Hamil ke-5 bulan. Eza terbaring, dengan paha Ana yang ia gunakan untuk bantalan kepalanya. Ia sedang menikmati acara televisi, setelah makan malam tadi. "Sheril sudah melahirkan." Ana tiba-tiba saja berucap, jemarinya masih mengelus rambut Eza pelan. "Besok saya mau belanja beli oleh-oleh buat Sheril." "Cewek atau cowok? besok saya temenin kamu." "Belum tau, kemarin dia hanya mengabari saya kalau dia sudah melakukan operasi." "Sayang, nanti kalau kamu mau keluar jangan repotin mamah , ya." Eza tiba-tiba memgelus perut Ana. "Mana yang lebih sakit, melahirkan secara normal atau sesar?" Eza terdiam, ia tidak yakin harus menjawab apa. Pasalnya Eza belum pernah menghadapi hal seperti ini sebelumnya. "Apapun itu asal kamu dan anak kita sehat." "Sheril melahirkan sendirian di ruma

