Teka Teki

3360 Kata
Mentari menggantung di cakrawala. Pancaran sinarnya menembus ke relung bumi dan memberi penerang bagi semesta. Hingga akhirnya tersungkur dan digantikan dengan rembulan yang juga mempunyai tugas yang sama. Yaitu menerangi dunia dari gelapnya malam. Telah begitu banyak perubahan yang alam ini alami, namun berbeda dengan hati para pemuda. Dave dan teman-temannya masih berkabung atas kematian Ravi, dan juga bingung lantaran salah satu dari mereka belum juga bebas dari hukum. Nia, yang masih mendekam di jeruji besi atas tuduhan yang terlontar padanya. Mereka duduk di kursi ruang utama. Diam tak bergerak. Membisu bagai patung. Tak ada lagi canda tawa. Bahkan rumah besar yang mereka tempati sudah rindu akan kehebohan persaudaraan mereka. Hanya kesunyian yang memenuhinya, menyelimuti setiap hati yang terluka. Duka dan nestapa terurai dalam perasaan penyesalan. Victor tiba-tiba berdiri dari duduknya. Ia membanting bantal kecil milik kursi sofa itu menghantam meja. “Sampai kapan kita akan seperti ini?!” bentaknya. “Victor tenangkan dirimu!” Devina sok mengguruinya, padahal dirinya sendiri sedang tak tenang. Victor mengesek belakang kepalanya yang tak gatal itu. Dan merobohkan tubuhnya lagi di sofa yang sudah siap menampung tubuhnya. “Ini semua pasti ulah ular itu!” ceritanya. “Berhentilah mengatakan hal konyol, Victor!” tutur Simon yang juga mulai emosi. “Kenapa? Ha? Apa kalian tak bisa menerima kenyataan kalau Ravi telah dilenyapkan ular itu, dan sebentar lagi kita yang akan mati!” gusar Victor. Dave merasa geram dengan semua ini, apalagi ditambah ocehan mereka yang melantur. Ia meremas botol Aqua yang sedari tadi ia minum airnya dan melemparnya begitu saja di atas meja. Beberapa benda seperti kotak ikut terlempar. Ia berdiri tak kuasa lagi mendengar omong kosong mereka, terutama Victor yang selalu menyebut kata ular. Ia begitu emosi, namun kali ia tak melontarkan kata-katanya. Hanya perasaan kesal dan emosi yang tertahan menghiasi wajahnya. Kening berlapis dengan mata tajam dan alis terangkat sedikit. Ia hendak pergi dari tempat itu, namun aksinya itu dihentikan oleh suara ponsel yang tiba-tiba berbunyi dari sakunya. Dave melihat ke arah ponselnya itu dan bergumam, “Selena?” Langsung saja ia mengangkatnya. “Iya Selena, ada apa?” “Cepatlah kemari, aku sudah berhasil memperbaiki CCTV-nya. Di bar perusahaanmu, tapi kau harus lewat jalan pintas karena polisi ada di depan!” “Iya, baiklah kami akan segera ke sana!” Dave menutup teleponnya, dan langsung bergegas ke bar perusahaannya bersama lainnya. Mereka menaiki mobil yang sama yang terus mereka gunakan. Begitu sampai di sana, mereka memarkirkan mobilnya di halaman perusahaan. Sedangkan mereka melewati jalan pintas yang tak diketahui siapa pun kecuali mereka untuk sampai ke dalam bar. Bahkan Selena tahu jalan itu juga karena Dave yang mengajaknya tadi pagi. “Selena?” bisik Dave begitu sampai di dalam. Mereka memasuki ruangan tempat mengontrol CCTV dengan pelan, agar para petugas polisi tak memergokinya. Terlihat Selena sudah berada di depan komputer. “Kalian akan terkejut jika melihatnya!” ucap Selena membuat penasaran mereka. Dave langsung memegang kendali komputer itu. Ia mengoperasikan komputer itu dan melihat rekaman CCTV kejadian kemarin malam. Layar komputer mulai menunjukkan tayangan video pada mereka. Alangkah terkejutnya mereka setelah melihat rekaman CCTV itu. Sebagian ada yang menutup mulut dan sebagian lagi membiarkan mulutnya membuka. Bahkan Dave sendiri menggelengkan kepalanya, merasa tak menyangka apa yang dilihatnya. Rekaman CCTV memperlihatkan bahwa memang Nia yang menembak Ravi. Walau saat itu lampu dengan keadaan remang-remang tapi wajah Nia terlihat jelas diterpa cahaya lilin. Tiga tembakan terlontar dari peluru hingga mengenai kening Ravi, dan Nia juga yang membakar kamar itu dengan lilin. Setelah itu, rekaman CCTV tak bisa ditayangkan lagi lantaran saat itu CCTV terjatuh akibat kobaran api. “Tidak mungkin! Nia? Dia pelakunya?!” Mereka keheranan, juga tak menyangka. Karena selama ini Ravi dan Nia terlihat baik-baik saja, tak ada masalah. Bahkan dibandingkan dengan Simon dan Krystal, mereka pasangan yang lebih romantis. Lalu, bagaimana Nia bisa tega melenyapkan kekasihnya sendiri? Bahkan secara sadis seperti itu. Sulit dipercaya, tapi itu kenyataannya. “Apa yang akan kalian lakukan sekarang?” Selena beratnya pada mereka. Simon , Victor, Krystal, dan sokrsama-sama memandang ke arah Dave. Mereka seperti pasrah dengan keputusan pimpinan mereka. “Simon, hancurkan CCTV ini!” ucap Dave membuat Selena terkejut. “Apa maksudmu?” “Aku menghilangkan semua bukti ini. CCTV ini tidak boleh berada di tangan polisi. Tidak ada siapa pun yang boleh mengatakan kebenaran ini!” jelas Dave. Selena begitu heran, teman apa yang mereka miliki itu. “Dave, kau telah melanggar hukum. Inikah keadilan yang kau berikan pada temanmu yang sudah berada dalam tanah?” “Dengan mengorbankan teman kami yang satunya?” Dave menggelengkan kepalanya. “Kami tidak akan membiarkan Nia terus mendekam di penjara!” tegasnya. “Tapi dia seorang pembunuh, teman kalian seorang pembunuh! Nyawa salah satu dari kalian telah dilenyapkan!” bantah Selena. “Selena, kau baru masuk ke dalam kehidupan kami kemarin, kau tak berhak menghakimi kami apalagi menggurui kami!” tegas Dave. “Victor, cepat kau rusak semua CCTV ini hingga tak lagi bisa diperbaiki!” perintahnya lagi. Selena tak percaya. Sebenarnya ikatan apa yang mereka miliki. Inikah yang disebut sebuah pertemanan, dengan mengorbankan lainya dan melindungi pelaku kejahatan. Luar biasa, sangat unik. Begitu mencengangkan. Ia tak pernah membayangkan bisa berada di tengah-tengah mereka, tapi ia harus untuk mendekat ke arah mereka. “Selena, kalau kau masih berteman dengan kami, kau harus memahami kami. Kami melakukan semua ini dengan terpaksa, karena kami tak ingin kehilangan seorang lagi dari kita setelah Ravi. Jadi aku mohon, bekerja samalah pada kami. Tolong jangan beberkan semua ini pada polisi!” mohon Dave. Selena mengiyakan permintaan Dave itu. “Baiklah, aku tak akan mengatakan pada siapa pun!” janjinya. Entah kenapa Selena menurut saja. Mungkin ada hal yang ia sembunyikan dari semuanya. Ia seperti ini terus berada di dekat mereka dan mengawasi gerak-gerik mereka. Entah karena ia mulai nyaman akan pertemanan itu, atau ia mulai menyukai Dave, atau bahkan ada hal lain yang tersembunyi. Semua itu hanya Selena yang tahu, ia yang punya motif pada mereka. Rahasia yang hanya ia ketahu. “Dave, aku harus segera pergi!” ucap Selena. “Kau mau ke mana?” tanya Dave. “Mm ... Sebenarnya ... Aku ... Maksudku ibuku pasti mencariku, aku tadi tak memberitahunya. Aku akan pergi sekarang, kalau ada apa-apa, kau telepon saja aku!” kata Selena yang kemudian enyah dari tempat itu. Victor dan Simon merusak CCTV beserta komputer pengontrolnya hingga hancur. Ia tak takut akan pemiliknya yang marah, karena pimpinannya sendiri yang menyuruh. Bar itu milik perusahaan yang Dave pimpin, jadi tak masalah jika CCTV itu hancur karenanya. Di balik jeruji besi, Nia hanya tersimpuh saja di pojokkan. Ia tak mau makan atau minum yang sudah petugas polisi sajikan. Malah makanan itu ia lempar begitu saja. Ia tak pernah membayangkan akan tinggal di tempat seperti ini. Di sekelilingnya dipenuhi para narapidana yang tertahan sudah bertahun-tahun lamanya. Ia takut akan nasibnya yang seperti mereka. Di sisi lain, ia begitu terpukul atas kematian Ravi. Mereka sudah berencana untuk menikah, tapi Ravi lebih dulu direnggut semesta. Cinta telah hancur dihantam sang waktu. Cinta telah lenyap dibunuh sang masa. Cinta telah menjadi abu dibakar sang api. Lalu bagaimana dengan kisah yang belum selesai? Kisah yang hanya memadukan cinta dalam bibir, melukai seonggok rasa yang tak lagi sama. Masih dengan keadaan yang sama, Nia begitu terpuruk. Perlahan mata Nia mulai terpejam, rasa kantuk akibat tak pernah tidur sejak ia dipenjara membuat matanya bengkak. Namun kali ini tak lagi bisa menahan kantuknya, ia pejamkan begitu saja matanya. Sedangkan kepalanya ia sandarkan di tembok sel. “Nia! Nia ...!” Suara berbisik merasuk gendang telinganya. Suara itu telah mengganggu lelapnya. Ia membuka lagi kantung matanya, dengan samar-samar bola matanya itu dipenuhi penampakan pria dari balik sel. Pria itu mencoba membangunkannya, dengan menggoyang-goyangkan sel besi yang tak juga mau goyang. “Nia ... Nia .... bangunlah!” paksa pria itu. Nia membuka lebar-lebar matanya. Begitu terkejut dan juga senang. Ia melihat dengan kepalanya sendiri, sesosok Ravi tengah berdiri di antara sel besi itu. Dan terus memanggilnya untuk terbangun. Entah ini mimpi ataupun nyata, yang jelas ini seperti nyata. Nia begitu bersemangat, dengan gelagat ia menghampiri Ravi. Tangannya meraba d**a Ravi dan memastikan kalau ini benar-benar dirinya. Begitu ia yakin itu Ravi, ia langsung memeluk tubuhnya walau terhalang sel besi. “Ravi? Benarkah ini dirimu? Ravi aku tidak lagi mimpikan?” Nia kegirangan. “Husssttt ... Jangan keras-keras, ini aku. Dan aku yang akan membawamu pergi dari sini!” ucap Ravi. “Tapi bagaimana?” tanya Nia. “Aku membawa kuncinya!” Ravi menunjukkan kunci sel padanya. Segera ia membuka jeruji yang menghalangi dirinya dengan kekasihnya itu untuk terbuka. Begitu terbuka, Nia langsung memeluk Ravi. “Mereka bilang kau sudah tiada, lalu bagaimana kau ....” “Nanti aku ceritakan, sekarang kita harus segera pergi dari sini sebelum seseorang melihat kita!” Ravi menarik tangan Nia dan mengajaknya untuk segera enyah dari jeruji mengerikan itu. Sementara Dave dan lainnya sudah kembali di rumahnya. Mereka harus melupakan tentang kematian Ravi dan merencanakan untuk segera membebaskan Nia dari penjara. Bagaimana kenyataan Nia, dia adalah teman mereka dan akan tetap selamanya menjadi teman. Mungkin kejadian kematian Ravi tak disengaja oleh Nia, mungkin yang dikatakan Selena itu benar. Kalau Nia mabuk dan tak sadar menembak Ravi, atau memang ada orang lain yang menjadi dalang di antara semua ini. Dan merekayasa tentang keterlibatan Nia. Dave meneguk beberapa gelas air. Setidaknya ia sudah tenang sedikit, satu masalah sudah terpecahkan. Tinggal berpikir bagaimana cara membebaskan Nia dan memintanya untuk mengakui segalanya. Setelah ia sandarkan tubuhnya di sofa, ponselnya berdering. Ia periksa sakunya namun tak juga menemukan. “Ponselmu ada di meja!” ucap Devina. Dave melirik ke arah meja, dan dengan segera meraih ponselnya itu. Nomor tak dikenal yang memanggilnya. Ia begitu saja mengangkatnya. Setalah ia angkat dan berbicara pada penelepon itu, reaksinya langsung berubah. “Apa?!” Dave berdiri dari duduknya, membuat teman-temannya ikut terkejut. “Nia kabur?! Bagaimana ini mungkin?!” “Nia kabur?!” Semuanya ikut berdiri dengan wajah keterkejutan. What?!” “Bagaimana Nia bisa kabur?!” “Baik, inspektur!” Dave mematikan panggilannya, yang ternyata pihak kepolisian memberitahukan soal kaburnya Nia dari penjara. Dave menatap ke arah teman-temannya, dan berkata, “Nis kabur!” “Bagaimana dia bisa kabur?!” Krystal keheranan. “Antahlah! Polisi minta kita agar datang ke sana!” ucap Dave. “Baiklah, kita berangkat sekarang!” sahut Victor yang masih tak percaya. Mereka tak menyangka Nia senekat itu. Bagaimana tidak, bahkan membunuh kekasihnya sendirinya ia berani apalagi hanya Kabur dari penjara. Mereka bergegas menuju ke kantor polisi. Begitu sampai di kantor polisi, seorang inspektur polisi menemui mereka. Dan menanyakan keberadaan Nia sekarang, inspektur kira gadis itu kabur dan menemui teman-temannya. Tapi bahkan teman-temannya pun tak tahu apa-apa. Dave menyangkal tentang pertanyaan pimpinan polisi itu. Mereka di izinkan kembali ke rumah dengan syarat rumah mereka harus dipantau polisi sebelum Nia kembali ditemukan. Pimpinan polisi menugaskan anak buahnya untuk berjaga di rumah besar mereka, jika Nia datang ke sana nanti, maka mereka akan lebih mudah menangkapnya lagi. Serayu bertiup kencang malam ini. Membangkitkan dedaunan hingga rontok berserakan. Hawanya pun begitu dingin, ditambah lagi suasananya yang begitu sunyi. Ravi membawa Nia di tengah kegelapan malam. Menerobos semak belukar hingga masuk ke dalam hutan. Nia tak kuasa lagi untuk berlari, lantaran energinya tak terisi selama ia berada di jeruji besi. “Ravi, stop!” pinta Nia begitu sampai di bawah pohon besar. "Ravi?! Kau? Bagaimana ini mungkin? Kau masih hidup? Ceritakan padaku bagaimana semua ini terjadi, dan malam itu?” "Iya Nia, aku masih hidup! Cintamu ini masih berdiri tegak di hadapanmu!" Nia memeluk erat tubuh Ravi, ia bebaskan segala rindu dan duka padanya. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Ravi?" Ravi melepaskan pelukannya, tangannya memegangi pipi Nia. "Apa kau sangat mencintaiku, Nia?!" "Apa yang kaya katakan? Tentu saja aku sangat mencintaimu! Hidupku hanya untukmu, aku akan mati jika kau tak bersamaku!" "Benarkah? Kau mau ikut denganku ke mana pun?!" "Tapi, kenapa kau bertanya seperti itu, Ravi?" Nia keheranan. Ravi berdiri berbalik membelakangi Nia, "Ada bahaya di antara kita Nia, dia sudah datang! Dia datang untuk membalas dendam!" "Siapa?!" tanya Nia keheranan. "Jelmaan ular!" jawab Ravi mantap. “Jelmaan ular? Maksudmu?” “Ular yang kita bunuh dengan keji kemarin, dia telah datang untuk membalas dendam pada kita!” jelas Ravi. “Kenapa kau mempercayai semua ini, Ravi? Kau sendiri yang bilang semua itu hanya ada dalam film, dan tidak mungkin ada di dunia nyata?” tepis Nia. “Kali ini aku sudah percaya kalau mereka benar-benar ada! Dan kau pun juga harus mempercayainya!” “Aku mengerti perasaanmu, Ravi. Kau pasti terobsesi dengan kejadian kemarin, mari kita bicarakan baik-baik. Kalau memang jelmaan ular itu benaran ada apa kau bisa menunjukkannya padaku?” “Apa kau sungguh ingin melihatnya, Nia?” Nia mengangguk pasti. “Iya!” “Dia ada di sini! Di depanmu!” teriak Ravi dengan suara serak. Ravi menatap ke arah Nia, tiba-tiba bola matanya berubah berwarna kuning mencorong, dan bagian putihnya berubah hijau muda. Terdapat sisik ular hijau yang menutupi kulit wajahnya. Setiap kulitnya terhias oleh sisik hijau itu. Ia membuka mulutnya, dan memperlihatkan dua taringnya yang tiba-tiba keluar begitu saja dari gigi atas dan bawahnya. Lidahnya yang panjang juga menjulur ke arah Nia. Kini wajah tampannya itu terlihat mengerikan. Nia gemetaran, ia keheranan melihat perubahan Ravi. "Si ... sia ... pa kau?" tanyanya dengan nada terbatas dan raut wajah penuh ketakutan. "Aku adalah kematianmu! Akulah ular yang kalian bunuh kemarin, kekasihmu itu sudah menjadi mangsa pertamaku, dan sekarang giliranmu!" ucap Ravi penuh serak. “Kalian begitu bodoh! Mereka pikir kau yang membunuh Ravi, tapi akulah pelaku yang sebenarnya!” “Bagaimana itu mungkin?” Ravi mencekik leher Nia, dan mendorongnya hingga menempel pada batang pohon. “Kau ingin tahu yang sebenarnya? Aku ini jelmaan, dan jelmaan bisa berubah wujud menjadi siapa pun. Aku yang meracuni jus anggurmu agar kau pusing, lalu aku wujudmu dan membunuh Ravi, dan selanjutnya tubuhmu yang pingsan aku letakkan di kamar itu hingga mereka kau yang membunuh kekasihmu sendiri!” “Lepaskan makhluk jahat!” Nia mencoba sebisa mungkin merenggangkan tangan Ravi yang mencekiknya. “Kau yang jahat! Kalian yang jahat! Atas dasar apa kau membunuhku dengan keji, bahkan saat itu aku pergi tapi kalian, kalian melempariku dengan batu! Sekarang katakan siapa yang jahat?!” “Beraninya kau mengambil wujud Ravi, atas kelicikanmu!” bentak Nia. “Hahaha!” Ravi tertawa terbahak-bahak. “Bukan Ravi! Bukan tubuhnya yang aku inginkan, tapi aku punya tubuh sendiri. Apa kau mau lihat wujud asliku?” Ravi melepaskan cengkeraman tangannya yang sedari tadi mencekik leher Nia. Kemudian sekujur tubuhnya itu muncul cahaya bening semu hijau kekuningan, dan berubahnya seluruh wujudnya. Wujud yang mulanya sebagai Ravi, kini berubah menjadi seorang wanita. Betapa terkejutnya Nia, ketika melihat wajah wanita itu. Mulutnya teringa-inga tak menyangka. Bibirnya teringin mengucap sesuatu namun masih gemetaran. “Selena? Kau?!” Sungguh kejutan yang tak terduga. Ternyata selama ini Selena adalah jelmaan ular, dan dia yang menuntut balas atas kematiannya kemarin. Itu kenapa Selena tiba-tiba begitu akrab dengan mereka, ternyata ada motif lain yang ia sembunyikan, dan kini sudah terkuak di hadapan Nia. “Iya! Akulah pelakunya! Aku, Selena, sang jelmaan ular yang telah bangkit dari kematiannya, untuk menuntut balas atas dendamku. Menghukum kalian adalah tugasku!” “Licik! Kau licik!” bentak Nia. “Aku adalah ular, dan ular sangat licik! Tapi teman-temanmu lebih licik, begitu dia melihat video tentang pembunuhan Ravi, mereka malah memilih melindungi pelaku kejahatan dari pada memberikan keadilan padanya yang menjadi korban!” “Itulah kami, dan kau tidak akan bisa membunuhku!” Nia mencoba lari, namun Selena dengan cepat menahan tangannya. Suara desisannya menggema di telinga Nia. Ia menjadi gemetaran, ia coba palingkan wajahnya ke samping. Selena sudah berubah wujud mengerikan, penuh sisik ular dan mata mencorong kuning. Desisannya juga tiada henti dari mulutnya. Sama seperti ular pada umumnya. “Apa kau mencoba lari dari mautmu, Nia? Berpikirlah sebelum kau kabur dariku!” Ekor panjang besar berwarna hijau dengan garis kuning di sisinya, tiba-tiba melilit tubuh Nia. Nia semakin ketakutan, nafasnya tak beraturan. Bahkan ia tak bisa bernafas dengan bebas ketika ekor panjang itu melilitnya erat. Nia melirik ke bawah, ternyata ekor panjang itu dari tubuh Selena. Ya, Selena telah menjadi manusia setengah ular, separuh dari perutnya ke atas berwujud manusia, sedangkan perutnya ke bawah sudah menjadi ekor panjang sebesar tubuhnya, dan ujungnya begitu lancip. Nia tak menyangka akan mengalami hal yang seperti dalam film ini, ia biasa melihat perubahan manusia menjadi hewan di dalam film. Namun kini ia melihatnya langsung, di depan matanya. Kaki yang awalnya berpijak di tanah, kini tiba-tiba terangkat. Begitu mudah ekor panjang milik Selena itu mengangkat Nia hingga mengayang. Seperti mengangkat sebongkah ranting saja. Selena berubah menjadi ular seutuhnya. Ular cobra dengan warna sisik yang sama, hijau berkilau kuning. Kepalnya melebar sempurna, dari mulutnya menonjol taring runcing dan lidahnya pun begitu panjang, merah bercabang yang terus menjulur keluar. Belum lagi desisannya yang khas membuat Nia kaku gemetaran. Ular itu mengangkat lagi tubuh Nia tinggi, masih dengan lilitan ekornya yang semakin bertambah erat. Sementara kepala sang ular yang kembang kempis mematung tepat di hadapan wajah Nia, dengan mulut membuka memamerkan dua taring atas dan dua lagi taring bawah yang saling berhadapan. “V-Selena ... Selena ... to-long ... lepaskan aku!” pinta Nia terbata-bata, dadanya itu sudah sesak akibat lilitan di perutnya. Nafasnya juga tak bisa keluar masuk dengan normal. Begitu mencekik. Namun ular itu tak menggubrisnya. Ular itu semakin brutal melilit tubuh Nia. Kali ini kebuasan sang ular ditunjukkan langsung oleh Selena. Jiwanya telah terbakar api dendam yang membara, dan mustahil untuk dipadamkan. Bahkan air seluas samudra pun tak cukup mampu untuk mengguyur dendam yang sudah menggeliat. Dendam itu akan terpadam jika semua dendam telah terbayar habis. Ssstttt ... Ular jelmaan Selena terus mendesis ke arah Nia, racunnya sudah siap ia pautkan ke arah Nia. Tak ada rasa kasihan. Dari samping pohon itu, terdapat sebuah jurang yang menjulang tinggi. Dan di setiap sisi lempeng, ditumbuhi berbagai semak belukar berduri, lengkap dengan berbatuan. Siapa pun yang jatuh ke sana, pasti sudah bertemu dengan malaikat maut. Ular cobra jelmaan Selena mengalihkan ekornya ke arah jurang itu. Ekor yang melilit tubuh Nia sudah berada tepat di atas jurang yang begitu dalam, satu lepasan saja sudah bisa menjatuhkan tubuh Nia. Sebelum ular itu benar-benar menjatuhkan Nia, ular itu berubah wujud menjadi Selena. Lebih tepatnya manusia setengah ular. Angin malam menerpa hebat rambut Selena yang terus beterbangan. Tepat di keningnya terlukis simbol ular hijau, dan bola matanya yang kuning menyala juga tergambar simbol ular kecil, namun bedanya ular itu terus menari menggoyangkan tubuhnya. Sebagian dari pipi lembutnya pun telah terhias sisik-sisik ular. Setiap otot menegang, kobaran emosi merambat ke sekujur tubuh. Selena menelan ludah. Matanya ia tajamkan hingga kedua alisnya hampir membentuk huruf V. Kepalanya begitu gemetar, mengungkap segala kemarahan dan kemurkaan yang menggeliat hebat. “Kau manusia biadab, berani membunuh jiwa yang tak berdosa. Seekor ular juga butuh kehidupan, tapi kau telah merenggutnya dariku!” Kata-katanya yang kencang terlontar ke arah Nia. “Sekarang terimalah ganjaran yang setimpal untukmu! Benih yang tertanam, pasti akan ter tuai. Dan sekarang, kau akan menuai apa yang telah kau tanam. Aku berdiri sebagai perantara kematianmu, tidak ada yang bisa menghalangiku sekarang, bersiaplah untuk lenyap!!!” Selena menjatuhkan Nia ke bawah, dan langsung hilang ditelan rimbunnya semak berduri. Dia pasti sudah tiada, untuk jatuh ke jurang yang setinggi kurang lebih 40 meter itu. Kemudian, Selena kembali lagi ke wujud normalnya, ekornya yang panjang menciut begitu saja, dan kini berubah sebagai manusia lagi. Selena masih berdiri di pinggiran kurang. Ia menghela nafas kelegaan. Pandangan menuju ke arah langit yang hitam kelam, diterangi sang rembulan. Tubuhnya yang seksi itu ia biarkan terhantam serayu. “Angin menjadi saksi atas semua ini. Alam menjadi saksi atas dendamku ini. Mereka telah merenggut nyawa ular tak berdosa, dan sekarang ular itu telah bangkit! Telah bangkit!” teriaknya lantang. “Aku melakukan semua ini hanya untuk keadilan. Dendamku berkobar hanya untuk keadilan. Mereka yang telah berbuat jahat harus dihukum, mereka merasakan setiap penderitaan yang aku alami. Aku adalah wujud keadilan, dendamku akan menjadi saksi jika yang jahat tak berhak untuk tetap bebas. Dendamku akan selesai jika para pendosa itu lenyap!” Selena memiringkan senyumnya, memamerkan mata ular, dan menjulurkan lidah merahnya yang panjang. Sssstt... Desisan khas menjadi baground-nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN