tidur sekarang!” bentak Dave pada mereka, tangannya menunjuk ke lantai atas yang berjejer kamar-kamar. Mereka semua menuruti perintah atasannya itu. Memang selama ini mereka tak pernah membangkang perintah Dave. Dan Dave pun tak pernah setegas ini pada mereka. Mereka bersama-sama naik ke atas dengan wajah kesal. “Pelayan!!!” teriak Dave lagi. Suara lantangnya itu mampu menggetarkan telinga rumah itu. Beberapa pelayan langsung datang secepat kilat menyambar. Dave memandangnya dengan penuh emosi yang menggebu. Ia berkata pada tiga pelannya. “Bawa mayat Ravi ke ruangan khusus, bersihkan noda darahnya dan tutup dengan kain kafan!” interupsinya. Para pelayan menurut saja. Dengan wajah melas, mereka menggotong mayat Ravi untuk dipindahkan ke ruangan yang aman. Dan agar siap untuk dikuburkan besok. Dave begitu gusar. Tak tahu ia harus bagaimana, kenapa semua ini terjadi. Ia mulai tak tenang, kematian Ravi dan kasus Nia membuatnya terganggu. Selena yang masih berdiri di samping itu mendekat ke arahnya. Ia mengelus lembut pundak Dave. “Kau tenanglah, semua akan baik-baik saja! Aku ada di sini untuk membantumu!” bujuk Selena. Dave menatap ke arahnya, dengan sayu ia berkata, “Terima kasih Selena, aku sangat bergantung padamu. Bebaskan Nia kalau kau bisa,” pintanya memohon. “Iya, akan kuatur sebisa mungkin.” Selena melirik jam tangannya yang sudah menunjuk pukul 3 pagi. “Aku pulang dulu!” ucapnya. “Aku akan mengantarmu!” tawar Dave. “Tidak! Tidak perlu. Kau tenangkan dirimu saja, aku akan menelepon sopirku untuk datang ke sini!” kata Selena. “Baikalah!” Selena melangkah menuju pintu keluar. Dalam batinnya ia bergumam, “Aku akan mengatasi semuanya. Kasus ini menjadi santapan hangat bagiku, kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya!” ia memiringkan senyumnya. Sang surya melepaskan sinar pertamanya di kaki langit timur. Membicarakan cahaya menghidupi seluruh kehidupan di dunia. Esok menyongsong, meninggalkan malam yang kelam. Pagi-pagi sekali, Dave dan lainnya tengah memenuhi halaman belakang rumah. Terdapat sekotak liang yang berada di tengah mereka. Dan juga sebongkah benda yang terselimuti kain putih di samping liang. “Kita akan mengubur mayat Ravi di sini,” ucap Dave. “Dia selalu dekat dengan kita, dan selamanya akan dekat dengan kita!” “Aku yang akan meletakkan mayat temanku ini di dalam sana!” kata Victor. “Aku juga!” sahut Simon. Victor dan Simon bersama meletakkan tubuh temannya itu di dalam liang. Dengan penuh penyesalan, mereka menguburkan mayat Ravi di halaman belakang. Rasa sedih dan sendu menyelimuti setiap rasa. Taburan bunga saling berjatuhan memenuhi kuburan Ravi. Setelah proses pemakaman sederhana itu selesai, mereka kembali ke rumah. Mobil mewah berwarna merah berhenti di halaman depan. Pintunya membuka dengan sendirinya ke atas, dan keluar seorang wanita. Dia Selena, yang turun dari mobilnya. Setelan gaun merah dan jeans hitam membuatnya begitu berkelas. Ia berjalan masuk ke rumah Dave. Dave melihat kedatangan yang masih di ambang pintu. Hingga akhirnya ia masuk lebih dalam. Aroma parfumnya yang khas itu sudah menyambar setiap rongga hidung, hingga memenuhi ruangan. “Selena!” gumam Dave. “Bagaimana? Apa ada kabar terbaru?” tanya Dave. Selena menggelengkan kepalanya sebelum menjawab. “Tidak, polisi masih menyelidiki. Dan ayahku juga ada di luar kota, dia tak bisa membantu kita untuk saat ini,” jelasnya. Dave menjadi murung begitu mendengar perkataan Selena. Rasanya ia tak punya jalan lain untuk membebaskan Nia. “Kenapa kita tak memberi jaminan saja?” usul Krystal. “Ini kasus pembunuhan. Tidak semudah itu menyogok seorang polisi. Uang kalian tidak akan diterima di mata hukum, jadi pikirkan sebelum kalian bertindak yang akan menjerumuskanmu!” tegas Selena membuat mereka terdiam seribu bahasa, seolah kata-katanya itu menyindir mereka semua. “Oh maaf, aku tidak bermaksud menyinggung kalian. Tapi ngomong-ngomong apa salah satu dari mereka punya musuh?” tanya Selena. “Siapa yang berani memusuhi kita? Aku rasa tak ada siapa pun yang bermusuhan dengan Nia ataupun Ravi,” jawab Dave. “Lalu, apa kalian melakukan hal lain sebelum kejadian malam kemarin. Mungkin ada yang mencoba balas dendam pada kalian.” Selena mulai menjadi wartawan bagi mereka. Dave berpikir. “Aku rasa tidak ... Kami tidak ....” “Ada!” sahut Victor, hingga membuat semua pandangan terfokus padanya. “Siapa?” tanya Selena. “Ular!” “Maksudmu?” Selena keheranan. “Omong kosong! Kita tak ada sangkut pautnya dengan ular itu. Memang kita telah menghabisinya, tapi kita ini hidup di dunia modern. Jadi hentikan pikiran kuno itu!” ujar Dave pada Victor. “Kalian mau percaya atau tidak, tapi ular yang mati penuh dendam jiwanya tidak akan tenang!” bantah Victor. “Diam!” peringat Dave, dengan mengacungkan telunjuknya ke atas. Selena ikut menyahut. “Itu bisa saja, siapa pun yang mati penuh dendam tidak akan membiarkan begitu saja pelakunya itu. Ular bisa saja bangkit dan menuntut balas atas dendamnya!” “Tapi Selena, apa kau percaya takhayul?” “Ini bukan soal takhayul ataupun pemikiran modern, tapi ini perihal dendam. Jika benar ular itu telah bangkit dari dendamnya, maka tidak akan bisa ada yang menyelamatkan kalian dari ular itu!” tutup Selena. “Baiklah, kita lupakan semua ini. Kalian bisa menemui Nia. Aku akan memulai penyelidikannya, tapi kau harus menemaniku, Dave. Aku tak bisa masuk ke barmu itu jika tidak denganmu!” ucap Selena begitu mendekat pada mereka. “Baiklah, Simon kau kemudikan mobilku!” Dave merogoh sakunya dan mengambil kunci mobilnya, lalu menyodorkan pada Simon . “Aku akan menyusul nanti,” lanjutnya. “Baiklah!” Simon dan lainnya bersama-sama menuju garasi dan mereka pergi dengan mobil Dave. “Kita berangkat sekarang?” Dave berkata pada Selena. “Ayo!” Selena dan Dave pergi keluar, mereka menaiki mobil Selena. Dave yang mengemudikan, untuk segara sampai ke bar perusahaan miliknya. Sementara Simon dan lainnya telah sampai ke kantor polisi. Salah satu polisi mengantarkannya ke ruang sel tempat Nia ditahan. Mereka melihat dengan kepala mereka sendiri, bagaimana model kebanggaan mereka mendekam di balik jeruji besi. Bukan istana yang megah dengan pernak-pernik kehidupan, bukan juga singgasana emas seorang raja yang Nia gunakan duduk. Namun, gadis itu duduk tersimpuh di pojokkan sel. Memeluk lutut dan menyembunyikan muka di antara dekapannya. Tubuhnya begitu gemetaran, dan tak berupa lagi. Rambut lurusnya ia biarkan teracak-acak, nafasnya menggigil ketakutan. “Nia!” panggil Krystal dari balik jeruji basi. Nia memperlihatkan wajahnya yang sembab. Ia melihat teman-temannya mengunjunginya, langsung saja terjaringkah dan bergerak ke arah mereka. Ia genggam tangan Krystal dan membiarkan air matanya membanjir lagi. “Krystal aku mohon keluarkan aku dari sini! Aku tidak melakukan apa pun, percayalah!” isaknya. Devina mendekat. “Nia, apa yang sebenarnya terjadi malam itu?” Nia beralih mengecam tangan mendekatmaksanya untuk masuk lewat impitan besi. “Ruch, aku bahkan tidak tahu apa pun. Percayalah! Begitu aku bangun, api sudah memenuhi mataku, dan polisi ... Aku begitu takut!” “Kami telah menguburkan jenazah Ravi, dia telah meninggalkan kita semua!” lirih Victor. Seketika Nia melepaskan genggaman tangannya pada Devina. Satu langkah mundur ia gerakkan, dan disusul kaki satunya lagi. Ia bungkam mulutnya dengan telapak tangannya. Kepalanya menggeleng tak percaya. “Tidak mungkin, Ravi tidak mungkin meninggalkanku sendiri! Tidak! Dia sudah berjanji untuk tak meninggalkanku sendiri,” isaknya.. Simon pun ikut menenangkan Nia dari balik sel. “Tenangkan dirimu, Nia. Kami berusaha sebisa mungkin untuk mengeluarkanmu dari sini. Kami juga tak percaya, kau tak mungkin membunuh Ravi. Kalian begitu saling mencintai, tidak mungkin ada pengkhianatan di antara kalian. “Di mana Dave?” tanya Nia. “Dia dan Selena sedang menyelidiki kasus ini, mereka akan menemukan dalang di balik semua ini sebelum polisi mengungkapnya. Itu kami lakukan agar kami langsung bisa menangkap pelakunya dan memberinya balasan setimpal untuknya, bukan jeruji besi!” jelas Victor pelan, takut jika ada polisi yang mendengarnya nanti. Di sebuah bar perusahaan, Dave diam-diam melintasi garis kuning yang polisi bentangkan. Ia bersama Selena masuk dan menyelidiki semuanya. Mereka menuju ruang atas, tempat kejadian itu di mulai. “Kita harus menemukan bukti, atas tidak bersalahnya Nia. Sebelum 24 jam, karena setalah itu kita tidak akan bisa lagi mencari bukti di sini!” ucap Dave. Selena memandangi seisi kamar yang penuh asap hitam, akibat api yang melanda kemarin. “Pistol itu telah dibawa polisi, begitu sulit untuk memecahkan teka-teki ini, karena tak ada bukti apa pun,” keluh Selena. “Dave, coba kau telepon Simon , minta dia mengorek info dari Nia!” usul Selena. Dave merogoh ponselnya dari saku. Lalu ia mencari nomor Simon dan memanggilnya. Sementara Selena masih mencari-cari bukti dalam kamar itu. Ponsel berdering dari saku jeans Simon . Ia merogohnya, terdapat nama Dave yang tertulis di layarnya. Ia langsung saja mengangkat. “Iya Dave, ada apa?” “Simon, coba kau tanya Nia, bagaimana semua ini terjadi. Maksudnya apa dia merasakan hal aneh sebelum kejadian malam itu terjadi?” pinta Dave lagi ponsel. “Baiklah!” Simon beralih menatap Nia yang masih murung. “Nia, apa kau merasa ada sesuatu sebelum kejadian itu terjadi?” tanyanya. Nia terlihat berpikir sebelum menjawab. “Waktu itu aku bersama Selena, lalu aku ... Aku merasa pusing. Dan aku pergi ke kamar mandi ... dan ... Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi.” Simon kembali dalam pembicaraan Dave melalui ponselnya. “Dave, Nia bilang ia merasa pusing lalu ke kamar mandi dan dia tak ingat lagi selanjutnya,” ujar Simon. “Baiklah, kalian tenangkan dia. Kami akan mencoba sebisa mungkin untuk membebaskannya!” tutup Dave. Simon mematikan panggilannya, dan terfokus pada mereka lagi. Sementara Dave masih bingung memecahkan kasus ini. Masih ada teka-teki yang tersembunyi dan sulit untuk dipecahkan. Ia memberitahukan semua info dari Simon pada Selena. “Itu memang benar, aku melihat Nia merasa pusing, dan dia bilang akan ke kamar mandi. Tapi sejak saat itu, ia tak kembali lagi.” Selena mulai berpikir, ia gigit-gigit kecil kukku telunjuknya yang panjang itu. “Apakah ada yang menjebak Nia sehingga pelakunya merekayasa kejadian, dan Nia yang seolah-olah membunuh Ravi. Atau karena Nia mabuk, kehilangan akal dan dalam keadaan di bawah sadarnya itu ia menembak Ravi,” asumsi Selena. “Kedua hal itu ada benarnya, tapi bagaimana dengan semua hiasan ini?” Dave menunjuk hiasan ucapan selamat ulang tahun yang masih membekas di lantai tempatnya berpijak. “Apa mungkin Nia yang menghias semua ini, lalu pelaku itu membuat Nia pingsan dan langsung menembak Ravi?” “Kasus ini mulai membingungkan, kau bilang mereka tak punya musuh, lalu siapa yang telah merencanakan semua ini? Harusnya pelaku itu juga membunuh Nia kan untuk menghilangkan bukti, tapi kenapa dia tak membunuhnya?” Selena mulai bingung. “Dia sengaja ingin membuat kita bingung, antahlah!” Dave mulai gusar, ia menendang benda yang tergeletak tak berdosa di dekat kakinya. “Sial!” Benda itu ter sampar dan mengenai sebuah benda yang tertimbun abu di pojokkan. “CCTV!” ucap mereka serentak. Dave dan Selena langsung saja mendekat dan mengambil benda perekam itu. “Kenapa kita tak terpikirkan dari tadi?” “Sial!” Dave melihat kamera itu yang sudah gosong terbakar api. “Ini adalah salah satu bukti yang kuat untuk membuktikan segalanya, tapi kita pun telah kehilangannya sekarang.” “Kita bisa memperbaikinya, aku akan menyuruh orang untuk memperbaiki CCTV ini. Selagi rusaknya tak parah, rekaman yang ada di dalamnya masih bisa dilihat!” kata Selena. “Baiklah, kita harus segera pergi dari sini sebelum petugas polisi datang!” ajak Dave. Mereka berdua segera enyah dari sana. Bukti kuat telah mereka pegang sebelum polisi mengetahuinya. Mereka berharap, CCTV itu bisa mengungkapkan segalanya. Insiden malam itu, kasus yang menjadi teka-teki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN