29

1194 Kata
"Ini laporan keuangan kantor yang kamu minta." Sebuah map berwarna biru berisi laporan keuangan perusahaan Edrick berikan pada Rissa. Setiap bulannya Rissa selalu meminta laporan keuangan perusahaan pada Edrick. "Ada yang mencurigakan?" "Gak ada, cuma kemarin Eza meminta untuk dilakukan pemindahan uang dari rekening kantor ke rekeningnya dia." Rissa membuka map itu, satu persatu kertas mulai ia teliti. "750 juta?" Edrick hanya mengangguk. "Apa yang dia lakukan dengan uang sebanyak ini, aku harus ke ruangannya dia." "percuma, Eza gak ada di ruangannya. Beberapa hari ini dia jarang ada di kantor. Bahkan kemarin dia minta supaya aku yang meeting sama Investor." "Pasti ini semua gara-gara anak baru itu." Bagi Rissa, melihat Ana sama dengan melihat Frea. Wanita ular penghancur hubungan Eza dan Alya. Wanita yang hamoir saja mengambil seluruh aset kekayaan milik keluarga Rahadian. Untung saja saat itu Alya bisa menghentikan rencana jahat Frea. "Sa, jangan menuduh orang tanpa bukti." Edrick paham betul dengan apa yang Rissa rasakan. Apalagi jika ini sudah menyangkut Eza. "Aku gak habis fikir sama Eza, bisa-bisanya dia pakai uang perusahaan tanpa diskusi dulu ke aku. Aku, kamu dan Eka, kita bertiga mati-matian bangkit dari keterpurukan. Kita cari investor baru, proyek baru, supaya perusahaan Papah tetap on track. Tapi, anak laki-laki kesayangan papah jutru yang berkali-kali mencoba menghancurkannya." "Tenang, Sa. Kita belum tau mau Eza apakan uang itu. Jangan berpikiran negatif dulu, kita juga gak pernah tau siapa anak baru itu sebenarnya." Jika Rissa api, maka Edrick adalah airnya. Edrick selalu mencoba menahan amarah Rissa saat berada dekat Eza. Edrick tau, saat Eza mengalami masa-masa sulit atas kehilanhan Alya, Rissalah yang menjadi moda terdepan bagi perusahaan property rahadian. Dia benar-benar harus berjuang dari nol. Pantas jika saat ini Rissa sangat mengkahwatirkan Eza. Karena, posisi CEO kembali dipegang oleh Eza yang justru semakin tidak peduli dengan apa yang terjadi di perusahaan. * * * Setelah menemui Hendra, Ana diantar pulang oleh Eza. Kali ini Eza benar-benar tidak mengijinkan Ana untuk kembali ke rumah kontrakannya. Eza tidak pernah tau kapan Kacir bisa datang ke rumah kontrakan itu. "Terimakasih atas bantuan bapak." Begitu sampai di depan pintu apartemen Eza, Ana segera masuk ke dalam. Eza pun tak bertanya hal lain lagi. Eza masih teringat akan kejadian di tempat di mana Hendra disekap tadi. Orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan dalam hidup seseorang, nyatanya dalam sekejap bisa berubah justru menjadi orang yang paling jahat dalam hidup seseorang itu. Ana yang begitu berharap memiliki kebahagiaan dalam hidupnya, nyatanya harus hancur oleh pola pikir seseorang tentang sebuah takdir. Pemikiran yang menyalahkan orang lain atas penderitaan yang dialami oleh dirinya sendiri. Hendra yang tetap membenci Maria karena merasa Marialah penyebab kematian istrinya, membuat Ana merasa bersalah jika harus meninggalkan Maria begitu saja. Ana rasa Maria berhak atas penghidupan yang layak, kebahagaian dan masa depan yang cerah. "Saya tidak akan mengecewakan kamu, An." * * * Memasuki Apartemen, Ana duduk di dapur. Hati dan pikirannya benar-benar merasa lelah. Sebenci apapun Ana pada Hendra, di hati kecilnya ia masih menganggap bahwa Hendra adalah laki-laki yang baik untuknya. Cinta pertama Ana adalah Hendra. Ana masih berharap jika Hendra akan berubah, menerima kenyataan jika memang takdirlah yang sudah membawa Ibu angkatnya itu pergi. Ana berharap Hendra mau melanjutkan hidupnya dan bangkit dari keterpurukkanya, menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anaknya. Ana mencoba memejamkan matanya, namun justru air matanya mengalir begitu saja. Di saat seperti ini, Ana benar-benar membutuhkan seseorang untuk ia bisa ajak diskusi ataupun tempatnya bercerita. "Ana ..." "Ibu?" "beristirahatlah sejenak," Tangan Ibu Ana mengelus ranbut Ana dengan halus dan pelan. "Terimakasih sudah menjaga Maria sampai sejauh ini." * * * Sepulang mengantar Ana, Eza mampir ke rumahsakit. Eza hendak menemui Irgi, ia akan meminta pendapat Irgi tentang Hendra. Selain itu Irgi juga berkata bahwa ada hal yang harus ia bicarakan soal Maria pada Eza. "Gi, Sorry lo harus tunggu gue lama." "Masuk Za," "Ada apa?" "Ini soal Maria, tadi siang dia bertanya, bagaimana jika dia tidak mau untuk melakukan operasi." Eza sedikit terkejut saat mendengar ucapan Irgi itu, bahkan anak seusia Maria saja lebih memilih untuk mati dibandingkan berjuang dengan penyakitnya sendiri. "Lo tanya apa alasannya, kenapa dia gak mau buat operasi?" "Dia cuma jawab kalau pada akhirnya ia akan mati, untuk apa dia melakukan operasi itu." * * * Dengan pikiran yang penuh pertanyaan Eza pergi ke ruangan Maria. Bagaimana jika Ana mendengar ucapan Maria itu, Eza rasa Ana akan semakin merasa bersalah. Eza harus menciba membujuk Maria. Eza juga membawa makanan dan beberapa buku dongeng yang mungkin bisa Maria baca saat ia merasa bosan. Tok!Tok!Tok! Setelah mengetuk pintu, Eza membukanya dengan perlahan. Dilihatnya Maria yang sedang menonton acara televisi. "Apa Kakak mengganggu?" Maria segera menoleh dan tersenyum bahagia saat melihat Eza berdiri di ambang pintu. "Gak, Maria cuma lagi nonton Tv. Kakak sendiri, mana kak Ana?" Maria memeriksa ke arah belakang, namun sampai Eza berjalan masuk Ana tak muncul juga. "Kakak kamu di rumah, besok dia baru datang ke sini. Malam ini Kakak yang jaga kamu." Maria tersenyum seolah mengejek, "Terimakasih karena kakak mau direpotkan oleh kami berdua." "Kakak bawakan s**u dan beberapa makanan cemilan, kamu makan?" "Maria sudah kenyang, Kak." Eza menatap wajah Maria yang makin hari makin tirus, tangan Maria pun kian terlihat begitu kurus. "Apa makanan rumahsakit itu tidak enak?" "Maksud kakak?" "Kalau memang tidak enak, kakak akan membawakan kamu nasi dan ayam goreng kesukaan kamu ke sini setiap hari." Gelak tawa Maria terdengar di kamarnya, "Maria cuma bosen, setiap hari harus berkali-kali disuntik." Eza mendekat pada Maria, ia memegang tangan Maria. "Dengarkan Kakak, apa yang sedang kamu jalani saat ini adalah apa yang Kak Ana mau, Kak Ana mau kamu sembuh. Jangan kecewakan dia." Jika Maria bisa meminta, Maria menginginkan hal yang sederhana, ia ingin sembuh, hidup bahagia dengan Ana tanpa harus takut pada Hendra lagi. Namun, itu semua hanya impian. Hidup Maria hanya memberikan beban pada Ana. "Bukankah saat Maria mati nanti kak Ana akan bahagia?" Maria terdiam sejenak, "Seumur hidup, Kak Ana tidak pernah bersikap egois. Dia selalu mengutamakan Maria, bahkan saat berbagi makanan saja, dia selalu memberikannya pada Maria terlebih dulu, Maria tidak pernah sekalipun melihat Kak Ana makan dengan lahap atau tidur dengan nyenyak." Maria kembali mengingat saat masa kecilnya dulu, saat Hendra memukuli Ana karena Ana melindungi Maria. "Bahkan dulu hampir setiap hari kakak harus dipukul oleh Ayah, hanya agar Ayah tidak memukul Maria." Mendengar cerita Maria, hati Eza terasa sakit. Takk heran jika Ana tumbuh menjadi seseorang yang begitu dingin dan acuh. "Maria noleh minta sesuatu?" Maria kembali bertanya. "Apa? Nasi dan Ayam goreng?" Maria terkekeh, "bukan itu." "Apa, kalau memang itu mudah saya akan menurutinya." "Setelah Maria meninggal nanti, Pak Eza mau kan jaga Kak Ana buat Maria?" Pertanyaan yang mudah, namun Sulit untuk bisa Eza jawab. Eza tidak mau berjanji untuk bisa menjaga Ana. "Kak Ana tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, bisakah Kakak jadi pangeran untuk itik buruk rupa seperti Kak Ana?" 'Itik buruk rupa, siapa bilang? Ana gadis yang cantik, tunggu, kenapa saya tersenyum saat mengingat wajah Ana? Bukan, ini bukan cinta, 'kan? Saya sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi.' Ana datang dalam hidup Eza seperti angin yang bertiup di tengah badai kehidupan Eza yang baru saja mereda. Mengetuk pintu hati Eza.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN