Perkenalan

1022 Kata
"Arggh!" Devina menjerit saat tangannya tercekal oleh salah satu zombie. "Sial!" Dave yang melihatnya mengumpat kesal. Bergerak cepat menuju Devina dan menendangi zombie-zombie yang mengerumuni wanita itu. Sementara Victor mulai berlari meraih menuju mobilnya. Membuka pintu depan dan segera mengemudikannya. Awalnya mobil tersebut sempat macet, tetapi Victor terus berusaha melajukannya. "Ayo… ayolah…!" Berhasil. Dua roda depan mulai berputar, diikuti dua roda belakangnya. Serupa baling-baling, terus berputar diiringi suara deru yang menandingi bunyian-bunyian dari mulut sang zombie. Brak!!! Victor menabrak satu persatu zombie yang menghalangi jalanannya. "Kalian cepatlah naik!" Victor berteriak pada Dave dan Devina yang masih sibuk menyerang zombie. "Devina, cepat lari ke mobil pria itu!" perintah Dave tegas. "Dan meninggalkanmu sendirian di sini? Tidak akan!" balas Devina sembari menendang tubuh zombie yang hendak meraihnya. Kini dua orang itu berdiri saling membelakangi dan dengan posisi waspada. Berjalan memutar, siaga jika sewaktu-waktu zombie datang dari arah lain. "Devina, jangan keras kepala!" Dave kembali meninggikan suaranya. "Cepat lari naik mobil!" perintahnya tegas. "Kita selesaikan zombie-zombie ini dulu, lalu kita akan terbebas." Entah terbuat dari apa kepala wanita cantik itu, sehingga sangat keras dan terus membangkang. "Astaga! Kau memang tidak bisa diatur!" Nada bicara Victor mulai mengamuk, dengan suara napas yang serupa terpenggal akibat jantungnya yang berdegup kencang saat melihat berbagai bahaya menghadang. "Astaga, kalian mau berdebat atau naik sekarang?!" Victor yang berada di mobil sana kembali berteriak. Sedikit heran dengan tingkah dua orang itu. "Devina, cepat kataku!!!" Victor menggertaknya kembali. "Sial!" Dengan terpaksa Devina berlari ke arah mobil. Victor menendang pintu mobilnya bagian samping agar terbuka. Begitu terbuka, Devina dari arah sana segera bergegas. Melompat dan masuk ke dalam. "Dave, cepat ke sini!" Devina berteriak di ambang pintu mobil. Dave yang di sana masih mencoba bertahan dari beberapa zombie yang mengerumuni. Dari arah lain zombie-zombie semakin berdatangan. Seakan melihat daging lezat sehabis dipanggang dengan aroma menggugah selera, yang siap untuk disantap. "Cepat arahkan mobilnya ke sana!" Dari suara Devina, terdengar memerintah. "Baiklah!" Victor bergegas memutar mobil. Bergerak menuju ke arah Dave. Mendorong tubuh-tubuh dengan kerasnya. Sementara Devina yang berada di ambang pintu menendanginya dengan kaki. Wanita itu tampak seperti jagoan. "Dave! Pegang tanganku!" pekik Devina ke arah Dave sembari mengulurkan tangannya. Dave masih mencari celah. Menyiku kepala zombie di dekatnya. Berjalan cepat ke arah mobil. Mencoba meraih tangan Devina. Walau teramat sulit tetapi pada akhirnya Dave berhasil mencapai tangan wanita itu. Devina segera menariknya. Membawanya masuk ke dalam mobil. Lantas ditutuplah mobil tersebut dengan keras. Devina berpindah posisi ke kursi belakang dengan meloncat. Mereka bertiga mencoba mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Victor memutar kemudi dan menambah kecepatan mobilnya. Mobil itu bergerak dengan sangat cepat. Melindas beberapa tubuh zombie yang berserakan. Mencari celah agar bisa lolos. Saat sudah berada jauh dari kerumunan zombie, Victor mulai menurunkan kecepatan mobilnya. "Hufttt… akhirnya….!" Victor menghela napas lega begitu pun dengan Dave dan Devina. "Kita sudah bertemu dan saling membantu sejak beberapa jam yang lalu, tapi kita belum berkenalan." Victor berkata dengan melirik ke arah Dave sejenak kemudian kembali fokus fokus pada badan jalan. "Yah, kau benar." Dave terkekeh pelan. "Namaku Dave!" Pria gagah di samping Victor itu mulai memperkenalkan diri. "And I am Devina!" Wanita di belakangnya menyahut. "Kalian sepasang kekasih atau sudah menjadi suami istri?" tanya Victor lagi, yang langsung menimbulkan gelak tawa pada kedua orang yang menumpangi mobilnya tersebut. "Kenapa kalian malah tertawa?" Victor membengkokkan leher, memandang sejenak ke arah Dave lantas kembali fokus pada badan jalan. Dave terkekeh pelan. "Apa kau akan percaya kalau aku mengatakan kalau dia ini ibuku?" canda Dave yang langsung membuat Victor menghentikan mobilnya seketika. "Seriously?" Victor menoleh ke arah Dave, memperhatikannya sejenak. Pria di sampingnya itu masih seumurannya. Wajahnya cuma terbilang tampan dan tubuhnya gagah. Lantas Victor memutar lehernya ke belakang. Memandang Devina yang memasang wajah sok imut terhadapnya. Victor menganalisa sejenak. Wajah wanita itu sangat cantik. Rambut coklat muda sangat cocok menghiasi kepalanya. Kulitnya putih bersih. Bola matanya biru. Dari segi umur tampak masih muda darinya. "Tidak mungkin. Kau bahkan lebih tua dari dia," ujar Victor pada Dave Dave dan Devina kembali tertawa bersamaan. "Hahaha. Aku hanya bercanda, kawan" kata Dave tergelak. "Sebenarnya kami ini kakak beradik." "Ooo…." Victor mengangguk dengan mulut membentuk huruf 'O'. "Tadinya aku juga berpikir begitu. Karena terlintas wajah kalian sedikit mirip." "Sedikit?" Dave mengerling ke arah Victor. "Nope! Bukan sedikit, tapi banyak!" Devina yang menyahut. "Kau lihat mata biruku, Dave tidak memilikinya. Aku tahu dia sangat cemburu dengan mata biruku ini!" Devina tampak berseloroh di belakang sana. "Yang benar saja. Aku tidak menyukai mata biru itu!" Dave menimpali dengan nada malas. Victor tertawa sejenak melihat perdebatan kakak beradik tersebut. Itu membuat Dave dan Devina mengerutkan dahi. "Tidak ada yang lucu, Tuan penakut!" ujar Devina bernada malas. "Maaf… maaf… hanya saja kalian seperti anak kecil saja bertengkar seperti itu. Hehe." Victor terkekeh pelan. Meneguk saliva sebelum akhirnya bertanya, "Apa pekerjaan kalian? Oh iya, kalian tadi di kantor polisi. Kalian berdua pasti polisi kan?" Dave menyudutkan senyumnya. Menggeleng pelan. "Nope! Kami bukan polisi. Sebenarnya adalah seorang ahli mekanik–" "–koreksi! Lebih tepatnya orang yang gagal menjadi polisi dan beralih menjadi tenaga mekanik!" Devina memotong perkataan Dave. "Aku tidak gagal. Aku hanya tidak beruntung saja." Dave tampak membantah. Devina menyungging senyum getir. "Seharusnya kau lebih bekerja keras agar bisa mewujudkan impianmu menjadi polisi itu!" "Dan kau sendiri? Apa kau cukup bekerja keras selama ini?" Dave menimpali. "Kalau tidak, kau pasti sudah menjadi dokter seperti impianmu, bukan malah meneliti hal-hal yang tidak jelas!" sambung Dave menyinggung perasaan adiknya. "Apa kau mengejekku, Dave? Meneliti hal-hal tidak jelas?" Devina mulai merajuk. "Hei… hei… kenapa kalian malah bertengkar?" Victor mencoba menengahi. "Dia yang mulai!" Dave melipat tangannya di perut dengan ekspresi malas. Victor menggelengkan kepalanya terheran akan sikap kedua kakak beradik tersebut. Beberapa saat kesunyian menjajahi mobil tersebut. Mereka saling diam satu sama lain. Sebelum akhirnya Victor kembali angkat suara. "Ngomong-ngomong, kenapa kalian tadi bisa di kantor polisi?" tanya Victor. "Awalnya kami hendak pergi dengan tujuan tertentu. Tetapi tiba-tiba zombie datang. Kami bersembunyi di kantor polisi. Cukup lama. Sampai kau akhirnya datang ke sana," jelas Dave. "Ooo…" Victor mengangguk-angguk dengan membulatkan bibir membentuk huruf 'O'.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN