BAB 11 : Dandelion

5206 Kata

Kelopak mata Kinanti masih sembab, meski lewat seminggu jasad Tristan Mirano dipendam tanah, kesedihan itu masih terasa. Setiap kali melewati ruang demi ruang dalam rumah mereka, Kinanti diingatkan selalu akan sosok pria tua kesayangannya itu. Bayang-bayang Tristan Mirano hadir di tiap penjuru—begitu menyiksa. Terlebih kini, ketika Kinanti harus masuk ke dalam ruang kerja Ayahnya tersebut. Yang harum kayu, namun sesak. Di sana, telah duduk beberapa orang lelaki mengelilingi meja persegi. Seorang pengacara, seorang notaris serta kakak-kakaknya; Antara dan Aksara. Tampang mereka semua serius. Hanya si Notaris yang tersenyum padanya saat mereka berjabatan—mencoba nampak ramah. “Silahkan duduk nona Kinanti.” Ujar Pengacara, “Kita akan memulai pembicaraan penting hari ini. Barangkali telah non

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN