23

1531 Kata
Pagutan itu terlepas, Ana masih memejamkan matanya sembari menunduk. Apa yang baru saja terjadi, kenapa dia menciumku? Apa ini? Pertanyaan itu hanya muncul dalam kepala Ana. "Ma-maaf ..." * * * Seolah tak ada yang terjadi, di kantor Eza maish tetap menyuruh Ana untuk selalu menemaninya. Setelah kejadian semalam, Eza hanya meminta maaf, namun Ana sama sekali tidak menanggapinya. Ia pergi berlalu begitu saja dari kamar Alya.  Hari ini Eza berencana untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di bawah naungan group property miliknya. Tak ada lagi Mely di belakang Eza yang selalu membawa map atau berkas tebal, kali ini hanya ada Ana dengan pakaian lusuh seadanya miliknya.  Eza memberi perintah pada Mely untuk bekerja di kantor saja, sedang saat ada urusan di lapangan, Eza ingin agar Ana yang menemaninya. Biasanya Ana akan menolak saat Eza memberinya perintah untuk keluar saat jam kerja, namun Eza selalu memberitahu Ana bahwa saat Ana menemani Eza pergi, maka itupun salah satu bentuk dari sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang tentunya akan Eza bayar.  "Bagaimana menurut kamu?" Selesai berkeliling Eza dan Ana duduk di sebuah bangku yang menghadap tepat ke arah tempat permainan anak-anak berkumpul. Seumur hidup Ana ia tidak pernah menginjakkan kakinya masuk ke sebuah pusat perbelanjaan. Apalagi untuk bermain seperti anak-anak yang begitu beruntung, sekarang ini. "Apa yang mau bapak rubah? Saya rasa pusat perbelanjaan di sini masih baik-baik saja, bahkan setiap tenant yang ada di sini tampak ramai." "Banyak keluhan, beberapa pengunjung mengatakan bahwa lahan parkir yang tersedia masih kurang. Apalagi saat weekend tiba, mereka sampai harus memarkirkan mobil di masjid sebrang, mereka harus berjalan menyebrang. Kadang beberapa orang yang membawa anak-anaknya kerepotan." "Kalau begitu, kenapa bapak tidak mengubah bangunan yang ada di sebelah loby utara Bapak jadikan tempat parkir saja?" "Menurutmu begitu?" Ana mengangguk cepat, "bukankah bapak bilang akan ada pembangunan stasiun di sana? Kenapa bapak tidak bangun tempat parkir bukan hanya untuk pengunjung mol saja?" Dibandingkan dengan Mely, Ana jauh lebih bisa untuk Eza ajak diskusi. Meski Ana tidak pernah duduk di bangku kuliah, kenyataannya Ana bisa melihat sebuah opportunity dalam kesempitan.  "Minggu lalu tim sudah membicarakan hal ini, tapi kita masih menunggu investor. Mungkin Rabu ini akan ada rapat dengan investor. Kamu bisa ikut, An." "Saya? Kenapa saya harus ikut? Bukankah mbak Mely yang bertugas? Saya tidak paham dengan hal seperti itu." Ana tau diri untuk tidak menyerobot pekerjaan Mely, belum sampai Ana menyerobot pekerjaan Mely, Mely  sudah lebih dulu melakukan kecurangan pada Ana. "Tapi, baru saja kamu memberikan satu pendapat yang menurut saya itu adalah pendapat yang menbutuhkan analisa." "Analisa bagaimana? Saya hanya melihat sekali saja, bahkan saya tidak mengatakan sebuah untung atau rugi dari pendapat saya itu. Mungkin saja, akan ada masalah nantinya." Seperti ada yang berubah dari Ana, percakapan yang Eza lakukan sekarang ini seolah membuat perspektif baru bagi Eza akan seorang Ana. Ana yang biasanya terlihat murung, kini mampu berbicara tentang hal selain permasalahan adiknya. "Makanya, saya mencoba mengeksplorasi ide dari siapapun itu. Untuk kemudian saya saring dan saya tentukan mana yang menjadi ide utama dari setiap Ide yang saya kumpulkan." "Lalu apakah saat ide dari orang lain itu bapak terima, bapak akan memberikan bonus?" "Bonus?" "Ya," Ana mengangguk. "Sebelum ide itu muncul sebagai produk tentunya bonus masih jauh dari pandangan mata. Kita harus mengujinya dengan berbagai macam percobaan lainnya." Percakapan seperti ini, dulu sering kali Eza lakukan bersama Alya. Bagi Eza Alya adalah partner bekerja yang bagus. Alya memiliki cara berpikir yang bagus dalam mengkritik sebuah ide, apalagi di bidang property. Alya benar-benar jeli dalam melihat sebuah peluang. Eza beralih menatap Ana yang sedang tampak kagum dengan salah satu permainan di arena permainan anak-anak itu. "Mau coba?" Eza menawari Ana untuk mencoba permainan itu. "Apa?" "Itu," Eza menunjuk oada salah satu permainan. Ana tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Eza. "Terimakasih, tapi saya tidak akan melakukannya. Saya hanya teringat pada Maria." "Ada apa?" "Rasanya sekalipun dalam hidup Maria, dia tidak pernah bisa tertawa seperti anak perempuan kecil itu." Ana menunjuk seorang anak kecil yang mengenakan gaun pendek selutut. Anak itu sedang bermain dengan begitu gembira. "Bukan salah kamu." Mendengar ucapan itu membuat Ana terpaku, mengapa hati ini merasa kalau apa yang diucapkan oleh Eza adalah sebuah pembelaan untuk Ana. "Tapi memang kenyataannya adalah kesalahan saya. Kadang saya bertanya, kenapa bukan saya saja yang mendapatkan penyakit berbahaya itu?" Ana terdiam sejenak, "hidup Maria menderita karena saya, ia tidak bisa menikmati kaish sayang ibu karena saya. Justru saya malah membuatnya sakit dan hidup dalam keadaan yang jauh dari kelayakan." Bagi Eza sendiri, Ana tidak seperti itu. Pengorbanan Ana untuk Maria belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain di luaran sana. Manusia mana yang rela menekan egonya sendiri hanya untuk bisa membuat hidup orang lain bertahan. Orang lain, bukan sauadranya sendiri. Hanya karena sebuah hutang budi, Ana merasa jika dirinya harus bertanggung jawab akan hidup seseorang sebagai bentuk balas budinya pada orang itu. Untuk ukuran saudara kandung saja, belum tentu ada di dunia ini. Mungkin hanya satu banding lima di dunia ini. "Apakah kamu pernah meminta ini semua agar terjadi dalam hidup kamu?" Ana hanya menggeleng, ia menunduk menatap pada sepasang sepatu usang yang ia pakai hari ini. "Hidup saya hancur, saat Alya meninggalkan saya. Dua tahun lamanya saya terpuruk. Menyendiri, memikirkan betapa bodohnya saya melepaskan seseorang yang begitu sempurna dan menggantinya dengan sampah yang justru hampir membuat saya dan keluarga saya kehilangan seluruh aset kekayaan keluarga saya. "Saya menyesal harus disadarkan oleh sebuah perpisahan yang dibatasi oleh pebedaan dunia." Lanjut Eza. "Kenapa bapak berpisah dengan Bu Alya?" Segenap hati, Ana memberanikan diri untuk bertanya pada Eza. "Anak angkat kami, meninggal dalam sebuah kecelakaan." Eza tersenyum pahit, dulu ia selalu memendam kesedihannya. Entahlah, justru pada Ana, Eza bisa menceritakannya dengan begitu lapang d**a ketimbang pada psikiater yang merawatnya. "Saya yang terbakar emosi, menutup mata. Menutup hati saya rapat-rapat, bahkan saya muak melihat Alya. Saya menyalahkan semua kejadian itu pada Alya. Hiduo saya saat itu benar-benar hancur, semua kenangan indah saya bersama Alya seolah lenyap begitu saja karena hati nurani saya buta dengan kesalahan yang sudah Alya perbuat." Ana menyesal karena ia belum sempat membalas semua kebaikkan ibu angkatnya dan Eza menyesal karena menyalahkan semua kejadian yang menimpa anak angkatnya pada Alya. Ana yang hidup dengan sebuah beban yang tampak begitu nyata, yaitu Maria dan Hendra. Sedang Eza hidup dengan beban moral yang seolah terus berputar seperti kaset kusut, tiada hentinya. Dua orang yang selalu berbicara pada batu nisan, berbicara soal kebenciannya akan hidup. Berbicara soal menyesali kehidupannya. "Jika ada jalan untuk bisa menebus itu semua, saya akan menebusnya. Dan saat itu, saya bertemu dengan kamu, An. Kamu yang sedang memaki di depan makam ibu kamu, kamu yang sednag dipukuli oleh ayah angkatmu, kamu yang sedang makan di parkiran bersama Maria siang itu dan kamu yang hampir mati karena tusukkan yang dilakukan oleh ayah angkat kamu. Membuat saya seolah diingatkan takdir. Mungkin menolong kamu adalah cara saya agar bisa menebus semua kesalahan saya terhadap Alya." Ada sedikit kelegaan dalam hati ini setelah mendengar ucapan Eza barusan. Ia sudah menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini, mengapa Eza mau bersusah oayah untuk menolongnya. Padahal Eza tak pernah bertemu Ana sekalipun. Di sisi lain, kekecewaan itu muncul. Kecewa karena Ana tau jika Eza menolongnya hanyalah karena rasa bersalahnya pada Alya dan rasa iba akan irang asing yang melihat kesusahan hidup Ana. Mungkin sekarang Ana harus mulai menjaga jarak, ia harus sadar jika saat ini saingannya bukanlah seseorang yang nyata hidup. Tapi, sebuah kenangan yang tersimpan dengan rapih di sudut hati terdalam Eza. Yang mungkin kapanpun bisa saja Eza mengingatnya dan dimabukan oleh kenangan. "Apa bapak maish mencintai Alya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Apalagi saat Ana mengingat ciuman malam itu. Ana yakin Eza menikmatinya. Atau mungkin Eza melakukan itu hanya karena Eza rindu pada Alya dan saat itu kebetulan mereka sedang ada di kamar Alya. Hingga Eza melampiaskannya pada Ana. "Saya hanya tidak akan melupakan dia, saya akan menyimpan Alya di dalam hati saya. Dalam setiap kepingan memori di otak saya." "Jadi bapak sudah tidak cinta pada bu Alya?" * * * Hendra segera mencari informasi untuk mengetahui keberadaan Maria saat ini. Nyatanya untuk keadaan sekarang, Maria justru bisa memberikan keuntungan lebih bagi Hendra. Niat awal Hendra untuk menjual Ana pada mamih Tini kini ia kesampingkan. Hendra justru tau, jika Maria lah yang akan memberikannya banyak uang. Setelah pertemuannya dengan Eza, Hendra justru membuat rencana baru. Rencana yang pasti akan membuatnya menjadi seorang kaya raya. "Jadi apa tugas gue sekarang bang?" Kacir masih menahan sakitnya, namun ia tetap memaksakan diri untuk menjalankan tugas dari Hendra. Dengan menjalankan tugas Hendra, Kacir bisa dengan mudah mencari keberadaan Ana tanpa harus membuat Hendra curiga. "Gue harus tau di mana keberadaan Maria." "Maria?" Kacir sedikit kaget, Kacir tau jika Hendra tak pernah menyukai anak kandungnya itu. Bahkan bagi Hendra Maria adalah sebuah kutukan dalam hidupnya. Jangankan bertemu, memandang Maria saja Hendra sudah tidak mau. "Iya, soal rencana Ana yang mau gue jual ke si Tini itu, gue batalin." Kacir sedikit lega mendengarnya, dengan begini ia bisa menikahi Ana tanpa harus takut dianggap mengkhianati Hendra yang hendak menjual Ana pada Tini. "Laki-laki kaya itu memberikan tawaran yang luar biasa fantastis." Membayangkannya saja bisa membuat Hendra tak berhenti tersenyum. "Berapa yang dia tawarkan untuk abang?" "Gue minta 1 triliyun!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN