39

415 Kata
Ana baru saja keluar dari kamar mandi, ia mendorong tiang infus sembari berjalan tertatih kembali ke ranjangnya. Tanpa bantuan siapapun, Ana bisa mengurusnya sendiri. Bukan hal baru, hidup sebatang kara adalah hidup yang selama ini Ana jalani. ¹ Pintu ruang rawat inap Ana terbuka, di sana berdiri seoang laki-laki yang benar-benar Ana rindukan dan khawatirkan keadaannya belakangan ini. "Pak Eza ..." Jantung Ana berlomba hendak kekuar dari tempatnya. Perasaan Ana begitu bahagia dan lega melihat Eza baik-baik saja. Meski Irgi sudah berkali-kali mengatakan bahwa Eza baik-baik saja, namun tetap saja ia merasa khawatir jika dirinya belum melihat Eza dengan mata kepalanya sendiri. Eza tidak menjawab sapaan Ana, ia justru langsung menghampiri Ana dan memeluk Ana. 'Saya rindu kamu, An." Detik itu Eza dan Ana hanya ssling memeluk, Eza tak mengucapkan sepatah kata pun. Sedangkan Ana, ia lebih memilih menikmati pelukan hangat dari Eza yang memang sangat ia rindukan. Ana tak bisa berbohong dengan perasaannya, kali ini ia mengakui bahwa cinta memang sudah memenuhi perasaannya untuk Eza. Tanpa disadari oleh mereka berdua, rasa takut kehilangan itu njncul begitu saja. Karena sebuah keterbiasaan, mereka merasa kehilangan saat salah satu tidak ada di samping mereka. * * * "Maaf, saya baru bisa berkunjung." Eza duduk di samping ranjang Ana. "Saya paham, Bapak tidak perlu minta maaf." Ana tidak mau jika mengunjungiya adalah prioritas Eza hingga mengusik lain hal yang memang jauh lebih penting. "Terimakasih karena kamu sudah menuruti semua yang saya suruh lewat pengacara saya." Ana tersenyum, ia mengangguk kecil mendengar ucapan Eza. Ana tau apa yang Eza lakukan adalah untuk menyelamatkan hidup Ana dan Maria, dan lagi Eza harus menjaga nama baik keluarganya. Ana tau pasti Eza akan bermain selicin mungkin. Agar semuanya tampak rapih. Melihat senyum Ana, tiba-tiba saja tangan Eza terulur mengelus kepala Ana. Ana memiliki senyum yang sulit untuk dilupakan, lesung pipinya yang hanya ada di pipi sebelah kiri, jarang sekali tampak, itu semua karena Ana jarang sekali tersenyum. "Maaf kalau kamu berpikir saya egois karena menghindar, tapi saya mencoba untuk menyelamatkan kamu dan Maria. Bagaimanapun Maria sangat membutuhkan kamu." Kalimat itu bak mantra yang seketia mampu meluluhkan hati Ana. Membuat Ana merasa istimewa karena diperhatikan dan dikhawatirkan. Selama ini tak ada manusia yang bisa mengerti Ana, apa yang Ana suka, apa yang mrmbuat !Ana sedih, membuat Ana bahgia. Yidak ada "Terimakasih atas semua bantuan bapak selama ini, meski saya hanya membawa bahaya untuk bapak, tapi bapak masih tetap mau menemui saya." Eza justru sekarang kian tidak ingin melepas Ana dan Maria begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN