Eza segera menelfon Irgi, ia meminta agar membawa Maria pergi menjauh dari Ana terlebih dahulu. Untunglah Irgi mau membawa Maria. Setelah itu Eza meminta agar Irgi menelfon pihak berwajib.
Sebelum pihak berwajib dan ambulan datang, Eza terlebih dahulu menyembunyikan Kacir, ia meminta anak buahnya untuk membawa Kacir dan mengurungnya di tempat yang sudah Eza siapkan.
Awalnya Kacir melawan, namun salah satu anak buah Eza memukul Kacir hingga tak sadarkan diri. Setelah TKP bersih, polisi baru saja sampai. Eza duduk didekat Ana yang masih setengah sadar memegangi perutnya yang terkena tusukkan dari Hendra.
Beberapa polisi menghampiri Eza dan beberapa lagi menghampiri tubuh Hendra yang bersimbah darah, "Biarkan para petugas medis membawa nona Ini, anda juga butuh perawatan."
* * *
Sesqmpainya di rumah sakit, Ana segera ditangani oleh dokter. Ana dibawa menuju ruang operasi. Sedangkan Eza hanya sedikit mendapat perawatan di bagian wajah dan lengannya yang sedikit terkena pisau milik Hendra.
"Saudara Eza, boleh kami bicara sebentar?"
Eza mendongak, menatap dua orang polisi yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Silahkan, Pak."
"Kami turut berduka, sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Terimakasih." Eza kembali menunduk, meremas kedua tangannya.
"Pelan-pelan saja," Salah satu polisi wanita itu mencoba menenangkan Eza.
Eza menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan dari polisi tersebut.
"Perempuan yang ada di dalam adalah salah satu pegawai saya di Kantor. Malam ini dia bilang akan pulang cepat untuk menemui ayahnya." Eza meraup wajahnya kasar sebelum melanjutkan ceritanya itu.
"Lalu, kenapa anda bisa ada di sana?"
"Dia adalah pegawai yang aneh, hampir setiap hari dia mengambil makanan di kantor. Banyak yang mengeluh soal hal itu. Saya memutuskqn untuk mengikuti dia, mencari tau asal-usul dia. Bukannya pergi ke rumah, dia justru pergi ke gudang itu."
Eza sudah mempresiapkan semuanya, ia tidak akan membiarkan Ana masuk ke penjara gara-gara ayah angkatnya itu.
"Dan apa yang terjadi?"
"Ada dua orang laki-laki di sana, Bapak tua yang sudah meninggal itu dan satu lagi seorang pemuda yang berdiri membelakangi saya."
Eza mulai menceritakan apa yang ia lihat di gudang itu, "Bapak tua yang di panggil dengan nama Hendra itu justru mulai memukuli Ana. Dia menjambak rambut Ana dan mrngeluarkan sebuah pisau dari balik jaketnya. 'Berikan uang itu cepat!' itu yang saya dengar."
"Jadi laki-laki itu meminta uang?"
"Iya, namun gadis itu melawan, ia megambil pisau yang dipegang oleh laki-laki itu dan menusuknya berulang kali."
"Lalu apa yangd dilakukan oleh pemuda yang datang bersama dengan saudara Hendra?"
"Setelah penusukan pertama Ia segera menangkap Ana dan memeganginya, namun Ana melawan. Ia menendang dan menggigit tangan Pemuda itu. Setelahnya ia kembali berteriak memaki pada laki-laki bernama Hendra itu."
"Apa yang nona Ana teriakkan?"
"b******n, berhenti mengganggu hidupku. Mengancamku dan meminta uang padaku."
Polisi itu saling berhadapan, bertukar pandang satu sama lain.
Eza tersenyum sinis, "ini bukan kali pertama."
"Maksud bapak?"
"Bukan hanya karena sering mengambil makanan, yang membuat saya merasa curiga pada Ana. Hampir detiap hari ia datang ke kantor dengan wajah penuh lebam. Saya pernah memergoki Ana yang baru saja pulang bekerja sedang dipukuli oleh laki-laki itu di tengah jalan."
Soal ini Eza memang tidak berbohong, ia pernah melihat dnegan mata kepalanya sendiri kalau Ana dipukul habis-habisan bahkan setelah itu, Ana ditusuk oleh Hendra.
"Laki-laki itu menusuk Ana dengan pisau lipat yang ia smebunyikan di dalam sakunya. Bapak bisa periksa vekas luka pada bagaian kiri atas perut Ana. Bahkan kejadian itu terjadi beberapa bulan yang lalu."
"Lalu bagaimana dengan luka bapak?"
"Setalah Ana menusuk laki-laki tua itu, Ana kembali dipukul bahkan pemuda itu ikut menjabak Ana, saya spontan keluar dan menolong Ana. Saya dan pemuda itu berkelahi, dan setelahnya yang saya lihat Laki-laki tua itu sudah tergeletak bersimbah darah. Pemuda itu berlari menghampiri laki-laki tua itu, kemudian menoleh pada Ana dan langsung menyerang Ana. Saat itu Ana sudah mengalami luka tusukkan. Tapi, pemuda itu memukuli Ana dan kembali menusuk Ana dengan pisau yang ia miliki."
"Jadi, Anda bertengkar denngan laki-laki itu?"
"Iya,"
"Lalu ke mana dia pergi?"
"Setelah menusuk Ana, dia melarikan diri."
Polisi itu mencatat smeua pernyataan Eza, "Terimakasih untuk keterangan dari bapak, kami akan menindaklanjutinya setelah saudara Ana sadar. Dan apakah bapak masih ingat bagaimana ciri-ciri orang itu?"
"Dia tinggi, kurus."
* * *
"Bagaimana keadaan kakak? Di mana dia sekarang?"
"Tenang, Mar. Kamu harus tenang. Kakak kamu sudah dirawat di rumah sakit."
"Maria mau bertemu dengan Kak Ana, Maria harus lihat sendiri kalau Kak Ana baik-baik saja."
Air mata sudha mengalir di pipi Maria. berkali-kali maut hendak memisahkan Ana dan Maria. Itu pun, penyebabnya hanya satu, karena ulah Hendra.
Irgi menatap kearah mamahnya yang saat ini ada bersamanya menemani Maria.
"Nak, sayang, kamu harus tenang, kendalikan emosi kamu."
"Tante, Maria gak tau bagaimana kabar Kak Ana, bagaimana Maria bisa tenang."
Mamah Irgi mendekat, ia kemudian menggenggam tangan Maria. Perlahan ia mengelus kepala Maria yang sudah botak karena kanker yang ia alami itu, wajahnya begitu pucat, membuatnya tampak benar-benar menyedihkan.
"Kakak kamu pasti baik-baik saja, kamu percayakan kakak kamu pada Eza, dia akan melakukan apapun untuk kakak kamu."
Maria kembali menangis tersedu, ia benar-bemar takut kengilangan Ana. Maria melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Hendra menusuk Ana sampai keluar darah segar dari perut Ana.
Mamah Irgi menarik Maria ke dalam pelukannya, membiarkan Maria menumpahkan perasaannya. Dengan penuh kasih sayang Mamah Irgi mengelus punggung Maria.
Dering ponsel milik Irgi terdengar, Irgi mengusap air matanya dan segera keluar dari ruang rawat inap Maria untuk menjawab panggilan itu.
"Halo,"
'Bagaimana kondisi Maria?' Suara Eza terdengar di seberang telfon.
"Dia masih shock." Irgi kembali menoleh ke arah pintu ruang rawat inap Maria. "Tapi, ada Mamah di dalam. Bagaimana kondisi Ana?"
'Dia baru saja melewati masa kritisnya dan sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat inapnya.'
"Syukurlah, lalu, bagaimana dengan Kacir?"
'Saya akan urus dia, untuk sementara saya titipkan Maria di sana. Saya akan membereskan masalah ini secepatnya.'
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
'Menyelamatkan Ana.'
Irgi memijat pelan pelipisnya, "Kamu yakin, Za? ini sudah masuk ranah hukum."
'Tolong jaga Maria.'
Setelah itu sambungan telepon terputus, Irgi menggelengkan kepalanya penuh heran dengan apa yang akan dilakukan oleh Eza nanti. Seharusnya Eza mempertimbangkan semuanya, banyak hal yang harus ia korbankan jika nanti dia harus menolong Ana.
Perusahaan, keluarga, nama baik orangtua Eza juga pastinya akan hancur. Mengingat ini adalah kasus pembunuhan.