Rasa Takut

2662 Kata
Pagi menyongsong cepat. Sinar mentari mulai menerang di ufuk timur. Membangunkan dedaunan yang mulanya melingkup. Devina membuka jendela kamar, disambutlah burung pagi yang bertengger di dahan pohon. Burung itu berpijak ke lain dahan dan kemudian terbang menuju angkasa. Seisi kamarnya ia biarkan terpancar sinar mentari. Lalu ia beralih ke depan cermin. Ia tata serapi mungkin rambutnya itu baru ia keluar kamar. Ia menuruni tangga, baru di tengahnya saja ia sudah melihat ruang makan yang tersaji berbagai makanan. Terlihat teman-temannya sudah sedia untuk menyantap sarapan pagi kala itu. Lagi pula aroma lezatnya mulai mengganggu perutnya yang keroncongan. Devina melangkah ke arah mereka dan bersiap untuk ikut andil sarapan dengan mereka. “Good morning!” sapanya. “Oke, sudah lengkap. Sekarang mari kita sarapan!” ucap Dave memimpin. Semua dengan lahapnya menikmati sarapan pagi kala itu. Namun ada yang kurang dari mereka. Nia dan Ravi, mereka kini tak lagi bisa sarapan bersama seperti dulu. Tinggal mereka berlima yang tersisa, dua lainnya telah dihabisi Selena. Dan tak lama lagi, Selena pasti juga tak akan membiarkan tetap bebas begitu saja. “Kalian sedang sarapan tapi tak mengundangku?” Suara dari utama tiba-tiba mengejutkan mereka, yang sudah selesai makan. Dave menengok ke arah sumber suara itu. “Selena? Kemarilah kami baru selesai sarapan!” ucapnya mempersilakan. “Oh tidak, aku hanya bercanda,” katanya begitu sampai pada mereka. “Aku dengar kabar, Nia kabur dari penjara?” tanyanya. Dave menunduk sebelum menjawab. “Iya, dan polisi sedang melakukan penjagaan di luar. Mereka berpikir Nia akan kemari setelah ia berhasil kabur, tapi buktinya sampai seg dia tak juga kemari!” “Bagaimana dia bisa ke sini, dia sudah pergi bersama Ravi selamanya!” gumam Selena dalam hati. Ia miringkan sedikit senyumnya. “Ngomong-ngomong, apa dia tak menelepon kalian?” tanya Selena lagi. “Kami tidak menerima telepon ataupun kabar apa pun darinya,” sahut Krystal yang masih duduk di depan meja makan. “Kami berharap dia baik-baik saja di mana pun berada,” lanjutnya. “Jadi, kami berpikir untuk mencarinya!” ucap Dave. “Simon, Victor kita berangkat sekarang?” ajak Dave. “Dan kalian, Krystal dan Devina tetap di rumah. Ingat, jangan keluar! Selena, kau temani mereka,” pinta Dave. “Baiklah, beri kami kabar jika kalian menemukan Nia nanti!” kata Selena. Dave mengiyakan, dan kemudian lekas dari sana bersama Simon dan Victor. Mereka berniat untuk mencari Nia. Mereka berpikir pasti Nia kebingungan mencari tempat tinggal, mungkin juga dirinya takut untuk datang ke rumahnya. “Selena, apa kau sudah sarapan? Kau bisa makan. Ini masih banyak makanan,” tawar Devina. Di antara mereka, gadis paling baik adalah Devina. Dan dari pihak pria, Victor yang paling polos. Meskipun mereka sama-sama nakal, tapi Victor dan Devina sangat berbeda dengan lainnya. “Tidak, aku belum lapar,” kata Selena. “Bagaimana kalau kita ke taman halaman? Kita cari udara segar di sana, menenangkan pikiran?” ajak Selena. “Iya, sudah lama aku tak melihat-lihat taman. Pasti bunganya sudah mekar di sana,” setuju Krystal. Mereka bertiga bergegas menuju taman halaman rumah. Ada taman yang luas di halaman rumah besar mereka. Taman yang ditumbuhi berbagai bunga-bunga dan juga pohon sakura. Dan di tengah taman itu, terdapat sekotak kolam renang yang jernih. Begitu indah suasananya, cocok untuk bersantai dan menghilangkan penat. “Rumah ini begitu besar, sebenarnya ini rumah Dave atau ayah kalian?” tanya Selena memulai pembicaraan. “Sebenarnya kami semua yang punya hak khusus pada rumah ini. Kami membangunnya dengan uang kita,” jawab Devina. “Kalian sungguh luar biasa, bahkan aku tak bisa membedakan antara saudara atau hanya teman belaka,” seru Selena. Ia mencoba sok polos di hadapan mereka, ia tak ingin siapa pun ada yang curiga padanya, kalau sebenarnya ia adalah jelmaan ular musuh besar mereka. Krystal melirik ke arah kolam renang. Airnya yang biru muda menyejukkan serasa berbisik padanya untuk menikmati kesegaran air itu. “Mentari begitu terik, bagaimana kalau kita berendam?” usul Krystal. “Ya, sudah lama aku tak berenang. Ayo Selena!” ajak Devina. “Tidak, sebenarnya aku ....” Selena belum sempat menyelesaikan kata-katanya, namun kedua temannya itu sudah menariknya ke pinggiran kolam renang dan langsung mencebur. Kini mereka bertiga sudah basah kuyup. “Lihat Selena, ini begitu mengasikan!” seru Devina. Selena hanya terdiam seraya geram. Ingin sekali ia mematuk dan menerkam mereka, tapi emosinya itu ia tahan. Ia bergumam dalam hati, “Nikmati saja masa-masa terakhir kalian, karena setelah ini kalian tak lagi bisa menikmati semua ini!” sinisnya, mata ularnya mulai menonjol. “Selena, kenapa kau hanya diam saja? Sini kita nikmati ketenangan ini!” seru Krystal sembari menyadarkan kepalanya di dinding kolam dan memejamkan matanya. “Selena, ada apa dengan matamu?” Devina keheranan ketika sempat melihat mata Selena yang mencorong. Seketika Selena tertegun, ia kedipkan matanya dan seketika itu juga mata ular Selena normal kembali. “Tidak ada, mungkin hanya terpancar sinar mentari,” Selena mencoba menyangkalnya. Devina melihat lagi mata Selena, dan memang tak ada yang salah. Mungkin tadi ia sedang tak fokus, pikirannya. “Kemarilah Selena, kita bersandar di dinding ini!” ajaknya yang kemudian ikut memejamkan matanya seperti Krystal. Selena masih berada di tengah kolam, dan memandangi mereka dengan sinis. Ia bergumam dalam benaknya, “Inilah saatnya untuk menghabisi mereka berdua!” Selena berubah menjadi ular cobra seukuran ular pada umumnya. Kepalanya ia benamkan ke dalam air, dan menyelam ke dasar kolam. Kini ia sudah berada di antara dua pasang kaki yang sama-sama lembut nan berkilau, sepasang milik Devina dan sepasang lagi milik Krystal. Selena tak tahu mana yang milik Krystal, dan mana yang milik Devina. Ia tak peduli, yang penting keduanya harus habis kali ini. Ia sudah siap untuk memagutnya, ia perlihatkan taring tajamnya dan bersiap mendarat pada kaki mulus itu. Sett!!! “Ular!!!!” Devina berteriak dan ketika menyadari ada ular yang menggeliat di kakinya. Selena buru-buru berubah menjadi manusia yang menonjolkan kepalanya di permukaan air. “Ulaaarrr!!!” Ia ikut berteriak, bermaksud untuk mengecoh mereka. “Di mana?!” Krystal ikut terkejut dengan teriakan mereka. “Di sana! Dia masuk ke rumah!” jawab Selena dengan terburu-buru. Krystal melirik ke arah Devina. Ia melihat Devina mulai lemas, dan kemudian pingsan di dalam air. “Devina?” “Penjagaaaa!!!” teriak Krystal memanggil penjaganya. Penjaga taman langsung sampai dan berdiri di pinggiran kolam begitu mendengar teriakan Krystal. Pihak polisi yang menjaga di luar rumah juga ikut ke arah kebisingan itu. “Angkat Devina, dan bawa ke dalam!” perintah Krystal pada penjaga tamannya. Penjaga itu masuk ke dalam kolam dan mengangkat tubuh Devina keluar, lalu membawanya ke dalam rumah. Sementara Krystal dan Selena juga ikut keluar dari kolam. “Ada apa di sini?” tanya petugas polisi. “Ada ular yang mematuk teman kami tadi,” jawab Krystal. “Kau segera telepon dokter, untuk memeriksa temanmu itu!” ujar petugas polisi. “Baik, Pak!” Krystal kemudian segera beranjak dan menuju ke dalam rumah untuk melihat keadaan Devina. Selena juga ikut masuk ke dalam, namun ia tak terlihat khawatir pun. “Sial, rencanaku kali ini gagal! Tapi aku berharap racunku itu berhasil menembus kulit Devina!” gumam Selena. “Bawa ke kamarnya!” perintah Krystal pada penjaganya untuk membawa Devina yang tak sadarkan diri ke kamarnya. “Selena, kau telepon Dave, aku akan menghubungi dokter!” lanjutnya. Krystal mengambil ponselnya di atas meja makan dan segera menghubungi dokter. Bajunya masih basah kuyup. Sedangkan Selena juga dengan segera menelepon Dave, dan menceritakan tentang Devina yang terpatuk ular. Setelah selesai menghubungi dokter, Krystal beralih ke arah Selena. Ia menyadari baju Selena juga masih basah akibat berendam di kolam tadi. Ia berbicara padanya. “Selena, kau ganti bajumu. Kau bisa memakai baju Nia di kamarnya,” katanya. “Iya!” Selena bergerak menuju ke ruang atas, untuk mengganti bajunya. Ia menaiki tangga dengan memamerkan mata ularnya yang kuning mencorong. Sebagian pipinya terlukis sisik ular berwarna hijau. Seorang dokter datang ke kediaman Dave. Beliau memeriksa Devina yang terpatuk ular Selena. Setelah selesai, ia berbicara pada Krystal. “Temanmu baik-baik saja, racunnya belum menyebar sempurna. Jadi, dia akan sembuh dengan cepat,” jelas Dokter. “Baik, Dok. Terima kasih,” kata Krystal. “Aku pamit undur diri dulu. Oh ya, pastikan dia istirahat yang cukup!” pesan Dokter, yang kemudian undur diri untuk pergi lagi. Tak lama setelah dokter berlalu, Dave dan Victor telah datang. Mereka segera memasuki kamar Devina, kemudian baru disusul Simon. “Bagaimana keadaan Devina?” tanya Victor cemas. “Dokter bilang dia baik-baik saja,” jawab Krystal. Selena yang mendengarnya menjadi kesal. Ia juga ikut masuk ke kamar Devina setelah ganti baju. “Kenapa wanita pembunuh itu masih bisa bernafas, sial!” cercanya dalam hati. “Bagaimana bisa ada ular di sini?” Dave kesal. “Dave, itu hal wajar. Kita tadi berada di kolam taman, wajar saja kalau banyak ular di sana,” Selena mencoba untuk mengecoh mereka. “Simon, suruh penjaga kita untuk menangkap ular yang telah mematuk Devina!” Victor mulai khawatir dengan keadaan Devina. Ia duduk di sisi ranjang dan memegangi tangan Devina yang masih belum siuman. “Selena bilang ular itu masuk ke rumah, iya kan, Selena?” Krystal menatap ke arah Selena. Selena mulai kebingungan. Ia tak tahu harus jawab apa, karena memang dia tadi keceplosan dan mengatakan ularnya masuk kamar. “I-iya ... Tapi mungkin ular itu sudah pergi,” ucap Selena agak terbata-bata. Devina mulai membuka matanya, pandangan samar-samar memenuhi matanya. Namun yang dilihatnya dengan jelas pertama kali adalah wajah Victor. Karena memang Victor yang berada di dekatnya. “Ruch, apa kau baik-baik saja?” tanya Victor khawatir. Namun ia sedikit senang ketika melihat Devina sadar. Ia seperti tak kuasa sesuatu buruk menimpa orang terkasihnya itu, walau ia tak berani mengungkapkannya. Devina membalasnya dengan senyuman. “Aku baik-baik saja,” ucapnya. Victor membantunya menyandarkan tubuhnya di dinding ranjang, agar Devina lebih merasa nyaman. Bajunya pun masih sedikit basah lantaran berendam di kolam renang tadi. “Apa kalian menemukan Nia?” tanya Krystal. Dave menggelengkan kepalanya. “Belum, kami sudah menyusuri setiap kota, setiap tempat yang sering ia kunjungi, tapi tak juga menemukannya,” ucap Dave pasrah. Mendengar hal itu Selena teringin untuk tertawa. Dari sudut mana pun mereka mencari, tak pernah menemukan Nia. Jika memang ditemukan, pasti hanya jasadnya saja. Karena Nia telah dihabisi Selena, sang jelmaan ular. “Mungkin dia sudah meninggalkan kota ini,” ujar Selena. “Itu tidak mungkin Selena, Nia tidak mungkin meninggalkan kita. Dia pasti akan menemui kita dulu sebelum pergi ke kota. Mungkin saja dai takut sama penjagaan polisi di luar,” kata Simon. “Baiklah kawan, sudah begitu siang. Kalian istirahat saja. Victor, kau temani Devina!” kata Dave, yang kemudian beranjak dari kamar Devina. Simon memeluk Krystal dari samping, dan mencium keningnya. Lalu mereka sama-sama meninggalkan kamar. Selena masih berdiri di sudut pintu. Ia melangkah kaki ke arah Victor dan Devina yang terbaring lemah. Ia bertanya pada Devina tentang keadaannya. “Ruch, bagaimana? Apa kau merasa baik sekarang?” Devina mengedipkan matanya seraya menunduk. “Aku baik-baik saja, hanya saja bekas patukkan ular itu masih membekas.” Devina melirik ke arah punggung kakinya yang terdapat dua titik saling berdekatan, di sekitar terdapat luka lembam yang membiru. “Semoga kau cepat sembuh, aku buatkan minuman ya?” tawar Selena. “Baiklah, maka sih!” balas Devina. Selena berbalik dan keluar pintu dengan wajah kesal. Namun ia coba sembunyikan kekesalannya itu. Ia hanya bisa bergumam dan berkobar dendam dalam benaknya. Victor menemani Devina di kamar. Tangannya itu masih memegangi tangan Devina. “Apa kau yakin baik-baik saja?” tanyanya. “Iya Victor, aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir.” Devina melirik ke arah tangannya. “Ngomong-ngomong kenapa kau masih menggenggam tanganku?” canda Devina. Victor tiba-tiba langsung melepaskan genggaman tangannya. Seketika ia menjadi salah tingkah. Ia sembunyikan wajah merahnya dengan menunduk. “Victor, apa kau pernah menyukai seseorang?” tanya Devina. Victor menunjukkan wajahnya lagi. Ia menatap ke arah Devina. “Kenapa?” ucapnya balik tanya. “Tidak, aku hanya tanya saja!” “Mmm ... Sebenarnya, aku sedang menyukai seorang wanita,” jawab Victor. “Benarkah? Siapa gadis yang beruntung itu?” “Seseorang yang sangat spesial untukku. Tapi aku tak punya keberanian untuk mengatakannya,” papar Victor sembari terus menatap mata binar Devina. “Kau itu terlalu polos, katakanlah padanya. Sebelum dia menjadi milik orang lain. Mungkin saja dia juga suka padamu,” saran Devina. Victor bergumam dalam hati, “Orangnya ada di hadapanku sekarang, Devina. Kau, kaulah gadis yang kuinginkan itu. Gadis yang mengisi hatiku dengan cinta, tapi apa dayanya aku. Diri ini hanya bisa mencintaimu dalam diam dan mengagumimu dalam rasa.” Di dapur, Selena begitu kesal. Ia harus memikirkan langkah selanjutnya untuk menjebak mereka dan menyelesaikan balas dendamnya. Satu ide tersirat. Ia berpikir untuk meracuni minuman yang akan ia buat untuk Devina. Segaralah ia membuat segelas s**u. Setelah s**u itu tersaji, ia menjulurkan lidah ularnya yang panjang ke dalam segelas s**u itu. Ia masukan bisa ularnya hingga s**u yang mulanya putih menjadi ungu. Selena mengambil sendok yang tergeletak di atas meja dapur, lalu ia aduk susunya dengan sendok itu. Ia terus mengaduknya, agar bisa ularnya terlarut dalam s**u itu hingga s**u itu akhirnya s**u itu berubah menjadi putih lagi. Ia berbalik, mata ularnya terlihat begitu jelas. “Bersiaplah untuk menjemput mautmu, Devina!” sinisnya, yang kemudian beranjak dari dapur. Tanpa disadari, salah satu pelayan dapur melihatnya. Pelayan itu melihat bagaimana Selena menjulurkan lidah ularnya pada s**u itu, dan melihat dengan jelas mata Selena yang menyerupai mata ular. Pelayan yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu itu begitu gemetar. Ia tak menyangka ada manusia ular di dunia nyata ini. Di kamar, Victor terus memandangi wajah Devina dengan terus mengaguminya. Lamunannya itu terhenti ketika Selena masuk ke dalam kamar dengan segelas s**u di tangannya. “Selena?” Devina melihat ke arah Selena. Selena mendekat, ia menyodorkan segelas s**u beracun itu pada Devina. “Ini, minumlah!” ucap Selena. “Lalu tidurlah, untuk selama-lamanya!” sinis Selena dalam hati. “Thanks!” seru Devina. Ia hendak meminumnya, namun Victor tiba-tiba menghentikannya. “Biar aku yang membantumu minum,” ucap Victor mencoba sok romantis. Devina menurut saja. Ia mulai membuka sedikit mulutnya, ujung gelas itu sudah menyentuh bibir manis Devina. Dan sebentar lagi ia akan meneguk segelas bisa ular. Selena yang melihatnya begitu gemas. Ingin sekali ia langsung melogokan racun itu pada Devina. “Keterlaluan! Bukannya segera untuk minum, mereka malah bersikap romantis di depanku!” kesal Selena dalam hati. Devina hendak meminumnya, namun tiba-tiba ia terbatuk-batuk. Hingga membuat gelas itu tumpah mengguyurnya. Gagal sudah rencana Selena untuk meracuni Devina. “Hufffttt... Maaf Selena, aku tak sengaja menumpahkannya,” sesal Devina. Selena begitu marah, emosi dan kesal. Namun ia mencoba sok polos. “Tak apa, nanti kubuatkan lagi. Kalian lanjutkan saja mengobrol!” Selena berbalik dan meninggalkan mereka dengan membendung emosi. Devina merasa bersalah akan hal itu. Ia takut menyakiti perasaan Selena. “Apa dia marah?” “Lupakanlah, kau istirahat saja. Kau kan tak melakukannya dengan sengaja,” kata Victor. Selena menuruni tangga. Masih dengan wajah kekesalan. Setiap anak tangga ia susur dengan wajah suram. Ketika ia sudah berada di kaki tangga, ia melihat tiga orang dengan pakaian serba hitam masuk ke dalam rumah. Tiga orang itu menggunakan kain hitam yang diikat di keningnya, dan tangannya menggenggam sebuah alat musik. Semacam trompet. Selena mendadak kaku. Wajah yang awalnya dihiasi rona kemarahan kini menjadi ketakutan yang tak berarti. Pikirannya mulai tak tenang, ia takut hal yang ia pikirkan terjadi. Ia melirik ke arah Dave yang berdiri di antara kursi ruang tamu. Dengan segera ia menghampirinya. “Dave, siapa mereka? Dan apa yang akan dilakukannya?” tanya Selena begitu sampai di samping Dave. “Mereka pawang ular, aku memanggilnya untuk menangkap ular yang katamu masuk ke dalam rumah,” jawab Dave mantap, sembari tersenyum ke arah mereka. Mendengar tentang pawang ular, seketika membuat Selena kaku tak berkutik. Ia gemetar, dengan jantung yang seraya ingin lari. Akhirnya apa yang ia takutkan terjadi. Pawang ular itu akan menangkapnya dan membongkar semua kedoknya. “Habislah diriku!” gumamnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN