“Selamat datang di rumahmu, Sayang.” Bara menghentikan laju kursi roda yang menampung tubuh Kinanti. Tepat di mulut pintu utama. Sebab saat dibuka oleh asisten rumah tangganya, Kinanti melihat banyak balon berwarna-warni menghiasi sebagian besar dindingnya. Dengan tulisan home sweet home yang menjadi spotlight. Suasana rumah besar yang biasanya sepi itu menjadi terasa ramai. Bibir Kinanti yang masih pucat, tersenyum, “semua ini kamu yang siapkan?” “Dengan Papa.” Tristan Mirano yang berjalan dengan tongkat kayunya muncul di belakang. Dia baru saja turun dari mobil yang berbeda. “Dan sahabatmu, Sana. Dia sedang pergi ke luar untuk beli kue kesukaanmu.” Sambung Papanya, yang tahu Kinanti mencari-cari keberadaan Sana. “Sungguh?” Bola mata Kinanti berbinar berbayangkan sosok Tristan Mirano

