“Pokoknya mulai sekarang jangan bukain pintu buat Barra! Oke?” Sherin tak bosan-bosan mengingatkan asisten rumah tangganya. “Si- siap, Non.” Bik Nuning mengangkat ibu jarinya ke udara meski wajah rentanya terlihat bingung. “Non Sherin masih berantem sama Mas Barra ya? Duuh, wajar mah, Non … itu namanya bumbu-bumbu cinta,” kekehnya kemudian sambil membuntuti Sherin yang hendak masuk mobil. Sudah tiga hari sejak kejadian para preman menyatroni rumahnya, dan sejak itu pula Sherin mengambil cuti dadakan. Dan setelah masa cutinya habis, tentu ia tak punya alasan lagi untuk menunda pekerjaan. Apalagi ia pekerjaan yang ia tekuni berkutat dengan pertaruhan nyawa, jadi tentu saja Sherin enggan bersantai terlalu lama. “Bumbu cinta apaan, Bik. Kami udah putus kok, pu- tus!!” tegas Sherin saat memb

