Kinanti bangun tidur, dan merasa asing oleh tempat baru yang ditinggalinya kurang dari 24 jam. Ini adalah rumah pribadi Bara di kota kelahirannya, Surabaya. Setelah memilih untuk ikut dengan pria itu, Kinanti dibawa ke kota ini. Sebuah tempat persembunyian yang Bara meyakinkannya tak akan bisa terlacak Antara. Dengan kata lain, Kinanti sudah aman. Tetapi mengapa hati Kinanti justru hampa? Dan gelisah. Seolah-olah langkah yang sudah diambilnya kemarin lalu adalah kesalahan besar. Padahal, mendapatkan kebebasan adalah hak dari setiap orang, and Kinanti just a human. Ia hanya ingin bebas dari jenis kehidupan yang membelenggunya. “Pagi, Kinanti.” Kinanti tidak tahu sejak kapan pintu kamarnya telah terbuka. Dan sekarang, ada Bara yang berdiri di sana. Dengan senampan sarapan pagi di kedua tan

